Im'S Life Journey

Im'S Life Journey
Part-5


__ADS_3

****Author POV***


Semua espetasi gadis itu tak berjalan semulus yang ia duga, ponolakkan yang di dapatkan membuatnya berkahir pada ruang kerlap-kerlip club. Hanyut dalam kerasnya dentuman musik, mengabaikan lengan-lengan asing yang bertengger indah di bahunya, juga tak menghirukan lagi paparazi yang akan serta-merta menangkap gambarnya yang sedang dalam keadaan tak sadarkan diri akibat penggaruh alkohol.


Melirik arloji pada pergelangan tangannya, lalu mengendus. Tidak ada niatan sama sekali untung menghubungi Kimberly, hanya sekedar menjemputnya di sini. Greim dengan tekatnya ingin pulang sediri, walau pun dengan susah paya membopong tubuhnya.


Sesekali meringis kecil, pening di kepalanya semakin terasa, jalannya sempoyangan. Sungguh Greim saat ini benar-benar dalam keadaan mabuk parah.


Penglihatannya, mendadak buram karena pusing yang bertandang lama di kepalanya, sehingga membuat Greim tak memperhatikan jalan, lalu menabrak sosok pria, yang Greim yakini lebih tua darinya.


"Maaf, om" ujar Greim sopan, namun pria itu enggan menepih, memberikan jalan pada Greim.


"Om saya mau lewat, bisa minggir sebentar, anda menghalangi jalan saya." ujar Greim karena pria di depannya ini sama sekali tak berkeser dari tempatnya.


Sungguh, Greim di buat kalap sesaat sesuatu dari dalam perutnya mendesak untuk di keluarkan. Greim maju beberapa langkah, mendaratkan tangannya pada sisi jas pria tersebut, meremasnya kuat.


"HUEK... HUEK..."


Hingga cairan bening itu keluar begitu saja.


Greim baru saja memuntahi jas milik pria itu, ia merosokkan tubuhnya, sakin tak kuat menahan pening dam juga mual yang menyerang tubuhnya. Tak lupa juga ia berugumam maaf sesekali meringis.


"Kamu sendiri?" tanya pria itu, dan sebagai jawabannya Greim mengangguk.


"Seharusnya anak SMA seperti kamu tidak berada di tempat ini, terlalu di bawah umur." ujarnya memberi nasehat.


"Saya 'kan udah minta maaf, 'kok om malah nyeramahin saya sih, bukannya bantuin. Mending om balik sana, kerumah, sebelum saya khilaf dan goda om di sini, mau? ONS bareng saya?" ujarnya ngacoh. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi pria itu lekas berlalu dari hadapan Greim.


"Dasar pak tua bau tanah, untung lo ganteng, gue ingat ya muka lo. Gue cari trus buat lo jatuh cinta, persetan sama anak istri om." Teriak Greim, ternyata mabuk dampak menunjukkan sisi kejalangan Griem ya.


-oOo-


Seseorang sedang memandang lurus ke depan memikirkan masalah yang akhir-akhir ini menimpa ia dan keluarganya, tak menghiraukan dentuman musik club yang terdengar di penjuru ruang serta suara riuh dari pengunjung. Ia terus melamun sehingga, dering ponselnya menyadarkan pria itu. Kemudian ia melirik jam yang melingkar indah di lengan kirinya pukul 13.37 lewat dan ia masing berada di tempat terkutuk ini.

__ADS_1


Yah katakan saja William anak baik-baik karna ia tidak pernah menginjakkan kakinya di tempat ini selain ruangannya yang penuh dengan berkas-berkas menumpuk. Ini kali pertamanya—ah ralat ini bukan kali pertamanya Willyam ke tempat ini, sering kali cleannya mengajak pertemuan di tempat ini tapi itu hanya sebatas menemui rekan kerjanya dan setelah urusannya selasai ia segera keluar dari tempat itu. Tapi kali ini dirinya sendirilah yang membawah ia ke tempat di mana orang tuanya melarang keras William untuk menginjakkan kakinya di sana, Walaupun ia sudah cukup umur.


Menurut Alfa a.k.a ayah William, memasuki tempat itu hanya akan membuat orang kehilangan akal sehatnya belum lagi kondisi badan William yang tidak dapat mentoleri alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya, ia sangat lemah soal alkohol. Pernah sekali ia mencoba meminum, minuman itu dan membuatnya harus terbaring di rumah sakit selama 4 hari belum lagi reaksi yang di timbulkan badannya selama 2 minggu berturut karna ia bantuk. Badannya tidak dapat menerima alkohol, jadi ayah William mewanti-wanti anaknya agar tidak lagi meneguk minuman yang dapat membahayakan diri anaknya sendiri.


William kemudian menghabiskan oranye jus yang ia pesan kemudian ia keluar meninggal tempat itu namun dua langkah dari tempatnya berjalan seorang baru saja menumbruk dada bidangnya dengan bergumang kecil meminta maaf.


"Ma.. maaf om" Ujarnya menunduk.


Apa? Om katanya? Astaga apakah seorang gadis di depannya ini sangat mabuk sehingga ia tak melihat wajah tampan milik William dan memanggilnya dengan sebutan om? Heii yang benar saja William tidak setua itu di usianya ini masih terbilang dewasa.


William tidak berniat bergeser hanya sekedar memberikan jalan untuk gadis yang baru saja menabraknya ini. Sedangkan gadis yang tidak ia ketahui namanya masih menunduk dan sekali kali meringis memegangi pilipisnya. Mungkin ia sangat mabuk pikir William.


Tak lama setelah itu gadis di depannya memajukan badan refleks William mundur namun terlambat gadis di depannya sudah memengang sisih jasnya dan.


Huek huek...


William membelalakkan matanya melihat jas mahal yang ia kenakan berlumuran dengan cairan kental berwarna bening itu.


Gadis ini memuntahi jas miliknya.


"Kamu sendiri?" Tanya William. Gadis itu hanya mengangguk.


"Seharusnya anak SMA kaya kamu tidak ada di tempat ini. Terlalu di bawa umur." ujar William masih tetap berdiri tanpa berniat menolong gadis yang sudah mabuk akut itu.


Gadis itupun mendongak menatap William dengan mata merah. Gadis ini benar mabuk—batin William


"Saya 'kan sudah minta maaf, 'kok om malah nyeramahin saya sih, bukannya bantuin. Mending om balik sana, kerumah, sebelum saya khilaf dan goda om di sini, mau? ONS bareng saya?" ujar gadis itu mulai berbicara ngacoh, tidak ingin mendengar lebih banyak omongan gadis yang sedang mabuk berat ini.


Akhirnya William memilih berjalan, meninggalkan gadis itu yang masih duduk sambil memengangi pelipisnya dan meracau kecil. William tidak perduli, itu bukan urusannya.


"Dasar pak tua bau tanah. Untung lo ganteng, gue ingat ya muka lo. gue cari, trus buat lo jatuh cinta, persetan sama anak dan istri om." teriak gadis itu sambil tertawa kencang sesekali meringis dan kambali meracau.


Memang kelakuan orang mabuk ada -ada saja dan William benar-benar meninggalkan gadis itu yang teriakkannya sudah tenggelam di telan lantunan musik club.

__ADS_1


to be continued.


****Greim Stevany Mauren****



— 18 tahun


— 'Mas iyam, dimana? mas iyam apa kabar? mas iyam, im kangen.'


— Model dan atris.


— Menyukai makanan cepat saja


— Tidak kuat LDR


— Penyuka warna terang.


****William Alterio Luller****.



— 32 tahun.


— 'Jaga kesehatan im, kenapa telpon gak di angkat? jangan suka begadang, im dengar-dengaran.


— Hakim muda


— Tidak banyak maunya.


— Simple, is my life**.


SELAMAT TENGGELAM KE DALAM DUNIA MEREKA BERDUA*.

__ADS_1



__ADS_2