
Kini semua murid tengah berkumpul di kelasnya masing-masing. Mereka sedang diarahkan oleh kakak pembimbingnya untuk tetap tertib agar masa orieentasi ini berjalan dengan lancar. Tak lupa juga, para kakak pembimbing memberitahukan peraturan sekolah yang tidak boleh mereka langgar.
Aksa yang sedang bertugas untuk mengumpulkan data siswa yang hadir dihari pertama itu mengelilingi kelas bersama wakilnya, Vero. Mereka mulai memasuki kelas dari mipa 1 dulu.
“Permisi.” Ucap Aksa memasuki kelas yang diikuti oleh Vero.
“Ya? Oh, ini ada ketua dan wakil ketua osis kita. Silahkan masuk kakak.” Ucap kakak pembimbing disana. Aksa dan Vero mengangguk lalu memasuki kelas dengan mencopot alas sepatu karena ternyata, murid di kelasnya ngampar.
“Emang ketentuannya duduk dibawah ya?” Tanya Aksa, anggota osisnya mengangguk. Aksa hanya ber oh ria.
“Em, ya, perkenalkan nama kakak Aksa Grahmata, saya menjabat sebagai ketua osis diperiode sekarang sampai tahun depan. Semoga kalian bisa mengikuti masa orientasi ini dengan tertib dan disiplin,” ucap Aksa panjang lebar memperkenalkan dirinya.
“Perkenalkan juga nama saya Vero Ardyo Putra, saya menjabat sebagai wakil ketua osis selama kak Aksa menjabat.” Sambung Vero ikut memperkenalkan diri.
“Ya, ada yang mau dipertanyakan lagi?” Tanya Aksa.
“Kak udah punya pacar belom?” Tanya salah satu murid disana.
“Udah,” jawab Vero pede.
“Em, kak Aksa maksudnya,” sambung murid itu membuat seisi kelas riuh dengan suara tawa. Aksa yang tak ingin memperdulikan itu langsung berbalik kearah anggotanya.
“Keterangan hadir mana?” Pinta Aksa, anggotanya pun langsung memberikan lembaran yang Aksa pinta. Setelah mendapatkannya, Aksa kembali membalikkan badannya kearah para murid dan berpamitan.
“Kakak pamit undur diri ya,” pamit Aksa yang langsung pergi tanpa mengubis teriakan-teriakan adik kelasnya.
Ia melanjutkan tugasnya yaitu menuju ipa 2. Ia memperhatikan dulu keadaan diambang pintu. Matanya mencari sosok yang sendari tadi mengusiknya itu, dan hap! Mata mereka pun saling bertemu.
“Eh ada ketua dan wakil osis kita nih, silahkan masuk kak!” sambut anggota Aksa hangat. Aksa mengangguk dan memasuki kelas.
“Perkenalkan nama saya Aksa, saya menjabat sebagai ketua osis untuk satu tahun kedepan ini. Semoga kalian bisa mengikuti masa orientasi dengan baik dan disiplin,” ucap Aksa yang mengulang perkataanya yang sudah ia katakana di kelas sebelumnya.
“Perkenalkan nama saya Vero Ardyo Putra, saya menjabat sebagai wakil ketua osis selama kak Aksa menjabat,” sambung Vero seperti yang ia ucap tadi.
“Apa ada yang ingin bertanya lagi?” Tanya Aksa.
“Kak, cara jadi the most wanted gimana?” Tanya murid laki-laki membuat Aksa kebingungan.
“Lo nanya ke siapa?” Tanya Aksa.
“Kakak lah! Siapa lagi yang diincar banyak cewek selain kakak,” jelas murid itu kembali. Aksa mendesah pelan.
“Tanya aja sama cewek yang suka gue,” jawab Aksa sambil membalikkan badannya tak kuasa menjawab pertanyaan absurd dari adik kelasnya itu.
“So ganteng.”
Aksa langsung menghentikan langkahnya begitu mendengar penuturan kata yang tidak enak ditelinganya. Semua murid langsung terdiam tegang melihat Aksa yang kini mengedarkan pandangannya.
__ADS_1
“Siapa yang ngomong?” Tanya Aksa dikala kelas yang sangat sunyi.
“Gue!” jawab Nadlyn tegas. Aksa melirik dan tertawa pelan. Ia mendekati Nadlyn dan jongkok dihadapannya.
“Oh, si cantik yang gue incar ini yang ngomong?” ulang Aksa memperhatikan wajah Nadlyn dari dekat. Nadlyn yang merasa puas itu tersenyum bangga.
“Iya gue, kenapa?” Tanya balik Nadlyn membuat Aksa tersenyum lebar.
“Nothing. Lo makin menarik,” ucap Aksa.
“Pede banget lo gue terima!” balas Nadlyn memalingkan wajahnya dari Aksa.
Aksa yang merasa tertantang itu memunculkan smirknya lalu bangkit dari jongkoknya. Ia mendekati anggotanya dan meminta absensi seperti yang ia lakukan di kelas sebelah.
“Kita pamit undur diri. Semoga hari pertama kalian menyenangkan,” pamit Aksa sambil pergi berlalu keluar kelas yang diikuti oleh Vero.
“Pasti menyenangkan dong buat Nadlyn mah!” seru Pinka menyenggol lengan Nadlyn. Nadlyn yang mendengarnya hanya bergidik ngeri. Karena pernyataan itu yang benar adalah sebaliknya! Hari pertama orientasinya sangat suram! Benar-benar suram.
“Okey kita lanjut ya,” ucap kakak pembimbing yang sendari tadi masih mengumumkan peraturan sekolah.
.
.
Nadlyn berjalan bersama Pinka menuju keluar sekolah. Mereka kini menjadi sahabat karena dirasanya cocok untuk berteman.
“Eh, lo pulang sama siapa?” Tanya Nadlyn begitu sampai di gerbang sekolah.
“Lo naik apa?” Tanya Pinka yang selesai memberi kabar pacarnya.
“Gue dijemput abang. Bentar lagi dateng kayaknya,” jawab Nadlyn.
“Oh, lo ada abang,” ucap Pinka.
“Ada satu,” jawab Nadlyn kembali, Pinka menganggukan kepalanya.
Mereka saling terdiam sambil memandangi jalan. Sama-sama menunggu jemputan yang lumayan lama tidak hadir-hadir.
“Lama banget anjir abang gue!” seru Nadlyn kesal sambil membuka ponselnya dan berniat untuk menghubungi sang kakak.
TINNN! Suara klakson mengejutkan Nadlyn dan Pinka, em, bahkan tak hanya mereka, tapi murid disekitarnya juga ikut terkejut.
“Anjir, bisa nyalem enggak!” seru Nadlyn.
Lelaki itu membuka helm full facenya dan menampilkan senyum kuda tanpa rasa bersalah.
“Itu biar lo enggak nelepon gue,” jawab Nakhi. Nadlyn memutarkan matanya malas lalu berbalik menghadap Pinka.
__ADS_1
“Ka, gue duluan ya. Eh iya, cowok lo kemana? Mau gue tunggu?” Tanya Nadlyn sambil pamit.
“Cowok gue telat dikit. Lo duluan aja, abang lo juga udah sampe ini,” balas Pinka dengan senang hati.
“Okey. Besok chat aja kalau mau bareng dari gerbang,” ujar Nadlyn, Pinka mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. “Hati-hati!”
Nadlyn menghampiri Nakhi. Ia memakai helm yang Nakhi berikan, lalu menaiki moge sambil memegang tangan sang kakak.
“Udah,” intrupsi Nadlyn yang langsung diterima oleh Nakhi. Ia pun menginjak kopling dan menacap gas meninggalkan area sekolah.
Seperti yang terlihat dari motornya, Nakhi adalah seorang pembalap. Ia melajukan motor besarnya dengan kecepatan diatas rata-rata membuat Nadlyn tiada hentinya mengucapkan syahadat.
“NYALEM WOY BAWANYA! KALAU MAU MATI JANGAN AJAK GUE!” teriak Nadlyn yang mendapat tawaan dari kakaknya. Bukannya mengurangi kecepatan, Nakhi justru menaikan kecepatan membuat Nadlyn memeluknya erat karena takut terbawa angin ****** beliung.
Tak lama dari aksi kebut-kebutannya. Kedua kakak beradik itu sampai dikediamannya. Nadlyn turun terlebih dahulu dan langsung menundukkan badannya.
“Kenapa lo?” Tanya Nakhi sedikit cemas.
“Mual bego,” jawab Nadlyn tak kuasa menahan sakit diperutnya.
“Lebay,” balas Nakhi.
Nadlyn menatapnya jengkel. Ia menyimpan helmnya dimotor Nakhi lalu berlari menuju pintu masuk kediamannya. Ia berlari menuju ruang kerja dan menampilkan sang ayah yang sedang berkutat dengan laptopnya.
“Papi! Tadi abang bawa motor kenceng banget sampai aku mual-mual pusing!” adu Nadlyn sambil merengek. Fathah—ayah Nadlyn—menegakkan kepalanya begitu mendegar suara dari anak kesayangannya.
“Aduh, kenapa ini anak papi rambutnya acak-acakan gitu!” seru Fathah sambil melenggangkan tanggannya untuk memeluk sang anak. Nadlyn langsung menghamburkan pelukannya dan memanyunkan bibirnya.
“Si abang!” seru Nadlyn.
Pintu ruang kerja itu terbuka dan menampilkan Nakhi dari balik pintu. Ia sudah yakin kalau adiknya itu akan mengadu kepada sang ayah karena itu adalah kebiasaan Nadlyn dari kecil. Nakhi selalu saja menjahili sang adik karena merasa gemas, namun Nadlyn sangat tidak suka saat dirinya dijahili jadi ia selalu mengadu kepada ayahnya.
“Nakhi! Minta maaf sama adek kamu!” tegas Fathah, Nakhi terkekeh pelan lalu mendekati adiknya.
“Iyaa, abang minta maaf. Tadi abang laper enggak kuat jadi buru-buru pulang,” jelas Nakhi sambil menjabat tangan Nadlyn. Nadlyn mendengus kesal mengalihkan pandangannya.
“Lagian kamu ini, adeknya udah besar masih diusilin aja,” ucap Fathah.
“Mana ada besar pih! Dia masih mungil kayak bayi gitu! Buktinya dia masih suka ngadu ke papi!” seru Nakhi membuat Nadlyn marah kembali.
“Ih tau ah! Kesel ngomong sama abang lama-lama!” seru Nadlyn meninggalkan mereka begitu saja. Nakhi hanya tertawa melihat bahwa dirinya telah berhasil mengusili sang adik. Fathah hanya menggelengkan kepala yang selalu melihat anak-anaknya ini tidak pernah adem anyem.
Nadlyn melemparkan tasnya ke sembarang arah lalu merebahkan tubuh mungilnya dikasur besar miliknya.
Nadlyn merasa kesal ini hari ini. Tak hanya kakaknya, namun kakak kelas sekolahannya juga senang mengusili dirinya. Dia selalu kesal sendiri, padahal dirinya paling tidak suka jika diusili oleh orang-orang, tapi orang-orang selalu saja mengusilinya. Aneh!
Nadlyn mengganti posisi tidurnya menjadi tengkurap lalu membuka ponselnya yang sendari tadi bordering. Ia melihat bahwa kini Nadlyn ditambahkan ke grup kelas baru berisi teman-teman sekelas. Ia membaca pesan satu persatu yang tidak sempat i abaca tepat waktu.
__ADS_1
“Besok jangan lupa pakai baju olahraga ya. Karena kegiatan besok adalah perkenalan ekstrakulikuler,” pesan kakak pembimbing mereka. Nadlyn berdesah panjang karena memikirkan betapa lelahnya mulung sampah di sekolahannya yang begitu luas.
Ia memejamkan matanya karena merasa capek akan hari ini.