
Gue Niaz, wanita antik sejagad raya yang bercita cita menjadi bininya mamas Suga bagaimanapun caranya. Termasuk diperkosa olehnya Insya Allah gue ikhlas ridhohi ta'ala asal bisa satu ranjang dan merem melek bersamanya. Dan secercah kebiasan buruk gue telah keluar pagi ini.
"NIAZ!" panggil seseorang yang membuat gue menghentikan langkah sembrono gue di sebuah pafling yang dimiliki sekolahan gue.
Niaz: "Coba ulangi?" tanya gue mengernyit sinis pada pria yang barus saja menghampiri gue tanpa aba aba.
"Eh?! Lapor ndan! selamat pagi menjelang penderitaan.. ada cicak kesandung paku, adakah dikau merindukan diriku? laporan selesai!" gonbalan recehnya dengan sikap tegaknya setiap kali bertemu dengan gue yang membuat enek bercampur mual teraduk dalam adonan muak yang membosankan.
Niaz: "Cicak kesandung paku dipukul palu, dikau bilang ada rindu palalu! laporan ditolak, berdiri disini sampai guru pertama lewat!" perintah pertama meluncur dengan mulusnya.
"Siap ndan! laksanakan!" hormatnya tanpa gue perdulikan dan berlalu begitu saja meninggalkannya.
Dian Niaz Pamungdining Tyas
Code name komandan Paijo
Kelas sebelas Akuntansi satu, murid disalah satu sekolah swasta biasa disebuah kota Cilacap Majenang. Kota biasa dengan penduduk biasa dan dikelilingi dengan masyarakat biasa tanpa lingkungan kotor atau populasi yang merusak lingkungan yang menghancurkan bumi pertiwi.
Bukan terlahir dari keluarga kaya raya, bukan anak terpintar di kotanya di sekolahnya apalagi kelasnya.
Hanya benar benar anak gadis biasa dengan tingkah nakalnya yang cukup melegenda dalam sejarah era baru angkatannya.
Bukan pula wanita tercantik termanis apalagi anak jenius tak tertandingi hanya wanita biasa, benar benar wanita biasa dengan tingkah aneh dan ajaibnya.
Dia tidak pintar, tidak pula jenius tapi dia dijuluki komandan cerdas.
Kegilaanya yang dianggap sanggup memecahkan segala situasi yang dia hadapi.
Sedikit diberi kelebihan oleh Tuhan dalam hal seni dua tiga dimensi dan bela diri.
__ADS_1
Dia pandai menggambar, melukis, menjiplak dan merangkai kata. Hampir semuanya dia bisa atau lebih tepatnya memaksakan dirinya supaya bisa semuanya.
Banyak yang membencinya tapi tak banyak pula yang menyukainya. Paling terkenal diantara murid sepantaranya bukan karna kepintarannya atau karna karyanya tapi karna kenakalnnya yang tak ada hentinya.
Mencari perhatian dengan caranya yang selalu menstrim, bahkan terhadap bapak ibu gurunya.
Niaz: "Permisi pak.. saya ijin ke kantin, saya lapar kalau saya lapar saya tidak bisa konsentrasi, kalau saya tidak konsentrasi saya tidak bisa menyerap apa yang bapak sampaikan" tutur gue tanpa ragu langsung menghadap guru yang sedang berusaha memberikan sebuah materi komputer akuntansi pada satu kelas ini.
"Bapak tidak mengijinkan! kembali ke tempat duduk mu dan lanjutkan materi pembelajaran" kata guru dihadapan gue berusaha menetang untuk pertama kali.
Niaz: "Baik pak! kalau begitu saya ijin tidur di tempat duduk saya, saya kalau lapar tidak bisa ditahan jadi saya langsung tertidur" tanpa malu lagi gue meminta hal aneh.
"Bapak tidak...
Niaz: "Maaf pak setidaknya saya sudah sopan meminta ijin terlebih dulu sebelum tidur di jam pelajarannya bapak, murid lain yang langsung tertidur banyak bukankah itu tidak sopan tanpa meminta ijin terlebih dahulu?" kata gue memotong bicaranya.
"Kamu lebih tidak sopan Dian Niaz Pamungdining Tyas" ucapnya mengetuk meja menggunkan pena.
"KELUAR!!!" tunjuknya pada arah pintu yang sedikit terbuka.
Niaz: "Baik pak" jawab gue mantap sambil mengangguk mengiyakan perintahnya.
"Berdiri di lapangan sampai mata pelajaran saya selesai!" perintahnya sebelum gue memegang hendle pintu kelas.
Niaz: "Siap pak!"
🍂🍂🍂
"Lah Paijo! bukannya lo dihukum sama pak Santo guru MYOB suruh berdiri di lapangan?" kata pertama yang gue dengar setelah meminum seteguk es teh mbak Niti, salah satu mbak penjual di kantin sekolah.
Niaz: "Udah" kata gue acuh pada pria bernama Bagus anak kelas sebelas Otomotif tiga teman seperjuangan dan seangkatan.
Bagus Ramadhan
__ADS_1
Code name Letnan Paiman
Sebelas Otomotif tiga
"Udah? Jam pak Santo belum kelar ndan! Lah kenapa lo disini? malah nongkrong dikantin, ntar kena baru tahu rasa loh" ucap pria lain bernama Fery anak kelas sebelas Otomotif tiga sekelas dengan Bagus.
Fery Setiawan
Code name kosong (hanya mereka yang memiliki jabatan tinggi yang memiliki code name)
Sebelas Otomotif tiga
Mata gue ikut bergerak beriringan dengan Fery yang duduk di sebelah gue tanpa permisi.
Niaz: "Nyumpahin komandan, duduk sembarangan dan tidak ada laporan kena pasal bayarin makanan karna tidak sopan!" kata gue menyipitkan mata.
Fery: "Ya elah Paijo.. kita ga sedang tugas patroli juga" keluhnya sambil menepuk nepuk pundak sebelah kiri gue.
Niaz: "Semakin tidak sopan kena pasal telaktir makan seminggu" ucap gue makin menjadi.
Fery: "Eh ndan! lapor saya tadi ada lihat poster Suga pakai kolor di jalan pulang, mau saya belikan?" usulnya sebelum hukuman gue bertambah.
Niaz: "Tidak ada laporan selesai kena pasal belikan gue poster Suga sepuluh super kece badai tanpa busana sehelai pun dengan pose berbeda beda" pinta gue makin menjadi.
Fery: "Ya ampun ndan!"
Fery: "Gus bantu gue kenapa, bisa bangkrut gue kalau dipalak sama Paijo suruh beliin poster Suga mulu" pintanya meminta pertolongan pada teman sekelasnya.
Bagus: "Tidak sopan pada Letnan Paiman kena pasal kerjakan tugas rumah teknik membongkar mesin halaman tiga ratus dua puluh dua LKS tiga" kali ini Bagus ikut arus yang gue berikan.
Fery: "Edyaaaan!"
Fery: "Mak emak, iki loh anakmu dibuly terus mak"
__ADS_1