
Masa MOS sudah selesai dilalui oleh para peserta didik baru. Kini di hari Kami, mereka menjalakankan masa pembelajaran seperti biasa. Namun karena masih awal untuk belajar, mereka diberikan waktu untuk mengenal para guru pengajar juga area sekolah yang akan mereka tempati hingga tiga tahun ke depan.
Nadlyn bersama Pinka duduk dikursi jajaran kedua. Mereka tidak ingin terlalu depan karena mengingat kapasitas otak mereka tidak ada diatas rata – rata. Dan yang mengisi depan meja mereka adalah Celsa dan Amel yang baru saja bergabung bersama Nadlyn dan Pinka.
"Eh, kita ke lapang yuk! Di sana lagi ada pendaftaran eskul tau!" ajak Amel dengan semangat. "Ayok." Jawab Pinka sambil menarik lengan Nadlyn. Nadlyn yang sebenarnya ingin menolak ajakan Pinka itu mengurungkan niatnya karena jika ia tidak bergabung, maka dirinya akan kesulitan mencari teman lagi.
Mereka berjalan bersama menuju lapangan. Jarak antara lapangan dengan mereka itu tidak terlalu jauh namun tidak terlalu dekat juga. Mereka harus melalui lorong kelas 11 terlebih dahulu sebelum akhirnya sampai ke lapangan.
"Eh, kalian mau ikut eskul apa?" tanya Celsa. "Gue sih Box, soalnya kayak keren gitu." Jawab Amel dengan semangat. "Bagus lah itu alesannya, jangan sampai beralasan itu karena banyak cogannya." Ujar Pinka yang ingin berpikir negatif kepada teman barunya. "Eh, kalau itu mah bonus, Ka." Balas Celsa yang mendapat jitakan dari Amel. "Gue tipe setia ya,"
"Lo apa Pin? Gue masih bingung mau masuk apa." Tanya Nadlyn. "Sama gue juga, Nad." Balas Pinka.
"Gimana kalau kita nggak usah ikut eskul aja?" tawar Nadlyn.
"Ide bagus tuh!" jawab Pinka.
"Oke! Kita nggak usah ikut eskul." Ucap Nadlyn sambil berjabar tangan dengan Pinka.
"Ada – ada aja dua orang ini." Ucap Amel sambil menggelengkan kepalanya.
"Hallo adek – adek manis. Kalian mau ikut eskul apa?" tanya seseorang mengintrupsi mereka.
"Kita mau box, Kak," ucap Celsa mewakili. Azka memanyunkan bibirnya.
"Eh, lo gebetan Aksa juga box? Se eskul dong!" seru Azka menunjuk Nadlyn, Nadlyn langsung melambaikan tangannya. "Enggak, Kak, gue nggak ikut eskul apa – apa." Jelas Nadlyn.
"Lah, kok nggak ikut apa – apa. Kan siswa wajib punya eskul," ucap Azka membuat Nadlyn dan Pinka saling melirik.
"Woi, Azka! Lo malah godain adik kelas bukannya bantuin eskul ya! Ketua nggak guna lo!" cibir seorang wanita yang dengan lantang menghina Azka sambil memukulnya.
"Gue nggak ngegodain anjir, gue lagi ngajak adek – adek imut ini!" jelas Azka.
"Haduh, maaf ya adek – adek. Kita permisi dulu." Ucap wanita itu sambil menyeret Azka tanpa mengubis penolakan dari lelaki itu.
__ADS_1
"Perkelahian yang sangat indah." Ucap Amel.
"Udah yu ah balik kelas. Kita juga nggak bakal ikut eskul." Ajak Nadlyn cuek sambil memutar badannya namun di tahan langsung oleh Pinka.
"Nad! Kita harus ikut eskul. Setidaknya nilai pas – pasan kita bakal terbantu oleh nilai eskul!" seru Pinka yang berubah pikiran membuat Nadlyn merasa malas menanggapinya. "Tadi kan kita udah sepakat buat nggak ikut eskul." Ucap Nadlyn, namun Pinka menghiraukannya. Ia menarik Nadlyn ke stand para ekstrakulikuler dan mencoba mencari eskul yang setidaknya bisa mereka hadapi.
"Eskul pmr gimana?" tawar Pinka. Nadlyn menggeleng. "Gue nggak suka kesehatan."
"Nggak suka kesehatan masuk IPA lo!" seru Pinka, Nadlyn tersenyum malu.
"Eskul paskibra?" tawar Pinka kembali, Nadlyn menggeleng keras. "Gue nggak suka yang eksrim."
"Karete?" tanya Pinka sambil menunjuk stand yang sangat menarik. "Gila kali lo! Udah pingsan kali gue!" seru Nadlyn.
"Udah, seni tari aja buat kalian mah! Cocok." Ujar Celsa membantu kedua temannya itu, Pinka mengangguk semangat.
"Bagus tuh, Nad, kayaknya nggak ekstrim juga!" seru Pinka, Nadlyn berpikir sejenak. "Yaudah yuk." Nadlyn dan Pinka pun berjalan bersama menuju stand tari. Mereka mendaftar bersama ke eskul itu dan dimasukkan ke grup WhatsApp agar tahu informasi lebih lanjut.
"Setelah kenal sama keluarga gue masa masih nggak kenal?" Pinka langsung membulatkan matanya begitu mendengar ucapan dari Aksa. Ia melirik kearah Nadlyn yang merasa tak suka dengan penuturan Aksa.
"Bukan gue juga yang mau kenalan sama keluarga lo." Balas Nadlyn.
"Wah, nggak bisa gitu dong, Nad. Hubungan yang udah diketahui orang tua itu nggak boleh putus!" seru Pinka yang malah mendukung Aksa. Aksa memetic jarinya menandakan perkataan Pinka itu benar.
"Istilah dari mana itu. Gue juga nggak ada hubungan apa – apa sama dia." Jelas Nadlyn. Pinka bergeleng. "No, bukan masalah orang tua kak Aksa tahu atau nggak hubungan lo, tapi bisa aja dia udah nimbulin rasa sama lo. Masa lo mau buat dia kecewa dengan menolak kak Aksa begitu aja?" saran Pinka panjang lebar yang sama sekali tidak Nadlyn terima.
"Udah ah, kayaknya lo kena pelet dia buat jodohin gue sama dia. Mending kita balik ke kelas." Ajak Nadlyn yang langsung menarik Pinka dari hadapan Aksa. Aksa yang melihat itu terkekeh geli dengan tingkah Nadlyn. Bisa – bisanya ada orang yang secara terang – terangan menolak dirinya dikala banyak sekali wanita yang berbondong – bonding mengejar dirinya.
"Sa, lo abis apa?" tanya Rio begitu melihat Aksa cengengesan sendiri saat masuk ke ruangan boxnya.
"Nggak tahu dia makin aneh tiap harinya," jawab Heri, teman sekelasnya yang juga sering menangkap perilaku aneh yang Aksa lakukan akhir – akhir ini.
"Kepo lo pada. Udah beres rekrut anggotanya?" tanya Aksa mengalihkan perhatian teman – temannya. "Udah." Jawab Rio.
__ADS_1
"Yaudah gue cabut duluan, ada tugas osis yang belum gue selesaiin." Pamit Aksa yang berlalu begitu saja tanpa persetujuan teman – temannya. "Makin aneh temen lo." Ucap Rio, Heri melirik. "Temen lo juga!"
.
.
"Gue belum pulang ngampus. Lo balik naik gojek, gue kirimin gopaynya!" titah Nakhi dari telepon. "Iya bawel." Jawab Nadlyn yang langsung mematikan sambungannya. Ia membuka aplikasi gojek dan memesan ojek. Namun butuh usaha keras untuk mendapatkan amang gojek karena sekarang adalah waktu pulangnya sekolah dan perkantoran.
Sepuluh menit yang lalu, Pinka beserta Amel dan Celsa sudah pulang terlebih dahulu dengan jemputannya masing – masing. Namun Nadlyn yang setia menunggu kakaknya itu malah berakhir memesan gojek yang hingga saat ini belum juga dapat.
"Ih. Nggak jodoh, nggak ojek, susah banget dapetnya!" keluh Nadlyn kepada dirinya sendiri.
"Disini jodoh sekaligus ojek udah ada, masih aja nggak dilirik." Ucap seseorang membuat Nadlyn memalingkan arahnya dari ponsel ke sumber suara. Merasa menyesal telah menoticenya, Nadlyn langsung mengalihkan kembali ke layar ponselnya.
"Nah kan, udah ngeluh gegara nggak di kasih, pas di kasih malah nolak. Dasar cewek." Sindir Aksa menegakkan tubuhnya. Nadlyn masih tidak mengubis hal itu. Aksa memutar otak seratus delapan puluh derajat untuk meluluhkan hati wanita jutek yang ingin ia dekati ini. sedangkan Nadlyn masih berusaha memesan gojek yang tidak kunjung ia dapatkan.
Dengan ide cemerlang sang ketua osis, ia mendownload aplikasi gojek drive agar bisa menarik pelanggan dan menjadi orang yang mengantar Nadlyn. Setelah selesai mengisi beberapa data yang diminta, gojek drive Aksa pun aktif dan langsung menerima pesanan terdekat dan pastinya itu Nadlyn.
Nadlyn sangat lega begitu mendapatkan ojek dan terlepas dari pulang bersama orang yang selalu mengganggunya ini. Namun kelegaannya langsung hilang begitu saja ketika melihat profil ojek itu adalah orang yang sendari tadi diam di dekatnya dan mengajak pulang bersama. Nadlyn langsung melirik Aksa sinis.
"Sesuai aplikasi, mbak?" tanya Aksa dengan nada yang sering dipakai oleh abang – abang gojek. "Mau gue cancel!" seru Nadlyn. "Eh, susah banget loh, mbak, nyari gojek di jam segini. Tadi aja teman saya mau pesen gojek nggak dapet – dapet." Jelas Aksa yang justru mendeksripsikan Nadlyn. Nadlyn memutar matanya malas. Memang benar, ia sudah berusaha mencari gojek namun tidak juga ada yang muncul. Daripada ia pulang terlalu sore yang mengundang amarah orang tuanya, lebih baik ia pulang bersama Aksa yang hanya di marahi kakaknya. Toh kakaknya pun masih berada di kampus saat ini, jadi tidak akan ketahuan juga. Lagi pula kakaknya menyuruhnya naik gojek kan, bukan melarangkan pulang bersama Aksa?
"Mana helmnya!" seru Nadlyn. Aksa tersenyum lalu memberikan helmnya dan menyalakan mesin. Begitu di rasanya Nadlyn sudah siap diatas motor, ia melajukan motornya pelan menuju kediaman yang sudah ia kunjukngi sebelumnya.
"Lo alumni mana?" tanya Aksa memecah keheningan, Nadlyn sedikit mendekati Aksa. "Hah?" tanya nya tak mendengar suara Aksa. "Lo alumni mana?" Tanya Aksa sedikit meninggikan suaranya. "SMP Kasih." Jawab Nadlyn simple.
"SMP Kasih itu milik Pak Fathah kan?" tanya Aksa kembali, Nadlyn mengerutkan dahinya. "Kok lo tau?" tanya balik Nadlyn.
"Pak Fathah pernah jadi patner usaha bokap gue." Jelas Aksa singkat, Nadlyn berpikir keras. Jika ayah Aksa ini pernah bekerja sama dengan ayahnya, berarti ayah Aksa juga hampir sebanding tingkatan statusnya dengan ayahnya. Bukan hanya itu, berarti Aksa juga adalah anak dari pemilik salah satu brand mobil terkenal karena ayah Nadlyn sendiri adalah seorang pengusaha yang mendesain mobil. Jadi sudah pasti Aksa ini keturunan orang terkenal.
"Woi! Napa diem?" sentak Aksa membuat Nadlyn terbuyar dari lamunannya. "Hah, apa?" tanya Nadlyn.
"Hah, apa, ini udah sampai rumah lo kenapa nggak mau turun? Betah lo dibonceng gue?" tanya balik Aksa, Nadlyn melayangkan pukulan ke helm Aksa dan langsung turun dari motornya. "Nggak usah bayar, buat lo gratis!" ucap Aksa begitu Nadlyn mengembalikan helmnya. "Orang gue bayar pake gopay." Ketus Nadlyn yang langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa mengubis Aksa. Aksa melirik ponselnya dan menepuk jidat begitu melihat saldo gopay masuk ke gopaynya.
__ADS_1