
Terhitung sudah hari ketiga Kirana tidak masuk sekolah. Aneh sekali padahal ini pekan pertama masuk sekolah setelah liburan semester. Jingga cemas dengannya, ia benar-benar menyesal sudah pergi tanpa tahu diri waktu itu. Padahal Kirana hanya ingin membantu.
"Dira. Waktu hari itu Rara nangis ya?" Jingga bertanya pada Adira yang duduk di seberang bangkunya.
Hubungan Jingga dan teman-teman perempuannya sudah membaik, mereka saling meminta maaf sehari setelah kejadian itu.
"Kan gue udah cerita berkali-kali. Dia nyalahin dirinya sendiri karena udah buat lo takut. Anak sekelas ngechat dia gak ada satu pun yang dibales. Gue jadi khawatir, Ga." Adira menatap sendu ke arah Jingga.
"Gue juga khawatir, gue ngerasa bersalah. Banget. Dia gak online berhari-hari. Pokoknya kalau ketemu dia gue harus minta maaf, kalau perlu gue berlutut sekalian."
Jingga meletakkan kepalanya di atas meja, rasanya setengah dari dirinya sudah pergi berkelana. Ia frustasi sampai mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Jingga, are you okay? Mau ini?" Mark yang baru saja tiba dari kantin menyodorkan sekotak kemasan minuman yogurt yang ia ketahui jika itu favorit Jingga.
Jingga kaget dan refleks menoleh pada Mark. Ia menatap sekilas minuman yang ditawarkan Mark, rasa stoberi. Walau ia takut pada buah, sebenarnya ia masih bisa meminum olahan yang memakai perasa buah, seperti yogurt, susu, atau permen. Tapi untuk kali ini, ia masih muak dengan buah setelah ia perang dingin dengan Kirana.
"Nggak, makasih." Jingga tersenyum tipis lalu kembali menyandarkan kepalanya di atas meja.
Mark turut sedih karena Jingga terlihat muram belakangan ini. Ingin ia rengkuh si gadis dalam lautan peluknya, menenangkan, dan mengajak Jingga bergabung ke dalam festival bahagia. Namun ia sadar ia bukan siapa-siapa bagi gadis itu.
Bel berdering nyaring di seluruh penjuru kelas. Murid-murid pun bersiap menyambut kedatangan guru di dalam kelas. Biasanya Jingga akan menjadi yang paling bersemangat untuk kelas Bahasa Indonesia yang dibina oleh Bu Heni. Lamun hati gadis itu seperti diterpa badai perasaan yang tak nyata. Kekhawatiran Mark pada Jingga semakin besar.
"Jingga, kamu memperhatikan saya kan?" Bu Heni mendapati Jingga melamun sepanjang kelas beliau.
Jingga masih dalam lamunan dengan tangan yang menopang dagu. Cepat-cepat Mark menepuk pundak Jingga, memberi tahu kalau guru mereka itu sedang menatapnya intens.
"Ah iya kenapa, Bu?" Jingga tersenyum kikuk melihat Bu Heni yang sudah menaikkan posisi kacamatanya, menandakan bahwa beliau dalam mode serius.
"Kamu masih mau mengikuti kelas saya kan?" Bu Heni berbicara dengan nada yang lumayan tinggi, membuat Jingga sedikit gentar.
"Masih. Maafkan saya, Bu."
"Baiklah, sekarang kalian lihat contoh peragaan debat secara langsung dari link yang saya kirim ke ketua kelas. Jaka, sudah kamu kirim ke teman-temanmu bukan?" Bu Heni mengalihkan atensi beliau pada si ketua kelas.
Jaka yang mulanya melirik ke arah Jingga penuh tanda tanya sontak menjawab pertanyaan Bu Heni.
"Sampun, Bu. Sudah saya kirim ke grup kelas tadi pagi."
"Bagus, silakan dilihat dan dicermati ya anak-anak. Kalau bisa kalian catat apa saja unsur-unsur debat melalui analisis kalian pada video tersebut. Jelas?" Bu Heni melepaskan kacamata yang sedari tadi bertengger, melintang di kedua matanya.
"Jingga, lo jangan ngelamun lagi ya. Mau minum air putih dulu biar seger?" Mark kembali menawarkan bantuan pada Jingga.
Gadis itu tak mau menolak wujud perhatian Mark untuk yang kedua kalinya. Diminumnya sebotol penuh air pemberian Mark, tentu dengan izin Bu Heni.
"Makasih. Sorry ya, tadi gue cuekin lo." Jingga tersenyum tipis pada Mark.
"Santuy! Gak papa kali. Tuh tugasnya Bu Heni buruan dikerjain, dari tadi lo dilihatin ibunya terus. Merinding juga sih padahal lo masuk di jajaran murid kesayangan ibunya. Oh iya, kalau gak ada paket data, gue lagi bagi-bagi hotspot."
Mark bicara dengan cepat seperti seorang rapper. Membuat Jingga sedikit kesulitan untuk menangkap kata-katanya. Walau begitu ia mengerti inti dari ucapan cowok yang ada di sampingnya itu. Ia memberi perhatian pada Jingga, tanpa syarat, terlihat dari sorot matanya.
"Kok lo tau aja gue kagak ada paket data." Jingga mendengus pelan lalu menyodorkan layar ponselnya pada Mark.
"Lo yang namanya 'mark ganteng' itu kan?"
"Makasih, cantik."
"Eh, kok lo malah gombal sih?" Jingga tak habis pikir. Masih ada saja kesempatan bagi Mark untuk menunjukkan jurus-jurus andalan meluluhkan hati wanita.
"Kan tadi lo puji-puji gue. Ya gak salah dong kalau gue puji lo balik?"
"Tapi lo tuh—"
"Woi, lo berdua diliatin Bu Heni dari tadi tuh!" Haris yang duduk di belakang mereka berdua memperingati dengan sembunyi-sembunyi, menggunakan volume suara yang sangat pelan.
"Jing, ibunya ngamatin kita dari tadi kayaknya."
"Manggil yang bener! Udah ah gue mau lanjut ngelarin tugas." Jingga sudah mengamati video yang tersuguhkan di tampilan handphonenya.
"Iya, bawel. Akeh cocote." (Banyak omongnya) Mark juga segera mengalihkan fokus pada gawainya karena Bu Heni sudah menepuk-nepukkan penggaris kayu panjang ke salah satu telapak tangan beliau. Membuat Mark bergidik ngeri.
"Mau abang anterin pulang gak, Neng?"
Kegiatan perempuan berkucir kuda itu terusik oleh kehadiran seorang laki-laki dengan motor scoopynya. Baru saja ia menghitung kiranya ada dua puluh mobil putih yang melintas di sepanjang jalan depan gerbang sekolahnya.
"Nggak, Bang. Mending motornya buat konvoi seru tuh kayaknya."
"Yah, jangan jual mahal gitu dong, Neng."
"Apaan sih, Mark. Gue lagi nungguin adek gue. Udah lo pulang duluan sanaa!"
Gadis itu mengusir Mark seolah tak mengharapkan kehadirannya. Sebenarnya sih tidak, karena mereka sudah menjadi teman dekat. Sebatas penolakan ajakan teman biasa lah.
"Galak banget, Neng. Jok belakang kosong, helm masih bawa satu. Yakin gak mau bareng?" Mark menaikkan salah satu alisnya.
"Gak! Ya kali gue ninggalin adek gue gitu? Kakak macam apa gue?"
"Gini deh, gue anterin ke sekolah adek lo aja gimana? Dia anak kelas akhir kan? Gak mungkin pulang jam segini, gak usah cari alesan. Buruan naik." Mark menyodorkan helm biru laut lengkap dengan stiker ombak aesthetic ala-ala kesukaan Jingga.
"Ya udah, deh lumayan dapet tumpangan gratis."
Jingga menaiki motor Mark. Tentu saja ia sudah mengaitkan pengaman helmnya sampai berbunyi klik, demi keselamatan bersama.
__ADS_1
"Gak mau kasih gue kehangatan gitu kayak yang di sinetron-sinetron romansa?" goda Mark.
"Gak bakal!"
Mark terkekeh mendengar jawaban teman sebangkunya itu.
"Adek lo masih lama kan?"
"Bentar. Mau gue chat."
"Oke, Tuan Putri."
"Waduh, masih lama pake banget ternyata. Barusan dia ngechat gue kalau pulangnya jam tiga, ada acara motivasi dadakan gitu deh dari kepsek. Dia mau pulang sendiri naik ojek online katanya." Jingga melihat pesan yang terpampang di ponselnya dengan raut muka kecewa. Mark dapat melihatnya jelas dari kaca spion.
"Masih dua jam lagi dong."
"Iya. Males banget kalau gini."
"Oh iya, nanti jam tiga juga ada party kecil-kecilan di rumahnya Sheila itu kan?"
Jingga menepuk jidatnya. Hampir saja ia terlupa kalau harus menghadiri pesta awal semester bersama kawan-kawan sekelasnya. Untung saja ia tidak langsung pulang. Semoga saja ada Kirana, harapnya.
"Hampir aja gue lupa. Terus di selang waktu dua jam ini kita mau ngapain deh? Mancing gitu?"
"Kalau lo mah mancing perkara."
"Lo juga mancing emosi gue!"
"Kok nyolot?"
"Lo duluan yang ngajak gelud sia."
Jingga memukul punggung Mark. Pemuda itu pun merintih kesakitan.
"Sakit, Jing!"
"Oh sekarang lo berani ngatain gue?"
"Cukup! Capek berantem sama lo."
"Makanya jangan ngajak baku hantam."
Mark hening untuk sesaat. Tak lagi menanggapi omelan Jingga yang cukup membuatnya tertekan.
"Mampir yuk!"
Mark hanya mengeluarkan dua patah kata pada Jingga. Tapi Jingga langsung melotot mendengar ajakan Mark.
"Bukan, Jing! Kita mampir makan ke mana kek. Lo gak laper apa?" Mark memberi sedikit penekanan di bagian nama panggilan Jingga karena kesal.
"Oalah. Mau dong pastinya. Emangnya mau makan apa?"
"Lo kan suka yang pedes-pedes. Gimana kalau ke tempat mi pedes aja? Gue liburan kemarin sama anak-anak cowok coba makan di situ, gila pedesnya bukan main. Sampai si Yudha perutnya mules bolak-balik kamar mandi dua hari, parah dah!"
Mark menyelipkan cerita konyol dalam rekomendasi tempat makannya. Mengundang tawa Jingga.
"Kasian amat si Yudha. Dia kan gak cukup kuat buat makan yang namanya cabe dan kawan-kawannya itu. Boleh deh ke sana. Lidah gue lagi pengen yang pedes-pedes."
"Kalau mau yang pedes-pedes kan cukup dengerin omongan lo."
Wah wah, sepertinya Mark ingin kembali mengajak Jingga berperang. Tak disangka Jingga malah mencubit pipi Mark. Bukan dalam kesan gemas atau suasana romantis, tapi karena marah di ujung batas. Tentu saja cubitannya lebih mematikan dari jepitan penjepit jemuran ibu-ibu.
"Gue gak mau ribut, gue mau makan, Mark."
"Nih udah sampai."
"Lah, ini kan deket sekolah adek gue. Baru dibangun ya? Dulu waktu gue masih sekolah di situ rasa-rasanya gak pernah lihat." Jingga meneliti tampilan luar kedai makan itu.
"Yok dah, katanya mau makan."
"Tungguin, woi!" Jingga berlari mengejar Mark yang sudah lebih dulu berjalan ke dalam.
Baik Mark maupun Jingga menunggu pesanan mereka datang. Mereka asik berbicara sampai makanan yang mereka order sampai ke dalam perut mereka.
"Gila, lo bisa makan yang level 12 tanpa acara nangis-nangisan atau minum!" Mark bertepuk tangan mengapresiasi kehebatan Jingga.
"Ini gue sebenernya kepedesan tahu! Tapi kudu diem dulu baru minum, kalau gak nanti malah kebakaran mulut gue."
"Tapi lo hebat banget! Besok-besok kita dateng ke sini lagi deh sama anak sekelas." Mark mencetuskan idenya.
"Sounds good. Gue suka bumbu yang dipakai sama ulekan sambelnya sih, ini enak parah!" Jingga kemudian menegak milkshake oreo yang tadi ia pesan.
"Seneng deh kalau lo cocok. Anyway, sekarang jam berapa?"
Jingga melihat ke arah handphonenya.
"Jam dua! Langsung ke rumahnya Cece aja yuk. Masa tuan rumah siapin semuanya sendirian?"
"Hah ngapain deh? Kayaknya Kalau mau bantu mending kita beli makanan atau camilan biar nanti bisa dimakan bareng-bareng."
"Hm, boleh juga. Gue setuju deh. Tapi duit gue udah menipis, Bro." Jingga mengingat nasib naas isi dompetnya.
"Gampang, duit gue masih ada kok. Mau ke mana nih Tuan Putri?"
__ADS_1
"Supermarket! Di daerah rumah Cece kan ada. Beli di situ aja skuy!" Jingga berlari meninggalkan Mark.
"Jing!"
"What?"
Mark melemparkan kontak motornya pada Jingga.
"Gantian lo yang nyetir."
"Tapi gue jarang naik motor di jalan raya."
"Tapi tetep aja lo bisa nyetir. Tangan gue capek nih." Mark memasang ekspresi memelas.
"Ya udah. Buruan naik!"
Jingga sudah siap di atas motor Mark. Pun Mark menaiki jok belakang sudah lengkap dengan helm di kepalanya.
"Pegangan."
"Ha? Pegangan ke pundak lo?"
"Terserah."
"Oh, lo maunya gue peluk pinggang lo? Gue sabukin ala-ala orang pacaran yang lagi bucin-bucinnya gitu?
Belum sempat Mark berpegangan pada sesuatu, Jingga sudah melajukan motornya. Tangan Mark refleks melingkari pinggang Jingga karena kaget.
"Heh tangan lo!"
"Refleks, sumpah!"
"Gak usah pegangan deh, bukan muhrim."
"Kok lo rempong banget sih? Katanya suruh pegangan."
"Lo ngomong sekali lagi gue gas lagi motornya, mau?"
Mark akhirnya tunduk dan patuh. Ia tak berpegangan pada apapun, toh tadi Jingga saat dibonceng juga tidak berpegangan pada Mark. Di sepanjang jalan mereka berbicara namun didominasi boleh Mark yang merespon 'hah?' 'apa?' 'lo ngomong apa sih?' atau jawaban-jawaban yang menyimpang dari topik yang Jingga bicarakan sampai Jingga geram dan berhenti mengajak bercakap.
"Nyoh, wis sampe iki." (Noh, udah sampai ini)
Jingga tak menunggu Mark turun dari motor, segera berjalan masuk menuju supermarket.
"Oalah balas dendam toh ceritanya?" Mark melepas helmnya dan segera turun menyusul Jingga.
Sampai di dalam Mark tidak melihat Jingga. Sudah lebih dulu bekelana di area belanja, entah ke mana.
"Kok gue ditinggal beneran sih? Kayaknya ke tempat snack deh."
Yang benar saja saat Mark menengok, Jingga tak ada di lorong-lorong yang menjajakan aneka makanan ringan itu.
"Tuh cewek ke mana coba? Ya kali ke tempat—"
"Mark!" seseorang menepuk bahu Mark dengan keras.
"Jing—" saat Mark menoleh ia mendapati keranjang Jingga sudah penuh, wajahnya tampak malas menatap Mark,"—ga."
"Nih, bayar." Jingga memberikan keranjangnya pada Mark.
"Galak amat, lo marah sama gue?"
"Nggak, males aja."
Memang suasana dan kata hati wanita tak bisa dimengerti. Sebuah bohlam ide seketika menyala di kepala Mark.
"Mau beli es krim?"
"Mau!" ekspresi Jingga berubah seketika.
"Kudu disogok dulu ternyata."
Mark membatin, sedikit senang melihat Jingga kini sudah berlarian menuju sliding curve glass freezer yang berisikan banyak es krim itu.
"Mark, lo mau es krim apa?" Jingga berniat untuk mengambil pesanan Mark.
"Lo lagi mood makan apa kalap sih?"
Di tangannya, Jingga sudah memboyong setidaknya tiga es krim. Membuat Mark geleng-geleng kepala.
"Just choose what you want, it's my treat. Eh es krimnya doang tapi!"
"Nah kalau gini kan enak. Gue borong tiga juga ye, thanks." Mark melengos dengan tangan yang penuh dengan keranjang bawaan dan tiga bungkus es krim.
"Dasar kau, Paimin! Gue kira tadi bakalan basa-basi biar dia aja yang bayar kayal gentleman, padahal—asli nyebelin!" Jingga berjalan menyusul Mark yang lebih dulu ke kasir.
"Jingga."
Seseorang menyebut namanya, ia segera menoleh. Mendapati seorang gadis dengan hoodie berwarna lavender berdiri dua meter di belakangnya. Aroma vanilinya yang khas sudah dirindukan Jingga beberapa hari ini.
"Ra? Kamu beneran Kirana, kan?"
—to be continued
__ADS_1