How To Overcome Her Phobia?

How To Overcome Her Phobia?
Mark's First Salad


__ADS_3

Lincah dan cekatan, mungkin itu adalah kata yang terpikirkan ketika melihat seorang pemuda bongsor tengah berlari menyusuri lorong kelas dengan cepat tanpa menabrak apa pun yang ada di sekelilingnya. Namun hal itu lumrah terjadi jika seorang Jaka Prakasa melakukannya di pagi hari apalagi ini hari senin. Ia ketua kelas paling sibuk satu angkatan—karena kelasnya merupakan kelas unggulan—yang jadi kepercayaan banyak guru, sibuknya sudah setara dengan ketua OSIS walau sejatinya ia bukan.


Kaki jenjang Jaka menuntunnya menuju ruang kelas tercinta. Terlihat ruangan tersebut didominasi anak-anak sekolah berseragam rapi yang bersiap melenggang menuju lapangan upacara.


"Sik, Rek!" (Sebentar!) teriak Jaka dengan logat Jawa-nya dari ambang pintu kelas sembari berjalan dengan napas yang terengah-engah menuju meja guru.


Sontak belasan mata tertuju padanya dengan tatapan serius. Sebab biasanya jika si Pak Ketua menengok keadaan kelas di pagi hari ada hal serius yang hendak disampaikan, saking sibuknya si Jaka.


"Calm down! Bukan masalah serius yang mau gue omongin. Cuma atur ulang tempat duduk di awal semester kayak biasa. Duduk aja, masih ada waktu dua puluh menit, serius kalian mau baris duluan di lapangan?" ucap Jaka berusaha mencairkan suasana cukup tegang yang telah dibuatnya.


"Jadi gimana Pak Ketua?" Bima salah satu dari mereka seakan membuka sesi tanya jawab.


"Bentar, mau ambil napas dulu capek gue," Jaka menghirup dalam-dalam udara segar kemudian mengembuskannya perlahan.


Jaka kembali berdiri tegap. Ia menyunggingkan senyum bangga yang kentara sambil menaikkan tinggi-tinggi botol yang sedari tadi ia genggam.


"Jeng jeng! Kita pakai metode ala mamah-mamah arisan! Terinspirasi dari arisan kemarin sore yang diadain ibu-ibu kompleks di rumah gue," Jaka mengucap dengan penuh semangat, matanya berapi-api.


"Ya elah! Tampang kayak pangeran, tapi kelakuan rempong kayak sosialita," celetuk seseorang dari pojok kelas.


Seisi kelas tertawa menanggapinya, bahkan si Jaka sendiri. Yah, walau kelas ini berjiwa kompetitif tinggi, terlihat cool di mata seantero sekolah, dan diisi muda-mudi bertalenta dengan otak encer, jiwa receh nan nista ala anak SMA masih mendarah daging dalam diri mereka.


"Gak papa lah, Bro! Sekali-kali ganti sistem, pake aplikasi generator udah bosen. Kali ini pakai metode konvensional, gue udah bikin semaleman nih," ujar Jaka, "gue ya yang ngocok."


"Ngocok apaan Jak?" goda Haris sambil tersenyum jahil, berdiri di sebelah Jaka.


Anak laki-laki sedikit ricuh dengan lontaran kata-kata Haris.


"Diem lo! Gak usah memperkeruh suasana!" sinis Jaka pada sobatnya itu. Haris lantas mundur alon-alon dari Jaka yang lagi mode senggol bacok padanya.


Penasaran, semua teman sekelas Jaka mendekatinya ke meja guru. Terlihat antusias dengan masing-masing di antara mereka bertanya-tanya dalam hati, "Siapa yang jadi sainganku satu semester ke depan?"


Sudah menjadi tradisi di kelas unggulan untuk menjadikan teman sebangku sebagai rival dalam kompetisi perolehan nilai dan isi otak. Kelas ini diisi muda-mudi terbaik, bukan satu sekolah melainkan terbaik satu kota. Tiap minggunya ada saja penghargaan yang mereka torehkan untuk sekolah.

__ADS_1


Gulungan-gulungan kertas kecil berhamburan di atas meja guru, ditumpahkan oleh Jaka, pun ia turut mengambil satu kertas. Dilanjutkan dengan teman-temannya mengambil segulung untuk dibuka. Ada yang sumringah, ada yang mendadak air mukanya masam. Di samping botol yang beberapa menit lalu dibawa Jaka, terdapat denah tempat duduk yang dibuat ala kadarnya dengan nomor-nomor yang diacak.


"Woi, Jing!" sapa Jaka pada gadis yang baru saja memasuki ruang kelas.


"Lo nyapa gue kayak ngumpat, Jak. Yang lengkap dong manggilnya!" keluh gadis itu tak terima.


"Sorry, kebiasaan," Jaka sedikit takut mendapat tatapan sinis darinya.


"Ini rame-rame ngapain? Arisan?" tanya gadis bersurai panjang bernama Jingga itu melihat keadaan kelas yang sedikit tidak kondusif.


"Iya, Jingga, kita lagi arisan," jawab Jaka sambil mengangguk.


"SERIUS?!" terdengar nada keterkejutan dari ucapan Jingga.


"Kagak lah! Lagi sayembara deskmate. Cepetan ambil satu gulungan kertas yang di meja guru, then lihat ke denah bangku yang udah gue buat. Denahnya juga di meja guru noh," jelas Jaka panjang lebar.


"Gara-gara sering ikut mama lo arisan, ya?" goda Jingga.


"Eh gue udah dicariin Pak Heri di ruang guru, bye! Assalamualaikum!" pamit Jaka seusai melirik ponsel.


"Waalaikumussalam! Hati-hati jalannya, jangan nabrak mas-mas cleaning service kayak semester lalu!" peringat Jingga. Jaka merespon, ia menaikkan satu jempolnya ke arah Jingga.


Seperginya Jaka, Jingga berlari kecil menuju meja guru, menyambar segulung kertas kecil. Dibukanya perlahan, ada suara iringan drum di imajinasinya agar terkesan dramatis dan mendebarkan. Terpampang kalimat, "Selamat! Anda mendapatkan bangku nomor 8!" yang ditulis Jaka dengan rapi, tak seperti tulisan tangan anak laki-laki yang biasanya gak ada bedanya sama ceker ayam. Lantas Jingga melirik denah bangku, jackpot! Di sebelah jendela, nomor dua dari depan.


Jingga melenggang anggun menuju bangkunya, seakan jalan yang ia lalui dipenuhi bunga-bunga berguguran. Saking bahagianya ia mendapat tempat duduk PW, alias posisi wenak.


Nampak sebuah tas hitam legam berlogo hewan puma putih yang meloncat di salah satu kursi bangku tersebut. Jingga merasa familiar dengan tas ransel itu, pemiliknya pasti....


"Woi, Jing! Lo duduk sama gue? Bangku delapan?" seorang anak laki-laki menyentuh pundak Jingga dari belakang.


"Mark!" Jingga menoleh, manik hitamnya hampir membulat maksimal melihat pemuda di hadapannya. Pasalnya Mark punya selera humor yang sama dengan Jingga, klop jadi pasangan sebangku buat satu semester ke depan.


"Lo bisa jadi partner in crime gue di jurusan pergibahan nih! Gak usah takut dosa, gibah itu passion," celetuk Mark.

__ADS_1


"Mau lah! Gak usah lo tambahin embel-embel juga mau!" Jingga menyetujui tawaran penuh semangat.


Kericuhan mulai terjadi di menit awal kedua insan itu menjadi deskmate. Seluruh kelas memperhatikan mereka berdua, pesona keduanya terpancar. Biar pun sama-sama rada nyeleneh, tak bisa dipungkiri jika tampang mereka bak dewa-dewi dari langit.


"Sebenernya sih Jingga sama Mark itu cocok ya. Sama-sama bisa bikin hati adem lihatnya, dua-duanya juga punya bakat yang gak diraguin lagi. Tapi kelakukannya, yah lo tau sendiri lah," bisik salah seorang penghuni kelas pun direspon anggukan oleh teman sebelahnya. Kalau ketahuan Jingga, bisa-bisa ia dilabrak dan berakhir digantung di pohon mangga sekolah.


"Jingga, ini gue bawa bekal itung-itung hadiah selamat datang buat lo. Sebenernya ini hasil eksperimen gue tadi pagi-pagi buta, lo mau nyobain? Kalau lo bilang enak, gue mau bikin lagi buat kakak gue," tawar Mark.


"Masakan maksud lo?" tanya Jingga meyakinkan.


"Disebut masakan ya bukan sih. Nih buka aja, sorry kalau agak berantakan kayak hidup gue," timpal Mark sembari menyerahkan wadah bekal sejuta umat yang menjadi kesayangan emak-emak.


Jingga mengambil kotak yang ada di genggaman tangan Mark penuh antusias.


"Gue baru tahu lo bisa masak, bukan indomie kan?" Jingga basa-basi seraya membuka wadah.


"Ngeremehin banget sih lo!" Mark protes tak terima.


"Bercanda." Dan voila! Jingga mendapati seporsi salad buah yang dilengkapi mayones sebagai topping.


Ekspresi Jingga berubah 180° sesaat setelah membuka wadah bekal Mark. Wajah gadis itu mendadak pucat. Keringat dingin menetes peluh dari dahinya. Mark segera menyadarinya, kemudian ia mengambil alih wadah bekal di tangan Jingga.


"Are you, okay? You look so pale. Should I bring you to the clinic?" Mark khawatir, ia sedikit merendah agar sejajar dengan tinggi Jingga.


Jingga menunduk, terlihat ketakutan seperti baru saja melihat penampakan. Sepersekian detik berikutnya ia mengambil topi putih-kelabu dari ranselnya. Kemudian berlari keluar kelas. Mark yang cemas, merasa ada yang tak beres dari Jingga berinisiatif mengejarnya.


"Yak saudara-saudara, bisa kita saksikan adegan FTV di pagi hari ini," celetuk Haris usil. Mark tak acuh.


"Mark, Jingga kenapa? Mukanya pucet banget," tanya seseorang dari ambang pintu, Kirana.


Mark menggeleng, ia clueless. "Bukan karena salad gue yang ancur kan?" pikir Mark selagi ia melesat keluar mengejar Jingga.


—to be continued

__ADS_1


__ADS_2