How To Get A Cold Girl

How To Get A Cold Girl
Bab 1 : Jangan Mudah Percaya


__ADS_3

Di pagi yang amat cerah dan indah ini Nadlyn sudah tiba di sekolah dengan tepat waktu. Yash! Tepat waktu! Yaitu pukul 07.00 yang berpas-pasaan dengan bel sekolah.


“Heh, kemari kamu. Kamu telat!” seru anak osis menghentikan Nadlyn.


“Loh, ini kan baru bel kak,” ucap Nadlyn menunjuk kearah suara dimana bel berbunyi.


“Kamu ini lagi dimasa orientasi. Harusnya kamu datang satu jam lebih awal dari bel masuk!” seru anak osis itu kembali membuat Nadlyn berdengus kesal. “Cepat, baris dibarisan sana!” tegas anak osis itu kembali sambil menunjuk barisan yang lumayan sepi dan panas karena terkena langsung paparan sinar matahari. Mau tidak mau Nadlyn mengikuti perintah osis karena dirinya tidak ingin membuat onar dihari pertamanya sekolah. Nadlyn memakai topinya yang telah ia bawa ditasnya. Ia berdiri tegas dibelakang siswa yang melanggar peraturan sekolah yaitu tidak memakai topi. Tak lama kemudian, upacara berlangsung.


Dilain hal. Seorang lelaki yang berjabat sebagai ketua osis itu menghampiri jajaran siswa yang melanggar aturan sekolah. Terdapat lumayan banyak murid yang berjajar namun hanya ada satu wanita yang berdiri disana. Namun yang ia herankan adalah, atributnya rapih. Lalu bagaimana dia bisa berbaris disana?


Lelaki itu menarik tangan Nadlyn membuat Nadlyn sedikit tersentak. Nadlyn dibawa kebarisan belakang agar lelaki yang berniat menegurnya itu tidak mengganggu keberlangsungan upacara. Nadlyn melepaskan tangan lelaki


yang menariknya dengan paksa. Karena jika tidak dipaksa, pegangan itu tidak akan lepas begitu saja.


“Lo ngapain baris disana?” Tanya Aksa pelan.


“Gue disuruh anjir sama anak buah lo!” teriak Nadlyn membuat seluruh siswa yang berada dibarisan belakang menoleh.


“Berisik! Gue enggak nyuruh lo teriak.” Tegas Aksa membekap Nadlyn. Ia pun menarik paksa Nadlyn menuju wc belakang lapang.


“MMMMPPPHH!”


“Aww, sakit anjir!” seru Aksa ketika Nadlyn menggigit tangannya.


“Lagian ngapain lo bekap-bekap gue sambil bawa gue kesini!” balas Nadlyn dengan nada tinggi.


“Ya gue juga enggak bakal perkosa lo disini!” balas Aksa tak terima dirinya difitnah.


“Oh, enggak disini? Terus dimana?” Tanya Nadlyn menantang.


“Di rumah lo!” jawab Aksa membuat Nadlyn sedikit takut.


“Jawab gue. Kenapa lo baris dibarisan siswa yang ngelanggar aturan?” Tanya Aksa kini menurunkan nadanya.


“Gue disuruh sama anak buah lo.” Jawab Nadlyn ketus.


“Gue enggak punya anak buah yang bodoh.” Balas Aksa membuat Nadlyn melirik sinis.


“Ya, gue katanya telat! Padahal gue dateng pas-pasan sama bel sekolah!” jelas Nadlyn sambil marah-marah. Aksa hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan absurt adik kelas barunya ini.


“Yaudah lo balik kebarisan.” Titah Aksa sambil hendak pergi untuk kembali bertugas namun terhenti karena tarikan dari Nadlyn. Aksa menoleh.


“Lo udah bawa gue ke sini anjir! Anterin gue lagi ke sana lah!” seru Ria membuat Aksa mengerutkan dahinya.


“Lo lumpuh sampai enggak bisa jalan balik ke lapangan hah?” Tanya Aksa yang membuat Nadlyn tersinggung.


“Yaudah, gue mau balik ke kelas aja.” Ketus Nadlyn langsung pergi dari hadapan Aksa, namun hal itu tidak terjadi karena kini Aksa yang menariknya untuk kembali ke lapangan.


Aksa memposisikan Nadlyn ke barisan tadi lalu meninggalkannya begitu saja. Nadlyn yang melilhat pergerakan Aksa itu hanya melirik sinis lalu kembali fokus kepada upacara yang masih berlangsung.


Aksa menghampiri anggota osisnya.

__ADS_1


“Fel, lo yang suruh dia baris disana?” Tanya Aksa kepada Fela, Fela yang merasa terpanggil itu menoleh kearah yang Aksa tunjuk lalu mengangguk pelan.


“Nadlyn?” Tanya Fela.


“Oh, namanya Nadlyn.” Ucap Aksa.


“Kenapa, Kak?” Tanya Fela kembali.


“Enggak cuman nanya doang. Awasin dia ya,” titah Aksa yang lansung diangguki oleh Fela. Aksa pun pergi dari sana dan melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda.


.


.


“Okey adik-adik. Sekarang adalah hari pertama kalian melaksanakan masa orientasi siswa. Kakak harap kalian bisa mengikutinya dengan disiplin dan ingat! Tidak boleh membuat masalah karena dampaknya akan kalian rasakan sendiri.” Tegas Andin, sekertaris osis.


“Baik, Kak!” balas semua siswa serempak.


“Oke bagus! Sekarang kalian berjajar sesuai dengan ruang kelas masing-masing ya. Dan tiap kelas akan memiliki kakak pembimbing yang akan membimbing kalian dimasa orientasi ini. Saya Andin, mohom pamit undur diri.”


Jelas Andin kembali sambil mengakhiri ucapannya. Kini disambung oleh ketua osis yang langsung mendapat sorak riuh dari para wanita karena ketampanannya yang mencolok.


“Berisik!” tegas Aksa tak suka dengan sorak riuh itu. Dengan sekejap seluruh siswi langsung terdiam.


“Oke. Kakak minta kerja sama kalian untuk disiplin dan taat aturan. Jangan sampai kakak turun tangan untuk ngehukum kalian. Ikutin perintah kakak asuh kalian karena kita adalah perwakilan guru yang sudah dipercaya.


Sekarang semua mulai berbaris sesuai kelas masing-masing.” Jelas Aksa yang langsung dituruti oleh samua siswa siswi.


Mereka beriung kesana kemari mencari dimana mereka ditempatkan. Sesekali ada yang malah berkenalan agar mereka dapat berteman bersama dimasa orientasi siswa.


“Kenapa masih diem?” Tanya Aksa begitu sampai didepan gadis yang ia perhatikan tadi. Nadlyn melirik.


“Gue enggak tau kelas gue dimana,” jawab enteng Nadlyn sambil melirik kesana kemari.


“Lo tahu kenapa temen seangkatan lo jalan kesana kemari?” Tanya Aksa kembali yang langsung mendapat gelengan dari Nadlyn.


“Mereka cari kelas, bodoh.” Jelas Aksa yang membuat Nadlyn tersinggu.


“Ya terus gue harus bilang WOW gitu kalau mereka cari kelas?” balas Nadlyn tak kalah sinis, Aksa terkekeh.


“Lo mau gue anter ke kelas lo?” tawar Aksa dengan senang hati karena sudah capek meladeni adik kelasnya ini.


“Nah gitu, sadar posisi! Lo kan babu sekolah jadi harus membantu siswanya dong!” seru Nadlyn mendekati Aksa. Aksa tersenyum paksa dengan hati yang sudah ingin mengumpat sendari tadi. Masalahnya jika ia berkata kasar kepada adik kelasnya itu, ia bisa terkena sanksi karena telah kasar kepada anak baru.


“Barisan lo paling ujung kanan,” ucap Aksa sambil meninggalkan Nadlyn. Nadlyn yang senang langsung menghampiri barisannya dan berbaris rapih disana.


“Eh, lo disini?” Tanya seorang lelaki membuat Nadlyn menoleh.


“Kalau enggak disini ngapain gue kesini.” Jawab Nadlyn ketus membuat semua yang mendengarnya itu tertawa.


“Makanya jangan so ganteng jadi cowok! Ditolak cecan kena mental lo!” seru seorang perempuan yang berdiri didepan Nadlyn. Nadlyn yang merasa terbantu itu tersenyum kepada perempuan tadi.

__ADS_1


“Gue Michel,” ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya. Nadlyn langsung membalas jabaran itu.


“Gue Nadlyn.” Balas Nadlyn.


“Jir, estetik banget namanya!” seru seorang lelaki yang berbaris tak terlalu jauh dari mereka.


“Oke, adik adik, kalian boleh duduk biar kakak bisa absen nama kalian satu-satu!” teriak anak osis membuat semua peserta MOS duduk ditanah.


“Sebelumnya kenalin nama kakak Sela dari kelas 11 mipa 6. Kalian bisa manggil kak Sela atau teh Sela terserah kalian. Oke, yang kakak sebut namanya kalian acungin tangannya ya!” ucap Sela sambil membaca nama adik didiknya satu persatu.


“Okey ada semua ya,” ucap Sela.


“Kak,” panggil seseorang membuat Sela melirik.


“Nama aku belum disebut,” ucap Nadlyn, Sela mengerutkan alisnya.


“Loh, kalau nama kamu enggak disini berarti ada di kelas lain,” jelas Sela membuat Nadlyn mematung.


“Ketua osis bodoh! Bisa-bisanya dia boongin gue!” umpat Nadlyn dalam hatinya. Ia pun bangkit dari duduknya.


“Mohon maaf kak, kayaknya saya salah lihat. Kalau begitu saya izin pamit mencari kelas saya.” Pamit Nadlyn yang langsung diizinkan oleh Sela.


Nadlyn keluar dari barisan dan mencari kelasnya.


“Kurang ajar lelaki bodoh itu! Tau gitu gue enggak minta bantuan dia aja. Nyusahin!” seru Nadlyn mengumpat sambil mencari kelasnya yang belum ketemu.


“Nadlyn, kok kamu malah jalan-jalan?” panggil seseorang membuat Nadlyn menghentikan langkahnya.


“Eh, aunty Mey.” Balas Nadlyn menghampiri bibi—adik ibunya—dan menyalaminya.


“Kenapa enggak baris kayak yang lain?” Tanya Mey.


“Tadi aku udah baris tapi ternyata bukan kelas aku, jadi aku nyari lagi deh dimana kelas aku.” Jelas Nadlyn, Mey mengangguk.


“Emm, eh, Aksa!” panggil Mey begitu Aksa tertangkap pandangannya. Aksa menoleh dan lansung menghampirinya.


“Iya bu, ada yang perlu dibantu?” tawar Aksa.


“Tolong cariin kelas ponakan ibu ya, kasian dia kesana kemari nyari kelasnya sampe keringetan gini!” seru Mey menyeka keringat Nadlyn.


“Ah gamau ty, dia tadi yang nipu aku baris di kelas sana tapi ternyata bukan!” seru Nadlyn mengadu.


“Loh, kok kamu kasih informasi palsu ke Nadlyn?” Tanya Mey membuat Aksa panik.


“Eh, bu, mana mungkin saya kasih informasi yang salah. Mungkin Nadlyn salah dengar atau salah lihat karena kelas Nadlyn itu berada dibaris kedua disebelah kanan,” jelas Aksa dengan lancar.


“Lo tadi bilang—“


“Eh, udah sana cepetan baris! Telat dihukum loh!” seru Mey membuat Nadlyn memanyunkan bibirnya. Ia melirik sinis kearah Aksa seolah memberi ucapan ‘awas lo!’


Aksa hanya berkekeh pelan saat melihat Nadlyn pergi menuju barisannya.

__ADS_1


“Eh, bu, kalau gitu saya undur diri ya. Mau urus siswa yang lainnya.” Pamit Aksa.


“Eh iya. Selamat bekerja Aksa.” Balas Mey, Aksa mengangguk tersenyum lalu pergi dari sana.


__ADS_2