
Entah aku bermimpi apa semalam, pagi-pagi begini aku mendapatkan gangguan—bukan gangguan yang—ah kalian pasti tahu. Dering ponselku terus saja bersahutan dengan pintu apartemen yang di ketuk, bukan di ketuk lebih tepatnya ingin di dobrak.
Sumpah demi apapun, Aku benar-benar tidak habis pikir siapa yang bertamu sepagi ini.
Jujur, aku sangat malas hanya sekedar bangun dan melihat siapa pelaku di balik pintu apartemen ku yang sangat tidak tahu sopan santun. Tapi sialnya gedoran tersebut semakin menguat, membuatkan tak sadar menggerutu jengkel.
Dengan kesal ku buka penutup mataku, lalu berjalan dengan langkah lebar menutu pintu. Percayalah hanya udik kampungan yang belum paham fungsi dari tombol putih yang berada tepat di samping pintu, yang di bawanya bertuliskan "Bell"
"What the fucking!". Sambil melepas penutup mata, ku langkahkan kaki ku lebar menuju pintu, ingatkan aku untuk menyiram pelaku yang mengedor pintu apartemenku dengan tidak tahu diri.
"Dasar kampungan! Datang dari mana sih? Nggak tau baca tulis, apa gimana ha?!" percayalah, aku benar-benar emosi.
"Apasih?"— Wah sialanji*ng. Dengan tidak tahu dirinya dia, Kimberly berdiri di depanku memperlihatkan raut wajah yang seolah-olah tidak tahu apa-apa yang mala ingin ku tenggelamkan.
"Ngerti fungsi bel gak sih lo? Guanaain tuh bel nggak usah kesetanan gedor-gedor pintu." ucap ku masih kesal, satu lagi benda yang sedari tadi ingin ku celupkan ke dalam teh hangat guna meredam suara yang ia timbulkan.
Sungguh di luar dugaan, ku pikir yang menelpon ku pagi-pagi begini kalau bukan direksi, atau hal-hal yang menyangkut pekerjaanku ya apa lagi?
"KIMBERLY! Apa-apaan sih." tanya ku tak habis pikir, nama gadis yang ku serukan tadi terus saja menari-nari di atas layar ponselku.
"Siap-siap sana," ujar Kimberly santai.
"Yah Tuhan, siap-siap kemana, ngapain? Ini masih jam"— aku mengahlikan pandanganku melirik jam dinding yang berada di ruang tengah—"Sarap ya lo. jam 06:02"
"Hari ini kita adain konferensi pers, gue udah atur semalam." ucap Kimberly, sebenarnya aku ingin melayangkan protes tapi melihat wajah lelah dan mata panda miliknya niatku tadi ku urungkan.
———
Ini bukan kali pertamanya aku mengadahkan konferensi pers tapi tetap saja, jantungku serasa ingin turun ke perut melihat wartawan dengan alat canggih yang mereka punya. Belum lagi dengan rentenan pertanyaan yang akan ku jawab nanti.
__ADS_1
Tapi bagaimana pun ku paksakan bibirku terus melengkung membentuk senyuman di sana walaupun sudah terasa keram.
"Jadi apa tanggapan anda tentang gosip yang di sebarkan oknum yang tak bertanggung jawab?"
"Benarkah perusahaan Sn grop memutuskan contraknya secara sepihak?"
Oke, sakarang di mulai.
"Saya tidak menyalahkan kabar miring itu—"
"Jadi itu benar? Oh apa karena ini dari keteledoran anda yang sering tidak ferfesonal, begitu yang kami dapatkan."
"Ah, apakah selama ini saya pernah mengecewakan Sn grop?"
Ah iya,
"Manusia biasa yang tak luput dari salah, saya juga sepeti itu. Jadi saya mohon maaf."
"Bukannya itu berlebihan?" tanya Kim tepat di belakangku.
"Tidak, ini waktu yang pas, gak mungkin 'kan karena kejadian ini gue harus balik ke indo, dan lo terpaksa menjadi pelayan coffe shop lagi?"
Ku langkahkan kakiku menyusuri kedung pencakar langit ini, menuju ruang di mana pemimpin dari perusahaan ini, yang seenak jidatnya memutuskan kontrak denganku.
"Selamat pagi, Kevin Alvio De Lucas? Lama tidak berjumpa." ujar ku tersenyum lalu duduk di salah satu soffa yang di sediakan di ruangan utama perusahaan ini.
"Saya tidak ingin berbasa-basi, apa yang anda lakukan pada Ambassador yang telah menaikkan nama perusahaanmu ini? setelah apa yang kau dapat lalu membuang ku? Begitu Lucas?"
Netra mata pria yang umurnya 10 tahun lebih tua dari ku, menatapku dalam sebelum berucap. "Ini pantas, untuk model sepertimu, selalu mencari muka, membalikkan fakta belum lagi sikapmu yang semena-mena." ucapnya pelan namun, mampu membuat darah ku mendidih.
__ADS_1
"Tarik ucapanmu." ujarku, melayangkan tatapan menusuk.
"Kenapa? Ini kenyataan, aku yang mengangkat drajatmu anak gadis." ujarnya dengan smirk khas di sana.
"Mengajarku berakting? Salah jika aku mengasahnya di depan wartawan, perlukah ku ingatkan? Mereka terlalu percaya padaku. Bagaimana jika aku mengatakan bahwa kau pernah menginginkan selangkang dan dadaku? Bukankah itu berita yang akan kambali menyorot namamu dan namaku?"
"Sialan!"
"Dengar Lucas, aku tak masalah jika namaku melambung tinggi bukan karena ketrampilan atau bakatku, melainkan gosip miring tentangku dan kau—mungkin?". Aku berdiri dari dudukku berjalan mendekat ke arahnya, sedikit membungkukkan badan agar sejajar dengan dia yang duduk di kursi kekuasaannya itu.
"Jadi, batalkan pemutusan kontrak kerja kita." ucapku lalu kembali menegapkan badan.
Di luar sana Kimberly harap-harap cemas, terbukti saat ia dengan sigap berjalan ke arahku saat aku muncul di depan pintu.
"Gimana, ha?" tanyanya.
"Selamat ya kim, kita gak jadi pengangguran." ujarku dengan kekehan di akhir kalimat.
"Jadi, perlu di rayain gak, nih?" tanya Kim.
"Gimana kalau kita liburan ke indo, dua minggu cukup mungkin." ujar ku memberi saran.
"Dua minggu? Gak salah, trus jadwal lo kedepan?"
"Itu biar Lucas si tua itu yang urus, gue sama lo udah capek banget di buat sama dia. Sok-sok mutusin kontrak kerja lupa apa kartu AS nya masih gue pegang."
Selain melepas rindu dengan Ibu yang ada di sana, aku juga ingin memastikan bagaimana perubahan wajahnya, apakah ia tumbuh tinggi, dengan kulit putih?. Membayangkannya saja membuat gemas.
"Ngapain si lo senyum-senyum gitu, di kira gila ****** lo." ucap Kimberly sambil menyiku pelan lenganku.
__ADS_1
"Pesan tiket gih, besok kita brangkat." ujarku mengalihkan pembicaraan.
To be continued.