
Arini masuk ke dalam sebuah restoran yang terkenal di Indonesia, dirinya melakukan perjanjian temu dengan teman-temannya yang lain.
"Selamat malam semua" sapa Arini dengan berdiri seraya tersenyum pada teman-temannya.
"Uhhhh sayang.... kau dari mana saja? aku begitu merindukan mu!" ujar teman Arini bernama Reni. Reni ini adalah teman Arini sekaligus sahabatnya.
"Arini, udah lulus sekolah loh sombong banget sama kita semua!" ucap Serly, ia berdiri dengan memangku tangannya memperlihatkan bahwa dirinya kesal pada temannya.
"Sorry, aku sangat sibuk sehingga tidak ada waktu!"
"Makanya jangan terlalu sibuk, Arini. Lebih baik nikmati hari-hari mu dengan bahagia!" teriak Ben dengan mengangkat gelas ke atas. Semuanya langsung gembira dan mengikuti pergerakan Ben.
"Ini minumlah" Ketut menyodorkan minuman anggur pada Arini, ia menggeleng dengan memundurkan gelas dari tangan Ketut.
"Aku sudah tidak minum lagi" balas Arini tersenyum.
"Wawwww!!!! demi apa kau sudah seperti ini?! kau berubah sayang!" ujar Rama sedikit berteriak.
"Kau benar, Arini telah menjadi kolot! ku harap dia tidak seperti ibu ku yang melarang ku melakukan ini dan itu!" ujar Reni.
"Loh bener Ren! Arini kita udah jadi kolot! hahaha!" ledek Serly dengan tertawa renyah.
"Terserah kalian saja, yang pasti aku bahagia karena telah berhasil menjauhi minuman itu dari kehidupan ku!" balas Arini dengan santai.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah sayang, jangan marah. Kita hanya bercanda!" ujar Rama dengan memeluk Arini, Arini hanya tersenyum sedangkan teman-temannya tertawa bahagia.
"Hei hei! lihat itu!" Reni menyuruh temannya untuk melihat acara tivi.
"Ada apa?"
Sebuah tivi yang ada di sana menyiarkan tentang hutan kematian yang sedang viral saat ini.
"Waww! berita ini lagi, gue sampai bosen banget lihat berita ini terus!" keluh Serly.
"Aku tidak yakin dengan berita ini!" ujar Reni seraya mengetuk jarinya.
"Lalu kami harus apa agar kau percaya?!" tanya Ben menatap Reni.
"Bagaimana jika kita menelusuri pulau itu? ku rasa ini menyenangkan, lagi pula kita sudah lama tidak berlibur bersama!" ide itu keluar dari otak dan mulut Reni, mereka langsung menegang, bukan hanya takut tapi mereka juga sangat tidak mau pergi ke sana karena hutan dan pulau itu benar-benar angker sekali.
Mereka langsung mengelak dengan gugup, "Tentu saja tidak! kami para pria tidak pernah takut apa pun!" ujar Ketut dengan memukul dadanya.
Ketut adalah orang yang jenius, terbukti karena dia memakai kacamata minus, karena keseringan membaca buku dan menghafal, untung saja otaknya tidak ikut minus.
"Lebih baik jangan lakukan itu, Reni. Itu berbahaya, kita tidak tahu apa saja yang ada di dalam hutan itu!" ucap Arini berusaha membujuk temannya untuk tidak melakukan hal di luar batas.
"Jika kau takut, bilang saja pada ku! maka aku akan mengusir ketakutan mu!" ujar Rama
__ADS_1
"Aishhhh... aku cemburu melihat kalian berdua seperti sepasang kekasih!" ujar Reni yang langsung menutup mulutnya.
"Kalau kalian setuju, aku akan menikahi Arini sekarang juga!" ucap Rama menaikkan alisnya menggoda Arini.
"Dalam pikiran mu! aku tidak akan mau menikah dengan dirimu!" Arini menolak dengan sarkas, semua temannya langsung tertawa melihat Arini mengatakan itu pada Rama.
"Es krim saja meleleh jika di hadapkan pada matahari, tenang saja, Rama. Hati seorang wanita akan luluh seiring berjalannya waktu!" ucap Ketut dengan memeluk bahu Reni.
"Sudahlah sayang, jangan meledeknya, aku kasihan sampai ingin menciumnya!"
"Jangan lakukan itu! atau sebelum itu terjadi aku akan menghancurkan bibir Rama!" sergah Ketut.
"Ohhh Ketut yang bau sedang cemburu!" ledek Serly.
"Sudahlah, jadi bagaimana? apa kita akan melakukan perjalanan ini?" tanya Reni memastikan.
"Tentu saja, aku akan ikut kemanapun kau pergi!" jawab Ketut.
"Aku juga ikut" ucap Rama.
"Aku akan ikut!" ucap Serly.
"Aku juga!" ucap Ben.
__ADS_1
"Arini, loh ikut kan?" tanya Serly.
"Terserah kalian saja" jawab Arini, semuanya langsung mengucapkan hore saat teman satunya ini mengiyakan keinginan mereka berlibur.