Hutan Kematian

Hutan Kematian
Kematian Serly


__ADS_3

Update 22:40


Teman Ben yang mendengar suara teriakannya langsung saja berlari ke asal suara itu, mereka mencari Ben, memanggil nama Ben namun tak ada sahutan.


"Ben!!!!" teriak Rama.


"Bennn!!! dimana kau?!"


"Jangan bercanda, ini tidak lucu sama sekali!" teriak Ketut semakin panik.


"Arrrrghhhhhh!!!" teriak Serly melihat tubuh Ben tergeletak tak berdaya dengan darah yang mengucur di kepalanya, Rama dan lainnya langsung berlari pada Serly dan melihat ke arah jasad Ben.


"HAHAHAHAHA! KALIAN SEMUA SUDAH BERANI MASUK KE HUTAN INI, TENTU AKU AKAN MENYAMBUTNYA DENGAN BAIK!" suara itu terdengar sangat menggemparkan, mereka langsung berlari karena takut.


"Arrrghh!"


"Aaarrghhh!!!!"


"Tolong!" teriak semuanya melarikan diri masing-masing, Rama terus bersama Arini berlari dengannya bersama-sama.


"Ayok, Arini. Jangan lemah." Rama menarik Arini untuk berlari.


Mereka kini berhenti sejenak, dan duduk untuk mendapatkan energi lagi. Reni dan yang lainnya menangis karena kehilangan temannya, Ben.


"Aku ingin pulang!" ujar Serly dengan menangis sedih.


"Aku juga, aku tidak mau mati di sini!" teriak Ketut, ia memukul pohon yang di dekatnya karena kesal sekaligus marah.


"Aku juga ingin pulang, aku ingin pulang!" ucap Reni terus menangis tanpa berhenti.


"Kau pikir hanya kau saja yang ingin pulang?! kami semua juga ingin PULANG!" bentak Jen marah pada Reni yang memulai ide konyol ini.


"Ini semua salah mu! andaikan ide konyol mu tidak keluar, kita pasti tidak akan terjebak di sini!"


"Apa aku memaksa kalian semua?! tidak! aku tidak memaksa kalian semua kan?" teriak Reni pada semuanya, ia menatap pada teman-temannya.


"Andai aku tidak ikut kesini, mungkin aku tidak akan terjebak di sini!" ujar Jenni menangis sendu.

__ADS_1


Jeny berjalan ke arah kakaknya dan memeluknya dengan menangis, "Kak, aku ingin pulang. Tolong bawa aku pergi dari sini!" pinta Jeny.


"Kau tenang saja, Jeny. Kakak berjanji kita akan pulang secepatnya." balas Jen menenangkan adiknya.


Jeny tertarik oleh magnet, Jen dan yang lain terlihat bingung dan langsung menarik Jeny, "Arrrghhhh! sakit kak!" teriak Jeny melayang karena di tarik oleh makhluk lain dan tangannya di tarik oleh kakaknya.


"Kau harus bertahan, Jeny. Jangan meninggalkan kakak!" teriak Jen terus menarik adiknya, Jeny melepaskan tangan kakaknya karena merasa tidak kuat menahan sakit saat di tarik.


"Aaarrrghhhh!" teriak Jen mencoba menarik adiknya, bersama teman-temannya, Jen terus berusaha, "Jang-an! tinggalkan! kakak! Jeny!" teriak Jen terus menarik, Jeny akhirnya terlepaskan, ia terhempas ke tanah.


"Hiks hiks hiks!"


"Kau tidak apa-apa, Jeny? pasti sangat sakit, maafkan kakak." Jen mengusap tangan adiknya.


"Aku ingin pulang kak! aku ingin secepatnya pulang!" teriak Jeny dengan berdiri, ia langsung berlari meninggalkan semuanya di sana.


"Jeny! jangan berpisah dari kami!" teriak Arini mencoba mengejar Jeny.


"Dasar menyusahkan!" gumam Reni, Jen yang mendengarnya langsung melihat Reni dengan tatapan tajam.


"Adikku tidak menyusahkan ku! yang menyusahkan kami adalah kau! ini semua terjadi gara-gara kau!" teriak Jen dengan mendorong Reni hingga ke belakang. Ketut marah dan langsung mendorong Jen kembali.


"Diamlah bodoh! si mata empat! cih!" ledek Jen, Ketut merasa marah langsung memukul Jen dengan keras.


"Berhenti kalian! apa kalian akan tetap seperti ini?! ini di hutan dan Ben sudah meninggal sekarang, dan kalian akan saling membunuh, begitu?!" Rama membentak mereka bertiga sehingga sadar.


"Oh sial? gara-gara kalian, adikku pergi!" Jen langsung berlari karena khawatir akan terjadi sesuatu pada adiknya itu.


Jeny berlari terus menerus, Serly dan Arini mengejar Jeny karena khawatir terjadi sesuatu padanya. Jeny terdorong sampai membentur ke pohon, "Arrrghh!" ringis Jeny.


"HAHAHA, HAHAHA!" tawa itu terdengar lagi, Jeny dengan marah berdiri, "Siapa kau?! berani sekali menyerang ku! keluarkan kami dari sini, sial! atau aku yang akan membunuhmu!" teriak Jeny merasa marah dan kesal.


"Jeny!" teriak Arini, Serly dan Arini langsung memeluk Jeny karena melihatnya baik-baik saja.


"Arini, aku ingin pulang, aku tidak mau berada di sini! aku ingin pulang sekarang!" pinta Jeny memohon pada Arini.


"Andai aku bisa melakukannya, Jeny. Aku, kau dan kami semua juga ingin pulang." balas Arini sendu, Jeny langsung menangis, merasa seperti tidak ada harapan lagi untuknya pulang dari hutan itu.

__ADS_1


"Hiks hiks hiks! lalu bagaimana sekarang? aku tidak mau mati seperti Ben!"


"Lebih baik kau tenang saja, jangan merasa takut, kita akan menghadapinya bersama sama!"


"Arini, bagaimana jika kita menelpon bapak nelayan yang kemarin nganter kita? aku nyimpen nomor handphone nya." ujar Serly dengan mengeluarkan handphonenya di saku celananya.


"Benarkah, kak? kalau begitu, cepatlah telpon dia, kak. Aku ingin segera pulang." Jeny berhenti menangis, ia langsung sumringah saat mendengar ucapan dari Serly.


Sebelum itu terjadi, Serly sudah tertarik oleh makhluk itu, "Serly!!!!" teriak Arini dan Jeny yang melihat Serly di tarik seperti itu.


"Tolong!!!!! tolong aku Arini!" teriak Serly, tarikan itu semakin kuat sehingga Serly tidak menahannya, tubuh Serly tidak terlihat, Arini dan Jeny langsung menangis, dalam waktu kurang satu jam, mereka sudah kehilangan kedua temannya


"Hiks! hiks! kenapa ini terjadi pada kita, Kak? kenapa?!" tanya Jeny memeluk Arini.


"Jeny! kau tidak apa-apa?" tanya Jen, ia menarik adiknya dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Aku ingin pulang! aku ingin segera pulang!"


"Baiklah, kita akan mencoba untuk pulang dari sini, jangan khawatir, oke!" Jen menenangkan adiknya, akhirnya tangisan Jeny sudah mereda.


"Dimana Serly?" tanya Rama pada Arini, Arini hanya menggeleng, Rama dan yang lainnya langsung memegang kepalanya karena frustasi.


"Ini gara-gara mu, Reni! andai kau tidak mengajak kami!" teriak Jen dengan menunjuk.


"Sudahlah! dari pada saling menyalahkan, lebih baik saling membantu untuk mencari jalan keluar!" teriak Arini, air matanya mengalir kembali karena pusing memikirkan hal ini.


"Aku ingin pulang kak" pinta Jeny terus, Jen mencium kening adiknya, dan terus menenangkan Jeny agar tidak takut.


"Aku ingin pulang, kak." Jeny terkulai lemas, ia hampir jatuh jika saja Jen tidak memeluknya dengan erat.


"Jeny! bangunlah, Jeny! Jeny!" teriak Jen menepuk pipi adiknya.


"Air, aku butuh air." ucap Jen meminta pada mereka, Rama memberikan air minumnya pada Jen, lalu Jen memberikan air itu pada Jeny.


Setelah beberapa saat, Jeny akhirnya tersadar, ia langsung menangis saat sadar, ia berpikir jika setelah terbangun dirinya akan berada di rumahnya, namun tidak. Harapan itu sirna.


"Ini sudah hampir malam, lebih baik kita mencari tempat untuk tidur." ujar Rama pada semua orang.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan mencari tempat sekarang, ingat! kita harus tetap bersama, jangan pernah berpisah. Mengerti?!" ucap Jen pada teman-temannya.


__ADS_2