
“Hei bengong aja lo! ayam tetangga gue aja mati kesambet gara-gara bengong” ucap Rania melihat sahabat yang terkadang musuhnya melamun.
“Gue lagi bingung ran, gue dijodohin sama orang yang gak gue suka dia bukan tipe gue banget.” jawab Raka
“Ya tinggal lo tolak apa susahnya.” ucap Rania
“Ya gak bisa lah Rania, gue dipaksa nikah sama dia.. kalo enggak nyokap gue pasti sakit-sakitan.” jawab Raka
“Iya juga sih, yaudah tinggal lo jalanin aja.” saran Rania
“Lo enak tinggal ngomong doang yang ngejalaninnya kan gue.” ucap Raka
“Tau ah gue bingung sama masalah lo ka, mending gue makan bakso biar perut gue kenyang. Lo mau ikut gak makan bakso?” tanya Rania
“Enggak deh lo aja, gue pulang dulu ya.” ucap Raka
“Yaudah sana” jawab Rania
***
Seminggu kemudian tepat di hari H pernikahan Raka, baru diketahui bahwa Fera Grisella mempelai pengantin wanita ternyata sedang hamil.
“Oek.. Oek.. ” Fera yang sudah siap dengan baju pengantin serta riasan nya yang sudah rapi berlari menuju wastafel dan memuntahkan cairan bening. Fanisya Azzahra adik dari Arka yang berada di ruang rias menemani Fera pun kebingungan, segera ia menemui Kakak sepupunya yang seorang dokter untuk mengecek keadaan Calon Kakak Iparnya.
“Kak Nina... ” teriak fani yang berlari menuju Nina Hendriyani seorang dokter, usia nina 27 tahun sudah berkeluarga ibu satu anak.
“Ada apa kamu teriak-teriak fani?” tanya Nina yang sedang berbincang dengan teman nya.
“Kak ayo ikut aku sebentar.” ucap Fani
“Aku ikut fani sebentar ya kin.” ucap Nina pada temannya yang bernama Kinar
“Iya” jawab Kinar
Nina pun berlari mengikuti Fani menuju kamar rias Fera.
“Oek.. oek... ” Fera masih memuntahkan cairannya
__ADS_1
“Kayaknya kak Fera sakit kak” ucap Fani pada Nina
“Fani kamu keluar sebentar.” perintah Nina pada fani, ingin mengecek keadaan Fera yang seperti orang hamil.
Nina pun mengecek keadaan Fera dengan alat seadanya yang dibawanya di tas, ternyata hasilnya Fera positif hamil.
“Fera jawab ini maksudnya apa? kamu hamil?!” geram Nina pada Fera karena telah merasa dibohongi.
“T-tidak kak.” jawab Fera terbata karena kebohongannya terbongkar
“Sini kamu ikut saya” ucap Nina sambil menarik pergelangan tangan Fera keluar dari toilet menuju kamar dan memanggil orang tua Arka.
“Fani tolong panggilkan ayah dan mama kamu!” perintah Nina pada Fani
“Diam kamu disini!” ucap Nina geram pada Fera, Fera tidak mampu berkata-kata.
“Ada apa Nin?” tanya Pak Andi ayah dari Arkana Pramudya dan Fanisya Azzahra.
“Om dan Tante sudah dibohongin sama Fera, dia ternyata sudah hamil. Pantas saja dia minta dinikahkan dengan Arka secepatnya.” ucap Nina, semua kaget tidak percaya dengan penuturan Nina.
“Benar itu fera? tante gak nyangka kamu bohongin tante!” ucap dingin Sinta mama nya Arka, Fera yang hanya diam membisu tak mampu berucap merasa malu karena rencana nya untuk membohongi keluarga Arka terbongkar.
“Iya om setuju tapi pesta nya sudah terlanjur digelar para tamu dan keluarga sudah pada datang tinggal menunggu mempelai, gimana ini nin?” jawab Pak Andi gelisah serba salah mau dilanjutkan atau tidak.
“Kita ganti saja mempelai wanita nya, bilang saja ada kekeliruan dalam menulis undangan nama mempelainya. Gimana kalian setuju gak?” saran Nina
“Iya, Tante setuju tapi sama siapa yang akan menggantikan nya?” tanya Sinta pusing dengan pernikahan ini
“Rania, cuman dia gadis yang paling dekat dengan Raka, lagipula mereka juga sudah saling mengenal lama” saran Nina
“Aku setuju kak, aku juga nyaman dan suka sama kak rania dia orangnya asik!” ucap Fani senang kalau kakak iparnya adalah Rania
“Iya tante setuju rania saja yang akan menjadi mempelai wanitanya, tante sudah kenal lama rania!” ucap Sinta
“Om setuju!” ucap pak andi
“Oke kalau semua udah pada setuju kita tinggal bicara dengan Rania nya.” ucap Nina
__ADS_1
“Iya biar om saja yang bicara, kebetulan dia ada di depan.” ucap Pak andi, pergi keluar menuju tempat Rania duduk.
“Permisi pak Arman dan bu rinda bisa kita bicara sebentar?” tanya pak andi berbisik saat sudah sampai di meja tempat duduk rania dan keluarganya.
“Iya boleh pak andi” jawab Pak Arman
“Ikut saya sama rania juga ikut ya!” ucap Pak Andi berjalan lebih dulu menuju kamar rias mempelai pengantin wanita.
Saat pintu kamar rias terbuka membuat Rania bingung apa yang sebenarnya terjadi disini.
“Maaf nih om, tan, kalau rania lancang sebenarnya apa yang terjadi ya?” tanya rania bingung karena melihat Fera yang menangis, dan wajah-wajah penuh amarah Keluarga Raka.
“Maaf nih ibu bapak rania sebelumnya saya meminta izin pada ibu bapak untuk melamar rania menjadi pengantin nya Raka.” ucap pak andi meminta izin pada kedua orang tua rania
“Tapi apa yang sebenarnya terjadi pak Andi? mengapa rania tiba-tiba yang akan menjadi mempelai wanitanya Raka?” tanya Pak Arman karena lamaran itu dadakan
“Maaf Pak Arman sebelumnya, Fera ternyata wanita licik, ia hamil diluar nikah dengan pria lain dan meminta Raka menikahi secepatnya. Saya sekeluarga tidak setuju jika Raka menikah dengan Fera.” jelas Pak Andi pada Rania dan orang tua nya
“Saya gimana sama Rania aja, lagipula Rania juga sudah dewasa dan masih belum punya pasangan.” ucap Pak Arman
“Iya saya sama seperti suami saya saja, terserah pada rania.” ucap Bu Rinda
“Terima kasih Pak Arman dan bu Rinda sudah memberi restu.” ucap Bu Sinta senang
“Kamu mau ya jadi pengantinnya Raka? om mohon banget sama kamu.” ucap Pak Andi pada Rania
“Maaf nih om sebelumnya, tapi kan masih banyak teman perempuan Raka yang masih single” ucap Rania penuh hati-hati takut menyinggung
“Hanya kamu yang dekat dengan Raka dan kami semua senang kalau kamu yang akan menjadi pasangannya Raka.” ucap Pak Andi
Rania bingung harus menjawab apa dia tidak ingin menikah dengan Raka, tapi disisi lain ia kasihan pada keluarga nya Raka jika harus menanggung malu. Melihat ibunya Raka yang sudah tidak lagi muda dan sering sakit-sakitan dengan terpaksa Rania menerima lamaran tersebut.
“Rania Terima lamarannya” ucap Rania, semua pun senang.
“Terima kasih ya rania kamu sudah mau menjadi calon istrinya Arka.” ucap Bu Rinda dan Pak Andi
“Iya sama-sama tan” jawab rania
__ADS_1
“Oke kalo gitu kamu akan dirias dulu waktunya juga udah mepet banget nih” ucap Nina pada Rania. Nina pun lalu membawa Fera pergi dari ruang tersebut, entah dibawa kemana.
~ Bersambung ~