
***
“Kalian gak pada bulan madu?” tanya Bu Sinta saat mereka sedang bersantai di taman belakang
Raka dan Rania saling pandang seraya berbicara tanpa mengucapkan lewat mulut, lalu raka pun menjawab ucapan mama nya.
“Gak tau mah” jawab raka, ia bingung harus menjawab apa
“Kok gak tau sih, kalian kan pengantin baru..” ucap Bu Sinta membuat mereka bergidik ngeri membayangkannya
“Hhe, nanti aja mah” jawab raka, rania hanya tersenyum menanggapi.
“Kalau bulan madu kan kalian bisa bebas ngapain aja!” ucap Bu Sinta membuat pikiran raka berkelana jauh, dan membuat rania selalu berhati-hati
“Iya tuh bener, lebih baik kalian bulan madu! Kebetulan juga papa ada tiket ke Bali untuk dua orang, ini buat kalian sebagai hadiah pernikahan!” ucap pak andi yang baru saja datang langsung ikut menanggapi obrolan mereka, lalu memberikan tiket liburan ke Bali pada raka dan rania
“Jangan lupa pulang dari bulan madu kalian harus punya kabar bahagia untuk kita!” ucap pak andi seraya tersenyum penuh arti
Sedangkan raka dan rania hanya bisa bergumam dalam hati, tetapi mereka tetap meng‘iya’kan ucapan orang tuanya.
“Iya pah” ucap raka dan rania bersamaan
“Yaudah mah yuk kita ke dalam aja, gak enak ganggu yang lagi berduaan” ajak pak andi pada Bu sinta
“Mama sama papa tinggal ya, kalian lanjut lagi aja mesraannya” ucap mama Sinta menggoda anaknya, pak andi dan Bu Sinta pun berlalu pergi, kini tinggal raka dan rania berdua.
Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing, sebelum akhirnya raka membuka suara.
“Eh lu jangan ge'er dulu ya, gue nerima ini biar kita gak diganggu terus sama nyokap bokap gue!” ucap raka membuyarkan lamunan rania
“Tapi nanti disana gue mau kamar gue sendiri, titik!” jawab rania tidak mau dibantah
“Iya kita sendiri-sendiri!” ucap raka
***
Esok harinya raka dan rania sudah siap untuk berangkat ke bali
“Mah, pah kita berangkat ya..” ucap raka sambil menyalami tangan Bu Sinta dan pak andi bergantian diikuti dengan rania
“Iya, kalian hati-hati ya dijalan.. Jangan lupa buatkan cucu untuk kita!” ucap pak andi
“Mobilnya udah disiapin sama mang ujang, kita berangkat dulu ya mah pah nanti takut ketinggalan pesawat” pamit raka tanpa menjawab ucapan papa nya
“Iya hati-hati” jawab pak andi
__ADS_1
Raka dan rania pun menaiki mobil yang dikemudikan oleh supir pribadi keluarga raka yaitu mang ujang untuk mengantarnya ke bandara. Mobil pun melaju menyisakan pasangan yang tak lagi muda berdiri diteras rumah.
“Gak nyangka ya pah raka bakal nikah sama rania, mereka itu sahabatan dari masih sekolah dasar” ucap bu Sinta
“Iya, rasanya baru kemarin melihat mereka rebutan permen lollipop, haha” jawab pak andi dengan tawa mengingat masa kecil raka dan rania dulu.
Disisi lain 45 menit perjalanan, kini mereka sudah sampai di bandara.
“Ini den koper-koper nya” ucap mang ujang menyerahkan dua koper berukuran sedang pada raka
“Iya mang, makasih ya..” ucap raka
“Iya den, mang ujang pulang ya” pamit mang ujang
“Iya mang” ucap raka, mang ujang pun pergi melajukan mobilnya.
Skip aja ya, langsung di pesawatnya..
“Ran, habis pulang dari liburan kita pindah ya, gue udah punya rumah sendiri” ucap raka pada rania saat dipesawat
“Lo punya rumah sendiri? kapan belinya? kok gue gak tau ya, lo gak ngasih tau gue?” cecar rania dengan banyak pertanyaan
“Berisik lu, yang penting kan gue udah punya rumah sendiri. Jadi kita bisa bebas mau gimana aja” jawab raka membuat pikiran rania traveling
“Maksud lo bebas gimana?” tanya rania, raka yang mengerti maksudnya berniat ingin menggoda rania.
“Mau ngapain gak lo?!” tanya rania panik ketika raka mendekat ke arah wajahnya
“Hahaha... pipi lo kayak kepiting rebus” ucap raka dengan tertawa karena berhasil mengerjai rania
“Lo ngerjain gue!” ucap rania emosi karena berhasil dikerjai oleh raka, rania memukul-mukul lengan raka.
“Udah udah rania.. Gue tau apa yang lo pikirin, pasti lo lagi mikir aneh-aneh kan?” ucap raka disertai tawanya
“Enggak!” jawab rania
“Bohong!” ucap raka, sambil menggoda rania
“Enggak!” jawab rania menekankan kata ‘enggak’
“Gue gak percaya, buktinya muka lo merah tuh.. hahaha...” ucap raka disertai tawanya, mereka yang sedang berada di pesawat kini menjadi pusat perhatian.
“Maaf Pak Bu didalam pesawat dilarang berisik!” ucap pramugari dengan sopan
“Iya mba maaf” jawab raka
__ADS_1
“Tuh kan gara-gara elu si!” ucap rania
“Kok gue? kan elu juga!” ucap raka
“Siapa duluan yang ganggu gue?!” jawab rania masih dalam mode marah.
“Ciye.. ngambek... ” ledek raka, rania yang malas menanggapi pura-pura tidur.
“Lo pura-pura tidur ya?” ucap raka
“Ran... ” panggil raka
“Diem, gue ngantuk!” jawab rania, bersandar di kursi pesawat
Raka yang memang sedang lelah pun ikut tertidur di pesawat seperti rania, mereka terlelap hingga pesawat hampir sampai.
Raka yang terbangun duluan memperhatikan wajah rania dengan seksama.
‘Lo itu sebenernya cantik ran.. tapi sayang galak banget kalo sama cowok, gue tau cuma gue yang paling deket sama lo.. lo gak pernah ngijinin cowok masuk ke hidup lo, lo paling benci sama cowok playboy.. gue cowok satu-satunya yang jadi teman lo bahkan lebih dari sekedar teman.. sekarang, gue gak nyangka lo bisa jadi istri gue.. gue pikir kalau pun bener-bener dipaksa lo gak akan mau nikah sama gue, secara kita kan sering banget berantem terus baikkan lagi, gitu aja terus berulang-ulang.. Aneh juga ya..” gumam Raka dalam hati sambil membelai pelan rambut rania dan memperhatikan wajah terlelap rania yang sedang tertidur tanpa disadari ia tersenyum.
Rania yang terusik dalam tidurnya terbangun dan membuat raka salah tingkah.
“Hhmm.. udah sampai ya..” gumam rania sambil menguap.
“B-belum kok” jawab raka sedikit tergagap bicaranya.
“Oh..” ucap rania
‘Bagus dia gak tau’ ucap raka dalam hati
Pesawat yang mereka tumpangi kini sudah mendarat di bandara ngurah rai di bali.
“Kita langsung ke hotel aja ya..” ucap raka
“Iya, lagian cape gue mau istirahat dulu” jawab rania
Mereka menaiki taksi untuk menuju hotel terbaik di bali.
“Bagus hotelnya!” gumam rania tapi masih bisa didengar oleh raka
“Iyalah gue yang pilih!” ucap raka menyombongkan diri
“Milih doang bukan lo yang punya, blee” jawab rania sambil menjulurkan lidahnya.
“Mau gue tarik lidah lu?” ucap raka melihat rania menjulurkan lidahnya
__ADS_1
“Bodo!” jawab rania, ia berjalan lebih dulu ke dalam hotel
~ Bersambung ~