
Sang Bagaskara terselimuti awan-awan putih kapuk yang bergerombol. Meski begitu bumantara masih menyuguhkan hamparan biru terangnya tanpa diselingi kelabu. Atmosfer kali ini pun terasa cerah nan damai. Angin sapu-sapu mengembuskan anak rambut Jaka yang tengah berdiri di lapangan, mulai menginterogasi Haris.
"Jawab! Kenapa kemarin lo matiin telepon gue?" tatapan Jaka membuat Haris ketar-ketir.
"Kemarin mama manggil gue sambil marah-marah akhirnya gue matiin. Sorry kalau sampai bikin lo marah juga. Lo kemarin kenapa dah telepon gue sambil ngos-ngosan?" Haris menelan salivanya karena tatapan Jaka kelewat tajam seperti pisau.
"Kemarin ada kejadian yang buat gue demam kayak gini," Jaka menyentuhkan punggung tangannya pada kening, "jujur kemarin gue shock, takut, makanya gue telepon lo."
"Jangan bilang—lo habis ketemu setan?" Haris menerka.
Jaka menghembuskan napas dengan kasar kemudian menceritakan kisahnya kemarin di waktu menjelang petang. Mulai dari kesunyian kelas, bau melati, menghilangnya 'kembaran' Haris secara tiba-tiba, hingga kengerian yang diciptakan oleh senyuman Pak Satpam.
"Ngeri, euy. Apalagi setannya mirip gue, jadi pengen lihat dia secakep gue apa ya?" Haris ngeri tapi juga penasaran.
"Hadeh lo ini—oh iya, yang terpenting 'kembaran' lo bicarain satu hal tentang Jingga," Jaka melanjutkan.
"Apaan?" Haris semakin larut dalam cerita Jaka.
"Woi ada apaan nih?" Cakra—teman sebangku Haris—menginterupsi pembicaraan empat mata antara Haris dan Jaka.
"Jak, lo sakit kan? Lo mau tetep ngawasin dari gazebo atau gue anter ke UKS?" Jef—wakil ketua kelas—mendekati Jaka.
"Gue di gazebo aja, Jef. Kalau di UKS bosen, cuma bisa goleran kayak orang gak berguna sedunia," Jaka kemudian berjalan ke gazebo di pinggir lapangan.
"Jak, lanjutin dong ceritanya!" Haris merengek karena penasaran. Jaka menggeleng tak peduli, ia tetap berjalan menuju gazebo.
"Lo berdua cepet baris sana!" Jef memberi arahan pada kedua temannya.
Haris menatap Cakra sinis.
"Gara-gara lo dateng, Jaka gak jadi cerita kan? Manéh mah!" Haris berjalan mendahului Cakra.
"Weh jangan ngambek dong, Ris! Cerita apaan emang? Woi, Ris! Tungguin atuh!" Cakra mengejar Haris yang berjalan menuju kerumunan teman sekelas mereka yang tengah bersiap memulai kelas olahraga.
Sementara Jef pergi ke arah berlawanan usai diteriaki Jaka dari pinggir lapangan.
"Widih! Gak jadi dijadiin keset?" Haris menatap Mark yang sudah mengenakan seragam olahraganya.
"Enak aja! Untungnya kemarin waktu gue nyampai rumah udah dicuciin bunda. Auto sujud syukur gue," Mark sekilas menarik kain bajunya.
"Emang kemarin kagak hujan? Di rumah gue deres banget padahal lagi ada lomba layang-layang," Cakra turut menimbrung dalam pembicaraan mereka.
"Hah? Hujan dari Hongkong? Orang kemarin di rumah gue terang benderang kayak masa depan gue," Mark melirik Jingga yang sudah berbaris di deretan murid perempuan.
"Cerah mah cerah, tapi matanya gak usah ke mana-mana kali!" Cakra menjitak kepala Mark.
Haris terkikik melihat Mark merintih kesakitan pun Cakra yang menjadi pelaku utama penyerangan ikut larut dalam tawa.
"Tega ya lo berdua!" Mark mengelus kepalanya sambil menunjuk kedua kawannya yang masih menertawakannya.
"Ini anak cowok kok pada belum buat barisan?" Jef berteriak menuju kerumunan teman lelakinya.
"Hitungan kelima, udah buat barisan. Kalau nggak ... siap-siap push up sepuluh kali, cepat!" kalau sudah begini aura tegas Jef terpancar.
Sontak Mark dan kawan-kawannya membuat barisan di sebelah kanan deretan murid perempuan yang sudah berbaris rapi.
"Ampun deh, anak cowok masalah bikin barisan aja kayak anak TK. Kudu diatur dulu," Helen yang berdiri di sebelah Jingga berkacak pinggang melihat ke arah gerombolan teman laki-lakinya.
Jingga menggeleng sambil tertawa kecil, "Apalagi itu Haris sama Cakra rebutan biar baris di belakangnya Mark."
"Empat!" Jef menghitung dari belakang barisan.
"Lima! Haris, Cakra! Ambil posisi! Hitung satu sampai sepuluh, jangan lupa suaranya harus kedengeran sampai pinggir lapangan! Jaka, monitor!" titah Jef.
"Allahumma Bariklana, Jef!" Haris bersungut kemudian mulai menjalani konsekuensi perbuatan kekanak-kanakannya bersama Cakra.
"Jef, si Jaka teh kenapa? Kok gak ikut nyiapin? Malah duduk di gazebo pinggir lapangan?" Dewata berinisiatif menanyakan keadaan Jaka pada Jef.
"Sakit, kali ini gue yang mimpin pemanasan, ya. Udah ambil jarak antara barisan kan?" Jef bertanya pada teman sekelasnya.
"Sampun!" (Sudah!) anak sekelas menjawab dengan kompak menggunakan kata-kata andalan Jaka saat ditanyai para guru.
"Oke, mulai dari kepala. Hitung bareng-bareng!" Jef memberi instruksi, kemudian ia melirik ke arah Cakra dan Haris yang sudah masuk ke dalam barisan.
"Heh! Itu Haris sama Cakra ulang lagi push up-nya! Gue gak denger kalian ngitung, ulang lagi sampai dua puluh, gue gak mau tahu!" Jef mempelototi kedua rekan sejawatnya.
"Lo, sih Ris!" Cakra menyalahkan Haris.
__ADS_1
"Hah kok gue?" Haris menudingkan telunjuknya pada mukanya.
"Woi! Duo semprul! Cepet! Harus gue jadiin dendeng dulu baru mau push up?" Jaka memperingati dari gazebo di tepi lapangan. Walau sedikit lemah, suaranya masih mampu menghakimi Haris dan Cakra.
Serangkaian ritual pemanasan usai dilakoni, Haris dan Cakra juga sudah jera mendapat hukuman dari Jef mau pun Jaka. Pak Tedra—guru olahraga muda favorit murid-murid—datang ke tengah lapangan sambil membawa daftar absensi. Leher beliau sudah dikalungi peluit merah khas para guru olahraga.
"Hari ini siapa yang nggak masuk?" tanya Pak Tedra.
"Nihil, Pak! Tapi Jaka sakit, dia duduk di gazebo pinggir lapangan, Pak," Sheila selaku sekretaris kelas memberi informasi pada Pak Tedra .
"Oke, lekas sembuh ya, Jak!" Pak Tedra berteriak ke arah Jaka. Ia mengangguk pada Pak Tedra.
Anak-anak sekelas meniru tindak-tanduk Pak Tedra, mendoakan sang ketua kelas. Dengan malu-malu Jaka berterima kasih pada semua kawannya.
"Materi hari ini apa, Pak? Senam Poco-Poco? Voli sarung? Basket? Atau lari cepat dari kenyataan, Pak?" Haris mengangkat tangannya.
Pak Tedra hanya menggeleng, sudah terbiasa dengan tingkah Haris yang sedikit nyentrik dari teman-temannya.
"Beladiri!" Pak Tedra menjawab racauan Haris.
Bisik-bisik tetangga mulai terdengar, murid X MIPA 8 mulai ricuh. Kebanyakan merasa antusias karena ada segelintir dari mereka yang sudah mengetahui lebih lanjut tentang beberapa cabang seni beladiri. Sebut saja Yudha, Mark, dan Renata.
"Beladiri apa, Pak? Taekwondo? Karate? Pencak silat?" Haris kembali bertanya.
"Semua!" Pak Tedra berucap santai, "jangan ramai dulu! Yang kita pelajari cuma tiga cabang yang disebutkan Haris. Kalian nanti kalian membentuk tiga kelompok, masing-masing kelompok belajar satu cabang beladiri. Satu kelompok enam orang, ya. Silakan buat sendiri kelompoknya asalkan ketuanya Mark, Yudha, dan Renata! Sampai di sini paham?" Pak Tedra menjelaskan.
"Paham, Pak!"
"Oke silakan kalian jalankan, saya masih ada urusan di ruang kesiswaan. Jef saya percayakan ke kamu, ya. Permisi, anak-anak," Pak Tedra beranjak, memberi tanggung jawabnya pada Jef.
"Mark, Yudha, Ren! Maju ke depan, pilih anggota tim kalian," Jef memberi komando.
Mark terlonjak senang. Haris dan Cakra berdecih melihat kelakuan Mark.
"Kalau gini mah, Mark pasti masukin Jingga ke kelompoknya," Cakra berbisik pada Haris.
Haris mengangguk, setuju dengan ujaran Cakra.
"Siapa dulu yang milih Jef?" Mark bersemangat.
"Of course, Renata. Ladies first," Jef menjawab.
"Tapi anggotanya tiga cowok, tiga cewek, termasuk ketua tim," Jef menambahkan.
"Gampang itu mah," Renata berucap, "yang mau masuk tim gue, silakan. Gue bingung milih anggota, semua yang ada di kelas kan temen gue. Oh iya, gue ngajarin taekwondo ya, Jef!"
Lima orang bergabung dalam kelompok Renata, menyisakan delapan anak dalam barisan. Mark dan Yudha sih ikut-ikutan sistemnya Renata, toh di kelas ini tidak ada yang namanya geng atau kelompok-kelompok kecil.
Dewi Fortuna seakan berpihak pada Mark, Jingga memilih untuk berguru padanya. Jaka yang mengawasi dari pinggir lapangan tak hanya diam, ia berjalan ke tengah lapangan.
"Ini yang belum dapet kelompok gue sama Jef doang kan?" Jaka berujar.
Jef mengangguk, "Lo mau ikut siapa?"
"Gue gabung ke timnya Mark. Tenang, biar gue sakit, otak gue masih bisa dibuat hapalin gerakan pencak silat," Jaka menepuk pundak Mark.
Bola mata Mark hampir menggelinding dari tempatnya. Padahal ia berekspetasi dapat mengajari teman-temannya pencak silat dengan damai sebelum negara api menyerang.
"Oke, gue gabung ke grupnya Yudha. Lagian dari dulu gue pengen belajar karate, tapi gak pernah kesampaian," tanpa sengaja Jef memamerkan lesung pipinya yang menjadi favorit para siswi, membuat mereka sedikit melting, termasuk Jingga.
"Lo ngapain gabung di kelompok gue? Kocak!" Mark melayangkan pertanyaan pada Jaka.
"Jadi lo menolak orang yang mau mempelajari ilmu dari lo? Jangan pelit ilmu dong!" Jaka menatap Mark sengit.
"Kayaknya gue salah milih kelompok deh," Dewata menatap Jaka dan Mark prihatin.
"Kita latihan di deket gazebo aja ya biar teduh? Kayaknya Jaka masih lemes, lo sakit apa?" Jingga berjalan mendekati Jaka.
"Demam biasa, besok juga sembuh," Jaka menjawab Jingga.
"Ninuninu! Awas ada yang terbakar api cemburu, pemirsa!" Haris meracau kembali melihat adegan bak sinetron romansa di depannya.
"Ris, siapin kepala!" Mark memperingatkan.
"Ha?"
Haris yang masih celingak-celinguk tak sadar jika Mark sudah melayangkan jitakan super padanya. Rasanya Haris hampir dijadikan ayam geprek. Ia meraung kesakitan, Mark yang merasa bersalah mengelus kepala Haris.
__ADS_1
"Sorry, Ris. Lo sih buat emosi, gak bisa gue kontrol kan jadinya?" Mark menatap Haris iba, namun juga tak kuasa menahan tawa.
"Lo njitak apa mau geprek gue sih? Mentang-mentang jago beladiri, langsung main jitak aja. Kalau otak gue pindah tempat gimana dong?" Haris memegangi rambutnya.
"Kan emang udah pindah dari dulu!" Jaka ikut menambahi.
Kelas X MIPA 8 diselimuti tawa. Yang semulanya masih menaruh rasa kasihan pada Haris pun turut tertawa. Haris meratapi nasib, sudah menjadi kesehariannya menjadi si biang tawa di kelas.
"Udah, udah! Kasian Haris, mending langsung latihan aja," Jaka menggiring kelompoknya menuju tepi lapangan.
"Ini sebenernya ketuanya siapa sih?" Mark menyusul yang lain.
Jaka berhasil mengkoordinir barisan, Mark hanya perlu memberi contoh gerakan untuk dicontoh anggota timnya. Mulai dari pukulan, tangkisan, tendangan, hinga kombinasi dari ketiganya sukses Mark ajarkan pada teman setimnya. Dalam pencak silat perlu sedikit ketelitian dan timing yang tepat dalam memberikan 'hentakan' pada gerakan. Karena memiliki citra yang sedikit luwes dan lebih berseni dari bidang beladiri lainnya.
"Kalau gak kuat gak usah dipaksain, Jak. Kita istirahat dulu deh," Mark duduk di dekat Jaka yang berada di tepian gazebo kayu.
"Lo bisa pencak silat belajar dari siapa? Yang gue tahu lo anak band," Jaka meminum isi botolnya.
"Dari abang gue, dia juara pencak silat nasional. Yah, walau pun gak pernah ikut lomba, gue udah tahu dari abang gue lah," Mark meraih tumbler bening yang ada di pojok gazebo.
"Eh, Mark. Itu infused water kan? Lo bikin sendiri?" Sheila menunjuk tumbler Mark dengan antusias.
"Yes, i made it by myself. Mau coba?" Mark menawarkan pada Sheila.
"Of course! Tolong tuangin di botol gue dong," Sheila menyodorkan botol minumnya yang kosong pada Mark.
"Isinya lemon, stoberi, sama daun mint? Warnanya cantik banget, cara bikinnya gimana?" Hilda tertarik untuk mengagumi infused water Mark yang mampu menyita perhatian matanya. Mark menjawab pertanyaan Hilda dengan senang hati, kalau menyangkut soal buah Mark sangat antusias.
Hanya Jingga yang terlihat tertarik, mendekati Mark saja tidak. Jaka merasa ada sesuatu yang aneh dari sorot wajah Jingga, ia tampak was-was dan—ketakutan?
"Jingga, lo kenapa?" Jaka memikirkan perkataan 'kembaran' Haris kemarin sore. Berusaha menghubungkan kata 'phobia' dan Jingga.
"Gue gak papa kok," Jingga berusaha menghindari pertanyaan retoris Jaka.
Jaka kembali mengamati Jingga sembari mengingat kejadian yang gadis itu alami kemarin pagi. Otak cemerlangnya bekerja dengan cepat, kemudian ia menarik sebuah kesimpulan.
"Jingga phobia sama buah?" pikir Jaka. Ia menoleh ke arah Mark yang masih sibuk dengan infused waternya.
"Gak sia-sia gue sampai sakit gara-gara habis ketemu demit buat dapet clue sebesar ini. Gue harus bantu Jingga!" Jaka berpikir cekatan kemudian datang menghampiri Jingga.
"Jingga, lo mau nengok kelompok lain gak? Sekalian belajar beladiri lain," Jaka mengalihkan atensi Jingga, kemudian mengajak gadis yang sudar bercucuran keringat dingin itu pergi menjauhi gazebo.
Jingga yang awalnya masih bingung akhirnya mengikuti langkah Jaka. Daripada ia terus mendekam di sana sampai pingsan dan harus diboyong ke klinik sekolah.
"Walaupun sakit lo hebat juga bisa hapalin jurus yang diajari Mark, keren!" Jingga memuji Jaka, membuat hati pemuda itu sedikit luluh.
"Lo juga, anak satu tim juga. Gue lihat si Dewa jago banget tendangannya, kakinya bisa lurus gitu," Jaka tidak ingin terlihat angkuh sedikit pun.
"Iya, kaki gue nekuk gak bisa selurus itu," Jingga memperagakan tendangannya, namun ia sedikit goyah. Tiga perempat bagian tubuhnya hendak terjungkal ke belakang. Untungnya Jef yang berdiri di dekat Jingga berhasil menahan tubuhnya. Dua pasang manik mereka saling bertemu beberapa saat, sebelum Jingga kembali berdiri.
"Kalah cepet gue," Jaka menelan salivanya setelah melihat kilas kejadian di depan matanya.
"Makasih, Jef!" Jingga mengepalkan tangannya pada Jef, bermaksud mengajak tos. Lelaki berdekik yang dicap manis oleh para gadis itu membalas kepalan tangan Jingga. Tak tahu saja kalau sudah ada dua anjing penjaga Jingga yang siap menyalak dan menerkam ia kapan saja.
"Kalian udah selesai hapalan gerakan?" Jef menyapu pandangannya pada Jaka dan Jingga. Jaka mengangguk.
"Hebat juga si Mark bisa koordinir temen-temennya," kini pandangan Jef bertolak pada Mark yang berada di gazebo.
"Itu kenapa Mark ngelihatin kita kayak penuh iri dengki dah?" Jef merasa diawasi penuh tekanan oleh Mark.
"Jak, Tuan Putri mau dibawa ke mana?" Mark berteriak seraya menyongsong langkah untuk mendekati mereka bertiga.
Jingga melihat tangan Mark yang masih memegang tumbler berisi infused waternya, Jaka pun sama. Si ketua kelas itu mengangkat salah satu lengannya ke depan, sejajar dengan dada, mengisyaratkan Mark untuk berhenti.
"Kenapa?" Mark tampak tak suka melihat tindakan Jaka.
"Taruh dulu tumbler lo! Jingga gak suka!" Jaka asal ceplos.
Mulut Jingga menganga sekilas, berganti dengan rasa panik yang ia tutupi dengan wajah datar.
"Jaka udah tahu phobia gue?" Jingga berpikir cemas.
"Beneran, Jingga?" Mark tampak ragu-ragu.
Kirana yang menonton keadaan Jingga dari sisi lapangan yang lain bergegas mendekati Jingga. Takut ia mendapat masalah atau lebih buruknya rahasia Jingga terbongkar.
"Lo gak suka infused water, lo juga gak suka salad gue. Lo—" Mark semakin mendekati Jingga.
__ADS_1
"Gak suka buah?" Mark menebak.
—to be continued