
Hari ini Nadlyn sengaja membawa bekal minum dari rumahnya karena kemarin kakak asuhnya menyarankan untuk membawa minum dan trashbag. Sudah sangat diduga hari ini mereka akan memberihkan lingkungan sekolah. Ini adalah salah satu permbersihan gratis berkedok program MOS yang diajukan kepala sekolah kepada anak osis.
"Udah siap belum lo?" tanya Nakhi melihat aktivitas Nadlyn yang tidak ada selesainya. "Ini baru selesai." Jawab Nadlyn sambil menggendong tasnya.
"Tumben kamu berangkat pagi – pagi. Bukannya hari ini kamu nggak ada kelas, Khi?" tanya Sinta-ibunda Nakhi dan Nadyn-.
"Dari pada anak kesayangan kalian dianter bocah bau kencur," jawab Nakhi dengan ketus membuat kedua orang tuanya yang tidak mengerti itu bertanya – tanya.
"Ah, ayo Kak! Gue udah telat nih! Mami, Papi, Nadlyn berangkat ya!" seru Nadlyn sambil mendorong kakaknya keluar dari rumah.
.
.
"Pulangnya kabarin gue! Lo nggak boleh pulang sama siapapun selain gue!" tegas Nakhi ketika Nadlyn turun dari motornya. "Ngatur banget sih lo." Balas Nadlyn.
"Heleh, bocah masih bau kencur lo nggak usah bucin – bucinan!" seru Nakhi mengacak rambut Nadlyn. "Ih! Nggak usah ngerusak iketan rambut gue juga!" ketus Nadlyn menepuk tangan kakaknya.
"Nanad!" panggil seseorang menghentikan pertengkaran kecil adik kakak itu. "Hai, Pin!" balas Nadlyn tersenyum. Pinka mendekati Nadlyn kemudian bersalaman dengan Nakhi.
"Dek, titip Nadlyn ya, jangan sampe dia pacaran sama bocah bau kencur ya." Ujar Nakhi membuat Pinka kebingungan. Pinka hanya mengangguk untuk menjawab titahan dari Nakhi itu.
"Yaudah gue masuk dulu," pamit Nadlyn yang disetujui oleh Nakhi. Nadlyn dan Pinka pun pergi meninggalkan Nakhi memasuki sekolah. Nakhi menatap kepergian sang adik dengan penuh khawatir.
.
__ADS_1
.
"Semuanya! Denger intrupsi kakak ya! Kalian disini akan melakukan perubahan sekolah! Dimana kalian akan membersihkan halaman sekolah, mengecat pagar – pagar taman kecil sekolah, dan kalian juga akan menghias taman kecil sekolahan ini. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan hadiah sekolah yang sudah menerima kalian masuk untuk menjadi peserta didik SMAN 1 Bangsa ini!" jelas MC yang dibalas sorak riuh dari para peserta MOS.
"Okey, untuk pembagian tugasnya sudah kakak bagikan ke kakak asuh kalian masing – masing ya! Selamat bekerja adik – adik!"
Nadlyn dan Pinka langsung mengerjakan tugas yang diberikan oleh kakak asuhnya yaitu memberihkan area taman 1. Dimana area tersebut adalah area yang biasanya ditempati oleh kakak kelas 12 karena taman itu di kelilingi oleh kelas 12. Tidak hanya berdua, mereka juga bersama teman – teman sekelasnya yang lain serta kelas sebelah yang bertujuan menghias taman tersebut.
"Eh bagi – bagi tugas ya. Siapa yang mungut, siapa yang pegang kresek, berdua – berdua." Ucap Syahla-teman sekelas Nadlyn- "Oke!" jawab yang lain serempak.
Tentu saja Nadlyn bersama Pinka. Mereka mengambil trashbag di tas mereka dan Pinka mulai memungut sampah yang ada disana sedangkan Nadlyn memegang trashbagnya. Selang beberapa puluh menit, Pinka minta bergantian karena merasa pegal dengan aktivitasnya, Nadlynpun menyetui dan mulai memungut sampah. Tak terasa sudah dua jam penuh para calon siswa itu melakukan tugas membabunya. Mereka semua beristirahat bersama di bangku koridor yang tak jauh dari taman itu.
"Berasa ngejar doi ya, capek banget!" ucap Amel yang duduknya tak jauh dari Nadlyn. Nadlyn tertawa kecil mendengar itu.
"Eh, kalian bawa minum nggak? Gue minta dong lupa bawa!" seru Celsa mendekati teman – teman sekelasnya. "Nih, ambil punya gue. Tadi gue beli minum tahunya dibawain minum juga sama emak gue." Pinka menodorkan botol minumnya kepada Celsa yang diterima senang oleh anak itu. "Makasih banyak Sist!"
"Aduh, jangan disitu juga dong! Apek gue liat lo berkeringat gitu!" seru kakak kelas kembali membuat Nadlyn berdelek.
"Ayok, Pin, kita balik." Ajak Nadlyn yang disetujui oleh Pinka. Pinka bangkit dari duduknya dan mengikuti Nadlyn yang sudah jalan lebih dulu.
"Heh! Gue nggak nyuruh lo pergi!" seru kakak kelas itu kembali yang tidak disahuti oleh Nadlyn. Dengan gemas, kakak kelas itu langsung mengejar Nadlyn dan menarik rambutnya membuat gadis itu meringis kesakitan. "Aw!"
"Gue kan ngomong sama lo! Kenapa lo nggak jawab!" teriak wanita yang menjambak rambut Nadlyn. Dengan reflex, Nadlyn mengiku perut wanita itu kemudian menjauhinya dan mengelus kepalanya. Sedangkan sang kakak kelas meringis kesakitan.
"Kurang aja lo sama kakak kelas nggak ada sopan santunya!" teriaknya kembali. "Emang lo punya sopan santun! Kenal nggak udah teriak – teriak aja ke gue! Kayak emak gue aja lo!" balas Nadlyn yang mengejutkan kakak kelas itu, em bukan hanya dia, tetapi seluruh siswa yang melihat pertengkaran mereka.
__ADS_1
"Berani – beraninya lo!" kakak kelas itu langsung menghampiri Nadlyn dan menjambaknya kembali dengan sekuat tenaga. Tidak ingin kalah, Nadlyn pun menjambak wanita itu dan terjadilah aksi jambak – jambakan. Orang – orang yang melihat itu hanya menonton tanpa peduli dengan kesakitan yang kedua orang itu rasakan. Mereka justru meneriaki nama masing – masing member untuk mendukungnya menjadi pemenang.
Pinka yang berbeda pendapat merasa khawatir dengan sahabat yang baru ia kenal beberapa hari lalu. Ia berusaha mengedarkan pandangan untuk mencari kubu yang sependapat dengan dirinya. Terlintasnya pikiran untuk meminta bantuan kepada orang yang sedang dekat dengan Nadlyn yaitu Aksa. Ia langsung berlari keluar kerumbunan dan berlari kesana kemari mencari Aksa.
Sedangkan yang sedang bergelut itu sama – sama tidak ingin kalah. Kayla-kakak kelas yang sendari tadi mencari ribut dengan Nadlyn- itu kemudian menjatuhkan dirinya ke tanah yang membuat Nadlyn ikut terjatuh. Dengan sangat brutal keduanya saling menjambak diatas tanah yang membab karena siraman yang sebelumnya dilakukan para calon siswa.
"Lepasin tangan lo!" teriak Kayla tak tahan. "Lo sendiri yang duluan jambak rambut gue!" balas Nadlyn tak mau kalah. Kayla mengedarkan pandangan. Ia melihat ada botol kaca yang terletak tak jauh dari mereka. Ia berusaha mengambil botol kaca itu karena tangannya tertahan terus oleh tangan Nadlyn. Hingga akhirnya usahanya membuahkan hasil, begitu botol kacanya ada ditangan Kayla, ia langsung memecahkan botol itu ke kepala Nadlyn.
Prangg!
"Nadlyn!" teriak Pinka begitu tiba di lokasi. Pinka langsung mendekati Nadlyn yang sudah tidak sadarkan diri. Aksa yang baru tiba membelakkan mata dan ikut mendekati Nadlyn. Tanpa babibu, Aksa mengangkat Nadlyn dan langsung di tahan oleh Kayla.
"Aksa! Kepala gue sakit!" teriak Kayla.
"Nggak peduli." Jawab Aksa ketus membuat Kayla terkejut. "Bawa Kayla ke ruang BK dan tunggu gue disana." Titah Aksa kepada Vero yang baru tiba di lokasi. Vero mengangguk dan langsung mendekat Kayla dan menyeret paksa ke ruang BK.
Sesampainya di ruang UKS, Nadlyn langsung di periksa oleh dokter yang bertugas di ruang uks. Dokter itu memeriksa bagian yang terdapat luka dan syukurnya tidak ada luka serius dikepalanya.
"Syukurnya botol kaca yang dipukul ke kepala Nadlyn itu tidak keras jadi tidak ada luka serius. Pingsannya Nadlyn mungkin disebabkan oleh lelah dan terkejut jadi tidak ada yang perlu kalian khawatirkan." Jelas dokter membuat Pinka dan Aksa lega.
"Kalau gitu saya titip Nadlyn kepada dokter ya." Ucap Aksa yang dibalas anggukan ramah dari sang dokter. Aksa pun berpamitan dan pergi menuju ruang BK.
Sesampainya di ruang BK, Aksa langsung duduk di meja penghukuman yang dimana meja itu biasa ia duduki ketika menghadapi siswa yang melanggar peraturan. Aksa mencatat beberapa pelanggaran yang ia dengar dari laporan wakilnya. Dengan sesekali Kayla mengelak laporan itu dengan alibi yang ia buat sendiri.
"Lo udah nggak sayang sama gue?" tanya Kayla dengan rendah hati. "Nggak." Balas Aksa langsung menjawab membuat kemarahan di hati Kayla memuncak kembali.
__ADS_1
"Ini pasti gara – gara adik kelas sialan itu. Gue nggak akan ampuni dia!" seru Kayla bangkit dari duduknya. "Lo di scors satu minggu dari sekarang. Jadi jangan harap lo masuk sekolah. Dan gue ingetin, scors bukan berarti libur. Lo masih harus ngerjain tugas sekolah walaupun lo udah nggak sekolah. Ini buku pelanggaran lo." Jelas Aksa menahan kepergian Kayla. "Oh ya, satu lagi. Kalau lo berani sentuh adik kelas yang tadi ribut sama lo, nggak akan segan gue buat laporin ini ke bokap lo."
Aksa bangkit dari duduknya kemudian pergi berlalu melewati Kayla seorang diri. Ia terkejut dengan sikap Aksa yang berubah drastis dari terakhir kali mereka bertemu. Ini menunjukkan bahwa adanya Nadlyn adalah pengaruh sesungguhnya dari perubahan Aksa. Ia menggepal tangannya kuat – kuat untuk berpikir cara membalaskan dendamnya yang paling kuat.