Im'S Life Journey

Im'S Life Journey
Part-4


__ADS_3

Menteng, jakarta pusat.


aku mengeliak dari tidurku, kala matahari menerobos masuk ke dalam ventilasi jendela, belum lagi suara alarm yang terus berdering di atas nakas.


Aku baru sampai di indonesia sekitar dua jam yang lalu, tidak salah 'kan? kalau sekarang aku masih merasakan kantuk yang sangat parah ini. Ku tarik selimut hingga membungkus seluruh tubuhku kemudian kembali menyelami mimpi, mimpiku yang akan bertemu dengan dia.


Tok, tok, tok.


"Im? sayang? bangun dulu yuk, ibu tunggu di bawa kita sarapan bareng-bareng." mendengar itu, terpaksa aku kembali pada kesadaranku, mengingat diriku yang jarang berada di rumah ini, membuatku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan bersama ibu dalam waktu dua minggu ini.


Undakan tangga demi tangga ku telusuri, hingga mataku menangkap ke hadiran Kimberly dan Ibu di meja makan.


"Gini, nih, tan. Kalau di sana susah banget di bangunin." ujar Kimberly melirikku, ku respon dengan bahu yang acuhkan berjalan ke arah Ibu, mencium pipinya lama sebelum mendudukan bokongku di samping kursinya.

__ADS_1


"Kerjaan kamu di sana lancarkan?" tanya Ibu di sela makan kami.


"Lancar 'kok, bu. iya 'kan, kim?" ujarku melirik Kimberly, gadis itu mengangguk singkat.


"Keadaan Ayah bagaimana?"


Sontak aku dan Kimberly menghentikan aktivitas makanku, jujur mood pagiku yang bagus ini, serta selera makanku tiba-tiba berantakan karena pertanyaan Ibu barusan. Kimberly hanya diam, ia tidak tahu harus menanggapi bagaimana.


"Ayah sesibuk itu ya, im?"


"Iya, bu. sibuk sama pekerjaannya." Andai saja Akau memiliki cukup keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya tentang kelakuan Ayah. Tapi melihat senyum Ibu pagi ini membuatku benar-benar merasa kasihan dan tak tega. Aku tidak ingin mengacauhkan pikiran Ibu, terlebih wanita parubaya yang duduk di sampingku ini, baru tahun kemarin di vonis memiliki penyakit jantung. Aku tidak ingin Ibu mendengarkan hal-hal yang membuatnya terkejut dan berakhir di rumah sakit, sungguh Ibu, Kimberly, hanya itu yang ku miliki sekarang.


"Padahal Ibu rindu banget lho kita kumpul bareng gini, tahu kamu kemarin pengan balik, ibu kira Ayah ikut, Ayah udah dua hari nggak ada kabar, Ibu khawatir, semoga Ayah sehat ya, kalau perlu im, ingatin Ayah terus nggak usah maksain kerja, gini aja ibu udah cukup 'kok, Ibu pengen kita kumpul kaya dulu lagi, sepi banget Ibu sendiri di rumah." ujar Ibu, wanita parubaya itu masih meneruskan makannya, Aku menunduk berusaha menahan agar tangis ku tidak pecah, bagamana bisa Ayah menyia-nyiakan wanita sebaik Ibu.

__ADS_1


"Im, udah kenyang," ujarku lalu meninggalkan meja makan, sedikit ku langkahkan kaki ku lebar, berjalan kembali ke kamarku. Sungguh tangisku pecah detik ini juga, aku sangat merasa bersalah tidak mengatakan yang sejujurnya pada Ibu. Aku takut Ibu—


"Hiks, hiks, maafin im bu, bukannya im nggak mau jujur sama ibu, tapi im khawatir sama kesehatan ibu." ujarku bermonolog.


🐣🐣🐣


"Mau kemana?" tanya Kimberly saat mendapatiku berpakaian rapi.


"Ngapelin doi, doain ya dia nggak lupa sama gue." ujarku semangat.


Ku pikir, setelah cukup lama meninggalkan kota kelahiranku, akan banyak perubahan yang tertangkap pada kornea mata, tapi sejauh ini masih sama—ah ya, tentu ada yang berbeda sesaat ku tolehkan pandangannku arah kedai eskrim. tempatku dulu menghabiskan waktu sepulang sekolah bersama beberapa teman, yang mungkin salah satu dari mereka alasan utama ku kembali walau hanya dua minggu di sini, tapi itu cukup.... kurasa.


Mendatangi kedai eskrim yang kini cukup ramai pelanggan termasuk ke dalam list setelah bertemu dengan pria itu.

__ADS_1


to be continued.


__ADS_2