Hutan Kematian

Hutan Kematian
Berangkat


__ADS_3

Ke enam orang itu langsung bersiap untuk pergi ke pulau yang di tengahnya terdapat hutan yang biasa di sebut hutan kematian. Arini sebenarnya tidak mau ikut, tapi demi temannya ia ikut, lagi pula sudah lama sekali dirinya dan teman-temannya tidak berlibur bersama.


Dari belakang seseorang memeluk Arini membuatnya terkejut karena tiba-tiba ada orang yang memeluknya.


Arini membalik, ia menatap Rama lalu mengalihkan pandangannya ke arah koper lagi.


"Aku mencintaimu, Arini." ujar Rama dengan sendu. Arini hanya terdiam lalu menutup kopernya, ia berjalan sedikit menjauh dari Rama.


"Kenapa kau begitu sulit sekali membuka hatimu? apa sudah ada pria lain di hatimu?!" Rama berjalan mengikuti Arini, ia bertanya dengan berteriak, sudah beberapa tahun ia mengejar Arini yang tak lain adalah temannya, namun terus di abaikan olehnya.


"Ani! jawab aku!" teriak Rama mencekal tangan Arini dengan kuat, Rama menyentuh wajah mulus nan cantik Arini, "Ku mohon jangan menolak" Rama memajukan kepalanya untuk menc*um bibir ranum Arini yang terlihat sedikit memerah.


"Ram, jangan lakukan itu!" sergah Arini dengan pelan, ia sedikit mendorong dada Rama agar menjauh darinya. Rama tersenyum lalu mundur beberapa langkah, "Perjuanganku sia-sia saja, aku mengejarmu dari dulu, dan sampai sekarang aku tetap kalah dan tak bisa mendapatkan mu." dengan menangis, Rama berbalik dan ingin meninggalkan Arini wanita yang sangat dia cintai, Arini mendongak menatap Rama dengan sedih.


"Kau pikir perjuangan mu membuatku tidak luluh?" tanya Arini dengan berjalan mendekat ke arah Rama. Ia langsung memeluk Rama dari belakang, "Aku sudah jatuh, Rama. Aku benar-benar jatuh cinta padamu! hiks! hiks!" Rama tersenyum dengan berbinar, ia tak menyangka jika cintanya terbalaskan hari ini.


"Apa kau benar mengatakan itu? kau tidak demam atau sakit kan?" tanya Rama dengan berbalik, ia langsung menyentuh dahi Arini, takut jika Arini mengatakan itu karena dia sedang sakit.


Arini memukul lengan Rama, dengan spontan Rama berteriak kesakitan, "Apa sakit? maaf, aku tidak sengaja." Arini bertanya dengan khawatir, dirinya takut Rama terluka karena sudah ia pukul.


Rama tersenyum kecil, dan langsung mencubit hidung Arini, "Dasar gadis lugu, aku hanya bercanda." ujar Rama tertawa, wajah Arini langsung kesal setelah Rama mengatakan hal itu.


"Aku mencintaimu Arini, sudah delapan tahun ini aku mengejar mu akhirnya kau bisa aku dapatkan." Rama memeluk Arini dengan berkata demikian, Arini menelungkup kan wajahnya ke dalam dada Rama karena merasa malu.


Reni masuk ke dalam kamar Arini, ia langsung berteriak sehingga mengagetkan kedua sejoli yang sedang memadu kasih itu.

__ADS_1


"Aku tidak percaya dengan mataku, apa aku rabun?" tanya Reni dengan mendekat.


Arini langsung melepaskan pelukannya dari Rama, membuat Rama kecewa karena Arini seperti itu.


"Ka-kau salah melihat, Ren. Aku tidak melakukan hal yang lebih!" sergah Arini.


"Ya, ya, ya, aku tahu. Sudahlah lanjutkan saja." ucap Reni dengan santai, Reni mengedipkan matanya pada Rama seolah memintanya melanjutkan hal yang tadi.


"Ada apa?" tanya Rama setelah Reni menghilang dari balik pintu.


"Aku merasa takut, Ram. Aku takut jika hubungan kita hanya seutas tali saja." Arini berbicara dengan cemas, masa lalu membuatnya begitu trauma akan kisah cinta.


"Sudahlah, jangan khawatir. Aku berjanji aku akan selalu ada di sisimu selamanya, sampai hidupku berakhir!" ucap Rama dengan memegang tangan Arini.


"Aku mencintaimu, Rama. Ku mohon jangan tinggalkan aku, jangan pernah sekalipun."


"Sudah boy, girl, kita harus berangkat sekarang." ujar Ben dengan membawa tas ransel yang ada di punggungnya.


"Oh ya, Jen dan Jeny juga ingin ikut, kalian tahu si kembar itu sangat menantang maut kan?" ucap Ben memberi tahu.


Singkat cerita, mereka kini berada di pantai, seorang nelayan mau mengantar mereka berdelapan ke pulau yang ada di tengah laut, namun bayarannya harus mahal sekitar satu juta delapan ratus. Hal itu bagi Rama sangat kecil, bahkan ia bisa membeli kapal di pantai itu jika ada.


Nelayan yang akan mengantar mereka memberikan uang itu pada istrinya, ia hanya takut jika nelayan itu tidak kembali ke desanya.


Nelayan itu langsung mengajak mereka semua untuk naik ke perahunya, Arini begitu ketakutan saat akan naik ke perahu, namun Rama dengan cepat langsung menggendong Arini dan naik ke atas perahu.

__ADS_1


"Pak, kenapa anda memberikan uang itu pada istri Anda semuanya?" tanya Sherly dengan hati-hati.


"Huhffttt" bapak itu menghela nafasnya kasar, lalu ia melanjutkan ucapannya, "Sebenarnya saya tidak mau mengantar nona dan tuan, tapi karena saya sangat butuh uang, saya terpaksa mengambilnya" Mereka yang mendengarnya langsung menautkan alisnya bingung dengan ucapan nelayan itu.


"Memangnya ada apa sih pak? kenapa bapak takut banget?" tanya Sherly bermonolog dengan cepat.


"Nona, kalian mungkin dari kota sehingga tidak tahu apa pun tentang pulau itu. Pulau itu sangat angker, mungkin dari luar itu sangat indah tapi kalau sudah berada di dalam, maka itu akan menakutkan." jawab nelayan itu dengan terus fokus pada jalannya.


"Mungkin itu hanya mitos, pak. Jangan denger kata mitos itu, itu cuma bikin serem aja pak!" timpal Jen pada nelayan.


"Terserah tuan saja jika mau percaya ya bagus, tapi jika tidak mau percaya sama saya, tidak apa-apa." balas nelayan itu sedikit menghela nafas.


Setelah setengah jam, akhirnya mereka sampai ke pulau itu. Semua orang langsung bersorak kecuali Arini yang bahkan merasa ada yang janggal di dalam pulau sana.


"Ayok sayang" ajak Rama merangkul bahu Arini, sang kekasih.


"Wit! Wiwwww!" sorak Sherly bersuit


"Kalian romantis juga kalau jadi sepasang kekasih!" goda Sherly.


Arini tersenyum dengan getir, ia bukan tidak suka dengan yang di katakan Sherly, namun dirinya masih takut dengan pulau yang baru saja di injaki beberapa menit kemudian.


"Nona, tuan. Semua barangnya sudah saya turunkan, sekarang saya harus segera pergi sebelum matahari terbit, soalnya kalau pulang butuh setengah hari mencapai desa saya" pamit bapak nelayan tadi.


"Buru buru amat, pak. Mending istirahat dulu aja, masa iya juga setengah hari? kita aja tadi cuma setengah jam kok!"

__ADS_1


"Aduh, maaf sekali tuan. Soalnya saya bener bener nggak bisa lama-lama, saya pamit pulang dulu ya" nelayan tadi pamit dan langsung pergi, membuat Arini semakin berpikir jika pulau ini ada masalah.


__ADS_2