
"Okey, untuk rapat hari ini cukup sampai disini. Besok jangan ada yang telat. Gue sama anggota osis cowo lainnya bakal nginep lagi, jadi kalian bisa kontak salah satu dari kita kalau ada perlu," jelas Aksa mengakhiri pertemuan.
"Baik, kak." Ucap anggotanya kompak lalu merekapun secara tertib membubarkan diri.
Aksa mendudukkan dirinya dibangku yang ada di ruang osis. Haikal mendekati Aksa lalu memukukan pelan membuat Aksa meringis.
"Apa sih!" seru Aksa sini, Haikal tertawa lepas.
"Seneng banget ngejailin orang, giliran sendirinya dijailin marah!" balas Haikal menyindir Aksa.
"Kapan gue ngejailin lo," ucap Aksa ketus.
"Bukan gue tapi adik kelas! Sumpah lo jangan banyak bertingkah deh, soalnya lo nafas aja ni satu sekolah heboh tau enggak!" seru Haikal dengan histeris. Aksa meliriknya kebingungan dan memilih untuk tidak mengubisnya.
"Lo suka ya sama adek kelas itu?" Tanya Haikal menggoda Aksa sambil mencolek-colek lengan Aksa. Aksa yang sudah sangat risih langsung menangkis lengan Haikal dan pergi meninggalkannya.
"Aksa!" panggil seseorang membuat Aksa menghentikan langkahnya.
"Bukannya gue bilang enggak boleh ada yang eskul pas MOS anak baru?" Tanya Aksa tegas karena jengkel kepada siswa sekolah ini yang tidak mengikuti perintahnya.
"Hah? Enggak belum. Lo baru umumin diforum osis kali! Bukan diforum ketua eskul!" seru Azka membuat Aksa memutar matanya malas.
"Eh, katanya lo jailin anak baru ya?" Tanya Azka sambil merangkul temannya dan berjalan bersama.
"Emang seheboh itu ya?" Tanya Aksa tak menyangka kalau dirinya ini menjadi famous.
"Heboh banget anjir! Lo enggak tahu? Sepanjang koridor gue dengerin pada ngomongin lo semua!" seru Azka histeris.
"Begituan doang sampe viral, norak banget dah," ucap Aksa, Azka bedesah pelan.
"Sob, ini kesekian ribunya gue bilang sama lo ya. LO GANTENG ANJIR, BANYAK CEWEK YANG NAKSIR LO YA JELAS MEREKA GOSIPIN LO PAS LO DEKET SAMA CEWEK!" teriak Azka pas ditelingat Aksa membuat lelaki itu dengan reflex memukul wajah Azka.
"Lo ngomong pelan juga masih kedenger anjir!" seru Aksa memegang kupingnya kesakitan karena suara nyaring Azka.
"Ya abis dari dulu lo selalu enggak nyadar kalau lo tuh ganteng. Sampai akhirnya lo ngejomblo selama SMA ini!" seru Azka.
"Kalau gue ganteng kayak lo, udah sih, gue pacarin semua cewek." Sambung Azka sambil membayangkan dirinya dirabutkan banyak cewek.
"Gue enggak mau sama cewek yang tertarik sama gue," ucap Aksa membuat Azka terkejut bukan main.
"Lah, kok?" Tanya Azka bingung. Aksa mengangkat pundaknya yang berarti ia pun bingung sendiri.
"Oh, anak baru itu enggak suka sama lo?" Tanya Azka, Aksa mengangguk sambil tertawa pelan.
"Itu buat gue tertantang tahu enggak," ujar Aksa.
"Yeh, kalau gitu mah lo nya kayak penasaran doang dong sama dia!" seru Azka membuaat Aksa tersadar akan perasaannya.
"Mungkin kali yah?" Tanya Aksa.
"Dih, so ganteng lo!" seru Azka yang langsung meninggalkan Aksa begitu saja menuju gerbang sekolah.
"Ck, lo sendiri yang bilang gue ganteng," ketus Aksa memutar balik perjalanannya.
.
.
Malam sudah tiba, namun para anggota osis masih terjaga dari tidurnya. Aksa bersama para anggota itu malah keasikan main ponsel tanpa mengingat bahwa mereka sedang menginap di sekolah.
"Eh, gue mau ngecas dong." Pinta Aksa yang menyudahi aktivitasnya bermain ponsel karena sudah lowbat.
__ADS_1
"Penuh kak," jawab salah satu anggota osisnya. Aksa berdecak kesal. Ia melirik kearah Haikal yang juga melirik kearahnya.
"Kenapa lo?" Tanya Aksa.
"Lowbat juga," jawab Haikal.
"Ayo keruang guru, kita ambil colokan lagi," ajak Aksa bangkit dari duduknya. Haikal ikut bangkit tanda bahwa ia akan ikut bersama Aksa.
Mereka berjalan bersama menuju ruang guru. Sepi, sunyi, gelap, itu yang mereka rasakan sekarang. Ya bagaimana tidak? Sekolahan sebesar ini yang dihiasi banyak pohon tua pasti terlihat angker jika dimalam hari. Namun Aksa dan Haikal berusaha menghilangkan semua ketakutan yang mereka rasakan. Tak terasa, mereka pun sudah sampai di ruang guru.
"Gelap, Sa." Ucap Haikal sedikit ragu.
"Senter hp," titah Aksa, Haikal mengangguk lalu menyalakan senter hpnya.
Mereka masuk bersama kedalam ruang guru itu dan menyusuri beberapa meja. Mereka harus berjalan ke ujung ruangan karena colokan yang mereka cari itu berada disana.
Aksa dan Haikal membagi tugas. Haikal memegang senter dan Aksa mencari colokan di laci meja guru.
"Cepet, Sa." Titah Haikal.
"Sabar, ini banyak barangnya!" seru Aksa yang berusaha mencari benda yang ia cari.
"Lama banget anjir!" seru Haikal kesal karena Aksa masih belum menemukan benda yang mereka cari.
"Ini ada, susah dibawanya." Balas Aksa yang masih berusaha mengambil barangnya.
"Pegang yang bener senternya!" seru Aksa, Haikal membenarkan posisi senternya. Namun tanpa disengaja, ia menangkap sesuatu yang keberadaannya tidak jauh dari Aksa.
"Sa," panggil Haikal.
"Bentar ini susah banget," jawab Aksa.
"Dih, enggak usah gimana orang ini udah ditangan gue," balas Aksa menunjukkan colokan yang sudah ia bawa.
"Hihihihihihi,"
Aksa dan Haikal sama-sama terdiam. Aksa membalikkan badannya dan Haikal menyinari sumber suara yang sendari tadi sudah ia curigai.
Tampak seorang wanita dengan wajah hancur dan bertetes darah dimulutnya. Rambutnya panjang hingga kaki dengan baju putih kucel menatap mereka sambil tertawa puas.
"WAAAAAAAA!!!!"
.
.
Seperti janji Nadlyn, ia akan menunggu Pinka di gerbang sekolah. Ia menunggu sambil melihat siswa siswi yang berdatangan lebih banyak dari sebelumnya.
"Lo cewek yang dideketin Aksa kan?" Tanya seseorang tiba-tiba membuat Nadlyn terkejut.
"Hah, gue? Najis," jawab Nadlyn yang mendapat tawaan dari orang itu.
"Pantesan si Aksa suka, orang lo nya gini!" serunya membuat Nadlyn mengerutkan alisnya.
"Kenalin, gue Azka, sahabat Aksa. Kemaren gue ngobrolin lo sama dia. Banyak banget yang gosipin kalian, anjir! Ya wajar sih, si Aksa ganteng dan lo cantik. Eh, enggak cantik deng," ucap Azka menggantungkan kalimatnya. Ia meneliti wajah Nadlyn sedikit sambil memegang dagunya.
"Lo lebih ke kawai!" seru Azka.
"Kawai?" Tanya Nadlyn tak mengerti.
"Imut maksudnya, masa lo enggak tahu?" Tanya Azka, Nadlyn menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ah! Bukan wibu lo!" seru Azka.
"Woi, Ka!" panggil seseorang, Azka menoleh.
"Woi! Tumben lo dateng pagi!" balas Azka.
"Eh, gue duluan ya. Semangat MOSnya!" pamit Azka sambil menjauhi Nadlyn. Nadlyn menatap kepergian Azka. Ia memperhatikan beberapa hal yang ada didalam diri Azka.
"Dor!"
"Allahuakbar!" teriak Nadlyn membuat orang sekitar melirik kearahnya. Pinka menahan tawa sambil mengalihkan pandangannya.
"E-eh, maaf," ucap Nadlyn yang merasa menjadi pusat perhatian. Ia pun segera mencari orang yang sudah membuatnya terkejut itu.
"Pinka ih! Lo mah!" seru Nadlyn memukul Pinka pelan, namun yang dipukul justru melepas tawanya.
"Gue malu Pinka! Lo ah, jangan gitu-gitu lagi!" sambung Nadlyn yang mulai bête.
"Hahaha, iya sorry, sorry. Abisnya lo bengong sih, jadi greget gue mau jailin!" balas Pinka terpaksa menghentikan tawanya.
"Udah yu ah masuk! Gue udah malu diem disini." Ajak Nadlyn menarik Pinka masuk kedalam gedung sekolah.
Seperti yang Nadlyn rasa tadi. Murid yang dating hari ini lebih banyak dari sebelumnya. Itu karena para murid kelas 11 dan 12 sedang melakukan daftar ulang yang sudah dibuka mulai hari ini.
Nadlyn dan Pinka berbaris di lapangan bersama teman kelasnya yang lain. Karena peserta MOS diwajibkan untuk melaksanakan apel pagi terlebih dahulu. Ditambah, hari itu adalah hari perkenalan eskul-eskul yang ada di sekolahnya, sehingga para murid akan menghabiskan waktu cukup lama di lapangan.
Apel pagi telah dimulai. Namun sialnya, Nadlyn malah kebelet buang air kecil. Ia berusaha mencari cara agar bisa menyelesaikan urusannya terlebih dahulu daripada ditahan hingga apel selesai.
Nadlyn mengacungkan tangannya berharap ada pmr yang dating agar dirinya bisa izin kebelakang. Tak lama dari angkat tangannya, seseorang datang menghampirinya dan menariknya perlahan menuju keluar barisan.
Nadlyn ingin memberontak saat itu juga. Namun niatnya itu ia urungkan karena sudah tidak tahan menahan kebelet.
"Lo kayaknya enggak sakit," duga Aksa memperhatikan wajah Nadlyn.
"Emang enggak," jawab Nadlyn santai.
"Terus, ngapain angkat tangan?" Tanya Aksa kembali.
"Gue mau ke toilet," jawab Nadlyn kembali yang langsung meninggalkan Aksa menuju toilet yang kemarin sempat Nadlyn kunjungi, bersama Aksa. Emm, inget kan?
Aksa terkekeh lalu mengikuti Nadlyn dari belakang.
Nadlyn yang hendak memasuki toilet itu langsung berbalik arah karena merasa ada yang mengikutinya dari belakang.
"Ngapain lo ngikutin gue? Mau ngintip ya!" seru Nadlyn berteriak.
"Lo emang demen banget ya, teriak-teriak." Ucap Aksa jengkel.
"Ya itu karena ulah lo sendiri buat gue naik darah!" seri Nadlyn kembali.
"Yaudah sana masuk, gue jagain disini." Titah Aksa membalikkan badannya.
"Dih! Siapa juga yang mau dijagain lo!" ketus Nadlyn.
"Oh, enggak mau?" Tanya Aksa, Nadlyn langsung bergeleng mantap.
"Yaudah." Ucap Aksa pergi dari sana.
"Ribet lo!" umpat Nadlyn, lalu ia membalikkan badannya. Dan secara tak sengaja, ia menangkap sebuah simbol yang menunjukkan bahwa toilet yang ia kunjungi itu ternyata toilet laki-laki.
"Anj—"
__ADS_1