How To Get A Cold Girl

How To Get A Cold Girl
Bab 4 : Salah Naik Berujung Petaka


__ADS_3

Aksa bersiap-siap di ruang boxnya. Ia bersama teman-teman boxnya yang lain akan menampilkan sebuah pertunjukkan untuk mempromosikan eskulnya itu.


"Sa, lo udah selesain masalah lo sama Kayla?" Tanya Rio—ketua box—sambil mengikat sabuknya. Aksa menoleh lalu berpikir sejenak. Tak lama ia pun bergeleng.


"Lo udah deket sama cewek baru tapi belum selesain masa lalu lo?" Tanya ulang Rio membuat Aksa berdesah pelan.


"Gue salah apa sih dimasalah itu. Kayaknya udah jelas juga kan dia yang salah? Ngapa gue yang dibawa-bawa?" balas Aksa yang sudah jenuh dengan masalahnya.


"Tapi seenggaknya lo lurusin kesalahpahamannya," ujar Rio. Aksa berlalu acuh. Ia tidak mau lagi berurusan dengan mantannya itu. Bahkan mendengar suaranya pun sudah muak.


"Oke! Penampilan ekstrakulikuler box! Beri tepuk tangan yang meriah!" seru pembawa acara yang dibalas sorak riuh dari semua murid disana.


Para anggota box pun memasuki lapangan. Mereka menampilkan sebuah drama, dimana seorang wanita yang dijambret lalu wanita itu melakukan perlawanan. Karena lawan tak seimbang, wanita itu kalah dan terbaring di tanah. Saat wanita itu akan diberi pukulan akhir, sang pahlawan datang. Aksa bersama Rio langsung menyerbu sang jambret membuat riuh para penonton. Pasalnya tak hanya keren dari segi acting, tapi tampang mereka juga sangat enak dilihat membuat para peserta tak henti takjub.


"Anjir, cowok lo ganteng, Lyn!" seru Pinka membuat Nadlyn langsung melotot.


"Apaan sih, dia bukan siapa-siapa gue," balas Nadlyn.


"Ah, yakin?" Tanya Pinka ulang. Nadlyn mengangguk mantap.


"Jangan salahin gue kalau lo suka sama dia ya." Ujar Pinka membuat Nadlyn memutarkan matanya.


Acara demi acara telah berlangsung. Kini para murid berbondong-bondong untuk pulang ke rumah masing-masing.


Seperti hari sebelumnya, Nadlyn dan Pinka menunggu jemputan di dekat gerbang sekolah. Namun kali ini mereka lebih jauh dari gerbang karena motor mobil berlalu lalang masuk keluar sekolah.


"Lyn, cowok gue udah ada," ucap Pinka, Nadlyn melirik.


"Mana?" Tanya Nadlyn mendarkan pandangan.


"Ini depan lo!" seru Pinka mengarahkan kepala Nadlyn kedepan mereka. Tampak jelas seorang lelaki mengenakan motor kopling dengan helm full face membuat Nadlyn tidak bisa mengenalinya.


"Oh, yaudah hati-hati ya!" seru Nadlyn memberi lambaian kepada temannya.


"Abang lo mana?" Tanya Pinka.


"Biasalah, orang oon suka telat," jawab Nadlyn enteng. Pinka hanya terkekeh pelan lalu berpamitan.


"Yaudah gue duluan ya. Hati-hati! Malem kabarin gue lagi." Titah Pinka. Nadlyn mengacungkan jempolnya tanda ia akan melakukan sesuai perintah Pinka. Tak lama dari itu, Pinka pun pergi meninggalkan sekolah.


Nadlyn kembali fokus ke ponselnya. Ia mengetik pesan untuk sang kakak agar segera menjemputnya.


Namun belum sempat ia mengetik pesan, motor besar itu sudah ada dihadapannya. Dengan segera, Nadlyn mengambil helm yang ada di kursi belakang motor dan menaiki motor itu. Entah mengapa kali ini dia merasa merindukan kakaknya. Dengan santai ia memeluk sang kakak.


Ada sedikit hentakan tanda terkejut dari pria dihadapannya. Namun tak lama dari itu, motor pun berjalan mengikuti arus jalan.


Nadlyn sangat menikmati perjalanan. Ia sedikit kebingungan mengapa kali ini sang kakak tidak brutal seperti sebelum-sebelumnya yang sering membawa ia trial ke surga. Nadlyn pun mendekatkan dirinya kepada sang kakak.


"Abang kok kalem hari ini?" Tanya Nadlyn sedikit berteriak. Pria itu bergeming tak bersuara. Nadlyn yang bete karena pertanyaannya tak dijawab itu langsung melepaskan pelukannya dan berpikir untuk membuka ponsel.

__ADS_1


Saat membuka ponsel, Nadlyn dikejutkan oleh sebuah pesan singkat yang dikirimkan untuknya dari Nakhi.


"Dek, abang mo nongkrong dulu. Pulang sendiri ya."


Nadlyn langsung melotot. Tangan kakinya lemas gemetar bercampur asam lambung yang naik karena belum makan dan panik. Ia melirik ke kanan kirinya dan baru menyadari bahwa ini bukan komplek perumahannya membuat ia semakin panik.


Nadlyn berpikir keras untuk kabur dikeadaan saat ini. Antara memukul pria ini hingga pingsan, namun apa kata warga jika ia melakukan itu. Ingin marah, kesal, ngamuk, namun ia sendiri yang naik ke motor ini.


Tak lama dari itu, motor pun masuk kedalam sebuah rumah sederhana, namun terpajang banyak sekali koleksi motor. Dari motor bebek hingga moge, semua lengkap disana.


Nadlyn dengan gugup kikuk turun dari motor begitu motor telah berhenti. Ia melirik kearah sang pengemudi, menunggu ia melepas helm full facenya. Aksi itu tertangkap basah oleh sang pengemudi membuat ia tak jadi membuka helmnya.


"Lo siapa?" Tanya Nadlyn dengan semua keberaniannya. Pria itu tak mengubis, ia melipat kedua tangannya didada.


Nadlyn merasa terpojoki. Pasalnya, ia lah yang naik ke motor ini dengan begitu saja. Bahkan sampai memeluk! Bayangkan seberapa malu plus paniknya dia sekarang.


"Kak?" panggil seseorang mengalihkan perhatian mereka.


Pria dengan helm full face itu menjawab dengan menggerakkan kepalanya.


"Bawa tamu ngapain diem disini?" Tanya wanita itu kembali.


"Em dek, boleh tahu enggak, nama kakak kamu siapa?" Tanya Nadlyn dengan ramah sambil menghampiri perempuan berkisaran umur 12 tahun itu.


"Eh? Kakak enggak tahu kakak saya? Kok bisa kesini sama dia?" Tanya balik wanita itu membuat Nadlyn bungkam.


Lelaki yang sendari tadi diam itu langsung turun dari motor dan melepas helmnya perlahan. Yang pertama Nadlyn lihat adalah bibirnya. Lumayan tebal, warnanya pink, menunjukkan dia seperti tidak merokok. Lanjut kehidungnya, begitu mancung dan rapi membuat bentuk wajahnya semakin bagus. Kemudian mata, ini salah satu penentuan dari sempurna atau tidaknya bentuk wajah. Matanya begitu tegas dengan warna coklat muda itu menampilkan kesan eksotis.


"Ajak masuk, Kak. Bunda pasti marah kalau lihat tamu dibiarkan," titah adik Aksa sambil pergi berlalu. Aksa melirik Nadlyn yang masih menahan gejolak teriak didalam dirinya.


"Dah, nanti lagi teriaknya, gue laper. Masuk dulu nanti gue anter lo ke rumah lo," ujar Aksa sambil menarik tangan Nadlyn. Entah dorongan darimana tapi Nadlyn kini pasrah akan dibawa kemana saja.


"Bun," panggil Aksa, yang merasa terpanggil pun menoleh sambil kebingungan.


"Siapa yang kamu bawa, Sa?" Tanya Dewi—ibunda Aksa—.


"Manusia," jawab Aksa membuat Dewi memutar matanya malas.


"Ya, bunda tahu itu manusia. Bunda kenal berbagai macam benda yang kamu bawa. Tapi kalau yang seperti ini kayaknya enggak pernah," jelas Dewi sambil meneliti Nadlyn. Nadlyn yang mendapat perlakuan itu hanya berdiam kaku bingung harus melakukan apa.


"Kenalin diri dong! Enggak bisu kan lo?" tegur Aksa menyenggol lengan Nadlyn membuat Nadlyn tersadar dari lamunannya.


"Ah, e-eh, em. Nadlyn tante." Jelas Nadlyn gugup.


"Kok gugup?" Tanya Dewi yang gemas melihat wanita dihadapannya itu. Nadlyn tak bisa berkata apapun karena ini kali pertama dia bertemu dengan orang tua cowok selain temannya.


"Santai aja, enggak bakal ditanya-tanya kok. Udah keliatan bagus dari covernya juga," ucap Dewi.


Aksa tak mengubis perbincangan mereka. Awalnya ia hanya ingin menawarkan tumpangan kepada Nadlyn tanpa harap akan diterima. Namun begitu Nadlyn langsung naik bahkan memeluk membuat Aksa melakukan hal konyol yaitu membawanya ke rumah. Pasalnya ia sendiri tidak tahu dimana letak rumah Nadlyn.

__ADS_1


"Ayo duduk, Nadlyn. Makan dulu ya sebelum pulang." Ajak Dewi mempersilahkan Nadlyn duduk disebelah Aksa. Dengan terpaksa, Nadlyn duduk padahal tidak ingin.


"Ambil yang kamu mau sayang," ucap Dewi kembali mempersilahkan Nadlyn makan. Nadlyn mengangguk lalu mulai mengambil makanan yang ada diatas meja.


Nadlyn melirik kearah Aksa yang dibalas dengan kekehan pelan. Sebenarnya ia ingin mengamuk sekarang juga, namun ia juga termasuk orang yang menjaga image jadi ia masih diam saja.


Semua makan dengan tenang sambil sedikit berbincang-bincang. Nadlyn sempat terkejut dengan porsi makan Aksa yang ternyata sangat banyak. Padahal jika dilihat-lihat, badannya itu tidak gemuk sama sekali. Lalu kemana semua lemak tubuh yang Aksa konsumsi itu pergi?


"Aksa suka banget ngegym. Hampir setiap hari dia pakai waktu luangnya buat ngegym, jadi badannya bagus kan?" jelas Dewi yang mengetahui pertanyaan Nadlyn didalam otaknya. Nadlyn hanya mengangguk malu karena merasa mudah untuk membaca pikirannya.


Selang beberapa menit dari makannya, dewi menawarkan beberapa makanan manis untuk menjadi penutup makanan mereka. Nadlyn sangat sebal dengan ini. Ia sangat suka dengan makanan manis, namun ia juga harus menguranginya karena ibunya akan marah jika tahu kalau berat badan Nadlyn cepat naik dengan gula yang sangat tinggi. Tapi tidak mungkin juga Nadlyn menolaknya, sampai akhirnya ia memakan sepotong kue.


Seorang gadis turun dari kamarnya dengan pakaian rapih membuat Dewi bertanya kepadanya. "Kemana Venya?"


"Mall, Bun. Diajak nonton sama temen." Jelas Venya.


"Cewek cowok?" tanya Aksa sinis membuat Venya sedikit bergidik.


"Dua – duanya ada! Udah Venya pamit dulu ya!" seru Venya langsung pergi tanpa menunggu persetujuan ibu dan kakaknya.


"Eh, Nadlyn, kamu kelas berapa?" tanya Dewi, Nadlyn melirik.


"Aku baru masuk SMA tante," jawab Nadlyn, Dewi menganggukkan kepalanya.


"Udah Bun, Aksa anter dulu dia ke rumahnya." Ucap Aksa sambil memakai hodie kesayangannya.


"Yaudah, hati – hati ya, Nadlyn. Kapan – kapan main lagi ke sini." Titah Dewi yang hanya dibalas senyuman oleh Nadlyn. Nadlynpun menyalami Dewi dan pergi dari rumah itu bersama Aksa.


"Rumah lo dimana?" tanya Aksa sambil memakai helm full facenya. "Komplek Bunga Asri." Jawab Nadlyn dengan aktivitas yang sama. Aksa mengangguk lalu menaiki motornya yang di ikuti oleh Nadlyn. Aksa menjalankan motornya meninghalkan kediaman Grahmata.


Sepanjang perjalanan, tidak ada komunikasi diantara mereka. Hanya suara kendaraan bising yang berbisik ke telinga kedua remaja itu. Sesekali Nadlyn mengarahkan arah jalan yang lebih cepat dilalui untuk menghindari macetnya jalan Bandung disore hari. Sampai akhirnya, mereka tiba dikediaman Fathah.


"Makasih," ucap Nadlyn sambil memberikan helmnya kepada Aksa. Kemudian mereka sama – sama terdiam.


"Lo nunggu apa lagi?" tanya Nadlyn ketus.


"Lo nggak ngajak gue masuk gitu?" tanya balik Aksa yang dibalas delekan oleh Nadlyn.


"Nggak!" tegas Nadlyn. "Galak amat."


"Udah sana pulang! Nanti kakak gue liat!" seru Nadlyn sambil mendorong lengan Aksa pelan. "Iya."


Aksa menyalakan mesinnya. Baru saja berniat untuk menginjak kopling, motor besar yang hamper mirip dengan Aksa itu mendarat dibelakangnya. Nadlyn sudah menebak itu adalah kakak satu – satunya. Ini adalah pertanda buruk! Pasalnya sang kakak melarang keras Nadlyn untuk berpacaran di usia muda membuat Nadlyn saat ini sedikit panik.


Nakhi membuka helm full facenya dan meneliti bocah SMA yang ada didepannya itu. Aksa yang merasa ternotice langsung mematikan kembali motornya dan membuka helm kemudian turun dari motor itu. Ia mendekati Nakhi dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Siapa lo?" tanya Nakhi jutek, Aksa sedikit terkejut. Tidak adik tidak kakak, ternyata memiliki satu sifat.


"Gue Aksa kak, kakak kelasnya Nadlyn." Jelas Aksa yang hanya di balas deheman oleh Nakhi. "Kalau gitu gue pamit kak." Lagi – lagi, Nakhi hanya berdeham. Aksa tidak terlalu mengambil pusing dengan hal itu. Ia langsung menaiki motornya dan menjalankan motor itu kembali ke kediamannya.

__ADS_1


Setelah Aksa berlalu jauh dari kediaman Fathah, Nakhi pun berniat memarahi adik bungsunya. Namun aksinya terhenti begitu melihat batang hidung Nadlyn sudah tidak ada di tempat. Nakhi hanya berhela nafas panjang dengan kenyataan yang tak lama harus ia terima.


__ADS_2