How To Overcome Her Phobia?

How To Overcome Her Phobia?
Who is Solihin?


__ADS_3

"Suka kucing ya? Tiap hari gue lihat ngasih makan kucing kantin," Jingga berjongkok untuk menyamakan posisi lawan bicaranya.


"Hm?" orang itu menoleh pada Jingga, lantas tersenyum.


"Iya, gue pelihara banyak kucing di rumah. Kasihan aja lihat kucing kantin kurus-kurus gini, gak kayak kucing gue yang gemuk padahal cuma diem di dalem rumah. Kerjaannya tidur sama makan mulu, manja pula," pemuda itu malah asik berceloteh.


"Ternyata orangnya asik, gak kaku, padahal kelihatannya cool abis. Ampun, dimplenya bikin gue jantungan," itulah first impression Jingga pada Juno yang baru pertama kali ini ia ajak bicara langsung. Padahal biasanya ia hanya berani curi-curi pandang saat membeli makanan di kantin.


"Iya sih mereka kurus-kurus. Padahal tinggal nyolong makanannya orang di kantin tapi mereka tetep cari makan sendiri atau nunggu dikasih orang. Kucing bisa jujur kayak gitu ya," Jingga asal ceplos tentang opininya.


Pemuda itu tertawa kecil mendengarnya, membuat lesung pipi tercetak di kedua pipinya. Menurutnya gadis yang berada di sebelahnya ini lugu, seperti anak kecil yang baru menjelajah dunia luar.


"Kalau lingkungannya baik, merekanya juga pasti nyaman dan gak bakal nakal kok. By the way nama lo siapa? Gue sering lihat lo makan di bangku pojok sambil baca buku."


"Demi bebek potong Pak Slamet! Ini gak salah kan? Kak Juno ngajak gue kenalan duluan dan bahkan perhatiin gue selama ini." Jingga membatin kelewat senang.


"Panggil aja gue Jingga," Jingga mengarahkan mengepalkan tangannya pada Juno, bermaksud mengajak tos.


"Juno, XI MIPA 3. Lo dari kelas mana?" Juno menerima kepalan tangan Jingga.


Jingga tak sadar sedari tadi ia seperti mengajak ngobrol anak sepantarannya, padahal seharusnya ia lebih sopan pada kakak kelas.


"Oh maaf, Kak. Aku kira kita seangkatan, maaf kalau ngomongnya kurang sopan. Aku dari X MIPA 8, hehe," Jingga menyiasati kebodohannya.


"Oh santai aja gak papa, pakai lo-gue atau aku-kamu, terserah yang penting nyaman. Tadi katanya lo dari X MIPA 8? Kelas yang isinya anak-anak jalur prestasi itu kan? Pasti lo hebat banget!" Juno mengacungkan jempolnya pada Jingga. Membuat gadis itu tersipu malu.


"Pakai lo-gue aja deh. Makasih, tapi gue gak sehebat itu kok. Temen-temen gue yang lain lebih jago," Jingga nyengir kuda.


Juno terkekeh, "Iya iya, pasti sekelas jago semua."


"Nah itu baru betul. Eh Kak, ini kucingnya bulunya kasar. Pasti gak ada yang mandiin," Jingga mengelus-elus kucing abu-abu yang lahap memakan makanan pemberian Juno.


"Mau lo mandiin?" Juno menaikkan satu alisnya.


"Mau aja sih. Kadang di sekolah gak ada kerjaan," jawab Jingga tanpa pikir panjang.


Jingga berhasil membuat Juno tertawa sekali lagi. Membuat cewek dengan rambut tergerai itu salah tingkah hingga mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Kenapa? Rambut lo jadi berantakan tuh." Juno menyadari gerak-gerik Jingga.


"Oh, gak papa. Cuma panas aja, gerah habis olahraga," Jingga mencari-cari alasan, tapi masih masuk akal sih di pikiran Juno. Terlihat Jingga mengenakan setelan baju olahraga.


"Makanya, rambutnya tuh dikucir. Emang gak bawa iket rambut?" ucapannya sih terdengar perhatian, namun tangannya masih sibuk mengelus-elus kucing.


"Nggak, ketinggalan. Tapi gak papa kok, gerah dikit aja."


"Mau gue beliin di koperasi?" tawar Juno.


Jingga membulatkan matanya, "Emangnya ada?"


"Ada, gue tahu soalnya waktu kelas sepuluh jadi anggota kopsis. Tunggu bentar ya," Juno buru-buru pergi meninggalkan Jingga bersama si kucing abu-abu.


"Yah, ditinggal. Sekarang tinggal kita berdua, cing. Nama lo siapa?" alih-alih mengejar 'Kak' Juno, Jingga malah mengajak kucing di hadapannya berbicara.


Kucing itu diam saja memasang muka datar sambil terus mengunyah makanannya dengan lahap.


"Ih, lo introvert ya gak suka ngomong sama orang? Gue kasih nama Solihin mau gak?"


Kini kucing itu merespon Jingga dengan mengeong, agaknya ia marah diberi nama Solihin.


"Jinggaaaa!" tampak Sheila dan Adira yang saling mengejar untuk terlebih dulu sampai di tempat Jingga yang sedang jongkok santai bersama salah satu pribumi kantin.


"Sol, mereka ngapain deh kejar-kejaran. Kayak orang gila gak sih?" Jingga masih mengajak 'Solihin' bercakap.


Solihin masih tidak peduli pada Jingga.


"Ah udah bagus gue kasih nama Solihin, sekarang malah pura-pura gak denger!" Jingga sedikit emosi pada si kucing kelabu itu.


"Jingga, lo ngomong sama kucing? Masih sehat kan?" Adira menempelkan punggung tangannya ke atas kening Jingga.


"I'm totally fine, Dir!" Jingga menepis tangan Adira.


"Lo udah ketemu kakak gantengnya?" kini gantian Sheila yang mendekati Jingga.


"Jingga, nih gue beliin ikat rambut. Gue gak tahu lo suka warna apa, gue beli deh selusin. Lumayan dapet banyak warna," suara Juno mengejutkan Adira maupun Sheila. Mereka berdua takjub, sebegitu cepatnya kah Jingga mengambil hati si kakak idola mereka bertiga itu?


"Hah? Gue kira tadi lo pergi mau ngapain. Ya Gustiii, gak usah repot-repot, Kak. Gue suka warna apa aja kok, makasih ya. Gue ganti berapa?" Jingga merogoh saku yang ada di celananya.


"Gak usah, anggep aja gue kasih sebagai wujud terima kasih udah nemenin gue ngobrol. Mungkin temen-temen lo juga mau?" Juno menatap Adira dan Sheila bergantian.


"Mau banget, Kak. Makasih! Oh iya namaku Sheila, Kak. Temen sekelasnya Jingga." Sheila menyodorkan tangannya, mengajak bersalaman sekaligus memberikan senyum termanisnya.


"Oh iya, gue Juno." Juno meraih jabatan tangan Sheila, membuat Adira dan Jingga sedikit cemburu.


"Kalau kalian berdua dari kelas yang sama, yang satu lagi juga dong. Nama lo siapa?" Juno mengalihkan fokusnya pada Adira.


"Iya, sekelas juga. Namaku Adira, Kak." Adira memasang tampang ramah pada Kak Juno. Padahal biasanya ia akan memasang ekspresi cuek jika berhadapan dengan cowok, pemandangan yang baru bagi Jingga dan Sheila.


"Oke, Adira gue panggil Dira aja ya biar lebih singkat?"

__ADS_1


"Boleh."


Belum tahu saja Juno kalau hati Adira sudah berpetualang sampai langit ketujuh karena keramahtamahannya.


"Jun! Dipanggil Bu Retno, disuruh ke ruang kesiswaan!" ada seorang lelaki yang mewanti-wanti Juno dari jauh. Lantas Juno memberi aba-aba 'ok' untuk meresponnya.


"Gue duluan ya. Ada urusan."


"Iya, Kak!" Adira dan Sheila serempak menanggapi si pangeran berkuda putih, lalu saling memberi tatapan sengit.


"Oh iya, Jingga." Juno berbalik setelah berjalan beberapa langkah.


"Kenapa, Kak?"


"Lo besok jadi mau mandiin Bubu?"


"Bubu siapaaa?" Adira membelalak.


"Tuh, kucing yang lagi makan," Juno menunjuk ke arah kucing yang berada di dekat kaki Jingga.


"Oh, namanya Bubu? Padahal udah gue kasih nama Solihin tadi."


Lagi-lagi Kak Juno tertawa karena Jingga.


"Ya udah, namanya Solihin aja. Gue besok mau bantuin lo mandiin Bu—Solihin, gue bawain sabun mandinya kucing gue deh. Pulang sekolah, ya!" Kak Juno melambai singkat pada Jingga lalu segera berlari menuju temannya yang sedari tadi menunggu di ujung kantin. Jingga hanya mengangguk singkat.


"Jingga! Lo habis nyelamatin berapa juta nyawa orang di masa lalu sampai reinkarnasi jadi cewek seberuntung ini?" Adira mengguncang badan Jingga.


"Gak tahu. Gila, tadi aja semua berjalan mengikuti alur yang bahkan gak gue duga. Asik besok ketemu lagi!" Jingga memamerkan pencapaiannya pada kedua saingannya.


"Ih, gak adil. Padahal udah ada Mark sama Jaka yang nempelin lo, masa habis ini Kak Juno juga?" Sheila cemberut.


"Eh Mark sama Jaka kan cuma temen sekelas. Dan kalau misalnya salah satu dari kita ternyata ada yang jadian sama Kak Juno, tetep gak ada yang berubah kan? Maaf deh tadi gue curi start duluan," Jingga nyengir kuda.


Namun tetap saja kedua temannya itu tenggelam dalam festival patah asa diiringi lantunan musik patah hati.


"Nih, ambil aja ikat rambut dari Kak Juno."


Sontak kedua rival sekaligus sohib Jingga itu langsung membabi buta mendekat ke arahnya.


"Eh, gak semua ya! Maksimal dua aja!" Jingga memperingati.


"Iyaaaaa, thanks!" langsung saja mereka berdua asik mengambil pemberian Kak Juno tadi.


"Lo gercep amat kenalannya, kayak udah kenal banget. Gimana caranya?" Sheila sedikit bingung dengan interaksi antara Jingga dan Kak Juno tadi.


"Sumpah ya, lo bikin gue iri asli. Kalau aja tadi gue yang lari duluan," Adira menggembungkan pipinya, masih ngambek ke Jingga.


"Aaa, maaf," Jingga memeluk Adira dan Sheila.


"Iya, iya gak papa. Kalau gini mode soft girl lo muncul lagi, tapi lucu sih," Sheila terkikik.


"Soft girl apaan sih? Udah gini deh, biar gak ngambek lagi gue traktir di kantin mau gak?"


"Mau!" Adira menjawab dalam sekelebat mata.


"Giliran dikasih gratisan aja mau! Lo mau apa?"


"Chicken katsu!" Adira menjawab dengan semangat.


"Gue kentang goreng yang di kios pojok itu aja deh." Sheila menunjuk kios yang ada di paling ujung.


"Let's goo!" Jingga sudah terlebih dulu berjalan menuju kios-kios di kantin.


"Kebiasaan deh, temennya ditinggalin," celetuk Sheila.


"Bye, Ce!" Adira juga sudah melenggang lincah mendekati Jingga.


"Hadeh, terserah." Sheila berjalan dengan santai.



"Iya, berhasil."


Krauk


Jingga memakan keripik rasa rumput laut pemberian Kirana. Rambutnya yang tadi tergerai bebas, kini terikat oleh ikat rambut pemberian Kak Juno. Warna kelabu menjadi pilihannya karena mengingatkannya tentang Solihin.


"Sumpah? Lo cepet banget deh. Padahal tadi si Dira sama Cece udah lari kenceng banget buat ngejar lo," Kirana terkejut bukan main.


"Dia kan emang atlit lari, Ra." Hilda mengungkap fakta.


"Iya, sih. Tapi gimana caranya lo ngajak kenalan?" Kirana buru-buru mengambil posisi nyaman untuk mendengarkan cerita Jingga.


"Gue lihat dia ngasih makan Solihin, terus gue deketin, ajak ngobrol, selesai," Jingga kembali melanjutkan memakan snack gratisannya.


Semua yang ada di kamar Kirana mengerjap tak percaya.


"Solihin tuh kucing kantin, tadi Jingga asal ngelantur aja kasih nama." Sheila menjelaskan.

__ADS_1


"Kucing abu-abu itu kan? Lucu kayak gitu lo kasih nama Solihin? Ampun deh gue kalau sama Jingga," Gea terkikik geli mendengar nama Solihin.


"Bagus tahu namanya! Abang bakso di depan rumah gue namanya Solihin. Gue suka banget sama abangnya, soalnya baksonya paling top sedunia deh menurut gue. Jadi, tuh kucing gue kasih nama Solihin biar jadi favorit gue juga kayak si abang bakso," Jingga menjelaskan panjang lebar tentang asal-usul nama Solihin.


Mendengar itu teman-teman Jingga diam sejenak lalu tertawa sesaat kemudian.


"Aduh, perut gue sakit ketawa mulu," Gea memegangi perutnya dan masih terkikik.


"Gak kuat, gue sampai nangis," Kirana sampai menitihkan air mata.


"Kalian kenapa sih? Oh iya nama asli kucingnya tuh Bubu, Kak Juno yang kasih. Tapi gara-gara gue panggil Solihin, Kak Juno ikut-ikutan deh." Jingga sedikit bangga.


"Lo berhasil memengaruhi Kak Juno? Waw hebat banget!" Helen bertepuk tangan.


"Iya. Tadi gue udah cerita kan kalau Jingga sampai dibeliin ikat rambut selusin gara-gara lupa gak bawa. Parah, parah!" Adira menggelengkan kepalanya sambil bertepuk tangan.


Jingga mengibaskan rambutnya, menyombongkan diri.


"Jingga gitu loh!"


"Eh out of topic nih. Kabarnya Jaka sama Mark gimana deh?" Tiara melayangkan satu pertanyaan pada Jingga.


"Ya, lo tanya aja sama mereka, gue kan gak tahu mereka sekarang lagi apa." Jingga masih hura-hura makan keripik.


"Kasihan tahu mereka, lo gak sadar apa selama ini mereka berlomba-lomba dapetin lo." Renata turut prihatin dengan nasib kedua pemuda jomblo yang menggantungkan cinta mereka pada Jingga.


Jingga tersedak, membuat yang lain sedikit panik. Kirana segera memberi segelas teh pada Jingga untuk meredakannya. Jingga kembali tenang.


"Ehm, thanks Ra. Jadi—maksud lo mereka suka gue beneran gitu?" Jingga memastikan pernyataan Renata.


"What the—of course! Lo gak liat gimana mereka ngasih afeksi ke lo? Cara mereka natap lo, dalem sedalem Palung Mariana tahu gak?"


"Gue kira anak-anak asal ngomong aja, bercanda. Itu beneran? Padahal buat gue tuh mereka udah kayak konco kenthel kalau pakai bahasanya Jaka."


Kirana memberi isyarat pada temannya yang lain untuk berhenti membicarakan hal ini. Kirana pikir sepertinya Jaka dan Mark tak ingin jika perasaan mereka pada Jingga diketahui terang-terangan oleh Jingga untuk sementara.


"Kagak kali, mereka berdua kan emang gitu gak sih sama anak-anak sekelas. Ya nggak?" Sheila menangkap kode Kirana dengan cepat.


"Ah iya, mereka kan emang baik gitu hehe," Renata berkilah.


"Lupain aja mereka berdua. Sekarang, gue ada sesuatu yang spesial buat Jingga." Kirana menaik-turunkan alisnya.


"What?"


"Ikut gue! Kita ke dapur!" Kirana buru-buru meraih pergelangan tangan Jingga.


Teman-teman mereka yang lain hanya ikut mengekor. Entah apa yang sudah Kirana siapkan untuk Jingga. Kirana mendudukkan Jingga di kursi bar.


"Lo mau ngapain sih, Ra? Gue jadi kepo."


"Sabar, ish!"


Kirana menutup mata Jingga menggunakan sehelai kain berwarna gelap.


"Lo mau ngasih surprise? Ultah gue masih enam bulan lagi kali."


"Maybe? Coba lo lepas kainnya sekarang."


Jingga sedikit bingung, namun ia turuti saja instruksi Kirana.


"Good, ternyata walau lo ada jiwa-jiwa rebel masih penurut juga ya. Ok gue mulai."


"Hm?" Jingga masih tak bisa menangkap maksud Kirana.


Teman-teman mereka yang lain mengamati saja dari dekat lemari es, sekalian malak isi kulkas di rumah Kirana.


"Jingga, tutup mata lo."


Tak ada penolakan dari Jingga, ia menutup mata saja dengan rileks.


"Just follow my instructions, okay?"


Jingga tak bergeming, tanda kalau ia setuju.


"Jangan bilang. Rara mau—" belum sempat Adira melanjutkan ucapannya, Kirana sudah membungkam mulutnya dari jarak yang cukup jauh.


Gadis itu meletakkan telunjuknya di depan bibir merah mudanya. Adira segera mengunci mulutnya rapat-rapat.


Suggestion.


—to be continued


Khansa's note;


By the way mau kasih tahu kalau X MIPA 8 itu muridnya cuma delapan belas ya, namanya juga kelas khusus. Baik siswi maupun siswanya jumlahnya sama kok, sama-sama sembilan. Makanya mereka akrab banget dan gak ada circle-circle tertentu di dalam kelas. Daaaan nama kelas mereka itu SALTY seperti yang tertera di chapter-chapter sebelumnya alias SAtuan peLajar Teladan kesayangan MommY, sekalian ngikutin kamusnya warga twitter gitu wkwk. Oh iya buat nama-nama tokoh sekaligus visualisasinya nanti gue bikinin satu chapter khusus ya ;)


Sekian, merci!


And also thank you for reading this book, hope you enjoy it! ✨

__ADS_1


__ADS_2