Im'S Life Journey

Im'S Life Journey
Part-1


__ADS_3

PINTU apartemen ku buka dengan keras, membuat seroang gadis yang ada dalam ruangan tersebut terlonjat kaget belum lagi di dukung oleh pakaian ku yang serbah hitam sedana dengan warna topi yang ku kenakan dan masker yang menutupi sebagian wajah ku. Belum sempat ku langkahkan tungkai memasuki ruangan tersebut aku di sambut dengan bruntunan pertanyaan dari gadis yang masih setia mengenggam handphonenya.


"Lo dari mana aja, sih? Kenapa telpon gak di angkat? Tau nggak, semua orang di lokasi syuting tadi pada nyariin lo." ujarnya memberi wejangan, sambil menunggunya selasai bicara aku melongos melewatinya begitu saja lalu berlajan terus menuju dapur membuka kulkas dan mengambil satu minuman kalengan lalu menenguknya hingga tandas, percaya lah aku benar-benar haus.


"Lain kali, kalau ada perlu gitu gak usah kabur-kaburan biar gak pusing carinya, 'kan heran aja orang pada nanyaain lo ke gue terus gue gak tau apa-apa percuma dong gue jadi menagar lo. Dan lagi gue harus pura-pura bohong ke sutradara tadi, belum lag—".


"KIM!" teriak ku membentaknya memotong ocehan gadis tersebut, kali ini aku benar-benar malas mendengar ocehannya walaupun memang aku yang salah dan dia yang akan menanggung kesalahanku.


Kim atau lebih tepatnya Kimberly menghela nafas gusarnya terdiam sebentar memandangku. Mungkin ia tersentak kala aku membentaknya. Maaf ya, tapi aku benar-benar capek. Ku ambil lagi minuman kaleng serta keripik kentang itu dari dalam kulkas membawanya ke ruang tengah.


"Grim! udah berapa kali sih gue ingetin, minuman bersoda itu nggak baik buat tubuh lo. Lo sebagai model harus jaga pola makan nggak boleh minum sebarangan apalagi itu soda, mau obesitas?" ucap Kimberly kembali mengoceh, ku pikir ia akan diam setelah ku bentak. Aku memutar bola mataku malas ucapannya barusan sangat berlebihan "Minum sekali nggak bakal gemuk 'kan?" tanya ku padanya.


"Sekali-kali apanya? Lo udah habis dua kaleng!"


Aku menatapnya sejenak lalu berucap " Salah sendiri, tau gue gak boleh minum itu, ngapain lo taro di kulkas?"


Ia mendengus "Yah buat gue lah, nggak liat apa di atas ada oatmeal, yoghurt, Yakult, susu renda lemak, jus kacang hijau, buavita, nggak ada alasan lain 'kan buat lo minum minuman bersoda yang ada di rak bawa." ucapnya penuh kekesalan.


Aku hanya mangut-mangut lalu berucap "Yah udah sih, khilaf aja tadi." usai mengatakan itu Kimberly menghadiahi ku dengan bantal sofa yang di lempar ke wajahku saking kesalnya.


"Alasan aja terus, bisa nggak, sih lo dengar-dengaran? Demi kebaikan lo juga 'kan? Demi kelancaran karier lo juga." ucapnya lagi masih mengoceh. Kali ini aku mengalah membiarkan Kimberly mewejang sesuka hati, sampai bibirnya berbusa. Sungguh aku sangat malas menanggapinya, kepalaku sedari tadi berdenyut tak karuan di tambah ocehannya benar-benar membuat kepala dan telingaku serasa meledak. Tenagaku kali ini sangat tidak cukup untuk beradu argumen dengannya.


Aku berdiri dari dudukku di sofa berjalan mengambil remot dan menyalahakan tv.


*Seperti yang kita ketahui artis yang baru-baru ini namanya melambung, karena berhasil mengeser nama Kendall Jenner di urutan pertama dalam kategori 10 model bayaran termahal di dunia versi vorbes. Di mana bayaran Kendall Jenner  US$ 22.5 juta atau setara dengan Rp 328,5 miliar digeser oleh artis muda pendatang baru bermana Greim Qyota Mauren. Gadis berdarah  indo-korea itu berhasil memecahakan rekor dengan bayaran sebesar US$ 35 juta atau sekitar Rp 498,7 miliar.


Namun baru-baru ini model sekaligus aktris itu dikabarkan mendadak menghilang dari lokasi syutingnya. Jelas menyisakan tanda tanya besar lantaran sampai saat ini belum ada yang tahu ke mana sebenarnya wanita yang kerap disapa Im itu. Bahkan saat ditanyai wartawan, managernya sendiri bungkam tak menjelaskan apapun*.


JLEB


Belum sempat pembawa acara dari salah satu stasiun tv melanjutkan kalimatnya aku langsung mematikan tv lalu menghepaskan remot di atas sofa.


"See?" ucap Kim.


Gadis itu kembali mengoceh mengatakan


"Pokoknya lusa harus adain konferensi pers, biar semua jelas. Cari alasan apa aja yang bisa di terima wartawan." Mendengar itu aku mengeritkan keningku dalam, bukan kah itu tugasnya?


Aku memijit pangkal hidungku, sakit di kepalaku belum saja hilang." Gue punya jadwal apa dua jam ke depan?" tanya ku pada Kim.


Ia mengeleng sebagai jawabannya "Tapi jam lima nanti lo ada pemotretan."


"Batalin, buat schedule baru, hari ini gue malas buat ngapa-ngapain" ucapku lalu berjalan menuju kamar. Meninggalian Kimberly yang terus mengoceh di belakangku.


"Lo gak bisa main batalin pemotretan gitu aja dong! Lo gak mikir dampak apa yang akan berpengaruh sama kelancaran karier lo? Plis deh kalau ada masalah ngomong dong! Gak usah main kabur-kaburan gitu, gue mana tau kalau lo gak ngomong! Emang lo pikir gue dukun yang tau isi hati dan kepala lo." kali ini tanpa melihat wajahnya aku benar, benar, tahu kalau Kimberly marah besar suaranya meninggi satu oktaf di banding biasanya.


Aku membalikkan badanku menatapnya dengan tatapan memelas berharap ia luluh dan membiarkan ku istirahat. "Plis ya kim, kali ini aja."


Gadis yang berdiri di hadapanku mengela nafas. "Lo sebenarnya ada masalah apa lagi, sih?" ucapnya bertanya, dapat aku tangkap dari kalimatnya tersirat rasa khawatir. Aku mengucap syukur akan hal itu.

__ADS_1


Aku melepaskan topi yang sedari tadi ku kenakan tanpa berbicara lagi Kimberly sudah pasti tahu alasanku untuk membatalkan pemotretan itu.


"Nggak mungkin 'kan gue pemotretan dalam keadaan gini?" tanyaku sambil menunjuk keningku yang memar dengan kekehan kecil.


"Lo ya!" dengan kesal Kimberly menjitak jidatku yang membar, lalu berjalan menuju lemari mengambil kotak P3K.


"Obatin sendiri." ucapnya menyodorkan kotak P3K itu lalu kembali menuju dapur mengambil semangkuk es tak lupa handuk kecil yang entah darimana ia dapatkan.


Kalau di lihat-lihat, Kim ini menagar yang bisa menjelma sebagai apa saja. Ibu? Bisa, sebagai sahabat juga bisa. Lihat saja 'kan? Sekarang naluri keibuannya keluar.


"Itu jidat lo kenapa bisa gitu? Gak mungkin 'kan bisa memar sendiri." ucapnya berusaha mengorok informasi dariku.


"Gue habis dari rumah Ayah." ucapku pelan.


"Lo ngapain lagi, sih? Oke. Gak pa-pa kalau lo balik tanpa memar gue izinin 'kok ku temanin malah, tapi tiap kali lo kesana pasti baliknya gini. Gak pipi lo yang memar, jidat lo yang memar. Kayanya apa yang gue pikirin selama ini harus gue terapin. Lo harus di kawal bodyguard." ucapnya terus mengoceh berjalan mondar-mandir di depan ku bak strika.


"Lo. Jangan coba-coba, udah sana lo balik gue pengen istirahat." ucap mengusirnya.


"Iya, iya. Awas aja lo kelayapan! Kalau butuh apa-apa tinggal teriak aja. Gak usah sok-sok nelpon gue." ucapnya lalu keluar dari apertermenku.


Ya, dari percakapan di atas dapat kalian simpulkan sendiri, aku dan Kimberly adalah tetangga apartemen namun aktivitasnya lebih banyak di gunakan di apartemen ku. Walaupun apartemennya terletak tepat di depan apartemenku namun ia akan sekali-kali kesana, seperti sekarang.


Aku kembali teringat kejadian beberpa jam yang lalu, saat aku mendatangi kediaman Ayahku berniat menjenguknya karena dua minggu terakhir ini aku sama sekali tidak menengoknya.


"Yah..." panggilku saat memasuki rumah bak istana ini.


Yang sialnya membawaku pada kejadian beberapa tahun yang lalu, pria dengan jas hitam yang ku panggil Ayah menghentikan aktivitasnya lalu memandang sinis ke arahku. Sorot matanya menhunus ingin membunuhku, dulu tidak ada tatapan seperti itu. Dulu hanya ada tatapan hangat yang di berikan Ayah.


Aku memejamkan mataku menetralkan degupan jantungku serta rasa sesak kala menyadari seorang wanita yang sedang mengantung di tangan Ayahku seperti layaknya moyet mengantung di pohon.


"Yah, kalau im kesini. Bisa tidak Ayah berhenti melakukan hal yang tidak-tidak" pintaku memelas pada Ayah.


Ayah mengerutkan keningnya dalam menatapku sambil tersenyum jahat. "Emangnya kenapa? Rumah-rumah saya 'kan."


Aku kembali memajamkan mataku menahan emosi yang sudah berada di ubun-ubunku "Tapi tidak di depan Greim 'kan, yah?"


"Saya 'kan pernah bilang, hubungi saya jika anda ingin berkunjung." ucap Ayah dengan wajah datar.


"Ayah masih anggap Greim anak? Masih ingat punya istri?" ucapku pelan, entah dapat keberanian dari mana aku mengatakan hal tersebut.


"Tau apa kamu tentang hidup saya? Kamu dan Ibumu itu diam saja! Selama saya masih menafkahi kamu. Itu sudah cukup."


Aku memutar malas bola mataku. "Kalau soal menafkahi tanpa uang dari Ayah aku masih bisa bertahan dengan reputasi ku yang sekarang, Ibu juga. Tapi bukan uang yang im mau yah." ucapku lantang.


"Sombong sekali ya, anak mu ini mas." ujar wanita  yang kini memakai dres mini dengan belahan rendah berwarna merah darah. penampilan yang sangat totalitas untuk sorang penggoda.


Aku kembali memandang sinis kemudian mendelik, mengerutkan keningku dengan sengaja. Menelisik penampilan wanita di hadapanku sangat jauh berbeda dari ibunku. Mungkin Ayahku ini sudah gila memilih perempuan setan berwujud manusia itu.


"Selerah Ayah turun ya, dari Ibu ke *****, jauh banget." ujarku tersenyum remah.

__ADS_1


"Jaga ucapan kamu anak sialan!"


Mendengar bentakkan Ayah membuat hati ku mencolos, sakit rasanya namun aku tahan. Tak mau memperlihatkan raut kesedihan di wajahku, Aku menunduk sebetar berusaha menahan cairan bening yang mendesak keluar dari pelupuk matanku. Tidak, tidak, tidak sekarang aku menangis hal itu akan membuatku telihat sangat menyedihkan di depan wanita ****** itu.


Aku kembali mengangkat kepalaku lalu berucap "Emang ada yang salah dari ucapan Greim, benar 'kan dia perempuan ******." ucapku dengan smirk.


BUK!


Hantaman benda keras mendarat mulus di keningku. Aku meringis memegangi keningku sebentar. Rasa pusing tiba-tiba menguasai kepalaku sungguh emosiku seketika memuncak.


Gara-gara wanita ****** ini, asbak rokok yang kerasnya tidak main-main mendarat mulus di keningku sialan memang. Sedari tadi aku menahan diri untuk tidak langsung menjambak rambut piring miliknya.


Namun dorongan dalam diri ku untuk menarik rambut pirang miliknya sungguh mengebuh-gebuh. Entah ini faktor dari wanita ****** yang berada satu ruangan denganku membuat ku panas tak tertahan. Belum lagi bisikan beberapa setan yang tertangkap oleh indra pendengarkan ku dengan iseng. Tampar, tampar, tampar.


PLAK!


Terbukti dengan tamparan keras yang kulayangkan di wajah ***** itu, suatu kebanggan tersendiri bagiku bisa menampar apalagi meninggalkan tanda kemerahan yang nampak jelas bekas tangan ku yang tercetak di pipi bak porselen itu. Membuat ku seketika menyunggingkan senyum kemenangan.


"Apa-apaan kamu ini!" Bentak Ayah ku tak terima kekasih ku tampar habis-habisan.


Aku tidak menghiruakan telingaku ku buat tuli untuk mendengar ancaman Ayah kalau saja aku masih melanjutkan asik menarik rambut berwarna milik wanita ****** itu.


"Ahkkkkk!" Wanita itu meringis, sambil berusaha melepas jambakan di rambutnya. Dan semakin membuat ku justru ingin menariknya lebih keras, kalau perlu sampai ke akar-akarnya.


"Duhh,  ******. Dari tadi tuh gue gemesss tau buat narik rambut lo"


Melihat itu Ayah tak tinggal diam, ia mendorong ku kasar hingga membuat ku jatuh terasungkur dengan keadaan mengenaskan.


"Keluar." Ujar ayah pelan dengan sorot mata tajam.


Aku yang masih dalam posisi terduduk di lantai, menatap ayahnya tak percaya sambil berucap lirih. "Yah ...."


"Keluar Greim. Keluar saya bilang!" Ujar ayah lagi dengan bentakan di akhir kalimat.


Namun Aku sama sekali tak gentar, berusaha mengabaikan hatiku yang terasa diiris-iris karena perlakuan Ayah, aku kemudian berterik tak kalah keras pada pria tersebut. "Yah!"


"Kamu sama ibumu itu sama aja! Sama-sama nyusahin! Pembawa masalah! Entah saya dipelet apa sama ibumu itu sampai bisa nikah sama dia!"


Aku bangkit dari duduku tak terima Ibu di maki seperti itu, "Yang harusnya ngomong gitu aku Yah. Entah Ayah dipelet apa sama ****** ini sampai-sampai milih dia dibanding ibu yang jelas-jelas udah lama sama Ayah!"


"Terserah! Kamu keluar sekarang dan jangan sekali-sekali lagi kamu menginjakkan kaki di sini." ucapnya tak terbantahkan.


Tenang Greim, tenang. Anggap saja Ayah lagi kesurupan jin galak, nanti jin itu bakal keluar sendiri 'kok bersamaan dengan wanita setan yang berada di samping Ayah.


Aku meringis mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Kalau di tanya apakah keadaanku sekarang baik-baik saja? bohong jika Aku mengatakan iya, Akubbaik-baik saja.


Pada kenyataannya hati ku hancur, Aku kembali menangis setelah janji yang ku ucapakan beberapa tahunnya lalu mengatakan aku tidak akan pernah menangis, aku kuat. Tapi sekarang aku tidak sedang baik-baik saja dan Aku cukup tau diri untuk tidak merepotkan Kimberly hanya untuk sekadar mendengar curhatan-curhatanku, karena gadis itu sudah pasti sibuk untuk mempersiapkan schedule baru dan memperbaiki beberapa masalah yang aku timbulkan.


Jadilah kelab saat ini menjadi tujuan yang tepat bagi ku, persetan dengan ucapan Kimberly yang tadi melarangku untuk kelayapan. Sekarang aku benar, benar, butuh tempat itu untuk menyalurkan segala kesedihanku.

__ADS_1


Masih mengunakan pakaian serbah hitam Aku manarik tas selempang yang tadi ku taruh di atas meja, lalu berjalan keluar dari apertermenku.


To be continued.


__ADS_2