
Sang surya seakan memberi afeksinya pada bumi dengan cahayanya yang kian terang temarang seiring berjalanya waktu. Gumpalan putih yang mulanya meneduhi, bergerak menepi. Lapangan yang tadinya sedikit terik kini menjadi semakin panas, membuat kaki siapa saja yang telanjang berjalan di atasnya akan menari-nari untuk menghindari permukaannya. Untuk saat ini suasana hati para manusia yang menapakkan kaki di atasnya sedang tidak normal, ada beberapa gejolak-gejolak emosi dan rasa, didominasi kebingungan.
"Nggak," Jingga menatap lurus ke arah Mark, "gue nggak suka."
Mark membulatkan matanya, terkejut. Lantas ia bertekuk lutut di hadapan Jingga. Gadis itu terperangah sampai tak tahu harus berbuat apa.
"Jingga, gue minta maaf. Gue bener-bener gak sadar kalau selama ini lo gak suka, bukan, bukan, lo bahkan takut sama buah. Dan gue dengan merasa tidak berdosa nawarin lo buah dari awal masuk kelas dulu, maafin gue," mata Mark menggambarkan rasa bersalah yang begitu dalam.
"Gimana lo bisa tahu?" Jingga kira Mark hanya akan bilang kalau Jingga tak suka, bukan phobia.
"Karena gue udah ngerasa ada sesuatu yang lo sembunyiin. Awalnya gue cuma berasumsi, tapi jadi makin kuat. Kemarin aja lo sampai masuk UKS gara-gara salad gue. Tolong maafin gue," Mark berujar dengan tatapan sendu, membuat Jingga yang justru malah merasa bersalah.
"I-iya, dan gue jadi tahu kalau sesuatu yang sudah gue pendam dari lama nantinya juga bisa terungkap kayak sekarang. Gue kedengeran aneh ya? Takut sama hal favorit lo," Jingga tersenyum kecut.
Mark menggeleng kuat-kuat dan kembali berdiri.
"Gak ada yang perlu dianggap aneh, justru manusia yang gak punya takut lebih aneh dan berbahaya lagi. Maaf kalau gue suka nawarin lo bekal gue yang isinya buah. Makanya lo selalu nolak ya?" Mark menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
Kedua insan itu masih belum sadar saja kalau teman sekelasnya sudah duduk berselonjor di pinggir lapangan layaknya nonton bareng adegan serial drama korea. Ditunjukkan dengan keniatan Haris yang memboyong popcorn caramel dari kantin bersama Cakra. Alih-alih ikut bergabung dengan anggota kelasnya, Jaka diam saja di gazebo. Kepanasan katanya, entah karena takut terbakar sinar matahari atau karena tersulut rasa iri dengki pada Mark.
"Gue gak maksud gitu," Jingga menoleh ke samping, mendapati belasan mata menatapnya dan Mark, menjadikan mereka berdua tontonan. Mark pun segera menyadarinya.
"Lanjutin aja pacarannya. Lumayan dapet tontonan ala drama gratis gak pakai akun premium kayak mau nonton drama korea," ujar Kirana setelah merampas sebagian popcorn karamel hasil patungan Haris dan Cakra.
Tadinya sang empu tak terima, namun akhirnya berusaha melepaskan karena Kirana mengancam kas Haris dan Cakra akan dinaikkan tagihannya. Cakra bersungut, sementara Haris pergi ke kantin untuk membeli berondong jagung lagi.
Jingga dan Mark mendadak kikuk.
"Bubar gak lo semua?" Mark membuyarkan lautan penonton di depannya, membuat Jaka tertawa. Ada rasa penolakan dari pihak yang diusir.
"Eh, eh, kok pada bubar? Lo yang buyarin ya? Gak seru lo Mark! Gue baru aja balik beli popcorn lagi," Haris datang dengan kecewa melihat gerombolan pasukan cupidnya telah dibuyarkan oleh Mark.
"Mending kita kelarin latihan masing-masing kelompok aja daripada ganggu tuh dua sejoli," Jef kembali membuat suasana kondusif usai memalak popcorn Haris.
Namun Mark dan Haris, ditambah Cakra yang tiba-tiba muncul malah saling adu mulut. Jef angkat tangan kalau masalah ini, akhirnya ia mundur.
Jaka menghela napas, untung saja ada Jef. Kalau tidak, sampai kapan ia harus melihat Mark bersama pujaan hatinya. Bisa-bisa muncul asap mengepul pekat dari kepalanya.
Terlihat dari tengah lapangan Jingga berlari dengan muka yang dihiasi semburat merah. Jaka setengah kaget, setengah senang, karena gadis itu mendekati tempatnya berteduh. Kemudian merebahkan tubuhnya di kayu-kayu datar gazebo sambil menutupi wajahnya dengan rambut legamnya yang panjang.
"Jakaaa, gue maluuuu," Jingga berguling-guling di depan Jaka yang tengah duduk bersila. Lelaki itu tak sanggup menahan tawa melihat tingkah Jingga yang lucu seperti anak kecil.
"Kok malah ketawa sih? Gue tambah malu, Jaka!" Jingga memukul paha Jaka, membuat pemuda itu semakin tertawa dengan kencang.
"Habisnya lo lawak banget, Jing," Jaka sampai menitihkan air mata saking kerasnya ia tertawa.
Jingga kembali duduk, mempelototi Jaka, "Nyebut nama itu yang lengkap! Lo pikir gue anjing?"
"Iya, lo mirip pit bull suka marah-marah," Jaka menggoda Jingga. Satu pukulan mendarat lagi di paha Jaka.
"Ampun dah kalau lo udah marah kayak emak gue," Jaka mengelus pahanya yang masih cenat-cenut.
"Ngajak berantem?" Jingga menggulung lengan bajunya.
"Narasi lo kayak bintang iklan es kiko," Jaka berujar.
"Milkita kali! Udah ah capek berantem mulu," Jingga kembali merebahkan tubuhnya si lantai gazebo.
"Jing," Jaka memanggil dengan singkat lagi, membuat Jingga sedikit terpancing kembali untuk emosi. Namun berhasil ia tahan.
"Capek ngomelin lagi. Lo mau bilang apa?" Jingga meletakkan lengannya di matanya.
"Maaf nih bukannya mau buat lo risih atau gak suka, tapi gue mau tanya," Jaka berucap dengan hati-hati.
"Jangan bilang ... yang tadi diomongin sama Mark," Jingga masih cemas, padahal tadi rahasianya sudah terkuak di depan teman sekelasnya.
"Apa?" Jingga masih menempatkan diri di posisi yang sama.
"Lo beneran punya phobia sama buah-buahan?" tanya Jaka to the point.
Jingga menghela napas, "Iya, kenapa? Aneh ya?"
__ADS_1
"Nggak sama sekali," Jaka menggeleng.
"Terus?" jujur saja Jingga masih merasa janggal apa yang sebenarnya ingin Jaka ungkapkan.
"Pasti berat ya nutupin itu semua bertahun-tahun. Padahal efeknya langsung ke mental bahkan fisik lo, sampai jatuh sakit kayak kemarin. Nggak capek?" di luar dugaan Jingga, ia kira Jaka ingin menyudutkannya. Justru kebalikannya.
Gadis itu kembali duduk, rasanya ia dari tadi sudah bolak-balik rebahan-bangun-rebahan seperti melakukan sit-up.
"Ya jujur aja ya rasanya berat, gue pengen juga bisa kayak orang-orang. Makan rujak buah yang katanya enak banget, mangga, salak, rambutan yang paling gue takutin itu. Tapi waktu gue lihat atau ngerasain keberadaannnya aja udah ngeri, apalagi nyentuh atau makan," Jingga mengungkapkan keluh kesahnya.
"Ya gue tahu kalau don't judge a book by it's cover. Tapi gue takut," gadis itu membenamkan kepalanya pada lengan yang sudah memeluk kakinya erat-erat.
"Gak papa, Jingga. Bisa coba pelan-pelan kalau mau sembuh," Mark tiba-tiba sudah berdiri di balik pembatas gazebo.
"Iya, lo mau kan? Gue kan waktu itu udah janji mau bantuin lo," Kirana ikut-ikutan muncul di sebelah Mark, membuat Jingga terkejut dua kali.
"Ayo Jingga, semangat! Kita bantuin kok, gak usah takut," seabrek teman sekelasnya pun turut meramaikan.
Jingga bukan anak yang cukup kuat kalau urusan seperti ini. Ia sedikit sensitif dan suka marah-marah, kalau kata Senja sih baperan.
"Yah, kok nangis sih? Jangan dong!" Kirana merangkul Jingga.
Justru tangisnya malah menjadi-jadi. Jingga membenamkan kepalanya ke bahu Kirana. Sontak anak perempuan sekelas turut menenangkan Jingga sambil menyemangatinya.
"Ya elah, jangan cengeng dong. Ayo, lo pasti bisa! Gue sama anak-anak bakalan bantuin lo kok," walau Jaka sedikit terhimpit teman-teman perempuannya yang tiba-tiba naik ke atas gazebo, sebisa mungkin ia menyemangati Jingga.
"Huhu .... Lo semua jangan baik-baik dong. Gue kan jadi terharu," Jingga masih sesegukan.
Gazebo yang tak memuat cukup ruang itu walau sempit mampu menampung banyak tawa dari para warga SALTY—nama kelas X MIPA 8—yang cukup menggelegar. Pemandangan klasik dari keseharian mereka.
"Gue jadi gak enak sama kalian, makasih ya atas respon positif lo semua. Huhu kalian baik banget dah, heran gueee," Jingga terharu. Ia merasa diterima sekaligus lega, mampu menguak fakta yang selama ini ia tutup rapat-rapat.
Jaka menepuk kepala Jingga, seperti menjinakkan anjing galak.
"Udah, jangan nangis lagi ya, pit bull," entah apa maksud Jaka. Sebenarnya ingin menenangkan Jingga atau menggodanya.
"Sumpah ya, lo ngajak berantem!" Jingga merespon ejekan Jaka. Sepertinya Jaka selalu memiliki cara untuk mengembalikan Jingga ke sifat aslinya.
"Woi, sekarang ganti sorotan woi! Monitor saudara-saudara! Tampaknya Jingga kembali mengganas hari ini," Haris menghebohkan warga SALTY sambil membawa botol tupperwarenya yang ia anggap sebagai microphone.
"Wis, wis, ayo mbalik ngumpul nang kelompok'e dewe-dewe!" (Udah, udah, ayo balik kumpul ke kelompoknya masing-masing!) Jaka turun dari gazebo. Teman sekelas mengerti ucapan Jaka karena terbiasa, walau dulu ada yang menganggap ia berbicara dengan bahasa alien.
Sekembalinya suasana kondusif di atmosfer kelas 'unggulan' itu, Pak Tedra datang kembali. Jaka maupun Jef bersyukur karena Pak Tedra tidak sempat melihat kericuhan di lapangan maupun di gazebo tadi.
"Maaf ya anak-anak hari ini saya agak sibuk. Gimana, Jef, Jak? Teman-temannya sudah bentuk tim semua?" Pak Tedra menyapu pandangannya ke seluruh wajah muridnya.
"Sampun, Pak. Malahan sudah hapalan gerakan," jawab Jaka sedikit bangga pada teman-temannya.
"Oh ya? Kalau kelas kalian sih gak usah saya ragukan lagi. Ketua tim silakan menghadap saya, sebutkan nama anggota dan cabang beladiri yang dipilih," Pak Tedra duduk di salah satu kursi taman dekat gazebo.
Trio ketua tim—Mark, Yudha, dan Renata—itu bergegas melakukan arahan Pak Tedra. Sementara Jingga kembali memasang sepatunya yang tadi ia lepas untuk melempari Haris, tapi gagal.
"Jingga!"
"Eh potong bebek Pak Slamet!" Jingga latah, terkejut dengan kedatangan Kirana yang mendadak.
Kirana menahan tawa. Pipi Jingga kembali merona, rasanya ia seharian menjadi udang rebus.
"Kenapa?" Jingga meletakkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Diduga acak-acakan karena sedari tadi bertingkah seperti anak hiperaktif.
"Nanti pulang sekolah mau ke rumah gue gak?" Kirana mengajak.
Jingga memegangi dagunya, berlagak seperti ada janggut yang tumbuh memanjang di sana, "Hmmm ... tawaran yang cukup menarik."
"Mau kagak? Rempong banget tinggal jawab mau apa nggak," Kirana memutar bola matanya.
"Mau, asal ada camilannya," Jingga mengedipkan sebelah matanya.
"Kecil itu mah," Kirana menjentikkan jarinya.
"Siap 86! Nanti saya akan segera meluncur menuju istana milik Tuan Putri," Jingga memberi hormat pada Kirana.
__ADS_1
"Baiklah, dayangku. Gue ajak anak cewek lain juga kali ya? Sekalian girls time," pikir Kirana.
"Raaaaa, gue mau ikutan!" Hilda mengangkat tangannya tinggi-tinggi—tahu karena nguping—ke arah Kirana agar dinotice.
"Iya, Hil. Kalem, chill, santuy! Sebagai putri yang baik aku akan memboyong kalian semua dayang-dayangku!" Kirana melambaikan tangannya dengan anggun, menirukan gaya ratu Inggris.
"Eh pada mau ngapain? Gue gak diajak nih?" Cakra masih memakan popcorn hasil patungannya dengan Haris.
"Cowok gak boleh ikuuuut! Girls only!" Kirana menyilangkan kedua tangannya.
"Ya elah, gue cuma numpang makan doang di sana mah. Please," Cakra memasang wajah memelas.
"Big no! Sekali tidak tetap tidak!" Kirana masih teguh menolak Cakra sebagai tamu.
Cakra merajuk seperti bocah yang tidak diperbolehkan ibunya membeli mainan. Lantas Sheila mendekatinya.
"Ce, udah gak usah dikasihani itu anak, please. Gue capek," Jingga memohon pada Sheila yang nampaknya ingin menolong Cakra.
"Hadeh, gak gitu Jingga. Gini deh, minggu ini masih belum ada ekskul atau kegiatan sekolah kan? Jumat ke rumah gue aja, party kecil-kecilan. Liburan kemarin kan kita gak hangout bareng sekelas, sekalian aja," tawar Sheila.
Langsung saja binar-binar kebahagiaan muncul kembali di mata Cakra.
"Lo malaikat apa manusia sih, Ce? Kayaknya cuma lo deh yang ngertiin gue," Cakra mengelap matanya yang tak basah.
"Jangan alay deh, Cak. Lagian emang gue sama anak cewek udah ngerencanain dari waktu liburan kemarin, cuma gak sempet. Bukan gara-gara lo. Ya ka" Sheila mengedipkan mata ke arah teman-teman perempuannya, memberi kode kalau ia butuh bantuan.
"Oh iya, gue inget. Kan di grup chat seminggu yang lalu kan lo udah bilang," Hilda membantu siasat Sheila.
"Oalah, ya udah gak papa. Penting makan gratis!" Cakra meloncat-loncat kegirangan kemudian berangsur pergi.
"Ce, lain kali kalau mau tipu-tipu bilang dulu dong. Gue kan bingung harus nanggepin gimana kalau lo cuma ngedip-ngedip doang kayak orang kelilipan," Jingga merutuk.
"Eh sumpah tadi itu refleks! Gue gak tahan kalau dia ngerengek kayak anak kecil gitu," Sheila memegangi telinganya.
"Walah, gue kira lo demen sama si Cakra. Terus mau bantuin dia gitu," Kirana malah menyeleneh.
"Ngarang banget! Mending gue sama Kak Juno aja deh daripada Cakra," Sheila mengelak.
"Eh, Kak Juno punya gue tahu!" Jingga tak terima.
"Sejak kapan? Gak, mana ada! Lo kan udah punya Jaka sama Mark. Jangan rakus, kali!" Adira ikut-ikutan berebut si kakak ganteng dari ekskul paskibra.
"Apaan sih! Nggak! Gue sama Kak Juno," Jingga berisi kukuh.
"Kalian aja gak pernah kenalan sama orangnya, apalagi memiliki," ucapan Kirana menusuk sanubari segelintir umat pecinta Kak Juno.
"Jangan ngomongin kenyataan dong, Ra. Sakit," Jingga menepuk dadanya.
"Ajak kenalan langsung kek. Daripada tiap hari cuma dilihatin mulu, ngaku-ngaku pacarnya," Kirana menambahkan.
Ketiga penggemar itu pun saling bertatapan.
"Oke, gue lakuin. Gue ke kantin duluan ya, mau ngejar jodoh. Bye!" Jingga melengos pergi menuju kantin.
"Emangnya udah istirahat? Main nyelonong pergi aja!" Adira meneriaki Jingga
"Pak Tedra, saya izin ke kantin!" Jingga pamit pada gurunya yang masih duduk-duduk di bangku taman bersama Yudha, Renata, dan Mark.
Pak Tedra segera melihat ke arah arlojinya, kemudian mengacungkan jempolnya pada Jingga.
"Anak-anak boleh istirahat, ya," Pak Tedra mempersilakan muridnya untuk menghabiskan waktu istirahat.
Sontak Adira dan Sheila berlari menyusul Jingga ke kantin tak mau kalah. Kirana menggelengkan kepalanya, seharusnya ia tak mengatakan usulannya yang sedikit nekat itu pada Jingga. Terlebih temannya yang satu itu suka tantangan.
"Ra, si Jingga ke mana?" Jaka tiba-tiba melipir ke dekat Kirana.
"Ke kantin."
"Oh, mau jajan ya?" Jaka meminum air mineral yang ada di botolnya.
"Nggak, mau ngejar jodoh katanya. Sabar ya, Jak," Kirana beranjak pergi.
__ADS_1
Jaka menyemburkan air dari mulutnya.
—to be continued