Im'S Life Journey

Im'S Life Journey
Part–7


__ADS_3

Author POV


Hal yang selanjutnya terjadi membuat Greim menarik seluruh kesadarannya kala sosok yang ada di depannya ini benar-benar menumpuhkan berat tubuhnya pada Greim, membuat gadis itu hampir terjungkal ke belakang karena tak siap menerima bobot tubuh yang besarnya saja mengalahkan besar tubuhnya. Sial pak tua ini pingsan, setelah mencumbunya habis-habisan.


"Nyusahin banget si lo." ujar Greim berusaha memapah tubuh besar William.


Seharusnya Greim memanfaatkan situasi ini untuk mendorong pak tua dari rooftop, bukan? mengingat bahwa dia satu-satu pelanggan club yang berinteraksi dengannya, dan besar kemungkinan membeberkan kelakuan tak terpuji Greim pada public dan berdampak pada kariernya.


Singkirkan bukti dengan cara kejam dalam dunia entertaimen sudah menjadi hal yang wajar. Cukup handalnya kita bermain agar tidak tercium oleh wartawan juga masyarakat.


Jika harus mendorong pak tua ini, rasanya Greim ragu. Bagaimana jika rooftop ini di lengkapi cctv? dan— ah, masalahnya semakin besar jika ia harus membunuh dengan tangannya sendiri.


Membantunya mungkin lebih baik, menunggunya sadar. Dan sebagai balas budi pak tua ini. Greim bernegosiasi agar pak tua ini tak membocorkan perkara dirinya mabuk di club waktu itu.


Pilihan rumah sakit bukan hal yang tepat, mengingat dirinya tidak bisa sembarang berada di tempat umum tanpa pengawal dan lagi, sekarang ia juga bersama orang asing. Jadi apartamennya sekarang menjadi pilihan satu-satunya. Tidak mungkin 'kan? Greim membawa pak tua ini ke rumah, bagaimana tanggapan Ibu nantinya? Greim tak mau pusing untuk kesekian kalinya menghadapi Ibu dan Kimberly sekaligus jika ia harus membawa pak tua ini ke rumah.


Dengan susahpaya Greim mebawa William hingga sampai parkiran. Sungguh ya, badan terasa remuk, ia sepertinya baru saja mengangkut karung beras dalam versi lebih besar.


"Makan apa sih nih, orang?" sinis Greim, setelah berhasil membaringkan tubuh William pada jok penumpang. Setengah memutari mobilnya, dan segara menancam gas, menjahui tempat tersebut.


–oOo–

__ADS_1


Kesusahan Greim belum juga selasai kala mengingat di lantai berapa apartamennya berada. Sial, sial, sial. Menyusahkan sekali sih, pak tua ini.


Umpatan berkali-kali keluar dari belahan labium Greim, pasalnya mengeser card pada pintunya saja Greim kesusahan gara-gara pak tua ini. Dan sesaat pintu di buka Greim dengan mendorong kasar tubuh William ke lantai lalu membanting tubuhnya di sofa. Merenggangkan otot-ototnya yang sudah nyeri tak tertolong.


Hal yang selanjutnya terjadi, tinggal menunggu pak tua ini sadar. Tanpa belas kasih, Greim biarkan saja William berbaring di lantai. Tenaganya sudah tak cukup untuk menyeret William ke kamar, jangankan kamar sofa yang di dudukinya sakarang juga tak sanggup.


Ia bangkit dari duduknya, merai ponsel berniat mendelivery makanan dan setelahnya membereskan diri. Namun, sudah lima belas menit pak tua ini tak kunjung sadarkan diri, membuat Greim harap-harap cemas.


"Pak, pak tua... masih idup 'kan lo?" tanya Greim pelan dengan ujung kaki menyenggol-nyenggol lengan William.


"Jangan mati di apartemen gue dong!" gerutu Greim karena senggolan kakinya tak kunjung mendapatkan respon. Seaakan di tarik Greim berjongkok tepat di depan William, menepuk-nepuk pelan pipi pak tua itu.


Tidak ada pilihan lain, ia harus menelpon dokter pribadinya yang ada di indonesia.


–oOo–


Greim's POV


"Terimakasih, dong. Maaf merepotkan." ujarku sambil menjabat tangannya, kemudian menutup rapat-rapat pintu apartemanku.


Entah ini sudah keberapa kalinya diriku, mengehela napas. Sungguh, sejak kadatangan dokter pribadiku, dan ternyata dokter pribadi keluarga si pak tua ini juga.

__ADS_1


Kenapa dunia sesempit ini, sih?


Dan lagi, hampir saja dokter itu mengabari keluarga pak tua ini, kalau saja bakat ektingku tidak di terima olehnya. Sedikit kaget saat mengatakan bahwa pak tua ini masih lajang, ku pikir dia sudah beranak satu. Lantas ku gunakan kesempatan itu untuk mengaku sabagai kekasihnya, dan juga berkata 'Keluarganya mas, will udah saya kabari 'kok, dok. Tinggal tunggu mereka datang.'


Pak tua ini tidak akan ku lepas begitu saja setelah apa yang barusan ku lewati. Belum lagi pertanyaan dokter ini, mengapa pak tua itu bisa mabuk? Katanya William tipe pria yang anti sekali terhadap barang kotor tersebut, juga tubuhnya yang tak dapat mentoleri alkohol. Dan sungguh pertanyaan itu membuatku diam sebentar, tak tahu harus mengatakan apa.


Aku melangkah masuk ke dalam kamar, mengecek bagaimana kondisinya. Ku letakkan telapak tanganku pada kening pak tua ini, suhu tubuhnya tak juga menurun.


Harus kah ku katakan, ini pertama kalinya diriku merawat orang sakit? Ternyata melelahkan juga.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


to be continued.


Warning : typo bertebaran.


__ADS_2