I Married My Bestfriend

I Married My Bestfriend
Bab 8. Es Krim


__ADS_3

Mereka berdua menikmati malam yang indah bersama dengan bintang-bintang yang bersinar di langit serta pemandangan alam yang membuat siapa pun akan jatuh hati.


“Pulang yuk, udah ngantuk” ajak Rania dengan mata sayu menahan kantuk.


“Yuk, ngantuk banget ya?” ucap Raka yang melihat rania menguap dengan mata sayu.


“Iya, ayo” jawab Rania.


Mereka pulang menaiki taksi, diperjalanan Rania tertidur di pundak Raka.


Sekitar 20 menit mereka sampai dihotel tempat mereka menginap, Rania yang memang sedang tertidur pulas tidak menyadari mereka sudah sampai.


Raka yang ingin membangunkan rania tidak tega melihat rania yang terlelap dalam tidurnya karena kelelahan seharian mereka jalan-jalan. Raka akhirnya membopong tubuh rania ke dalam hotel.


“Cape banget kayaknya” gumam raka ketika sudah menidurkan Rania diranjang hotel.


“Good Night, istriku” ucap raka, lalu mencium dahi Rania.


Raka yang sudah lelah ikut berbaring juga di ranjang samping rania, selang beberapa menit Raka ikut terbuai ke alam mimpi.


***


Pagi hari tiba, pukul 7 mereka sedang bersarapan di restoran yang berada di dalam hotel tersebut.


“Silahkan dinikmati!” ucap ramah seorang pelayan restoran tersebut.


“Raka kita pulangnya kapan?” tanya rania di sela-sela makan.


“Kamu mau nya kapan?” tanya balik raka.


“ih kok malah balik tanya sih, aku kan nanya kamu!” ucap Rania yang mulai kesal.


“Terserah kamu mau pulangnya kapan, aku ikut aja” ucap raka.


“Kalau besok pulangnya mau gak?” tanya rania.


“Emang kenapa? kamu gak suka sama disini ya?” tanya raka tanpa menjawab pertanyaan rania.


“Bukan gitu.. aku suka, suka banget malah.. tapi aku kangen sama Ayah Bunda aku..” jawab rania yang mulai rindu dengan orang tuanya.


“Oh gitu, yaudah besok kita pulang dan nginep dirumah kamu!” ucap raka yang mengerti perasaan rania.


“Beneran?” tanya rania.

__ADS_1


“Iya” jawab raka


“Yey, makasih ya ka..” ucap rania senang sambil memeluk raka yang berada disampingnya.


Selesai berbincang mereka berdua langsung memakan makanannya dengan lahap, dan mereka pergi jalan-jalan ke beberapa tempat indah yang ada di bali.


♥︎♥︎♥︎


‘Meeting you was fate, becoming your friend was choice, but falling in love with you was completely out of my control.


Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihan, tapi jatuh cinta denganmu benar-benar di luar dayaku.’ gumam Raka dalam hati, fokusnya hanya pada rania.


Raka sedang memperhatikan rania yang memakan Es Krim dengan blepotan seperti saat mereka masih kecil dulu, rania memang tidak berubah sedikitpun, hanya saja sekarang lebih cantik. Entah sejak kapan ia mulai ada perasaan pada rania, ia sendiri pun tak tahu, tapi yang pasti ini lebih dari sekedar cinta.


“Blepotan banget makannya” ucap Raka tanpa sadar ia pun mengusap sudut bibir rania yang blepotan dengan es krim.


Rania terdiam akan sikap raka untuk kedua kalinya ia mengelap bibirnya yang blepotan dengan es krim, rania mengingat waktu mereka masih SMP kelas 9 saat mereka sedang mengerjakan tugas kelompok berdua.


Flasback


Dirumah yang asri dengan bermacam jenis bunga di halaman depannya membuat mata sejuk memandangnya penuh ketenangan, tetapi tidak dengan didalamnya.


“Bantuin dong, kan tugas kelompok!” geram Raka pada rania yang memakan cemilan sambil melihatnya mengerjakan tugas sendirian tanpa membantu.


“Bantuin apa? lo dari tadi cuma makan sama ngeliatin gue doang!” jawab Raka geram


“Bantuin doa lah, lo kan pinter sedangkan gue enggak, jadi daripada ngeribetin mending lo aja yang ngerjain, iya gak?” jawab rania dengan santai.


Raka yang mulai lelah mengerjakan tugas prakarya membuat bangunan dari stik menghentikan kegiatannya dan menatap rania geram, sedang yang ditatap masih memakan keripik dengan santai tanpa peduli tatapan marah darinya itu.


“Ih kok diambil” kesal rania pada raka yang merebut keripik nya dan memakan semuanya hingga habis tak tersisa.


“Biarin, habisnya lo santai banget ngeliat gue sambil makan keripik gak bantuin apa-apa” kesal raka mengeluarkan uneg-uneg nya.


Rania yang kesal melempar bantal sofa ke raka, sedangkan raka menghindari bantal yang melayang kearahnya.


“Ble, gak kena!” ujar raka menjulurkan lidahnya sambil menggoyangkan badan tidak jelas.


“Awas lo ya!” rania mengejar raka, merekapun bermain kejar-kejaran tak tahu tempat, hingga suara seorang wanita menghentikan aksi mereka.


“Astagfirullahalazim!” ucap mama Sinta yang membawa nampan berisi kue untuk diberikan pada raka dan rania ketika sedang mengerjakan tugas kelompoknya tetapi terkejut karena ruang keluarga tempat mereka bekerja kelompok berantakan dan riuh dengan suara teriakan dari mereka berdua.


Raka dan rania yang sedang berlari pun berhenti mendengar suara dari mama Sinta ibunda Raka.

__ADS_1


“Kalian ini seperti anak kecil saja, rapih kan yang sudah kalian berantakan!” ucap mama Sinta kesal karena ruang keluarga yang tadinya rapih kini berantakan seperti kapal pecah.


“Iya ma” ucap raka tertunduk.


“Ini kue, buat nemenin kalian belajar, awas ya kalau belum di rapihin!” ucap mama Sinta menaruh kue di meja dan meninggalkan ruang keluarga.


“Elo si!” ucap rania kesal pada raka.


“Kok gue? elo juga si!” ucap raka kesal sambil merapihkan bantal-bantal yang berantakan.


Mereka merapihkan semua yang sudah berantakan dengan mulut yang masih adu argumen sampai semuanya selesai.


Ting.. suara lonceng tukang es krim yang setiap hari lewat didepan rumah raka menggunakan sepedanya.


“Es krim, es krim..” suara dari tukang es krim langganan Rania.


Rania yang sedang duduk disofa mendengar suara dari kang es krim langganannya langsung keluar.


“Bang, tunggu!” ucap Rania langsung saja berlari mengejar tukang es krim yang sudah menjauh dari rumah raka.


“Eh iya neng” ucap tukang es krim yang bernama Ali menghentikan laju sepedanya.


“Kenapa gak nungguin saya dulu sih kang!” oceh Rania


“Saya kan gak tau neng ada di dalem, kok eneng gak pake sendal?” tanya kang Ali yang berasal dari Sunda.


“Hehe, saya lupa pake sendal” jawab Rania cengengesan.


“Yaudah kang, saya pesen es krim yang biasa!” pesan Rania pada kang ali.


“Siap neng!” jawab kang Ali mengacungkan ibu jarinya, dan meracik es krim yang dipesan Rania.


“Oke!” ucap Rania.


“Nih neng es nya!” ucap kang Ali memberikan es krim berbentuk kerucut paling besar dengan rasa strawberry dan vanila.


“Oke, makasih ya kang” ucap Rania memberikan uang es krim nya pada kang Ali.


“Oke!” jawab kang Ali yang sudah melajukan sepedanya.


“Biarin aja lo gak gue beliin” gerutu rania yang mengemut es krimnya.


~ Bersambung ~

__ADS_1


Maaf ya semua typo atau cerita nya masih berantakan banget terus update nya gak teratur, ini cerita pertama aku.. maaf ya nanti kalau udah tamat aku coba revisi lagi.. 🙏


__ADS_2