Im'S Life Journey

Im'S Life Journey
Part-2


__ADS_3

Di sinilah Aku sekarang, berada di tengah-tengah lautan manusia yang sedang berjoget ria. Menikmati vodka milikku, mengayun-ayunkan kepala mengikuti dentuman musik.


"Rim, udah gue telponin kim ya, lo mabuk berat nih." ujar Risty bartender di kelab langanan ku.


"Nggak perlu, gue nggak mabuk, kelihatan cemen amat baru segini udah mabuk." ujarku dengan kepala tertidur di meja.


"Lo udah habis tiga botol, rim sadar dong!" ucap Risty lagi.


"Fokus sama kerjaan lo aja sih, nggak usah urusin gue." ucap ku kembali menuangkan minuman beralkohol itu ke dalam gelas dan meneguknya hingga tandas.


Aku berdiri dengan sempoyangan kemudian berjalan meninggalkan bar  menuju Dance Floor, menari dengan gaya asal-asalan, aku menikmatinya, serius.


Untung saja papillon yang ku tempati saat ini adalah kawasan yang di buka khusus untuk para artis dan juga pengusaha-pengusaha ternama di kota new york, jadi privasi setiap pengujung yang datang di tutup rapat, bahkan mediapun tidak dapat menerobos masuk ke dalam tempat ini.


Tidak heran jika Aku berani mabuk-mabukkan tanpa masker, topi dan antek-anteknya itu. Tidak lucu 'kan jaka aku harus mengunakan kostom itu ke clab menghidar dari paparazi.


"Duh, apasih?!" ucapku geram, kala seseorang menarik ku dengan kasar keluar dari dance floor.


"Pulang!" bentak pria parubaya yang berdiri di depan ku dengan tatapan yang tajam.


Aku mengerjap-ngerjapkan mata lalu meneliti pria yang berdiri di depanku, berupaya mengingatnya. Tapi siapa? Tuhan aku benar-benar mabuk.


"Siapa sih? Sok kenal banget, pulang aja sendiri, nggak usah ajak-ajak gue. Apaan lagi nih? pegang-pegang, lepas!" ucapku dengan ***** sama sekali belum menyadari bahwa pria yang sekarang sedang berdiri di depannku adalah Ayah.


Risty yang berada di belakang Ayah  harap-harap cemas, semenjak kedatangan Ayah Greim ia sudah meninggalkan pekerjaannya di bar.


"Om, om, sabar ya, ngomong sama Greim sekarang nggak tepat om, dia lagi mabuk banget. " ucap Risty pelan.


"Jadi selama ini kamu yang ajarin dia main ke sini?" tuding Ayah Greim kepada Risty.

__ADS_1


Entah ini Aku yang benar-banar gila atau efek alkohol yang aku teguk tadi membuatku kehilangan kewarasan.


"Bapak ini......... Fans berat saya ya?" tanyaku ganjen dengan mata yang di kedip-kedipkan.


Si SINTING INI, KUMAT JANGAN SEKARANG YA!


Aku tercengah, kala tangan keras itu mendarat tepat di wajahku, apa-apaan ini?


PLAK!!


Nggak mau liat, nggak mau liat, sumpah. Risty dengan gerakan refleksnya memegang pipinya lalu meringis.


"Pulang!" sentak Ayah menarik kasar tanganku.


Pulang katanya? Setelah pengusiran yang belum cukup satu hari di lakukan padaku?


"Tau ap—"


"Puas ya?" ucap ku memotong ucapan Ayah.


Aku kembali tersenyum miring terkekeh tidak jelas seperti orang gila kesetan. "PUAS? PUAS GAK BUAT GREIM MENDERITA? NGGAK USAH NYALAHIN ORANG LAIN KALAU MEMANG BENAR GREIM DI SINI KARENA ULAH AYAH SENDIRI!" teriakku dengan wajah yang memerah.


"Memangnya saya pernah nyuruh kamu ke tempat ini, nggak 'kan? kamu ke sini itu, karena kemauan kamu sendiri, ngapain nyalahin saya?"


Sialan!


"Memangnya Ayah peduli sama Greim, nggak 'kan? Yahudah terserah Griem dong mau ngapain aja."


"Termasuk jadi ***** juga? silahkan saya nggak akan larang." ucap Ayah, setelah itu berjalan meinggalkan ku yang masih terdiam mendengar penuturannya.

__ADS_1



Huekk... Huekk...


Aku terus memuntahkan isi perut yang sialnya hanya membuat lambungku perih. Bagaimana tidak aku berdiri di sini sudah hampir satu jam lebih namun yang ku muntahkan hanyalah cairan bening. Kimberly dengan pekanya memijit tungkuk dengan minyak angin.


"Liat sendiri, 'kan? Ngeyel si lo. Udah tau anti banget dengan alkohol sok-sok kabur ke clab, minum segala, emang ke clab nyelasain masalah lo? Nggak, 'kan?!" ujar terus memberi wejangan.


Seandainya kondisi ku sekarang memungkinkan menyumbat mulutnya, hal itu akan ku lakukan. Serius. Namun naasnya sekarang berdiri saja tidak bisa, aku hanya mengunakan wastafel sebagai alat penyanggah tubuhku. Tepat di belakang ku Kimberly terus saja mengoceh tentang inilah, itulah, dan meyerembet ke masalah yang lalu-lalu.


"Im, ini demi kebaikan lo juga, bisa nggak sih dengar-deng—"


Dering ponsel gadis itu menghetikan ocehannya, sejenak aku berterima kasih pada sang penelpon setidaknya untuk beberapa menit ke depan telingaku bebas dari wejangannya. Terbukti saat ia keluar dari dalam kamar mandi menuju ruang tengah. Aku dapat mendengar sekilas obrolan Kimberly gadis itu terus bergumam meminta maaf.


Karena penasaran kakiku yang masih  terasa lamas ini ku pakasakan berjalan menuju.


Aku berdiri di ambang pintu antara ruang tengah dan dapur, sebelum berjalan menuju Kimberly aku sempat melihat gadis itu menghempas kasarkan tubuhnya di sofa, memijit pelan keningnya yang berkerut.


Rupanya di sini bukan cuma aku yang merasakan sakit di kepala melainkan Kimberly juga, bedanya Kimberly merasakan sakit kepala akibat ulahku.


Aku berjalan mendekatinya, menghepaskan tubuhku di depan sofa yang kini di duduki Kimberly.


"Kontrak kamu yang tinggal satu tahun lagi di batalin." ucapnya pelan seraya meringis. Aku hanya diam tidak merespon apapun, ternyata berita kemarin ku lihat di tv benar-benar memengaruhi karierku. Pelahan gadis yang duduk di depanku berdiri mengucap pamit, aku sedikit—ah tidak, tidak sedikit banyak malah, aku benar, benar, banyak menyusahkannya.


"Aku pulang, istirahat yah im. Kita harus kerja keras besok." ujarnya lalu berjalan melewatiku.


"Kim" panggilku menghentikan langkahnya. Ia berbalik ke arah, aku tesenyum padanya. "Maaf, dan terimah kasih." hanya itu yang mampu aku ucapkan, aku sangat, sangat sadar. Bahwa kelakuan ku ini bukannya hanya berdampak pada diriku sendiri melainkan pada Kimberly juga. Sebagai jawabannya kim mengangguk dan tersenyum kecil ke arahku walau tercetak jelas di wajaunya raut kelelahan, setelau itu ia melenggang keluar dari apartemen ku.


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2