
Sama saja bohong emang kalau bolos tapi hanya stay di rumah.
Ga ada yang istimewa dan ga ada yang bisa gue katakan wow dengan penuh percaya diri dan bangga hati atas bolos sekolah gue kali ini.
Nonton drama ga boleh, streaming mamas Suga wifi dimatiin terus disekap di dalam kamar emak gue.
Jadilah hari yang membosankan gue hanya dipenuhi dengan musik dan ngemil sepanjang malam hendak menanti.
Lebih lebih bokap alias ayah gue tercinta udah pergi dinas lagi ke kota tetangga, jadilah gue semakin suntuk dikerumuni rasa kesal sepanjang hari pada kedua orang tua gue ini.
Sebenarnya gue ga suka sama sekali bokap gue kerja sebagai dokter spesialis jantung, terlebih lagi resiko yang harus beliau tanggung bila terjadi apa apa pada pasiennya. Segala hujatan kebencian, rasa dihina serta dicela pasti akan beliau terima bila hal yang tidak diinginkan terjadi.
Tidak hanya sekali atau bahkan dua kali bokap gue serta tim medisnya dihujat akan kinerjanya yang katanya tidak memuaskan yang membuat nyawa seseorang melayang, sudah berkali kali bahkan sering.
Bukan perkara kinerja bokap gue yang tidak benar, namun memang semua kendala pasti bisa saja terjadi.
Salah satunya adalah pasien rujukan yang telah terkena tangan dokter dokter lain yang memang sudah tidak sempat tersentuh oleh tangan bokap gue, namun tetap saja pihak keluarga menumpahkan segala kesalahan kepada bokap gue.
Please ya wahai kaum manusia yang tidak tahu akan jalan Tuhan. Dokter itu hanya sebuah profesi, sedangkan seorang dokter hanya berusaha menolong atau mencegah segala sesuatu kemungkinan yang bisa saja terjadi. Mereka bukan Tuhan yang dapat membalikan takdir, mereka hanya salah satu umat yang diciptakan oleh-Nya bukan untuk menggantikan-Nya memperpanjang masa hidup seseorang.
🍂🍂🍂
Gue benar benar suntuk tak berujung hari ini.
__ADS_1
Bokap ngilang saat ditinggal pergi ke pasar, nyokap nyekap wifi di dalam kamar belum lagi handphone gue yang sepinya ga kalah dari kuburan.
Sebenernya ga bisa dikatakan sepi juga, karna pada kenyataannya dari pertama gue buka mata bangun tidur hingga sore terang benderang menghampiri saat ini handphone gue tak pernah luput dari getaran getaran notifikasi yang berasal dari beberapa aplikasi.
Aplikasi warna merah menyerang dengan berbagai kalimat kritik dan tak luput pula pujian atas lantunan tulisan indah yang berasal dari imajinasi yang gue ciptakan sendiri. Tak sedikit, telah beberapa judul telah gue garap bahkan sampai akhir cerita. Sebagian telah masuk novel kontrak dan tak banyak hanya menjadi penghibur biasa dengan alur yang dapat dikatakan biasa.
Lalu aplikasi pesan warna hijau yang tak henti hentinya menunjukan notifikasi menampakan sebuah hujatan tajam yang diberikan oleh teman teman sekelas gue sendiri atas insiden yang masih juga sama.
Padahal telah diklarifikasi bahwa dilarikannya bu Nisa ke dalam rumah sakit tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan gue, namun tetap saja beberapa pihak yang memang satu kelas dengan gue memiliki ketidak sukaan pada diri gue ini yang gue rasa tidak memiliki kelebihan sama sekali.
Cantik ga, pinter ga nakal baru iya.
Dan karna berita yang menyambar bahwa bu Nisa kini berada di rumah sakit setelah melahirkan bayinya secara prematur, saat ini kedudukan sebagai wali kelas dari kelas gue tengah kosong.
Namun mulai beredar kabar bahwa kekosongan itu tidak akan berlangsung lama.
Niaz: "Napa Cin?" sapa gue pertama dengan mengacak pelan rambut yang sedikit berantakan akibat kelamaan rebahan.
Cindy: "Besok kamu harus berangkat Niaz!" pelototan matanya sama sekali tidak menggetarkan rasa takut yang ada pada diri gue.
Niaz: "Tergantung" sahut gue santai dengan kali ini yang menggigiti kuku gue sendiri.
Cindy: "Harus Niaz!" penekanannya mulai terasa.
Niaz: "Ck ck ck! Kalo lo bilang harus, gue jadi makin males berangkat besok"
__ADS_1
Cindy: "Niaz harus!"
Niaz: "Ogah ah. Kayanya sekarang lebih enak bolos rebahan di rumah dari pada bolos di kantin" kata gue yang mulai rebahan ulang dengan layar ponsel yang masih tepat berhadapan.
Cindy: "Kamu jangan macam macam yah. Wali kelas kita yang sekarang beda jauh jauh bahkan sangat jauh sekali dengan bu Nisa"
Niaz: "Apa kehebatannya?"
Niaz: "Paling juga pinter ngegertak seperti yang lain. Ga mempan bagi gue, tenang"
Cindy: "Kalau kamu besok masih ga berangkat tanpa alasan, wali kelas baru kita akan memberikan alfa pada absenmu selama tiga bulan. Meski kamu berangkat sekalipun, dia akan tetap memberikan alfa meskipun bukan mata pelajaran yang ia sampaikan" tuturnya sedikit menjelaskan seperti apa kriteria wali kelas baru yang menggantikan sementara bu Nisa selama masa cuti melahirkannya.
Niaz: "Dih!" decih gue merasa aneh.
Niaz: "Syukur malah. Berarti sekalian aja gue bolos tiga bulan, enak tuh buat nyegerin pikiran" masih aja gue berada pada mode santai.
Cindy: "Iya sekalian betul. Sekalian kamu ga lulus aja"
Cindy: "Niaz. Jangan samakan dia dengan guru guru yang pernah kamu jumpai dari dulu hingga sekarang. Dia berbeda, benar benar beda dengan guru guru yang lain"
Niaz: "Kenapa lo ngomong gitu?"
Niaz: "Lo ngomong gitu seolah olah lo tahu banyak tentang wali kelas baru kita"
Cindy: "Tidak" sahutnya dengan menggeleng atas kecurigaan yang gue berikan.
__ADS_1
Cindy: "Aku hanya berpikir, mungkin wali kelas kita yang baru dapat merubah kepribadianmu menjadi lebih baik lagi. Menjadi murid yang benar benar murid, bukan hanya murid yang datang ke sekolah hanya untuk memberikan kehadirannya tanpa mengikuti mata pelajarannya"