How To Overcome Her Phobia?

How To Overcome Her Phobia?
The Truth Untold


__ADS_3

Jingga berlari kencang dengan spontan. Ia tak mau berurusan dengan Mark dan masakannya untuk saat ini. Ia hanya ingin mencari tempat sunyi untuk sekadar menenangkan diri. Namun sebagian dari dirinya juga ingin kembali menuju kelas, ia takut teman-teman mencemaskannya. Terlebih setelah tadi ia berpapasan dengan Kirana yang seakan kepalanya sudah dipenuhi tanda tanya.


Dilanda dilema, akhirnya Jingga berhenti melaju. Ia langkahkan kakinya menuju toilet di ujung lorong kelas. Kakinya lemas, sekujur tubuhnya mulai dilapisi keringat dingin yang bercucuran. Dilihatnya pantulan bayangannya di cermin toilet, kulit cerahnya menjadi pucat.


"Mama ... Jingga takut," air mata mulai membanjiri pipinya dengan deras.


Sececah, pintu toilet berbunyi dan terbuka. Kirana nampak menarik gagang pintu dengan napas yang tersengal-sengal dan wajahnya nampak cemas. Ia menoleh ke arah Jingga yang rupanya sudah berantakan, wajah cantiknya ternodai deraian air mata. Sorot mata yang biasanya terlihat cerah berbinar berganti dengan ketakutan.


"Jingga, lo kenapa?" Kirana mendekati Jingga, sepasang tangannya menyentuh kedua pundak Jingga.


Jingga menggelang kaku. Lidahnya kelu, hanya tangannya yang mampu bergerak memeluk tubuh Kirana dengan lemah.


"Hey, what's wrong? Something bad happened?" Kirana mengelus pelan rambut Jingga untuk menenangkannya.


"Can you take me to the clinic?" Jingga menatap Kirana lesu.


"Sure. But—don't you have to wash your face first?" Kirana melepas pelukan Jingga.


Jingga tak mengelak, ia sadar jika penampilannya sedikit kacau setelah insiden tangis-menangisnya. Ia membasuh wajahnya dengan air, beralih mengambil seonggok sapu tangan dari rok abu-abunya untuk mengeringkan wajahnya.


"You look better, now!" Kirana tersenyum. Jemarinya menggandeng telapak tangan Jingga keluar dari toilet, menuntunnya menuju UKS.


Kirana mendapati salah satu tangan Jingga membawa topi. Kirana langsung mengambil topi itu untuk ia bawakan. Jingga hanya diam, ia masih linglung. Lantas gadis bersurai panjang itu mengalihkan padangan menuju lapangan di tengah bangunan sekolah yang sudah terisi oleh barisan siswa-siswi yang terjajar rapi.


"Gak ikut upacara?" Jingga mengintip lapangan upacara dari kejauhan.


"Ikut, setelah berhasil dengan misi nganterin lo ke UKS," ucap Kirana santai.


"Tapi udah dimulai, nggak takut dimarahin Pak Joko? Itu orangnya udah siaga di deket jalan masuk lapangan sambil bawa penggaris kayu. Gak usah anter gue deh," Jingga sungkan pada Kirana


"Kan tadi lo yang minta gue anterin ke UKS dan—mana bisa gue ninggalin lo yang sakit gini?" Kirana masih berjalan lurus ke depan.


"Gue kira tadi upacaranya belum mulai. Kalau lo kena masalah gimana?" Jingga berusaha meyakinkan Kirana.


Kirana menggeleng, menolak argumen Jingga. Dilanjutkan dengan Jingga yang bersungut, ia takut mengundang masalah bagi temannya. Namun ia juga tak bisa menolak pendirian teguh seorang Kirana Sena Resyakila yang dikenal keras. Mungkin itu sebabnya Kirana dinobatkan sebagai bendahara kelas.


"Permisi, Bu. Teman saya sakit, bisa izinkan dia istirahat di bilik kosong?" Kirana bergerak menuju meja petugas yang berjaga di dalam UKS.


"Atas nama siapa? Datanya perlu ibu arsipkan," wanita muda yang menjadi lawan bicara Kirana mengambil ancang-ancang untuk menulis di buku besar yang ia genggam.


"Jingga Shila Arkadewi, kelas X MIPA 8," Kirana lantas meminta minyak kayu putih pada wanita itu sebagai aromaterapi penenang bagi Jingga.


"Pusing, Nak?" tanya petugas UKS pada Jingga.


"I-iya, Bu," Jingga terbata-bata karena sedikit linglung.


"Sudah sarapan?" lanjut wanita itu.


"Belum sempat, Bu," Jingga menjawab dengan jujur. Sebenarnya tadi ia ingin mampir ke kantin sejenak sebelum upacara, namun yah begitulah.


"Bisa kamu belikan roti atau nasi untuk Jingga, Nak? Mukanya pucat, pasti lemas karena perutnya belum terisi," wanita itu memberi instruksi pada Kirana, dengan sigap Kirana pergi untuk memenuhi tugasnya.


"Makasih, Ra," Jingga tersenyum tipis pada Kirana.


Kirana menaikkan jempolnya sembari membalas senyum Jingga, kemudian meninggalkan UKS.


"Tidur aja, Nak. Bilik nomor 3 masih kosong. Kalau mau teh tinggal ambil di meja depan bilik. Perlu dipanggilkan dokter?" petugas UKS berbicara dengan tangan yang masih sibuk menulis catatan di buku besar miliknya.


"Nggak usah, Bu. Terima kasih," Jingga tersenyum ramah. Ia beranjak membuka pintu bilik yang ditunjukkan petugas, meletakkan sebotol minyak kayu putih pemberian ibu penjaga di atas nakas. Direbahkan tubuh lemahnya ke atas ranjang berselimut kain biru muda.


"Kok phobia gue masih parah ya?" Jingga berdialog solo sambil memejamkan mata cukup lama.


Telapak tangannya berjalan menuju dahinya yang dipenuhi keringat dingin. Kepalanya berdenyut dengan dahsyat. Pening menyertai beban kepala Jingga, ia mendesah kecil karena kesakitan.


"Kalau aja ... ada cara buat ngilangin phobia gue."


"Ada, kok. Pasti ada!" tiba-tiba Kirana sudah berada di dalam bilik, membuyarkan gumaman Jingga. Kedua tangannya memegangi nampan yang berisi semangkuk nasi soto lengkap dengan kerupuk serta segelas susu hangat.


"Ra?" Jingga terlonjak kaget, spontan ia kembali duduk dengan tegap di atas ranjang.


"Lo punya phobia apa?" Kirana meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas.


Jingga menghembuskan napas dengan kasar. Ia takut dan malas untuk memberi tahukannya pada orang lain. Terakhir kali ia menceritakan phobianya pada temannya di bangku SD, semua temannya menertawakan dan sering menggodanya dengan memberi bahkan melemparinya dengan hal yang Jingga takuti.


"Kalau gak mau cerita gak—"

__ADS_1


"Mau!" Jingga menyahut dengan cepat. Intuisinya mengatakan jika Kirana adalah sosok yang tepat sebagai tempat bercerita.


Kirana menaikkan kedua alisnya, terkejut dengan reaksi Jingga.


"Well. Silakan kalau mau cerita. Sotonya mau dimakan sekarang apa nanti?" Kirana memperhatikan Jingga dengan seksama.


"Nanti a—" sesaat perut Jingga berbunyi, meraung kelaparan.


"Yakin?" Kirana melirik ke arah perut Jingga.


"Hadeh, iya deh makan dulu," Jingga meraih semangkuk soto yang Kirana beli di kantin.


Kirana terkikik. Ternyata Jingga yang biasanya nampak terang temarang dan enerjik di kelas, bisa menjadi penurut seperti anak kecil.


"Thank you, ya! Soto sama susu coklatnya, nanti gue talangin. Lo gak usah ikut upacara deh, di sini aja. Kalau lo ke sana yang ada malah diceramahi Pak Joko," Jingga melahap soto yang ada di hadapannya.


"Iya deh, sekalian gue nemenin lo di sini," Kirana duduk di kursi yang bersebelahan dengan ranjang Jingga, "By the way, lo gak nanyain keadaan Mark?" Kirana mulai menggigit kerupuk udang yang ia beli.


"OIYA GIMANA SIH GUE INI!" Jingga merutuki dirinya sendiri, "tadi dia ngejar gue kan?"


Kirana mengangguk.


"Iya, tadi gue juga ngejar dia buat nyari kejelasan keadaan lo yang gue lihat pucet banget waktu papasan sama lo di pintu kelas. Terus dia cerita, kan. Akhirnya gue bilang, gue yang bakal nyariin lo, karena gue pikir kemungkinan lo lari ke toilet. Eh ternyata beneran dong," Kirana melanjutkan menikmati kerupuk udangnya dengan syahdu.


"Gak kebayang kalau dia nerusin nyariin gue. Gak bakal ketemu kali ya. Mana mungkin dia masuk toilet cewek?" Jingga asyik menghabiskan sotonya hingga tandas, sampai lupa jika tadi tubuhnya lunglai seperti orang yang belum makan tiga hari.


Kirana tertawa, menyetujui pernyataan Jingga.


"Semangat bener makannya. Sotonya tandas, bersih banget. Kayaknya ibu kantin gak usah repot-repot lagi nyuci mangkuk lo, deh," gurau Kirana.


"Habis enak banget sotonya. Punya Bu Zaenal di kios paling pojok kan?" Jingga lanjut menyesap susu coklatnya yang hangat.


"Hapal bener," Kirana memandangi Jingga dengan heran.


"Woiya jelas, pelanggan nomor satu di kantin. Semua kios gue jelajahin tiap hari!" Jingga kembali bersemangat, tak lagi lesu. Kirana lega melihatnya.


"Jadi cerita gak?" Kirana membuang plastik kerupuknya di tempat sampah dekat pintu bilik.


"Hm, ya .... Tapi ada syaratnya!" Jingga memperingatkan Kirana.


"Jangan ketawa dan jangan ceritain ke orang lain, kecuali seizin gue!" sorot mata Jingga tajam, lurus mengarah ke arah Kirana.


Melihat lawan bicaranya mendadak serius, kontan Kirana memperhatikannya dengan serius pula. Kirana mengangguk mantap.


Jingga menghirup napas dalam-dalam, karena ini pertama kalinya ia menceritakannya pada orang lain semenjak delapan tahun silam.


"Gue punya phobia sama buah-buahan, lebih tepatnya fructophobia. Dan ... alasan tadi gue lari dari Mark, gara-gara gue takut sama salad buatannya," Jingga menunduk, ia takut dengan respon Kirana.


"Hm? Wajar dong. Secara, setiap orang punya ketakutannya sendiri terhadap sesuatu. Asal lo tahu aja ya, dulu waktu kakak cowok gue masih kecil dia takut sama kancing baju! Agak aneh sih, tapi ya namanya phobia. Dia gak mau pakai baju selain kaos sablonan pasar sampai dia masuk TK. Tapi dia terpaksa melawan phobianya karena mama sama papa gue nyuruh dia pakai seragam yang tentu aja berkancing. Akhirnya sekarang dia gak takut sama kancing baju deh. Gak kerasa sekarang dia udah jadi ketua himpunan di kampusnya, kalau diceritain phobia masa lalunya dia ketawa sendiri sampai kupingnya merah gitu," Kirana berbicara dengan pembawaan yang santai, jauh dari ekspetasi Jingga.


"Mungkin lo juga butuh waktu untuk meredam atau bahkan bisa mengatasi phobia lo. Kayak kakak gue yang terpaksa pakai seragam berkancing. Gue bisa bantu lo kok! Itu pun kalau lo-nya mau sih," Kirana menatap Jingga meyakinkan.


Jingga tak menyesal bercerita pada Kirana, kedua ujung bibirnya tertarik ke atas karena senang.


"Makasih, Ra! Bahkan kalau lo juga gak mau bantu pun, gue udah seneng sama respon lo. Gue sangat menghargai respon lo. For the first time, after eight years, gue ceritain ini sama orang lain. Dan gak direspon negatif!" Jingga sumringah menatap Kirana.


"Seriously? Glad to hear that," Kirana menarik napas lega.


"Jingga, are you ready to overcome your fructophobia?" Kirana menyilangkan kedua tangannya di dada, menunggu jawaban Jingga. Seharusnya, tidak ada penolakan dari ajakannya bukan?



"Ris, lo ngelihat Jingga kagak?" Mark mewawancarai Haris ketika upacara bendera berakhir.


"Nope, terakhir ngelihat dia waktu kejar-kejaran sama lo tadi. Ada apaan sih lo sama dia?" Haris melepas topi putih-kelabunya. Jemarinya mulai menyibakkan rambutnya ke belakang—sedikit pengap usai tertutupi topi selama kurang lebih empat puluh lima menit.


"Gak tahu, gue khawatir. Tadi mukanya pucat pasi habis liat salad gue. Apa gara-gara berantakan ya?" Mark merenungi hal yang terjadi, tangannya mengacak-acak rambutnya dengan kesal.


Haris mengedikkan bahu, "illfeel kali sama lo. Barusan ketemu habis libur semester aja udah sokab abis lo. Eh kalau gak salah, dulu lo pernah cerita kalau naksir sama dia kan?" godanya sambil menyikut siku Mark.


"Diem lo!" Mark menyerang Haris sedikit emosi.


"Ampun, Ndoro!" Haris membungkuk pada Mark, seolah-olah ia adalah hamba dari Sang Paduka Mark Arkananta.


"Oiya, Kirana kan tadi nyusulin dia!" Mark mengingat kembali.

__ADS_1


"Kirana? Oh Rara? Tadi pas upacara gue lihat dia dari kantin bawa nampan makanan, terus jalan ke arah UKS kalau gak salah," Haris memegangi dagunya, berupaya mengingat hal yang ia lihat sekilas saat diceramahi Pak Joko dengan alasan seragamnya tak sengaja keluar karena tingkahnya yang pecicilan.


"Thanks, Bro!" Mark menepuk bahu Haris, kemudian pergi menuju klinik sekolah.


"Jangan lupa jam pertama mapel fisika, Bro!" Haris meneriaki Mark dari kejauhan.


Mark meringis, mengingat guru mata pelajaran fisikanya, Pak Dulana, sangat tidak bertoleransi dengan kata terlambat. Mungkin nanti dia sudah dijadikan ikan pindang kering di tengah lapangan oleh gurunya itu.


Dari jarak sekitar sepuluh meter, Mark bisa melihat Jingga dan Kirana berjalan dari arah kantin. Ia memicingkan matanya untuk memastikannya. "Habis balikin nampan makanan yang dibilang Haris tadi?" pikir Mark.


Melihat gelagat Mark yang aneh dari kejauhan membuat Kirana dan Jingga menyadarinya dengan cepat. Jingga menoleh pada Kirana dengan ekspresi yang jika diartikan seolah mengatakan; "Jangan bilang hal yang tadi terjadi ke Mark."


Kirana mengangguk, menahan tawa karena ekspresi Jingga yang cukup lucu di matanya.


"Jingga, lo dari mana? Kenapa? Lo sakit? Atau lo illfeel sama gue? Lo—"


"Mark, orang sakit jangan diinvestigasi kayak gitu dong! Berasa disamperin reporter gosip tau gak?" Kirana menaikkan nada bicaranya, tak terima perlakuan Mark pada Jingga. Mark speechless setelah mendapat nada sarkastik dari Kirana.


"Sorry, gue cuma khawatir sama Jingga," Mark melirik gadis di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat Jingga merasa kikuk.


"Gue gak papa kok, Mark. Tadi cuma mendadak mual karena belum sarapan, akhirnya gue ke toilet buru-buru. Maaf udah bikin khawatir," Jingga menatap Mark dengan teduh, membuat Mark hampir salah tingkah dibuatnya.


"Woi, kita kudu cepet balik ke kelas nih! Lima menit lagi bel bunyi, lo mau dijadiin ikan asin sama Pak Dulana?!" Kirana melihat ke arah arloji yang melingkari pergelangan tangannya.


Mereka bertiga segera bergegas menuju kelas. Melihat Jingga yang sementara ini tak bisa berjalan dengan cepat, Mark menyodorkan tangannya pada Jingga untuk membantunya.


"Ya elah, Mark. Mau telat masih sempet-sempetnya modus," Kirana menatap sinis pada Mark ketika melihat Jingga sudah dibimbing lelaki bernetra coklat itu untuk bergerak cepat.


"Cepetan tuh, Pak Dulana udah on the way! Arah jam delapan, radius dua puluh meter dari kita!" Mark mengalihkan pembicaraan, namun yang ia katakan memang benar adanya. Pria berusia setengah abad itu sudah menjinjing tas laptop di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya membawa setumpuk kertas yang cukup membuat pria itu kewalahan. Berjalan menyusuri jalan di tepi lapangan.


"Gue ada ide, lo berdua balik duluan ke kelas. Gue alihin tuh bapak-bapak!" Mark mencetuskan sebuah ide, yang entah kenapa juga disetujui Jingga dan Kirana.


"Good luck, Mark! Semoga pulang dengan keadaan selamat!" Jingga dan Kirana sudah melangkah mendahului Mark. Berharap Mark sukses menjalankan tugas negara, kembali tanpa kurang suatu apa pun.


Mungkin anak kelas lain yang menonton tragedi ini mengecap mereka terlalu mendramatisir. Yah walau memang benar jika membuat masalah dengan Pak Dulana, pulang dari sekolah sudah menjadi sambal pindang.


Pernah salah satu murid dari angkatan senior kelas dua belas menentang beliau yang memarkirkan sepeda motornya di parking area khusus siswa, padahal sudah disediakan parking area khusus guru. Pak Dulana ngotot jika beliau juga berhak parkir di sana karena beliau merupakan mantan siswa di sekolah ini. Tak terima dengan penjelasan Pak Dulana yang sedikit menyeleneh, si murid senior menaikkan nada suaranya yang dicap tak sopan oleh Pak Dulana. Naas, kisah heroiknya berakhir tragis. Si murid senior itu ditugaskan menggantikan cleaning service sekolah salama satu bulan penuh oleh Pak Dulana selaku wakil kepala sekolah bidang sarana dan prasarana, dan tentu tanpa bayaran. Jelas ia kelelahan karena luasnya area sekolah. Sejak saat itu tak ada lagi yang mau menentang aturan beliau.


"Selamat pagi, Pak Dulana," Mark menyapa baik-baik guru killernya itu sambil mencium punggung tangan beliau.


Pak Dulana hanya mengangguk kecil sembari terus berjalan.


"Apa perlu saya bawakan tas, Bapak?" Mark berusaha mati-matian menyusun kata-kata yang kiranya tak menyinggung beliau.


"Masih perlu ditanyakan lagi?" Pak Dulana melirik sinis ke arah Mark.


Mark segera mengambil alih tas laptop Pak Dulana beserta dokumen-dokumen yang beliau bawa. Ia sedikit bangga mampu mengatasi misinya. Mission accomplished!


"Gak usah basa-basi kamu. Saya tahu kamu murid kelas X MIPA 8 kan? Tadi saya lihat kamu dari kejauhan, berlari-lari di lorong kelas lalu berhenti sebentar, ngelirik saya diam-diam. Kemudian menghampiri saya. Supaya tidak saya marahi terlambat masuk kelas kan?" Pak Dulana menaikkan posisi kacamatanya.


Skakmat! Mark hanya tersenyum kecut setelah tertangkap basah. Mission setengah accomplished.


"Tumben bukan si Jaka yang bawain tas saya. Teman kamu, dua perempuan tadi sudah kembali ke kelas?" Pak Dulana dan Mark sudah berjarak lima meter dari pintu kelas.


"Sudah, Pak."


"Mark?" di depan hadapan mereka sudah ada Jaka yang menatap Mark heran. Ah tentu saja, Mark mengambil alih tugasnya.


"Selamat pagi, Pak. Perlu saya bantu?" pandangan Jaka beralih pada Pak Dulana.


Pak Dulana menggeleng, berlalu meninggalkan Jaka dan Mark ke dalam kelas.


"Lo ngapain bawain tasnya Pak Dul?" Jaka menatap Mark menyelidik.


"Menjalankan tugas negara, Jak. Udah buruan masuk, keburu orangnya ngamuk," Mark menyikut lengan Jaka.


"By the way, lo kebagian duduk sama siapa?" Jaka menanyai Mark, penasaran.


"Jingga," Mark menyunggingkan senyum angkuh pada Jaka.


"What the—menang banyak lo! Itu artinya taruhan kita masih jalan?" Jaka mendesis.


"Gak ada yang bilang udah selesai kan?" Mark melangkah masuk mendahului Jaka yang sudah berapi-api.


—to be continued

__ADS_1


__ADS_2