Hutan Kematian

Hutan Kematian
Serly Kembali


__ADS_3

Update 20:37


Kini semua orang sudah berada dalam tenda, Jeny terus memeluk sang kakak karena merasa ketakutan, Jen dengan sabar terus menenangkan adiknya yang sangat penakut ini.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? siapa yang akan menyelamatkan kita?!" ucap Arini seraya bertanya.


"Aku juga tidak tahu, yang pasti untuk saat ini kita tidak boleh terpisah, akan sangat berbahaya jika kita terpisah seperti kau dan Jeny tadi!" ujar Rama dengan tenang, meskipun panik dirinya tetap berusaha untuk tenang dan tidak mau terlihat ketakutan.


Mereka semua mengangguk mengerti dengan ucapan Rama, tentu saja siapa yang mau berpisah, lagi pula pikiran mereka masih terbuka.


Suara seseorang terdengar, Arini langsung menegang mendengar suara Serly.


"Ram!!!" teriak Serly yang berada di luar.


"Serly! Rama, itu, itu Serly, Ram!" ujar Arini dengan bahagia.


"Diam! tenang di sini! itu adalah hantu yang menyerupai Serly, jadi kau tetap diam di sini!" Rama terus menenangkan Arini.


Suara itu semakin keras, dan semakin membuat Arini percaya.


"Arini!!! tolong aku!"


"Hiks! Jeny!!!" suara Serly terus berteriak, Arini langsung berdiri namun di tahan oleh Rama.


"Dimana kalian! tolong aku!" teriak suara Serly.


"Jen! Jeny! dimana kalian?"


"Reni!!!" suara itu semakin melengking.


"Diam! jangan terkecoh! itu suara hantu yang ada di sini!" Rama terus menenangkan Arini agar tidak terkecoh dengan suara Serly.


"Tapi, Ram! Serly masih hidup! itu suaranya!"


"Tidak! bukan! dia hantu yang ada di hutan ini! jadi jangan terkecoh! oke?"


"RENI!!!!"


"Dimana kalian semua?!" tanya Serly berteriak di luar.


"Rama!!!"


"Hiks hiks! dimana kalian?!" Serly menangis karena tak ada sahutan, tangisan itu membuat Arini yakin jika itu adalah Serly.


"Rama! aku sangat yakin jika itu adalah Serly! aku ingin keluar!"

__ADS_1


"Jangan Arini, dia adalah hantu! jangan keluar, lagi pula ini sudah malam!" Rama semakin terkikis rasa sabarnya, ia terus memegang tangan Arini agar tidak keluar.


"Arini!!!"


"Rama-" dengan cepat Rama menggeleng.


"Kak, itu suara kak Serly!" ucap Jeny pada Jen.


"Tidak, itu hanya suara Serly, tapi bukan wujud Serly!" sergah Jen.


"Jika kalian ingin disini! terserah! aku ingin keluar dan menolong Serly!" Arini berdiri dengan menepis tangan Rama.


"Baik, baik! kita keluar bersama-sama, oke?!" Rama berjalan mendekat ke arah tenda, ia membuka resleting tenda itu dengan ragu ragu.


Arini dan Rama keluar bersama yang lainnya. Serly memegang tangannya, ia kesakitan, "Arini! hiks! hiks!" Serly melangkah setengah berlari, Arini langsung memeluk temannya yang menghilang selama beberapa jam, Mereka berdua menangis, Jeny dan Reni memeluk Serly.


"Kau dari mana? aku melihatmu di tarik oleh makhluk halus!" ujar Arini dengan menangis.


"Hiks! aku takut Arini, dia sangat seram! hantu itu ingin membunuhku! hiks hiks hiks!"


"Sudah sudah, jangan menangis! sekarang kita bersama lagi." Arini menenangkan Serly yang terus menangis.


Kini mereka bertujuh sedang berada di dalam tenda, Rama menyalakan lilin agar sedikit terang.


"Aku menemukan sebuah gubuk, dan terdapat buku-buku yang sangat aneh!" ucap Serly.


"Arini, aku takut banget, aku ngerasa kek ada sesosok hitam yang terus ngikutin aku, bahkan pas aku di tarik pas tadi sore, sosok hitam itu yang narik aku." Serly menangis kembali, ia benar-benar merasakan ada aura jahat di dalam pulau ini.


Arini dan Rama mengelus punggung Serly dan menenangkannya.


"Lalu kita harus bagaimana ini? rasanya kepalaku ingin pecah memikirkan jalan keluar!" teriak Jen merasa marah.


"Sosok itu nggak akan biarin kita pergi begitu aja, hantu itu serem banget, wajahnya hancur, seluruh badannya hitam semua!"


Angin meniup tenda sehingga hampir tercopot, mereka yang berada di dalam saling memeluk, tak ada satupun yang berani untuk bersuara.


BRUK! tenda itu terhempas ke sembarang arah, hantu itu muncul dengan wajah yang retak dan menakutkan.


"Arrrrghhhh!!!!" teriak semua orang.


Arini dan yang lainnya langsung bangun dan berlari entah kemana.


"Tolong!" teriak mereka semua.


"Hahahaha! akhirnya aku menemukan kalian!" teriak hantu itu dengan senang seperti anak kecil.

__ADS_1


"Arrrghhh!!!"


"Arrrghhh!!!!"


Mereka semua terus berlari sehingga terpencar. Serly bersama Arini dan Rama, sedangkan Jeny bersama Ketut dan Reni, sedangkan Jen hanya sendiri. Mereka terpencar menjadi tiga, Jen tampak bingung karena tidak ada temannya satu pun.


"Dimana Jen dan yang lainnya?!" teriak Rama bertanya.


"Aku tidak tahu!" jawab mereka berdua.


HAHH! wajah hantu itu begitu dekat dengan mereka bertiga, Arini, Rama dan Serly sontak terkejut dan langsung berlari entah kemana.


Di sisi lain, Jen terus berteriak, sebagai manusia ia juga takut terhadap hantu.


Hantu itu lewat, Jen yang merasa ada sesuatu langsung menengok ke arah belakang, dengan nafas yang memburu, Jen begitu terlihat takut.


Hantu itu lewat kembali, Jen dengan cepat mencari siapa itu yang lewat. Saat akan berbalik lagi, hantu itu sudah berada di depan wajah Jen.


"ARRGHHHHH!!!!" suara teriakan Jen begitu menggema, BUGH! Jen terpental ke arah pohon.


"Uhuk! uhuk!" Jen terbatuk.


"Aku menang! aku menang! aku berhasil!" teriak hantu wanita itu yang wajahnya begitu hancur. Jen tidak berani menatap hantu itu karena merasa takut.


"Sekarang giliran mu, aku akan membawamu." hantu itu mengangkat Jen dengan tinggi. Lalu ia terhempas kan ke tanah. Darah langsung mengalir di kepala Jen, matanya terbuka dan mulutnya menganga. Jen telah meninggal akibat benturan dari atas hingga ke tanah.


Ketut terus memeluk Reni, membuat Reni kesal karena kekasihnya yang pengecut ini.


"Bisa kau lepaskan aku?!" teriak Reni menghempaskan tangan Ketut.


"A-aku takut!" ujar Ketut, celananya kini sudah basah karena kencing di celana. Jeny dan Reni melotot melihat ada sesuatu di celana Ketut.


"Kau mengompol!" teriak Reni dan Jeny secara bersamaan, dengan wajah ketakutan dan bodohnya, Ketut mengangguk dengan menampilkan giginya.


"Ishhh!! menjijikan!" teriak mereka berdua lagi, Ketut menutup telinganya karena suara keras yang di keluarkan oleh kedua wanita di hadapannya ini.


Reni dan Jeny langsung berjalan, mereka meninggalkan Ketut yang bahkan tidak bisa mengejarnya sama sekali.


Dengan susah payah, Ketut akhirnya memberanikan diri untuk mengejar sang kekasih.


Hantu itu menarik Ketut dengan kuat, teriakan Ketut membuat Reni dan Jeny menengok ke belakang.


"Arrrghhhh!!!"


"Ketut!!!!" teriak Reni, dengan berlari Reni berusaha mengejar kekasihnya itu.

__ADS_1


"Ketut! jangan tinggalkan aku!" Reni terjatuh saat mengejar Ketut. Jeny syok melihat Ketut di tarik seperti itu, ia langsung memanggil kakaknya yang entah dimana sekarang.


"Kak, kak Ketut sudah di bawa oleh hantu wanita itu!" ucap Jeny dengan pelan, ia masih syok dengan ini semua, kepalanya sudah terisi berbagai pertanyaan yang kian semakin banyak.


__ADS_2