Hutan Kematian

Hutan Kematian
Rumah Gubuk


__ADS_3

20:52


"Kkaalliiaann mmaassiihh ddii ssiinnii?!" suara itu terdengar, Reni yang ketakutan langsung berdiri dan berlari bersama Jeny.


"Ayok Jeny! jangan bodoh! kau mau di bunuh oleh hantu sialan itu?!" teriak Reni dengan menarik Jeny paksa.


"Kak, kakiku sangat sakit!" teriak Jeny menangis.


"Dasar lemah! harusnya aku tidak mengajak kalian ke sini!" gumam Reni yang masih bisa di dengar oleh Jeny.


Jeny yang mendengar itu langsung marah dan mendorong Reni hingga terjungkal, "Kau pikir kami semua ingin seperti ini?! ini semua gara-gara dirimu sendiri! jika saja kau tidak mengajak aku dan kak Jen! maka aku tidak perlu berlarian seperti ini?" teriak Jeny, ia menangis kembali.


"Kakak Ben, kakak Ketut, bahkan kak Jen dan yang lainnya entah dimana! ini semua karena ide bodohmu, kak! ini semua salahmu!" di sela pertengkaran mereka, suara tawa menggelegar kembali, Reni dan Jeny saling memeluk ketakutan.


Mereka berusaha untuk berlari dan mencari yang lainnya, kaki mereka sudah sangat lemas karena terus berlari dari tadi.


Di sisi lain, Rama, Arini dan Serly berlarian karena masih di kejar oleh hantu buruk rupa itu.


"Aawwwssshhh!" ringis Arini terjatuh. Rama langsung mundur dan menghampiri Arini yang kesakitan.


"Kenapa?" tanya Rama.


"Aku lelah, Rama. Kakiku sakit karena terus berlari." ucap Arini meringis.


"Arini, kita tidak boleh lelah sebelum keluar dari ini, Rama, gendong saja Arini." ujar Serly, Arini menggeleng.


"Tidak, Rama juga pasti lelah, kalian pergi saja, tinggalkan aku di sini!"


"Kau gila! dari pada meninggalkan mu, aku lebih baik ikut duduk di sini bersamamu hingga ajal menjemput ku!" seru Rama, ia langsung duduk di dekat Arini. Serly yang tidak bisa apa-apa di tambah takut, ia tidak berani melangkah dan duduk di sebelah Arini.


"Aku juga tidak mau kemana-mana, setelah Arini sembuh baru kita cari jalan keluarnya." ujar Serly, ia sedikit memijat kakinya yang memang sangat lelah.


"Arrrrghhhh!!!" teriakan terdengar di teling mereka bertiga, Rama dan Serly langsung berdiri, mereka berdua saling menatap merasa kenal dengan suara jeritan itu.


"Itu Jeny dan Reni!" kata Serly dengan bingung.


"Aku rasa itu mereka, kalian duduk di sini, aku akan mencari mereka dan ke sini lagi." ujar Rama dengan mendudukkan Serly kembali.

__ADS_1


Dengan patuh Serly mengangguk, Rama mulai berjalan meninggalkan mereka berdua, ia mencari asal suara teriakan itu lagi.


Dengan senter di tangan Rama, ia sedikit hati-hati takut jika ada sesuatu yang dia injak.


"Aarrrghhhh!!!!" Reni dan Jeny semakin histeris, BRUK! mereka menabrak sesuatu dan berteriak kembali.


"AAAARRRGHHHHH! HANTU! HANTU!!!" teriak mereka berdua dengan menutup mata.


Rama langsung menegur mereka berdua untuk berhenti berteriak, "Berhenti!!!"


"Ada apa dengan kalian berdua! kenapa berteriak?!" Tanya Rama marah.


PLAK BUGH BUGH! Reni dan Jeny memukul Rama dengan intens.


"Ku pikir kau hantu kak! aku menabrak sesuatu! ternyata kau?" ujar Jeny terlihat kesal.


"Dan aku hampir tuli karena suara kalian yang terus berteriak!" balas Rama, mereka berdua langsung ciut dan tidak berbicara lagi.


"Sudahlah! dimana yang lainnya?" tanya Rama , Reni langsung menangis sedih, teringat dimana Ketut di tarik oleh hantu wanita itu.


"Ketut sudah tiada! dia di bunuh oleh hantu itu!" jawab Reni.


"Dan, Jen? dimana Jen? Jeny, dimana jen?!" tanya Rama pada Jeny.


"Kami berpisah kak, aku tidak tahu dimana kak Jen, aku harap kak Jen masih hidup, aku akan membunuh hantu si buruk rupa itu jika aku bertemu dengannya!" kata Jeny dengan marah.


"Sudahlah, lebih baik kita bersatu lagi, jangan sampai berpisah kembali!" kata Rama mengingatkan lagi. Mereka berdua saling mengangguk mengerti.


Mereka bertiga berjalan ke tempat dimana Serly dan Arini berada, namun lagi-lagi mereka terpisah, Rama sampai stres karena kehilangan Arini.


"Arini! dimana kau?!" teriak Rama dengan kencang, ia berharap Arini dan Serly bisa mendengar suaranya.


"Sebenarnya berapa luas hutan ini? kenapa kita mencari jalan tidak selesai-selesai?" tanya Jeny dengan menangis, ia merindukan kakaknya yang entah dimana sekarang.


Arini dan Serly berjalan pelan, mereka mencari Rama karena mendengar suara teriakan Rama yang histeris, dan akhirnya mereka memilih untuk mencari Rama berdua.


Sosok hantu lewat, membuat bulu kuduk mereka berdua menegang, mereka berbalik untuk melihat sosok tadi.

__ADS_1


Slettttttt hantu itu terus lewat dan hilang, Serly dan Arini meneguk salivanya dengan susah payah, keringat telah bercucuran sekarang.


"Siapa itu?!" tanya Arini, tangannya terus memegang Serly yang memang ketakutan juga, "A-arini, aku sangat takut! siapa itu?" tanya Serly semakin erat memeluk Arini.


"Aku tidak tahu, sepertinya hantu itu ingin bermain-main!"


Hantu itu lewat lagi, Arini dan Serly dengan cepat berbalik seolah ingin menangkap hantu itu, kini hantu itu berada di belakang mereka berdua dengan lidah yang menjulur.


Dengan hati-hati, Arini dan Serly berbalik, degup jantungnya begitu kencang, baik Arini ataupun Serly.


"HAHH!!!" hantu itu menakuti mereka berdua.


"Aarrrrghhhhh!!!" teriak mereka dengan berlari, "Tolong!!! Rama!!" teriak mereka berlari kencang.


Tawa hantu itu terus terdengar di telinga mereka berdua sehingga membuat Arini yang kesakitan menjadi kuat kembali, Serly terjatuh akibat tersandung, Arini berbalik dan membantu Serly untuk bangun.


Serly tersentak kaget saat melihat seseorang di bawah kakinya.


"A-arini... J-jen!" Serly terbata-bata akibat rasa syok nya melihat mayat Jen tergeletak.


Arini menutup mulutnya sebab kaget, ia langsung mual melihat darah Jen.


"A-ayok! lebih baik kita pergi saja!" ajak Arini dengan menggandeng tangan Serly, kaki Serly seakan lemas namun ia berusaha semaksimal mungkin agar bisa berlari.


Disaat sudah agak jauh, mereka langsung berteriak dengan berlari lebih kencang, terlebih Arini yang semakin gencar berlari sehingga Serly pun sedikit lemot.


Mereka berdua berhenti setelah lelah, Arini sedih melihat mayat Jen tergeletak, itu artinya Jen telah meninggal, memikirkan hal itu membuat dirinya khawatir pada Rama yang sekarang malah berpisah dengannya.


"Hiks! hiks! dimana Rama sekarang? aku khawatir terjadi sesuatu padanya!" Arini menangis sedih, Serly menepuk punggung sahabatnya untuk menenangkan Arini.


"Kamu nggak usah khawatir, Rin. Mereka pasti baik-baik aja sekarang."


"Gimana aku nggak khawatir?! sekarang saja kita nggak tahu dimana Reny dan Jeny!" sergah Arini.


"Udah, mending kita jalan lagi aja, yuk. Gue takut di sini." Arini menghapus air matanya dan mengiyakan ucapan Serly untuk melanjutkan perjalanan mencari jalan keluar.


"Arini, di sana ada rumah." tunjuk Serly pada rumah gubuk itu. Arini melihat rumah itu dan bibirnya tertarik keatas.

__ADS_1


"Untuk sementara ini, kita tidur di sana saja ya?" Serly menatap serius wajah Arini.


"Loh yakin?" tanya Serly menganggap ucapan Arini hanya candaan. Dengan yakin Arini mengangguk.


__ADS_2