
Adira memakan satu cup yogurt yang ia ambil dari lemari es Kirana dengan santai. Sontak keenam teman yang ada di dekatnya menatap sinis.
"Kalau gak boleh rame, seenggaknya biarin gue makan. Gue gak bisa bertahan hidup di tanpa kedua hal itu." Adira berbisik dengan sangat pelan.
Keenam temannya mendengus pelan mendengar tanggapan Dira. Berusaha untuk tak peduli lagi dengan yang gadis itu lakukan.
"Sekarang, tepuk tangan sambil bilang bangun-tidur-bangun-tidur. Setiap lo denger kata tidur, mata lo akan bertambah berat, lo semakin ngantuk."
Jingga melakukan apa yang Kirana ucap. Kedua tangannya bertepuk sementara bibirnya terus mengucap rentetan kata bangun-tidur-bangun-tidur berulang kali.
"Makanan apa yang paling lo suka?"
"Baksonya Bang Solihin." Jingga menjawab dengan lemas, seperti orang yang tidak tidur selama tiga malam.
"Good taste. Minuman favorit lo?" Kirana kembali melanjutkan.
"Mineral water."
"Okay, Jingga. Waktu nanti lo buka mata, anggap aja makanan dan minuman yang lo lihat adalah bakso dan air putih. Sekarang lo semakin ngantuk kan? Kayak habis begadang tiga hari tanpa tidur."
Jingga diam, tangannya sangat lemas sampai akhirnya jatuh. Bibirnya pun berhenti berucap. Rasanya ia sangat ngantuk dan lelah, seperti habis kerja rodi tiga hari tiga malam tanpa istirahat.
Kirana berlari kecil menuju kulkas yang dihalangi Adira.
"Minggir!" Kirana mengusik kegiatan Adira.
Sekarang jalan terbuka lebar untuknya membuka pintu kulkas. Ia mengambil segelas minuman dan semangkuk penuh potongan semangka yang tampak segar. Lantas ia kembali meja bar menghampiri Jingga yang sudah terlelap seperti bocah cilik.
"Waktu lo buka mata—"
Belum sempat Kirana melanjutkan sugestinya pada Jingga. Adira membuat sedikit kebisingan, menyenggol hiasan kulkas sampai jatuh menggelinding ke atas pualam dapur. Awalnya sebelah tangan Jingga bergerak, membuat yang lain panik. Sudah siap-siap saja mereka merundung Adira karena melakukan kesalahan yang fatal. Namun Jingga masih tak bergeming, matanya tertutup terlihat kalem pun dipenuhi kedamaian.
Kirana menghembuskan napas lega sambil memberikan tatapan mengintimidasi pada Adira yang membuat gadis itu akhirnya berhenti berulah.
"Waktu lo buka mata. Lo ada di ruang makan yang ada di rumah lo. Banyak makanan dan minuman yang tertata di meja, tapi lo cuma pilih baksonya Bang Solihin dan air putih yang ada di gelas bening. Lo merasa laper banget dan pengen ngehabisin dua menu itu aja."
"Now, open your eyes!"
Jingga membuka matanya perlahan, matanya kemerahan seperti orang kurang tidur. Namun satu senyuman mendarat di wajahnya.
Kata-kata Kirana seakan menyihir Jingga. Yang benar saja saat membuka mata ia sudah berada di ruang makan yang ada di kediaman keluarganya. Perutnya terasa kosong, membuat tubuhnya lunglai. Banyak hidangan yang tersuguhkan di atas meja, tapi yang paling membuatnya tertarik hanya semangkuk bakso.
Kalakian ia memotong salah satu bulatan daging itu kemudian melahapnya. Ia merasakan rasa dari kaldu ayam yang membanjiri mangkuk itu serta rasa bakso yang enak.
"Gimana rasanya?" Kirana melihat air muka Jingga yang terlihat menikmati santapan yang ia makan.
"Enak, ya kayak rasanya bakso."
Jawaban Jingga membuat semua temannya menganga.
"Seriously? Kirana daebak!" Renata menggeleng tak percaya sambil tetap menggunakan volume suara yang pelan untuk tidak membuyarkan konsentrasi Jingga.
"Sekarang lo boleh minum, pelan-pelan ya."
Kirana memberi gelas yang ada di tangannya pada Jingga.
"Thanks."
Jingga meminum isi gelas itu sampai tandas. Tanpa banyak komentar.
"Sekarang tutup lagi mata lo dan waktu lo denger suara tepukan tangan lo boleh bangun, dan lo gak inget apa yang tadi lo lakuin. Gue harap—phobia lo bisa hilang."
Kirana memberi aba-aba pada teman-temannya yang berkumpul di sudut ruangan untuk bertepuk tangan.
Suara tepukan tangan bergemuruh di kuping Jingga, membuatnya kembali bangun dari tidur singkatnya.
"Ra." Jingga merentangkan kedua tangannya ke atas.
"Kenapa?"
"Kok gue rasanya ngantuk banget ya?" Jingga menopang dagunya di atas meja bar berusaha menahan kantuk.
Sontak gerombolan yang sedari tadi mendekam di dekat kulkas buru-buru mendekati Jingga.
"Lo gak inget apa-apa?" Renata terheran-heran melihat Jingga yang tampak biasa saja usai memakan semangkuk penuh potongan semangka dan segelas jus alpukat.
"Gue tadi tidur di sini kan?"
"Lo gak inget habis makan apa gitu? Perut lo kenyang atau apalah," Adira sungguh penasaran.
"Kan tadi di kamar Rara gue cuma makan keripik mana ada gue kenyang?" Jingga merasa pertanyaan Adira tidak penting.
Mereka bertujuh bertepuk tangan mengelilingi Kirana. Seperti ketujuh kurcaci yang mengagumi Sn**ow White sambil menari-nari memutarinya.
"Sumpah, Ra. Lo bikin gue merinding asli!" Tiara berdecak kagum.
"Lo semua pada kenapa deh?" Jingga heran melihat kelakuan teman-temannya.
Kirana tersenyum tipis kemudian menepuk bahu Jingga.
__ADS_1
"Coba lo lihat mangkuk sama gelas yang ada di depan lo," Kirana sedikit memberi clue pada Jingga.
"Kosong?"
"Tadi ada isinya loh. Coba lo tebak." Jingga dihadapkan pada permainan teka-teki Kirana.
Gadis berkucir kuda itu menajamkan indra penciumannya. Hidungnya menangkap dengan jelas bahwa ada bau-bau mistis—menurut Jingga—di sekitar mangkuk dan gelas itu. Otaknya dengan cepat mengira.
"Jangan bilang, tadi gue ketiduran terus sleepwalking dan habisin ini semua. Ini kan bau semangka—" Jingga menganga tak percaya, "—sama alpukat."
"Kenapa lo punya asumsi kayak gitu?"
"Ya mana mungkin gue makan gituan dalam keadaan sadar dan gak inget apa-apa."
"Lo yakin sama analisis lo?"
Jingga mengedikkan bahu, tanda jika ia ragu-ragu.
"Lo nggak ngerasa takut?"
Jingga diam, berpikir sejenak.
"Tunggu, tadi gue makan SEMANGKA?" Jingga terkejut bukan main.
"Jangan lupa, jus alpukatnya juga," Adira menambahkan.
Kirana memutar bola matanya, gagal sudah eksperimennya kalau begini.
"Ra, minta air putih! Buat menetralisir rasa-rasa yang ada di lidah gueee! Aaaaa kalau gue mati gimanaa?" Jingga buru-buru mencari air mineral di dapur Kirana.
"Jingga, jangan panik! Tarik napas dulu, yang dalem," Kirana menahan tubuh Jingga, memegangi kedua bahu gadis itu. Keringat dingin sudah menjalari tubuhnya.
"Tenang, lo gak bakalan mati! Ini phobia bukan alergi, buktinya sekarang lo gak kenapa-napa kan?" Jingga menatap Kirana nanar, "duduk dulu, gue ambilin minum. Rileks aja, gak usah panik, ok?"
Jingga menuruti Kirana, ia kembali tenang. Kemudian ia terduduk kembali di atas kursi. Adira dan yang lain mengipasi dan mengelus pelan punggung Jingga Jingga yang sudah bercucuran keringat saking panik dan takutnya dia.
"Nih, diminum. Baca doa dulu biar gak keselek." Kirana menyodorkan satu gelas penuh air bening pada Jingga.
Langsung saja ia minum air itu sampai tetes terakhir. Tubuhnya masih gemetar. Akhirnya Kirana membawa Jingga ke sofa ruang tengah bersama yang lain.
"Ra, gue beneran sleepwalking—" Jingga menatap Kirana dengan dalam, "—atau lo ngehipnotis gue?"
Ucapan Jingga mampu membuat Kirana yang biasa terlihat kuat dan penuh percaya diri menjadi getir.
"Jawab."
Jingga menatap Kirana tak percaya.
"Gini ya, Ra. Makasih karena mau bantuin gue buat hilangin ketakutan payah yang gue punya ini. Tapi jujur aja gue gak suka kalau sampai dipaksa kayak gini bahkan di bawah alam sadar gue. Well, gue anggep lo punya trik yang cukup pintar, tapi gak gini caranya, Ra," air mata mulai jatuh dari mata Jingga.
"Jingga—"
"Gak papa kok, Ra. Gue cuma butuh waktu sendiri. Makasih ya camilan sama minumnya, gue pamit pulang," gadis yang kalut dalam deraian ketakutan itu segera menghapus air matanya.
Jingga tersenyum singkat berlalu mengambil tasnya.
"Ce, gue gak jadi bareng lo ya. Gue duluan."
Bahkan saat pamit saja ia enggan untuk sekadar menengok ke arah kawan-kawannya. Sheila bahkan Kirana diam tak berkutik, lidah mereka kelu tak mampu melontarkan satu kata pun untuk menahan kepulangan Jingga. Di saat itu pula Kirana si tegar dan kuat itu menangis sejadi-jadinya.
"Ra, lo udah coba yang terbaik kok. Besok-besok kita coba lagi ya." Sheila mengelus rambut Kirana.
"Gue bukan temen yang baik, Ce." Kirana jatuh dalam dekapan Sheila.
Mereka memeluk satu sama lain, berharap Jingga mampu memaafkan mereka dan segera menemukan cara untuk menyelesaikan masalahnya.
"Tok, tok, tok. Mengetuk pintu. Misiiii ada paket!" Senja mengetuk pintu putih yang ada di depannya, berharap mendapat tanggapan dari penghuni ruangan itu.
"Passwordnya?"
"Kopi enak nyaman di lambung."
"Oke, lil bro. Silakan masuk."
Akhirnya si pemilik kamar mengizinkan Senja dan raganya masuk.
"Mbak, bantuin gue ngerjain karya tulis ilmiah dong." Senja merengek pada kakak perempuan satu-satunya.
"Maaf ya, Mbakyumu yang ayu sedunia ini lagi pusing," gadis yang sedang dalam balutan selimut itu menepuk pucuk kepala adiknya dengan lembut. Bohong, padahal gadis itu hanya sedang banyak pikiran.
"Loh kok gak bilang sih kalau sakit?" Senja menatap cemas.
"Gak usah khawatir gitu ah, pusing biasa kok," Jingga tertawa kecil.
"Lagian lo masih awal semester kok udah ada tugas sih, buat KTI pula. Siapa sih yang ngajar?"
"Bu Jean, Mbak. Katanya buat nyicil ujian praktik Bahasa Indonesia nanti."
__ADS_1
"Oalah! Bu Jean emang suka ngasih tugas. Ujian praktiknya bukannya masih Februari ya?"
"Iya, tapi dari pada numpuk tugasnya. Belum lagi nanti ada tryout. Pokoknya nanti gue harus masuk sekolahnya Mbak Jingga." Senja mengepalkan tangannya ke udara.
"Iya, bisa kok. Semangat, my lil bro!" Jingga ikut-ikutan mengepalkan tangannya untuk menyemangati Senja.
"Kalau mau referensi bisa lihat punya gue. Ada di rak buku-buku lama, sampulnya merah ada logo sekolah SMP kita." Jingga memberi petunjuk pada Senja.
"Siap, Kapten!" Senja memberi hormat kemudian menuju rak yang ada di sudut kamar Jingga.
"Ketemu! Hehe makasih Mbakyu-ku yang paling ayu sedunia." Senja merayu-rayu kakaknya.
"Iya. Udah pergi sana gue mau tidur!" Jingga mengusir adik laki-lakinya itu dari kamarnya.
"Kalau gue gak mau?"
Jingga menyingkirkan selimut hangatnya kemudian mengambil salah satu bantal yang tertumpuk di atas kasur.
"Siap-siap kena bantai lo!" Jingga melayangkan bantal itu tepat ke kepala Senja. Membuat ia kehilangan keseimbangan untuk sementara.
"Oh, nantangin nih ceritanya?" Senja mengambil bantal yang tergoler di lantai lantas melemparkannya pada Jingga.
Jingga yang tak sempat terhindar pun tertimpuk bantalnya sendiri. Kalau begini sih namanya senjata makan tuan.
"Apaan sih? Beneran minta dibantai ya lo?" Jingga kembali melempar bantal pada Senja, kali ini serangan bertubi-tubi.
Senja terbaring di atas pualam. Terkena serangan maut Jingga.
"Nah kalau gini kan hamanya udah hilang." Jingga turun dari kasur usai berdiri di atasnya yanh membuat kepalanya nyaris menyentuh langit-langit kamar.
Satu bantal mendarat mantap di wajah Jingga. Bukan Senja namanya kalau tidak licik. Ia sengaja pura-pura lemah atas serangan kakaknya. Kemudian menyerang kuat-kuat saat ia lengah.
"Senjaaaaaa!" kini Jingga emosi sungguhan memuncak.
Senja menelan ludahnya, kalau sudah begini ia tak bisa lagi menyerang atau melarikan diri. Kakaknya itu kalau sudah marah satu perumahan mampu ia porak-porandakan.
"Ampun, Mbak!"
Senja menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Satu-satunya senjata yang ia miliki sekarang sebagai tameng pelindung. Alih-alih dihakimi oleh Jingga, gadis itu malah tertawa habis-habisan melihat adiknya yang terlihat tak berdaya.
"Demi bakso Bang Solihin! Muka lo bikin ngakak parah." Jingga tak kuasa menahan tawa.
"Kok malah ngetawain gue sih?" Senja menatap kakaknya heran.
"Emang lo doang yang bisa nipu? Gue juga bisa kali!"
"Hah? Ya udah kalau gitu gue balik ke kamar, capek tau lempar-lemparan bantal. Terus lo ngelempar kenceng banget, rasanya pinggang gue mau encok," Senja memegangi pinggangnya.
"Eh seriusan? Maaf, Dek," ekspresi Jingga berubah drastis, dari yang awalnya haha-hihi menjadi cemas.
"Nggak, bercanda doang." Senja mendengus kecil.
"Dek, ini kalau buat mukul orang sakit loh."
Jingga mengepalkan tangan kanannya, mempersiapkan bogem mentah untuk menakut-nakuti Senja.
"Iya, iya. Gue keluar."
Belum ada selangkah Senja berjalan, Jingga memanggil namanya.
"Opo, Mbakyu?"
"Makasih."
"Buat?"
"Ya pokoknya makasih. Udah sekarang pergi jauh-jauh dari kamar gue." Jingga mendorong badan adiknya yang menjulang tinggi hampir setinggi pintu.
"Tadi manggil, bilang terima kasih, sekarang malah ngusir. Heran gue."
"Bye, my lil bro!"
Jingga segera menutup pintu kamarnya, menata bantal-bantal yang berserakan akibat perang brutal tadi. Kemudian kembali menelentang di atas kasur empuknya.
"Bisa aja si Senja bikin gue ketawa."
Ting
Satu notifikasi dari benda gepeng berwarna rose gold berhasil mengalihkan perhatian Jingga.
"Siapa sih?"
Jingga mengotak-atik isi gawainya. Ternyata hanya sebuah pesan dari operator.
"Oalah."
Jarinya kemudian mengeklik aplikasi chatting online, ternyata banyak pesan gerilya yang tak terlihat dari notifikasi—karena Jingga membisukan semua notifikasi pesan dari aplikasi itu—dan yang paling menarik perhatian Jingga adalah pesan dari Jaka dan Mark yang jarak pengirimannya saling berdekatan. Sebelum ia buka sih, tampaknya mereka berdua cuma basa-basi menanyakan keadaan dan kegiatan yang ia lakukan, klasik. Padahal yang Jingga harapkan adalah pesan dari Kirana.
—to be continued
__ADS_1