Hutan Kematian

Hutan Kematian
Sosok Bayangan Masa Lalu


__ADS_3

"Bagaimana girls? apa kita langsung masuk ke hutannya saja?" tanya Ben dengan girang. Semua orang bersorak dengan gembira. Di belakang Arini, sesosok hitam berada di belakangnya, membuat Arini begitu merinding, ia melihat ke belakang namun tidak ada siapapun di sana.


Rama menepuk pundak kekasihnya dan bertanya, "Ada apa? Apa kau takut sayang?" Arini hanya diam dan menggeleng sebagai jawaban.


"Ayok semuanya, kita bangun tenda terlebih dahulu." ajak Jen pada semua orang.


"Kami para wanita tidak akan membantu kalian, lebih baik kalian saja yang melakukannya!" ujar Reni dengan santai, ia duduk di bebatuan.


Reni melihat ke sekeliling, saat melihat ke atas pohon dirinya begitu terkejut saat melihat sekelebat bayangan hitam muncul, "Hahh!" Reni seakan nafasnya tercekat, lalu ia melihat kembali ke atas pohon, namun sesosok itu tidak ada lagi.


"Loh kenapa sih? kek orang linglung!" seru Serly dengan duduk di dekat Reni. Reni hanya menggeleng, ia tidak mau menceritakan apapun hal yang tadi karena takut jika itu membuat teman-temannya malah ingin pulang sebelum menelusuri pulau.


Saatnya malam hari tiba, mereka semuanya langsung beristirahat karena hari yang cukup melelahkan.


"Arini, nanti bagaimana kita akan pulang? apalagi ini nggak ada sama sekali perahu atau para nelayan!" ujar Serly dengan takut.


"Aku juga tidak tahu, Serly. Besok tanyakan saja pada mereka, aku merasakan ada hal yang aneh di sini!" balas Arini dengan menatap tenda.


Di tenda lain, Jen dan Ben sedang bermain gitar, mereka berdua sama sekali tidak bisa tidur karena kebiasaan bergadang.


Suara aneh membuat Jen dan Ben terkejut, mereka langsung saling menatap karena sama-sama mendengar suara itu.


"Loh denger suara itu?" tanya Jen dengan cemas, Ben mengangguk menjawab Jen.


"Mungkin itu suara ngorok si Ketut kali!" seru Ben dengan santai saat dirinya mengetahui jika Ketut sering mengorok.


"Tapi kek nya bukan, Ben. Periksa ajak yuk, takutnya ada sesuatu." ajak Jen.


"Yaudah, ayok. Loh pasti takut ya?" ledek Ben dengan tertawa surau.


"Apa-apaan takut?! yang bener aja, seorang Jen tidak pernah takut pada apapun, kecuali Tuhan."

__ADS_1


"Sok agamis Luh! shalat juga kaga!" ledek Ben lagi.


"Dasar loh, masih mending gue nggak minum!" balas Jen, Ben kini kalah telak, memang Jen tidak pernah minum meskipun orang tuanya tidak pernah melarangnya, namun apa salahnya jika Jen ingin menjauhi larangan dari Tuhannya.


"Udah deh, mau ikut kaga nih?! ribet amat jadi cowok!" ucap Jen dengan nada sarkasnya.


"Iya iya! gue ikut, loh kan pengecut!"


"Masih bisa loh ngeledek gue!"


Mereka berdua langsung keluar dan mengecek di sekitaran mereka, sebuah sosok hitam tertawa dengan keras sehingga mereka berdua membalikkan badan mereka untuk mencari tahu asal suara itu, Jen dan Ben saling bertatapan, kedua pria itu sudah berkeringat basah saat mendengar suara tawa yang menggelegar.


Tiba-tiba seseorang menepuk pundak mereka berdua, spontan Jen dan Ben langsung menjerit karena takut, "Arrrghhhh! setan! setan!" teriak mereka berdua.


Rama langsung menampar mereka karena berbuat berisik, Ketut pun keluar karena penasaran kenapa temannya itu berteriak dengan kencang.


"Awwwhhsss, sakit tahu, Ram." cicit Ben dengan mengusap pipinya yang baru saja bercium an dengan tangan Rama.


"Astaghfirullah, akhy anda berdosa sekali." ucap Ketut pada Rama.


"Lebay banget sih loh!" sarkas Ben melayangkan tangannya pada lengan Ketut.


"Mending kalian pergi ke tenda lagi sana, jangan keluyuran nanti hilang nyusahin lagi!" usir Rama.


"Iya iya tuan muda yang terhormat, kami pergi nih!" Ben membungkuk dengan hormat lalu berjalan masuk ke tenda bersama Jen.


Rama masuk ke dalam tendanya dengan Ketut, ia merasa aneh dengan hutan yang sedang dia tinggali.


"Loh ngedenger suara orang yang ketawa juga, Ram?" tanya Ketut dengan panik.


"Mungkin itu mereka berdua, mending loh tidur aja, kebanyakan baca buku gini nih!" ledek Rama. Ketut menghela nafas kasar lalu menarik selimutnya sampai ke kepalanya.

__ADS_1


"Gue aneh, Jen. Suara itu suara apa sih sebenarnya?" tanya Ben dengan menerka.


"Suara orang ketawa, tapi di bandingin sama ketawa kita semuanya, kek nya bukan deh, bener kan?"


"Loh bener, kita harus selidiki ini besok pagi." mereka berdua akhirnya memilih tidur karena merasa takut juga.


Keesokan paginya, mereka semua telah bangun, Arini dan temannya memulai perjalanan untuk menelusuri hutan kematian itu.


Mereka semua berjalan dengan pelan karena takut jika ada sesuatu yang membuat mereka terjebak. Sekelebat bayangan hitam muncul, Serly menengok ke belakang karena melihat sosok itu.


"Loh kenapa?" tanya Reni pada Serly, "Gu-gue, gue lihat sosok hitam yang serem, Ren. Gue takut!" Serly memeluk Reni dengan ketakutan ia benar-benar sangat takut setelah melihat hal tadi.


"Udah, itu paling halusinasi loh aja, jangan di pikirin mending kita lanjutin perjalanan ini" bisik Reni.


Yang lain sudah agak jauh, mereka berlari mengejar temannya yang lain.


"Siapa itu?!" teriak Arini membuat semuanya spontan menatap ke arahnya dengan perasaan aneh.


"Ada apa sayang? jangan menakuti kami!" ujar Rama merangkul bahu kekasihnya.


"Aku melihat ada bayangan." jawab Arini sedikit tersengal.


"Jangan pikirkan hal itu, lebih baik kita pergi sekarang, setelah itu kita akan pulang." Arini mengangguk, keringatnya sudah bercucuran karena ketakutan.


"Guys, gue mau buang air kecil bentar, kalian tungguin gue ya! awas kalau ninggalin!" tanpa mendapat jawaban, Ben langsung pergi ke arah lain dengan berlari, semua orang saling bertatapan karena Ben yang kebiasaan pergi tanpa persetujuan mereka.


"Kita tunggu saja ya, takut jika Ben mencari kita." ucap Rama pada temannya.


Ben berjalan ke arah pohon, lalu dengan cepat membuka celananya karena sudah tidak tahan untuk buang air kecil.


Sesosok hitam muncul dengan wajah yang menyeramkan, Ben melihat itu langsung saja berteriak. Ben berusaha untuk berlari namun kakinya di cekal dan langsung di hempaskan ke pohon itu, darah mengucur di kepalanya. Membuat Ben merasa pusing, ia pun langsung tak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2