
Update 21:19
Elsa muncul kembali, ia dengan ketakutan keluar dari tempat persembunyiannya.
"Elsa, dari mana saja kau? kami pikir kau adalah..." ucap Arini menggantung.
"Maaf, tadi aku sangat terkejut sehingga langsung berlari ke tempat pojok sana, aku selalu melakukan itu saat aku ketakutan." ujar Elsa meminta maaf, Arini menghela nafas, setidaknya dirinya tidak kehilangan Elsa beserta infonya.
"Lebih baik kita masuk saja, aku takut jika hantu itu malah datang ke sini." ajak Elsa. Mereka segara masuk dan duduk di tempat masing-masing.
"Elsa, boleh aku bertanya?" Elsa menatap Arini yang meminta izin padanya untuk bertanya, "Tentu saja boleh, apa yang ingin kau tanyakan?"
"Mengenai pembahasan kita tadi, apa yang kau maksud untuk menghafal bacaan buku yang ada di tanganmu?"
Elsa melirik ke arah buku itu, lalu berkata: "Ohhh... ini, sebenarnya buku ini aku temukan di saat aku tersesat waktu itu, aku mengambil buku ini di salah satu gubuk yang entah dimana tempatnya." jawab Elsa tersenyum.
"Apa kau pernah masuk juga?!" tanya Serly was-was, Elsa menatap Serly, sedetik kemudian ia langsung mengangguk.
"Ini buku yang berisi mantra untuk mengusir setan bahkan untuk menghancurkan setan." Jawab Elsa.
"Dan, ya. Mengenai aku pernah ke gubuk yang lain, aku memang pernah beberapa hari yang lalu saat tersesat, aku membaca buku ini sebentar, lalu dengan cepat aku mengambilnya dan pergi dari sana." lanjut Elsa lagi.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana? kita harus secepatnya untuk menghancurkan hantu itu, bukan?" ujar Arini kini.
"Ya, tapi setelah aku membacanya, ini harus di lakukan bersamaan setidaknya ada 5 orang sampai enam orang, kita akan saling berpegangan nanti, bagaimana pun juga kita harus fokus, atau jika tidak maka nyawa kita yang akan hilang, begitu lah yang aku baca dari buku ini."
__ADS_1
Mereka semua mengerti, beberapa menit kemudian, mereka langsung setuju untuk melakukan membaca mantra untuk mengusir hantu itu.
"Baiklah, kita mulai?" tanya Elsa pada semua orang, mereka semua mengangguk dan mulai membaca mantranya, semuanya melakukan itu dengan baik, dengan menutup mata dan membaca mantra itu berulang kali.
Beberapa detik ini, Jeny seperti terusik dengan suara teriakan yang seakan membuat telinganya berdengung. Jeny seakan ingin melepaskan tangan Reni, namun dengan kuat Reni memegang tangan Jeny agar tidak lepas darinya, jika terlepas, maka nyawa Jeny yang akan menjadi taruhannya dan bahkan yang lainnya.
Jeny berusaha untuk tidak terganggu, namun teriakan dari kakaknya membuatnya senang, ia dengan cepat membuka matanya, ia berteriak menyebut kakaknya dengan melepaskan tangannya dari Reni dan Serly.
"Kakak!" teriak Jeny bangun dari duduknya, Reni membuka matanya melihat Jeny yang berteriak, sementara yang lainnya masih menutup mata mereka dan membaca mantra itu.
Beberapa detik kemudian, semua orang seperti terpental ke arah sembarang, Arini terpental hingga ke ujung gubuk, semuanya pun sama.
"Awwwss... sakit sekali!" ringis Serly dengan menyentuhku tangannya.
"Arini, kau tidak apa-apa?" tanya Rama membantu Arini untuk bangun, lalu ia membantu yang lainnya juga.
"Jeny! kau mau kemana?" tanya Arini memeluk Jeny dari belakang agar tidak keluar.
"Kak Jen! dia masih hidup kak!" ujar Jeny menangis, Arini memeluk erat Jeny agar tidak gegabah. Mata Jeny langsung berbinar ketika sang kakak kini berada tak jauh darinya, "Kak Jen! kau kah itu?" tanya Jeny tak percaya, ia bahagia melihat kakaknya.
"Tidak Jeny, Jen kakakmu sudah tiada! aku dan Serly yang melihatnya!" bisik Arini, ia mengusap rambut Jeny. "Jangan berbohong, kak! jelas-jelas kak Jen masih hidup, bahkan dirinya sedang berdiri di hadapan kita!" sergah Jeny tak mempercayai ucapan Arini.
"Jeny!" panggil Jen dengan lembut, Jeny tersenyum, "Kakak! kakak bawalah aku dari gubuk ini! aku sangat tidak ingin tinggal di sini!" pinta Jeny dengan menangis, Arini melihat Jen dengan terkejut, tubuh Jen begitu bersih tak ada kotoran sama sekali, beda dengan yang dia lihat beberapa jam sebelumnya.
Merasa tak percaya dengan Jen yang di hadapannya, Arini tidak melepaskan pelukannya meskipun Jeny bersikeras.
__ADS_1
"Arini, tolong lepaskan aku." pinta Jeny dengan pelan dan memelas. "Jeny, jangan percaya! Jen bukanlah manusia! tapi dia hantu yang menyerupai Jen!" teriak Serly yang berada di dalam, ia dengan ketakutan mengatakan hal itu.
"Jeny, apa kau lebih percaya pada mereka di banding dengan kakak?" tanya Jen dengan merentangkan tangannya, Jeny yang sudah tidak mau berlama-lama langsung saja menggigit tangan Arini, "Aarrghhh!!" teriak Arini merasa kesakitan, ia yang ingin mengejar Jeny, langsung di tahan oleh Rama dan juga Serly.
"Jangan terhasut, sepertinya Jen yang sekarang bukanlah Jen asli, jika benar, harusnya Jen tinggal masuk ke sini, bahkan kita tahu sifat Jen seperti apa!" ujar Rama dengan pelan, mereka bertiga mengangguk sedangkan Elsa melihat hal itu dengan menggendong anaknya.
Jeny terus memeluk kakaknya karena merasa rindu, Jeny menangis di dada kakaknya, bau menyengat di indra penciuman Jeny, ia mengendus, lalu dengan pelan ia mendongakkan kepalanya ingin menatap wajah Jen.
Mata merah itu melihat Jeny dengan tersenyum, Jen yang tadi kini berubah menjadi seorang wanita yang berpenampilan buruk rupa.
"Arrrghhhhh!!!!" Jeny berteriak, hantu itu mencekik Jeny dengan marah, ia terus mencekik Jeny, sedangkan Jeny merasa sudah kehilangan nafasnya.
Rama yang melihat itu, langsung saja bergegas melangkah dan memukul hantu itu, namun seakan tak merasakan apa-apa, hantu itu malah dengan santai mencekik Jeny dengan tertawa.
Rama menutup telinganya karena berisik mendengar tawaan hantu itu. "HAHAHAHA! HAHAHAHA!"
"Kak Rama! tolng aku!" pinta Jeny, ia berusaha meminta pertolongan dari Rama. Rama Ayng mendengar itu langsung saja menarik Jeny, percuma jika ia menarik hantu itu, tak akan pernah lepas.
"Kau bilang ingin membunuhku? hahaha! sebelum itu terjadi! aku yang akan membunuhmu!" Teriak hantu itu dengan amarah, wajahnya yang memerah dan matanya juga, membuat mereka ketakutan.
Serly melangkah maju dan membantu Rama menarik Jeny, hantu itu terlepas dan tidak mencekik Jeny lagi, tapi serangan itu kini pada Serly. Tarikan magnet membuat Serly terseret entah kemana.
"Serly!!!" teriak Arini dan Reni, Elsa yang melihatnya begitu terkejut karena melihat hal ini untuk kesekian kalinya.
"Ayok kita masuk!" teriak Elsa dengan menarik Jeny dan Rama, sebelumnya, anaknya sudah dia berikan pada Arini terlebih dahulu, lalu berlari ke arah mereka berdua dan menariknya.
__ADS_1
Jeny menangis kembali, Arini dan Reni pun sama, ia menangis meratapi hidupnya yang seperti ini. Elsa tidak tahu harus apa, ia hanya terdiam, ia sudah terlalu sering menangis, hingga saat ini, kematian seseorang hanya mempu membuat harinya bersedih saja.