
Tiada hari yang namanya tidak ada masalah bagi kehidupan sehari hari gue ini. Pasti selalu ada dan entah mengapa gue sendiri tidak merasa heran, mungkin karna masalah tidak pernah jauh dari diri gue ini.
Entah masalah itu yang datang sendiri atau bahkan gue yang mengundang masalah itu sendiri untuk menyeret gue ke dalamnya.
Seperti saat ini, saat dimana gue malah terbiasa dengan ruangan bimbingan konseling dari pada kelas gue sendiri.
"Kasus apalagi ini Niaz?"
Suara yang terdengar berat begitu juga terdengar letih menginterupsi gue untuk melirik sejenak ke arah guru yang kerap bertegur sapa dalam setiap masalah yang gue buat di lingkungan sekolah.
Pak Utoyo yang sering disapa pak Ute itu mengajar mata pelajaran management bisnis yang juga merangkap sebagai guru kesiswaan di sekolah yang gue tempati saat ini.
Satu satunya guru yang paling gue kenali setelah wali kelas dan juga guru seni gue.
Niaz: "Bukan salah saya pak" sahut gue spontan dengan seadanya apa yang ada di pikiran gue.
Utoyo: "Kalau kamu tidak salah, mengapa pak Santo melaporkan kamu ke saya?"
Sekilas gue melirik ke arah guru laki laki yang belum lama memberikan ultimatumnya untuk menjemur gue bagai ikan asin di lapangan utama yang biasa digunakan untuk upacara bendara dan juga untuk bermain sepak bola para mahasiswa laki laki.
Niaz: "Saya lapar pak, masa iya saya ga makan. Pingsan dong nanti saya"
"Seharusnya kamu itu hormati gurumu. Kamu disuruhnya apa ya itu yang kamu lakukan, bukan malah melenceng dari aturan" kali ini sang pelapor membuka suaranya.
Niaz: "Lah orang saya lapar pak, apa yang melenceng dari aturan? Saya lapar ya jawabannya makan, masa iya saya lapar saya berjemur di lapangan" seketika guru MYOB yang bernama pak Santo itu hanya diam dengan lirikannya yang tajam.
__ADS_1
Utoyo: "Maksud pak Santo, kamu harusnya tahu kalau kamu itu sedang dihukum Niaz. Paling tidak beri tahu pak Santo kalau kamu tidak sanggup melaksanakan perintahnya"
Niaz: "Saya sanggup pak, hanya saja saya lapar. Apa yang salah kalau saya lapar?"
Santo: "Jelas salah!" serunya langsung menimpali.
Niaz: "Oooh salah ya pak. Saya baru tahu merasa lapar itu sebuah kesalahan"
Santo: "Intinya kamu salah dan seharusnya kamu minta maaf kepada saya. Itu adalah cerminan itikad anak yang baik jika kamu tahu" petuahnya dengan menunjuk nunjuk gue menggunkana jari telunjuk kanannya.
Niaz: "Ok pak, saya minta maaf" kata gue dengan senyum selebar mungkin.
Dan karna ucapan perminta maafan gue yang secara blak blakan dan secara langsung itu membuat ke dua guru laki laki yang telah berumur menjadi saling lirik satu sama lain.
Utoyo: "Kamu mengakui kesalahnmu?" tanyanya lirih dengan sedikit bergumam saat gue masih dengan senyum lebar yang terpampang.
Niaz: "Saya hanya ingin dilihat seperti seorang murid yang beritikad baik, jadi kalau hanya dengan meminta maaf dapat membuat saya diberi nilai plus oleh pak Santo kenapa tidak. Tidak ada ruginya juga, toh hanya tiga kata saja"
Pak Utoyo menggeleng geleng lemah dengan memijat pelan pelipis kanannya karna perkataan gue, sedangkan guru yang mempermasalahkan tingkah gue terus saja melotot tiada henti. Seakan berniat untuk mengeluarkan kedua bola matanya namun tidak bisa.
Santo: "Kamu semakin tidak sopan ya terhadap guru kamu!" serunya dengan nada suara tinggi.
Santo: "Saya memberi kesempatan untukmu meminta maaf secara tulus tapi kamu malah tidak mengakui kesalahanmu. Berjemur sekarang juga di lapangan!" ucapannya dibarengi dengan jari telunjuk kanannya yang mengarah ke arah luar jendela.
Niaz: "Jangan sekarang pak, nanti bapak rugi" kalimat santai gue seperti biasa terlontar meski guru komputer akuntansi gue telah menarik seluruh urat kesabarannya.
__ADS_1
Niaz: "Jangan menatap saya seperti itu juga pak, nanti bapak malah tidak jadi menghukum saya tapi malah naksir ke saya. Kan repot kalau saya ditaksir sama bapak bapak beristri apalagi udah punya anak" kalimat gue saat pak Santo mengernyit heran atas penolakan halus dari gue yang disuruhnya untuk menjalani hukuman darinya.
Niaz: "Di luar mendung pak, bapak ga lihat?"
Utoyo: "Kamu takut hujan?"
Niaz: "Tidak"
Santo: "Kamu takut ada petir?"
Niaz: "Tidak juga"
Santo: "Ya terus apalagi alasan kamu ini?!"
Niaz: "Takut bapak kecewa. Kan bapak niat menghukum saya dengan berjemur supaya terkena trik matahari, nah kalau mendung berarti enak di saya nya dong pak?" ucapan santai gue mendapat tatapan tak terbaca dari kedua guru laki laki itu yang membuat gue juga merasa aneh saat ditatap oleh keduanya.
Niaz: "Besok saja ya pak kalau tidak mendung ulang"
Niaz: "Ya udah, kalau udah kelar saya balik ke kelas dulu ya pak ngantuk saya" ujuan gue hendak pamit meninggalkan ke dua guru yang masih diam tanpa kata.
Namun saat gue baru saja melewati pintu, gue kembali berbalik dengan hanya menengokkan kepala ke arah dalam sedangkan seogok tubuh gue tetap berada di luar.
Niaz: "Besok jam sepuluhan ya pak, sehat itu untuk berjemur. Kalau saya ga ada berarti lagi di kantin, biasanya jam sepuluh saya lapar pak jadi bapak cari saya saja di kantin. Kalau males cari whatsapp ajudan saya saja pak, nanti saya share nomornya ke bapak"
Niaz: "Saya permisi pak. Assalamualaikum"
__ADS_1