
Author POV
Semalam Greim begadang untuk memastikan pak tua ini masih hidup atau tidak. Dengan pengetahuan dangkal dan bantuan google tentang bagamana merawat orang sakit, Greim menjalani dengan penuh sabar. Mengompres, bahkan memijit pelan kening pak tua ini. Pagi-pagi buta juga, ia sudah menyiapkan bubur, berharap kalau pak tua ini sadar, ia langsung bisa makan atau menghangatkan dulu ke dalam microwave.
Jam kini menunjukkan pukul 08.54pm dan apartemen ini sepertinya tak memiliki tanda-tanda kehidupan di dalam.
Kemana penghuninya? tentu saja masih tertidur.
Entah William bisa di katakan tertidur atau masih belum sadar dari pingsannya. Sedangkan Greim, gadis itu terdidur dengan memeluk baskom yang berisikan air kompres berisi air kompres William. Dari raut wajahnya menunjukkan bahwa Greim betul-betul begadang semalaman, terbukti dengan kantok mata yang menghitam itu.
Erangan kecil membuat Greim tersadar,
"Mana, mana yang sakit?" tanyanya, seraya menangkup wajah William, meneliti tiap inci pria itu, memastikan tidak ada luka di sana. Sedangkan William? Tak ada respon dari pria itu, ia sibuk menahan pening yang bertandang di kapalanya, sesekali meringis kecil.
"Om masih pusing? Lapar? Mau makan? Sebentar saya hangatin buburnya dulu." ujar Greim berlalu ke arah dapur, menghangatkan semua yang di masaknya tadi—ah, ya, hanya bubur yang bisa ia masak sih, selebihnya hasil pesan online.
"Kanapa saya bisa di sini?" todong William langsung, sesaat mendapati Greim berjalan ke arahnya dengan nampan yang berisi makanan.
Pertanyaan pria itu membuat Greim berdecak jengkel, "Nyosor gak tahu diri setelahnya pingsan. Trus nanya gitu?"
"Lagian kanapa sih, sok-sokan minum alkohol." ujar Greim. Kalau saja pusingnya bisa di kontrol jelas kerutan bingung di jidat William dapat di lihat jelas. Pasalnya gadis yang masih berdiri sambil memegang nampan ini. Sifatnya kadang berubah-ubah seperti sekarang.
"Saya, tanya kanapa saya bisa di sini?"
__ADS_1
"Om ini pingsan, terus saya yang nolongin. Ingat ini nggak grtis ya." ujarnya, lalu meletakan nampan itu di atas nakas. Terserah pak tua itu mau makan atau tidak. Yang jelas dia sudah sadar dan aksi negosiasinya akan di mulai.
–oOo–
"Berapa yang perlu saya bayar untuk penginap dan juga makanannya?" tanya William. Sepertinya gadis itu benar-benar menunggu bayarannya, terbukti dengan ia menunggu William keluar dari kamar dan duduk anteng di sofa.
"Saya nggak butuh uang om—"
"Berhenti panggil saya om, saya tidak pernah menikah dengan tante kamu. Dan lagi saya tidak setua itu untuk di panggil om." ujar William menyela.
Greim menyungingkan smirk khasnya, "Lalu kalau begitu apa? kakak? Aa? atau.... Mas?" tanya dengan satu gerlingan mata.
Ah, ya, William lupa. Gadis yang ada di depannya ini ternyata gadis yang sama. Gadis yang meminta ONS dengannya? Walau pun dia dalam keadaan mabuk, yang jelas pergaulannya sudah segila itu— dan kalau tidak lupa, sebelum ia benar-benar pingsan William, sepertinya..... menanyakan tentang penawaran.... yang... masih berlaku atau tidak? memikirkan itu rasanya kepalany William mendadak ingin pecah saja.
"Tunggu, bayaran yang kamu maksud apa?" tanya William, wajahnya mendadak merah. Membuat Greim menyeritkan kening dalam.
"Duduk dulu mas," ujar Greim. William bergidik ngeri mendengar panggilan yang gadis itu berikan padanya.
"Saya masih banyak kerjaan, saya tidak punya waktu lebih." ujar William, ia benar-benar di buat degdegan dengan tatapan gadis itu.
Greim mendegus, "Begini, gue—, gue? saya? Atau aku, nih? nanti protes lagi." sungut Greim.
"Terserah kamu."
__ADS_1
"Masih ingat kejadian yang di club 'kan? aku mau mas tutup mulut, nggak nyebarin apapun tentang aku yang di club waktu itu." ujar Greim.
"Tentang kamu yang mabuk?" ujar William memastikan, "hanya itu?" Greim mengangguk, lalu. "Iya, hanya itu, karena om satu-satunya orang yang lihat aku langsung." ujar Greim lagi.
"Hubungannya?"
Greim berdecak, apakah pak tua ini tidak mengenalinya? "Om–eh, maksudnya mas, nggak kenal aku?" dan di balas gelengan pelan oleh William.
Seharusnya Greim tidak berusahpaya sejauh ini. Lagi pula orang ini juga tidak mengenalnya. Dasar norak.
"Kayanya urusan kita udah selasai deh, mas bisa pulang sekarang." ujar Greim, "Nomor ponsel aku udah ke save di hp mas, kalau perlu bisa 'kok hubungin aku. Nggak usah sungkan," ujar Greim, yang di salah artikan oleh William, buru-buru pria itu keluar dari apartemen Greim.
.
.
.
.
.
**WARNING : typo bertebaran.
__ADS_1
to be continued**.