How To Get A Cold Girl

How To Get A Cold Girl
Bab 6 : Kekhawatiran Keluarga


__ADS_3

"Ya ampun Nadlyn! Kamu kenapa nak? Kok sampai kotor banget begini?" tanya Sinta begitu melihat anak gadisnya tiba di rumah. Nadlyn tidak menjawab apapun dan langsung berlalu begitu saja ke kamarnya. Sinta pun melirik Nakhi, Nakhi hanya menjawabnya dengan angkat pundak. "Dari tadi Nakhi tanya juga nggak jawab apa – apa." Jawab Nakhi yang membuat Sinta makin khawatir.


Nadlyn langsung menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia terdiam sambil menyandarkan diri ke pintu kamar. Lama – kelamaan, air matanya menetes begitu deras yang membuat kekuatan berdirinya tidak ada lagi. Nadlyn terjatuh ke lantai sambil menelengkupkan diri dan menangis sejadi – jadinya.


Nakhi berada di balik pintu itu mendengar jelas tangisan sang adik yang sangat menggores hati kecilnya. Sebenarnya ia sudah biasa mendengar Nadlyn menangis, namun rasanya kali ini berbeda. Biasanya Nadlyn menangis didepannya dan mengadu segala kesedihannya itu kepada Nakhi. Namun entah kenapa kali ini Nadlyn hanya menyimpan kesedihannya itu sendiri.


Nakhi menjauhi kamar Nadlyn dan memasuki kamarnya sendiri. Ia merasa gagal menjadi kakak karena pada akhirnya, ia tidak bisa menghibur Nadlyn yang sedang bersedih. Tak lama dari kesedihannya, sebuah dering telepon masuk ke ponselnya dan menyadarkan lamunannya. Ia melihat panggilan dari 'Sweety' dan langsung mengangkatnya.


"Hallo."


"Hallo, kenapa suara kamu lemes gitu?" tanya khawatir wanita disebrang sana.


"Nadlyn nangis nggak bilang – bilang." Jawab Nakhi sedih yang malah mengundang tawa wanita yang menelponnya itu.


"Nadlyn kan punya privasinya sendiri, masa kamu mau tahu semua kesedihan dia?" ucap Meylani menenangkan Nakhi. "Adek kamu juga udah gede loh! Udah SMA, masa masih dimanjain kayak anak SD. Kapan dia bisa dewasanya kalau begitu?" ucap Meylani kembali yang membuat Nakhi kini sadar.


"Iyaya, mungkin sekarang dia udah malu kalau nangis – nangis ke aku." Ujar Nakhi kecewa.


"Iya. Mungkin aja dia udah punya pacarkan jadi ngeluhnya ke dia." Balas Meylani yang mengundang ketidaksukaan dari Nakhi.

__ADS_1


"Udah ah nggak usah bahas dia, males." Nakhi langsung mengganti topik pembicaraan karena tidak suka begitu mendengar Nadlyn mempunyai seorang kekasih.


.


.


Nadlyn terbangun dengan mata sembabnya. Tak terasa ia tidur selama tiga jam lamanya dan kini jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Ia bangkit dari duduknya dan berusaha merenggangkan badan yang terasa sangat kusut. Ia memasuki kamar mandi dan membersihkan diri. Selama mandi, ia berusaha mencari kata – kata untuk menjelaskan bagaimana peristiwa tadi bisa terjadi. Tidak mungkin sekali kan, orang tuanya akan diam saja ketika anak gadis satu – satunya itu tersakiti.


Selesai dengan segala ritual perempuan, Nadlyn pun memberanikan diri turun dari kamarnya dan bergabung makan malam bersama keluarganya. Belum saja duduk, sebuah pertanyaan sudah dilontarkan kepadanya.


"Kata mami kamu, kamu pulang sekolah dengan pakaian kotor. Ada yang membully kamu, nak?" tanya Fathah dengan serius, Nadlyn langsung menundukkan kepalanya.


"Siapa yang lukain kamu, dek?" tanya Nakhi, Nadlyn pun mulai buka suara.


"Aku nggak tau namanya, tapi dia kakak kelas Nadlyn." Jelas Nadlyn, Fathah mengangguk. "Yaudah, sekarang kamu makan aja dulu ya, biar papi yang urus." Nadlyn pun duduk di bangku sebelah ibunya dan mulai menyiuk nasi. Mereka memulai makan malam bersama dengan kehangatan yang biasa mereka lalui.


Selesainya makan malam. Mereka kini kembali ke aktivitasnya masing – masing. Sinta yang membereskan bekas makan, Fathah yang mengurus dokumen, Nakhi yang bermain ps dan Nadlyn yang membaca buku novel di dekat Nakhi. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan kakaknya. Sudah dari kecil kakaknya itu memaikan permainan yang sama apa tidak ada bosannya? Tidak hanya di hal game, di hal wanita pun kakaknya hanya berpacaran dengan Meylani dari jaman ia SMP hingga sekarang mereka baru saja meninjak semester tiga. Tidak habis pikir, jika itu Nadlyn ia pasti sudah merasa jenuh karena harus menghabiskan waktu yang begitu panjang dengan orang yang sama.


Namun nyatanya, saking pemilihnya gadis itu menyandang status single hingga saat ini. selain karena keluarganya melarang, ia juga belum menemukan tipe yang cocok untuk dirinya saat ini. Ia hanya melampiaskan rasa bucinnya itu kepada tokoh – tokoh fiksi yang ada di novel biasa ia baca. Memang hal yang begitu aneh, tapi apalah daya, hanya tokoh novel yang sesuai dengan kriterianya.

__ADS_1


Nadlyn melirik begitu ponselnya berbunyi. Ia melirik ada pesan yang masuk ke ponselnya namun nama pengirimnya berbentuk nomor yang berarti nomor tersebut belum ia simpan. Nadlyn membuka ponselnya dan membaca pesan yang masuk.


"Gimana kabar lo?"


Nadlyn mengerutkan dahinya. Ia berusaha mencari nama pemilik pesan itu dan tertera di samping nomor ada nama yang menerangkan pemilik pesan, 'Aksa Grahmata'. Nadlyn memutar matanya malas dan langsung melempar ponselnya dan membaca novel kembali.


Tak terasa sudah melewati waktu yang sangat lama. Nakhi mematikan televisi beserta ps yang baru saja ia mainkan. Ia melirik kearah belakang dan mendapat Nadlyn yang tertidur pulas di sofa beserta buku novel ditangannya. Nakhi terkekeh pelan karena sering mendapati adiknya menemaninya bermain ps namun sambil membaca buku.


Dengan sigap, Nakhi menggendong Nadlyn menuju kamarnya. Hal ini sudah Nakhi lakukan dari dulu karena tubuh Nadlyn yang menurut Nakhi tidak bertambah berat sama sekali. Ia merebahkan tubuh Nadlyn di kasur kamar Nadlyn dan menutup pintunya kembali begitu ia keluar dari ruangannya.


"Nadlyn udah tidur?"


Nakhi langsung melirik begitu ada suara yang mengintrupsi kegiatannya. "Udah, Mi," jawab Nakhi. "Mami sendiri kok belum tidur?"


"Mami mau lihat Nadlyn dulu tadinya, ternyata udah di anter sama kamu." Jawab Sinta, Nakhi mengangguk. "Yaudah, kan udah liat Nadlyn tidur, sekarang mami tidur juga." Titah Nakhi.


"Iya, kamu juga tidur ya sayang," balas Sinta mengusap pelan rambut Nakhi. Nakhi mengangguk lalu memasuki kamar yang ada disebrangnya. Sinta pun melakukan hal yang sama, ia memasuki kamar yang berada di antara dua kamar anaknya.


"Gimana keadaannya, Mih?" tanya Fathah begitu Sinta masuk ke dalam kamar. "Baik – baik aja, Pih. Kayaknya Nadlyn juga nggak punya luka yang serius." Jelas Sinta membuat Fathah sedikit tenang.

__ADS_1


"Mamih nggak usah khawatir ya. Papih bakal cari orang yang membully anak kita sampai dia kapok udah nyentuh anak kita." Ucap Fathah mengurangi kekhawatiran Sinta. Sinta sangat bersyukur mempunyai suami yang menyayangi dirinya dan juga anak – anaknya. Ia juga selalu berdoa agar ketentraman keluarganya ini akan selalu awet hingga maut memisahkan.


__ADS_2