Homeroom Teacher

Homeroom Teacher
Episode 7


__ADS_3


Gue rebahkan kembali tubuh yang belum lama ini baru menyelesaikan kewajibannya kepada Sang Pencipta. Kewajiban utama bagi umat muslim yang memiliki lima waktu dan tujuh belas rakaat dalam sehari.


"Kamu ga sekolah, kok tiduran lagi?"


Pertanyaan yang diiringi dengan pergerakan pelan tepat di belakang tubuh gue menarik sepenuhnya perhatian gue, terlebih lagi karna suaranya yang khas dan selalu adem saat telinga gue mendengarnya.


Niaz: "Ayah kapan pulang?"


"Belum lama ini, mungkin satu jam sebelum adzan subuh" sahutnya dengan mengelus lembut rambut yang terurai di atas bantal yang masih sangat berantakan.


Niaz: "Ayah libur, atau mau tugas lagi?"


Tidak ada sahutan kembali, hanya senyuman yang masih sama seperti biasa setiap kali gue mempertanyakan hal yang sama padanya.


Dan tentunya, senyumannya itu telah menjabarkan semuanya. Menjelaskan bahwa jawaban yang akan diberikan oleh ayah gue akan tetap sama.


Suprapto Pambungdining Cipto


Ayah biologis Niaz yang sangat teramat menyayangi putri bungsunya dengan segala tingkah nakalnya yang sangat luar biasa.


Seorang dokter spesialis bedah jantung yang sangat disegani dan teramat dihormati dikalangannya.


Sembilan puluh persen dari kesehariannya hanya akan disibukan dengan pekerjaannya yang sangat berat dan penuh pertanggung jawaban akan segala tindakan.


Pekerjaannya memang sangat penuh dengan resiko karna menyangkut akan jantung dan hidup seseorang, namun itu bisa dikatakan setimpal bila telah menyangkut dengan bayaran yang ayah dari Niaz terima dari pihak rumah sakit swasta yang mempekerjakannya.


Niaz: "Ayah kapan sih quality time sama Niaz lagi?" monyong sudah bibir sexy yang sedikit tebal milik gue ini.


Niaz: "Niaz kan kangen. Masa iya nunggu lebaran idul fitri dulu baru bisa bareng sama ayah, kan masih lama itu" semakin mancung sudah bibir atas gue.


Ayah: "Kan ayah kerja juga buat...


Niaz: "Niaz?!" sela gue kini mendudukan diri berhadapan dengan beliau.


Cukup lama tak ada percakapan setelah saling tatap menatap, akhirnya gue membuka suara ulang meski sebenarnya agak berat untuk mengatakannya.


Niaz: "Ayah stop aja deh jadi dokter, udah banyak juga duit ayah" pinta gue hati hati.


Niaz: "Lagi pula kan bentar lagi Niaz lulus, paling juga setahun lebih dikit lagi Niaz lulus kok yah, jadi cukup lah duit ayah buat biayain sekolah Niaz sama kehidupan kita sehari hari untuk setahun ke depan" cerocos gue karna sang bokap ga bersuara ataupun menepis keinginan gue.


Niaz: "Lagi pula kan ada mas Fani. Biar mas Fani aja yang jadi tulang pungung, ayah udah istirahat aja" lanjut gue masih dengan mode ngomel.

__ADS_1


Masih juga belum ada sahutan gue pun hendak meluncurkan serangan selanjutnya, namun naasnya niatan gue terhalang akan usapan lembut yang begitu ringan namun sangat mendalam di bagian punggung kiri gue.


Ayah: "Niaz ga mau kuliah?"


Niaz: "Ga ah yah, capek!" sahut gue langsung tanpa basa basi.


Ayah: "Cuma ijazah SMA mau kerja apa nanti?"


Niaz: "Kerja apa aja Niaz nanti bisa kok yah, Niaz kan pandai semua hal. Lagi pula yang udah gelar strata satu juga belum tentu dapet pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang dia dapatkan"


Niaz: "It's not a big deal" sok inggris gue mulai keluar.


Gue yang udah setel percaya diri, pasang tampang sangar bisa segalanya langsung menciut akan pernyataan telak dari bokap gue tercinta.


Ayah: "Mau jadi petani?"


Ayah: "Tanam padi sama bajak sawah, atau mau jadi tukang parkir?"


Ayah: "Tinggal tiup pluit sambil bilang terus terus?"


Niaz: "Ya ga gitu juga kali yah" sewot gue ga mau terima.


Niaz: "Buktinya itu ibu Susi Pudjiastuti, mantan mentri kelautan dan perikanan kita. Malah tetanggaan sama kita kotanya" tunjuk gue ke arah barat dimana letak kota Pangandaran berada.


Untuk sekilas, bokap gue senyum senyum sendiri sambil geleng geleng kepala.


Namun untuk berikutnya, beliau memberikan sebuah benda yang harganya jauh lebih mehong dari punya gue hanya untuk sekilas memperhatikannya.


Layar datar itu menunjukan satu sosok setelah ayah gue mengetikan sesuatu di kolom pencarian google.


Sosok yang belum lama gue sebutkan pada ayah gue.


Sosok ibu mentri yang terkenal akan kata tenggelamkan nya itu dan semua prestasi yang dibuatnya.


Ayah: "Yang namanya presiden ga akan asal pilih orang"


Terpampanglah semua detail kehidupan salah satu mantan mentri yang kerap menjadi bahan kontroversi karna rokok dan tattonya.


Ayah: "Kamu kira pak Jokowi kala itu pilih bu Susi bukan karna banyak alasan?"


Niaz: "Yah. Niaz ngantuk nih, mau bobok dulu" nyeliwur gue karna kalah telak.


Ayah: "Masih pagi sekali, ga boleh tidur. Ga bagus"

__ADS_1


Niaz: "Niaz kan ngantuk, jadi kalau ngantuk ya...


Ayah: "Ya cuci muka terus bantu bunda di dapur" selanya menahan diri gue yang siap rebahan kembali.


Niaz: "Aduh yah, bunda bawel banget. Engap Niaz kalau deket deket sama bunda, lebih lebih kalau mode jengkelnya lagi kumat" ngadu gue apa adanya pada bokap yang hampir jarang pulang hanya karna tugas pokoknya sebagai seorang dokter.


Ayah: "Udah sana bantu bunda, ayah jamin bunda ga akan bawel bawel sama kamu"


Niaz: "Ho ho hoooo.. abis dikasih fulus yah?!" tunjuk gue menebak suatu kenyataan yang paling digemari kaum emak emak sejagad raya bila suami pulang sehabis dinas kerja.


Ayah: "Udah sana"


Dengan langkah gontai gue berjalan dari arah kamar gue sendiri menuju tempat singgasana sang bunda ratu yang selalu gemar memasak dengan sejuta rasa nikmat yang membuat gue demen makan di rumah dari pada diluar.


"Kamu kok belum mandi?!"


"Jangan bilang mau bolos sekolah!"


Kan?


Gue bilang juga apa, nyokap gue ini bawelnya udah terakreditasi memang.


Cantik iya, pinter masak pake banget tapi bawelnya itu juga ga ketulungan kalah pokoknya.


"Anak mau bantu di dapur kok ya dimarahin" kali ini suara itu menyambar dari arah belakang gue.


Niaz: "Tuuuh dengeriiiin. Abis dikasih duit juga masih marah marah mulu" kini gue datang menghampiri mengambil alih kangkung yang siap untuk dimutilasi.


Bunda: "Anak bolos sekolah kok diabirin, nanti kalau jadi kebiasaan gimana yah" kedua matanya melotot hendak keluar dari tempatnya pada pria yang berhasil memproduksi dua anak untuknya.


Ayah: "Udah bagus Niaz bolos sekolahnya tetap berada di rumah, coba kalau dia biasa bolos di luar?"


Ayah: "Kita berdua taunya ini anak selalu berangkat sekolah, tapi kenyataanya ga pernah sampai di sekolahnya"


Maafkan anak gadismu yang masih kau anggap polos ini wahai ayah gue tercinta.


Karna pada kenyataanya gue emang ga pernah absen untuk bolos sekolah bahkan untuk satu minggu saja.


Gue ga bolos sekolah?


Rasanya pantat gue langsung terkena bisul.


Bunda: "Iya deh iya... Percaya yang udah pengalaman bunda mah"

__ADS_1


__ADS_2