Homeroom Teacher

Homeroom Teacher
Episode 6


__ADS_3


Gue bener bener ga nyangka kalau gue udah jadi buronan.


Gue ditetapkan menjadi buronan oleh teman teman sekelas gue sendiri yang semuanya hampir jarang ngobrol sama gue kecuali Cindy tentunya.


Selepas dari pemaksaan bolos yang harus cepat cepat meninggalkan sekolah oleh Cindy, gue hampir setengah mati ga bisa keluar dari kokohnya pagar besi yang biasanya dengan mudah dapat gue lewati tanpa hambatan dan rintangan.


Semua itu tampak sulit karna teman sekelas gue menghadang dari segala penjuru yang ada di sekolah kami.


Gerbang utama?


Jangan ditanya lagi, sudah lebih dari sepuluh anak nongkrong di depan gerbang bahkan ada juga yang tiduran di tempat satpam sekolah hanya demi menunggu kehadiran gue.


Motor gue nasibnya juga sama.


Entah sejak kapan motor matic dengan ring motor tujuh belas itu dikawal secara ketat oleh dua anak perempuan yang kerap membuat masalah dengan gue kalau sedang berada di kelas.


Toilet juga sudah menjadi tempat patroli pertama bagi mereka karna itulah tempat kedua bagi gue setelah kantin untuk melarikan diri dari semua orang.


Hingga pada akhirnya gue pun bisa kabur dari semua itu atas ide konyol dari Fikhi.


Ide yang juga sebenarnya tidak terlalu membuat gue rugi atau pun untung.


Ide yang mengusulkan gue untuk mengikuti salah satu guru yang hendak keluar dari sekolah karna terdapat urusan.


Dan gue diberi alasan oleh teman teman laknat gue bahwa gue tengah sakit yang teramat sakit hingga tidak bisa melanjutkan pelajaran yang masih tersisa empat jam pelajaran.


Awalnya semua lancar jaya sentosa, tapi lama kelamaan gue semakin menjauh dari sekolahan gue dengan sebuah motor yamaha Vixion Advance tahun dua ribu lima belas warna hitam pekat yang dikendarai oleh seseorang yang sama sekali ga gue kenali, tiba tiba saja muncul perkataan datar yang terdengar sangat pedas dari sebuah mulut yang untuk pertama kalinya gue dengar suaranya.

__ADS_1


Suara ringan yang begitu santai namun menusuk begitu dalam.


"Kamu pura pura sakit kan. Jadi tolong turun sekarang"


Memang suatu kenyataan bahwa gue ini sedang pura pura sakit, tapi entah mengapa gue merasa terhina dengan ucapannya yang hendak menurunkan gue di pinggir jalan belum jauh dari bangunan sekolah.


Belum lagi, guru pria dengan tinggi badan yang sangat menjulang dan menggunakan helm hitam itu sama sekali tidak menoleh ke arah gue. Dia hanya terus saja menatap ke depan bahkan saat dirinya telah berada di tepi jalan untuk memaksa gue turun dari motor lakinya.


Niaz: "Bapak kebiasaan nurunin anak gadis di pinggir jalan yah, enteng banget waktu ngomong kelihatannya?" cela gue yang sedang membenarkan rok abu abu gue agar terlihat rapih.


"Saya tidak biasa bonceng anak tukang bohong kaya kamu" sahutnya dengan mengalihkan kopling hendak siap jalan ulang.


Ini orang kalau bukan guru di sekolahan gue sendiri udah gue dupak itu mulut, batin gue sinis melihatnya dari balik spion motornya.


"Hati hati, biasanya anak tukang bohong ke guru karma buruknya langsung datang" petuahnya yang sudah mulai melajukan motornya.


Wah cari perkara itu orang.


Niaz: "BAPAK JUGA HATI HATI, SOALNYA SAYA JUGA NYUMPAHIN BAPAK JATUH HATI!!!"


🍂🍂🍂


Kling.


Dentingan suara ponsel gue menarik saraf otak gue untuk menggerakkan tangan kanan gue agar cepat meraih benda pipih yang menjadi candu bagi semua orang yang telah memilikinya.


Layar datar infinity-V dengan diagonal enam koma tiga inci itu kini tengah berada di tangan kanan gue.


Menampilkan beberapa notifikasi bukan hanya dari aplikasi pesan warna hijau saja, melainkan dari instagram, twitter, facebook dan juga satu aplikasi yang kerap gue kunjungi disetiap harinya.

__ADS_1


@Jablainya mas Udin: "Niaz.. Niaz.. main yuk"


@Bucinnya Jason: "Thor, bagi duda dongs"


@Bucinnya Jason: "Kalo pelit gue *****"


@Clara David forever: "Thor, kapan up?"


@anaklanang: "Thor gue punya banyak bujang mau kaga lo, kalo duda gue kosong"


@Tante Cintya: "Thor.. othor? Lo masih hidup pan?"


Serentetan teks pesan dari satu aplikasi itu membuat mood gue jauh lebih baik dari sebelumnya.


Tidak hanya karna sebuah grup yang gue miliki dengan anggota lebih dari tiga ratus pengguna satu aplikasi komik dan novel itu saja. Tapi ada beberapa novel dari author lain yang udah menjadi favorit gue untuk dibaca disaat waktu senggang gue. Seperti saat ini, saat dimana gue butuh hiburan untuk menjadi pelampiasan.


Hiburan yang dapat sejenak membuat gue lupa akan group whatsapp kelas yang terus saja membahas mengenai kejadian bu Nisa yang dilarikan ke rumah sakit gegara mengalami pendarahan akibat terlalu banyak pikiran dan terlalu mengalami penekanan hingga membuatnya stres.


Selain gue suka membaca novel maupun komik yang ada, sebenarnya gue juga adalah seorang penulis. Penulis abal abalan yang hanya untuk menyalurkan segala imajinasi yang ada.


Karna diri gue ini terlalu banyak berimajinasi terlebih lagi bila sudah menyangkut abang tersayang Korea gue yang gantengnya ngalahin arjuna lebih lebih gatot kaca.


Gue itu hobi baca sebenarnya.


Hanya saja gue beda sama orang lain. Kalau Cindy hobi baca segala jenis buku yang dapat menambahnya segala wawasan dan pengetahuan.


Kalau orang wajar pada umumnya hobi baca novel atau komik, nah kalau gue harus ada tambahannya yaitu komik or novel plus plus yang banyak ajib ajibnya.


__ADS_1


__ADS_2