
"Tumben gak cari makan ke kantin?" Mark menatap Jingga sembari tangan kanannya menyuapkan puding coklat bersaus karamel ke dalam mulutnya.
Jingga menggeleng, "Tadi di UKS udah makan."
Waktu istirahat tengah berlangsung. Tiap-tiap ruangan kelas sudah diwarnai kericuhan penghuninya. Jajaran kios kantin menjadi incaran mata para siswa yang kelaparan.
Berbeda dengan siswa-siswi lain, Jingga dan mayoritas teman sekelasnya tak beranjak dari kelas. Mereka lebih memilih memakan bekal atau mempelajari materi baru yang akan dipelajari. Jingga sendiri sudah berkutat pada buku biologi usai bertempur dengan Pak Dulana di sesi tanya jawab fisika tadi.
"Em-mau nyobain puding gue?" Mark sedikit ragu menawarkan bekalnya usai insiden tadi pagi.
"Gak papa nih?" Jingga menutup buku tebalnya, beralih melihat puding Mark dengan suka cita.
"Halah, giliran dikasih gratisan aja mau! Nih ambil wadahnya. Masih ada satu cup buat lo," Mark menyodorkan wadah bekalnya pada Jingga.
"Dengan senang hati gue terima. Matur thank you!" sepersekian detik kemudian, wadah bekal Mark menjadi hak milik Jingga.
Mark tertawa gemas. Jingga mengerutkan keningnya.
"Kenwa-fah?" (kenapa?) Jingga berbicara dengan mulut yang masih mengunyah puding coklat yang menurutnya nikmat sedunia untuk saat ini—karena gratis.
"Gue kira lo bakalan cemberut terus dari pagi sampai sore gara-gara salad gue," Mark menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
"Hah? Kenapa juga gue begitu? Kan tadi gue bilang kalau tiba-tiba mual soalnya belum sarapan. Bukan gara-gara salad lo," Jingga memulai seni siasatnya untuk menutupi kebenaran tentang phobianya.
"Really? Kalau sekarang mau nyobain salad gue gak?" Mark menopang dagunya.
"Mampus lo, Jing!" Jingga menyumpahi dirinya sendiri. Ia berpikir mengambil salah satu langkah dalam seni siasatnya.
"Sekalian aja besok, semua makanan di rumah lo dibawa terus dikasih ke gue," Jingga masih-terus-menikmati puding coklat di hadapannya.
"No problem," Mark mengangkat kedua tangannya menantang. Bola mata Jingga hampir saja copot dari tempatnya.
"Nggak, Jingga. Bercanda," Mark tertawa sekali lagi melihat ekspresi Jingga.
Jingga memutar bola matanya malas. Tapi tak lama, ia kembali ceria setelah sesendok puding jatuh ke lidahnya.
"Hari pertama sekolah udah kangen aja guru-guru sama kita. Apalagi sama Jaka, dari pagi udah mondar-mandir ke ruang guru mulu," Jingga kembali membuka percakapan secara spontan karena hobi omongnya.
"Selain guru, juga ada yang kangen loh, Jing," tidak ada angin, tidak ada hujan, Haris sudah berada di dekat mereka berdua.
"Manggil yang bener, jangan ngumpat!" Jingga menajamkan pandangannya pada Haris.
"Lo kalau mau meracau pergi jauh-jauh sono!" Mark sudah malas dengan tabiat Haris.
"Buset dah, kompak bener kalian kalau masalah judesin gue," Haris menggerutu.
Jingga tertawa, "Emang siapa yang kangen?"
"Tuh yang duduk di sebelah lo," Haris menunjuk Mark yang—entah kapan memakainya—sudah menyumpal telinganya dengan airpods.
"Oh, emang dia kangen siapa?" Jingga membereskan wadah bekal Mark.
"Tebak dulu dong," Haris membuat Jingga sedikit emosi tapi juga penasaran.
"Pak Dul?"
"Net not!" Haris menyilangkan kedua tangannya.
"Lo?"
"BIG NO! NAJIS GUE NGANENIN HARIS!" Mark menyela.
"Terus siapa dong?" Jingga menghentakkan kedua telapak tangannya ke atas meja.
"Lo," Mark secara spontan menjawab. Sadar dengan ucapannya, ia terdiam. Menunduk panik.
"Eh bukan gue yang bilang ya," Haris mengangkat kedua tangannya.
"Emang kenapa? Gue juga kangen," Jingga berucap santai, tak tahu kalau ada hati yang mulai disesaki bunga-bunga bermekaran.
"Gue waktu liburan semester kangen tingkah konyol anak sekelas, kangen belajar biologi, kangen debat sama Pak Dul, kangen Bahasa Prancis, kangen jajanan kantin, semua tentang sekolah gue kangenin bahkan para penunggu yang—masih setia ngawasin kita semua," Jingga melirik ke pojok kelas, "termasuk lo berdua."
"Jadi gue sama Mark itu penunggu sekolah yang lo kangenin gitu?" Haris mengangkat sebelah alisnya.
Mark menggeleng, memijat batang hidungnya. Ingin rasanya ia menendang Haris jauh-jauh dari tempatnya. Bahkan kalau bisa sampai ke neraka. Jangan ditiru ya, pembaca budiman.
"Lo berdua kan kerjaannya main-main di sekolah sampai maghrib. Siang-malam di sekolah terus, itu namanya penunggu kan?" satu lagi tamu yang tak diundang muncul ke dalam circle perbincangan random mereka, Adira. Penghuni bangku sebelah Mark-Jingga.
"Kalau jadi penunggu hati lo aja gimana, Dir?" kumat lagi kelakuan tengil Haris. Sontak Adira menjitak kepala Haris kemudian beralih pada Jingga. Haris merintih kesakitan.
__ADS_1
"Lo tadi kenapa kok gak ikut upacara? Sayang banget, padahal tadi Kak Juno jadi pemimpin upacara lho. Ganteng puolll pakai setelan putih, suaranya tegas tapi adem banget kayak ubin masjid," Adira sedikit histeris, mulai fangirling kakak kelas ganteng dari ekskul paskibra, Juno Abiyaksa.
"Mas-mas manis yang kita lihat ngasih makan kucing kantin sore-sore itu?" mata Jingga berbinar-binar. Adira mengangguk girang.
"Saingan lo kakel paskibra, Bre. Sekali dibimen jadi piyik lo," Haris berbisik pada Mark. Ia menghela napas dengan kasar mendengar bisikan Haris.
Adira dan Jingga semakin larut dalam perbincangan tentang kakak kelas idola mereka. Sementara Haris pamit undur diri dan Mark sibuk dengan lagu-lagu yang berputar melalui airpodsnya.
"Oh My Gusti. Lebih baik celupkan saja telinga saya ke neraka daripada mendengar Jingga mengagumi orang lain," Mark memukul kepalanya pelan, merasa bodoh.
"Gimana caranya menang taruhan kalau gini terus," Mark bersungut-sungut.
Setelah sembilan jam waktu pembelajaran berlangsung. Bel tanda waktu sekolah berakhir mulai berdenting keras. Para murid bersuka cita menyambutnya, mereka mulai mengemasi barang-barang mereka. Tak terkecuali siswa-siswi X MIPA 8.
"Besok jadwalnya olahraga kan?" Jingga bertanya pada Mark setelah selesai mengemasi tasnya
"Iy—Oh My Gusti! Gue belum nyuci seragam olahraga gue! Duh padahal niatnya nanti mau ke ruang musik sama anak-anak," Mark panik sembari mempercepat gerakan tangannya untuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
Jingga mengernyit, "Lo liburan ngapain aja sampai belum sempat nyuci seragam?"
"Mau nangis gue. Seragamnya dijadiin keset sama bunda gue. Dikira baju yang udah gak gue pakai," Mark seakan ingin menitihkan air mata saat mengingat kejadian dua hari yang lalu di rumahnya.
Jingga tertawa terbahak-bahak di atas penderitaan Mark. Anak sekelas yang penasaran datang mendekat. Dasar anak zaman sekarang suka kepo**.
"Eh ada apaan nih sampai Jingga ketawa kenceng kayak gini?" Gea yang duduk di bangku paling pojok kelas saja datang untuk bertanya.
Jingga masih terkikik sambil memukul-mukul meja karena tak sanggup menjelaskan.
"Seragam gue dijadiin keset sama bunda gue. Woi, minggir gue mau lewat!" Mark menenteng tasnya untuk segera keluar kelas dengan perasaan malu yang ia tutupi. Teman sekelas? Tentu saja turut tertawa bersama Jingga.
"Oalah, Jingga. Gue gak masalah diketawain sampai malu kalau lo juga ikut ketawa karena gue," Mark membatin bangga. Rasanya ia sudah seperti sobat ambyar twitter yang memperjuangkan kisah cintanya.
"Hati-hati, Mark! Cepetan cuci seragamnya keburu hujan!" Jingga mengingatkan Mark yang kini berdiri di pintu kelas.
Mark hanya mengacungkan jempol, namun hatinya sudah terombang-ambing mendapat nasihat dari Sang Pujaan Hati.
Seperginya Mark dari ruang kelas, suasana kelas kembali tenang. Satu persatu dari belasan siswa mulai pulang menuju rumah orang tua mereka. Tak segera beranjak pulang, Jingga justru membuka ponselnya. Melihat aplikasi chatting online yang ada di benda gepeng miliknya.
"Kok lo belum pulang? Biasanya udah ngacir duluan," Jaka mendekati Jingga yang masih duduk di bangkunya.
Jingga refleks menoleh dan mendapati Jaka sudah menggendong ranselnya yang berat berdiri di sampingnya.
"Siapa?" Jaka penasaran dengan orang yang ditunggu Jingga selama hampir setengah jam setelah bel pulang berbunyi.
"Adik cowok gue," Jingga menjawab.
"Terus ... dia mau jemput lo pakai motor gitu? Kelas berapa?" Jaka sedikit kaget.
"Kagak lah," Jingga tertawa kecil, "dia masih kelas 9 SMP, Jak. Mana boleh bawa motor, orang gue yang lebih tua aja gak boleh."
"Terus?" Jaka melipat kedua lengannya di dada.
"Dia mau nyamperin gue ke sini terus naik angkutan umum bareng. Biasanya gue yang nyamperin dia, tapi kali ini dia maksa gue buat gantian," senyum Jingga mengembang saat menceritakan adiknya.
Jaka merasa sedikit tertampar. Melihat gadis di hadapannya dan adiknya tumbuh menjadi anak mandiri yang berprestasi, plus rukun. Berkebalikan dengan Jaka dan kakaknya yang sudah perang dingin sejak kecil, sama-sama kompetitif untuk mendapat sanjungan dari kedua orang tua mereka.
"Gue duluan ya, adik gue udah di gerbang sekolah," Jingga mengepalkan tangan, mengajak Jaka untuk tos—karena jarak Jaka yang paling dekat dengannya saat ini dibandingkan temannya yang lain. Jaka menyambut kepalan tangan Jingga.
"Kayaknya gue udah unggul satu poin dari Mark. Mana ada tadi dia dipamitin sama Jingga," Jaka berbicara dalam hati dengan gedhe rasa.
"Guys, gue duluan ya!" Jingga pamit pada teman-temannya yang lain. Ternyata Jaka bukan yang satu-satunya. Ada yang retak, tapi bukan kaca.
Teman sekelas Jingga yang masih ada di kelas meresponnya dengan ucapan positif. Seperti 'hati-hati' atau sekadar ucapan selamat tinggal dalam berbagai bahasa.
"Hati-hati!" Jaka ikut-ikutan yang lain. Kemudian melambaikan tangannya pada Jingga. Pun gadis itu membalas lambaian tangannya, sayang yang dibalas bukan perasaannya.
"Cie, Pak Ketua lagi pendekatan nich," tiba-tiba Haris sudah datang meracau. The real definition of 'Datang tak diundang, pulang tak diantar.'
"Jan uasem kowe, Ris!" (Asem lo, Ris!) Jaka mulai melontarkan emosi dengan medhok Jawanya.
"Gue gak asem asal lo tau ya! Gue manis kayak gula Jawa!" Haris memperingati Jaka.
"Sakarepmu!" (Terserah lo!) Jaka sudah berusaha meminimalisasi kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya. Kalau tidak, semua isi dari kebun binatang sudah ia sebutkan.
"Eh, Jak," Haris memanggil Jaka yang sudah berjalan satu langkah menghindarinya.
"Opo maneh?" (Apa lagi?) Jaka mendengus sebal.
__ADS_1
"Lo mau denger hasil kerja gue di bidang perkupingan hari ini gak?" nampaknya Haris sudah menyiapkan kiat-kiat untuk bergosip.
Jaka menghembuskan napas dengan kasar, "kalau gosip cinlok Bu Zaenal sama satpam sekolah lagi gue gak mau denger."
"Bukan. Kali ini tentang cemewew lo sama Mark," Haris mendekatkan mulutnya pada telinga Jaka, berbisik. Dengan cepat, Jaka mendorong tubuh Haris menjauh karena geli.
"Heh, gue kagak mau ada gosip dari mulut anak-anak. Ntar dikira lo sama gue ada apa-apa," Jaka bergidik ngeri.
"Heh! Siapa juga yang demen sama lo! Gue masih lurus!" Haris menggelengkan kepalanya.
"Jadi kagak? Kalau gak gue mau cabut," Jaka sudah mengambil ancang-ancang.
"Semoga Jingga jadian sama Mark, amin," Haris menengadahkan tangannya seperti posisi berdoa.
"Iye, iye, gue mau," Jaka berbalik, mengurungkan niatnya.
"Welcome back, Bro!" ucap Haris seraya merangkul Jaka bersahabat.
"Jadi gini—" Haris sengaja menggantungkan ucapannya untuk melihat reaksi Jaka.
Jaka hapal betul dengan tabiat Haris. Ia langsung menatap Haris dengan tatapan yang mengintimidasi.
Haris tertawa usil, "Iye, gue lanjutin. Waktu istirahat kedua tadi lo lihat Jingga sama Rara, eh maksud gue Kirana, duduk di kursi taman depan kelas?"
"Kursi taman? Oh iya gue inget, tadi habis dipanggil Bu Heni ke perpustakaan gue lewat depan mereka berdua," Jaka seakan memutar kembali rekaman otaknya.
"Cie," celetuk Haris. Jaka mempelototinya, Haris yang merasa dihakimi memilih melanjutkan ceritanya.
"Terus gue denger mereka ngomongin phobia, kalau gak salah," Haris menjelaskan.
"Lo ngambil kesimpulan kalau Jingga punya phobia?" Jaka menaikkan sebelah alisnya.
"Gak tahu, masih asumsi. Selain itu Kirana juga cerita tentang abangnya yang dulu kecil punya phobia sambil nyemangatin Jingga gitu lah," Haris meneruskan.
"Lo bisa denger mereka cerita, itu posisi nguping lo di mana? Perasaan gak ada tempat enak buat nguping deket situ," Jaka sedikit curiga.
"Ada aja lah," Haris membuat Jaka penasaran.
"Udah? Gitu doang? Gak ada lanjutannya?" Jaka masih berusaha menemukan kolerasi dari potongan-potongan cerita Haris.
"Oh, bentar! Tadi Jingga—" terdengar deringan ponsel dari saku Haris. Jaka menghela napas.
"Mama gue telepon, kayaknya urgent," Haris meringis sambil menunjuk ke arah ponselnya. Kemudian mengambil jarak yang cukup jauh dari Jaka.
"Jan asem tenan, arek iki! Malah digantung. Sesok esuk kowe bakalan dadi begedel!" (Asem banget, nih anak! Malah digantung. Besok pagi lo bakalan jadi perkedel!) Jaka berdecak sebal. Seusai ia dikerjai Haris, sekarang malah digantung.
Sambil menunggu Haris menelepon mamanya yang ada di seberang. Jaka duduk di salah satu kursi kosong. Teman sekelasnya sudah kembali ke rumah, hanya menyisakan ia dan Haris di sini. Keadaan kian sunyi, Jaka mulai mengingat cerita legendaris tentang para penunggu sekolah tuanya. Cepat-cepat ia membuang pikiran itu.
Dentingan jarum jam dinding yang berputar menggema di penjuru ruangan. Menarik perhatian Jaka, dilihatnya jam itu. Menunjukkan pukul lima sore.
"Ya Gusti, nggosip ae sakjam," (Ya Gusti, nggosip aja satu jam) Jaka memijat batang hidungnya.
Ia merasa dikejar waktu. Merasa gelisah, ia mengetuk-ngetuk meja dengan cepat. Jika dia dia pulang menjelang gelap, orang tuanya pasti tak akan senang. Tapi ia masih harus menunggu Haris. Jaka memejamkan matanya, "Tunggu Jaka di rumah, mam. Ini demi calon menantu mama," ucap Jaka dalam hati.
Sadar tak terdengar lagi celotehan Haris dan mamanya, Jaka membuka mata. Tak ada hal yang menunjukkan eksistensi Haris mau pun tasnya. Napas Jaka kian memburu, jantungnya berdetak dengan kencang. Bau melati mulai menyeruak dari pojok ruangan. Ia hanya punya satu pilihan, lari sekencang-kencangnya.
Sambil berlari melewati lorong kelas yang sepi—tak ada kegiatan apa pun sesore ini karena hari pertama sekolah—Jaka mengotak-atik ponselnya, mencari nomor Haris. Panggilan tersambung pada Haris.
"Sesok kowe temenan tak dadikno begedel, Ris!" (Besok lo beneran gue jadiin perkedel, Ris!) Jaka meneriaki Haris melalui telepon.
"Hah? Salah gue apaan?" Haris berbicara dari seberang.
"Lo di mana?" Jaka sudah berada di parking area. Ia mulai mengenakan helmnya, safety first walau keadaan genting.
"Gue di rumah dari tadi. Gue baru kelar mandi waktu lo telepon," Haris berkata santai, berkebalikan dengan Jaka yang rasanya sudah diburu maut.
Jaka terlonjak kaget, "YANG BENER LO!"
Sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Haris.
"Asem!"
Langit senja mulai tergantikan sang cakrawala legam dengan bintang gemerlap. Jaka menancapkan gas motor maticnya menuju gerbang sekolah. Ternyata masih ada satpam yang berjaga, Jaka merasa sedikit lega.
"Jangan pulang sore-sore lagi ya, Dik. Nanti diganggu lagi," satpam itu tersenyum pada Jaka.
"I-iya, Pak," Jaka semakin mempercepat laju motornya.
"Demit ae ngerti lek aku kesengsem karo Jingga. Asem," (Setan aja tahu kalau gue seneng sama Jingga. Asem) bulu kuduk Jaka berdiri mengingat insiden tadi.
__ADS_1
"Tapi gue juga harus berterima kasih sama 'mereka' yang jadi mak comblang gue. Bahkan dedemit merestui gue biar merasakan kisah uwu di SMA. Kayaknya gue unggul satu poin lagi dari Mark. But, Jingga sebenernya phobia apaan?" Jaka menggeleng, ia segera melajukan motornya menuju rumahnya sambil merenungi ucapan 'kembaran' Haris tadi.
—to be continued