
Bapak Mieta sudah mendapatkan lokasi untuk Mieta mengikuti kursus Bahasa Inggris. "Teh, Bapak udah dapat lokasi kursus bahasa Inggris di Kampung Bahasa, Nanti agak siangan kita ke Stasiun beli tiket kereta buat berangkat hari Sabtu. Bapak udah survey di online, Sabtu berangkatnya sekitar jam 2 siang, nanti nyampe sananya sekitar jam 2 pagi. Bapak juga udah bayar tempat kursusnya biar nanti gausah nyari-nyari tempat kursus lagi disana. Jadi, nanti sampai sana tinggal datang saja ke dormitory-nya".
Mieta agak ragu pergi ke Kampung Bahasa dikarenakan itu akan jadi pertama kalinya dia pergi merantau yang lebih jauh setelah tinggal di Depok untuk kuliah.
"Nanti aku berapa lama disana?" Tanya Mieta kepada Bapaknya. "Klo masih betah, 3 bulan saja disana. Setelah itu bisa pulang dan nyari kerja lagi."
*** Di Stasiun Kereta Cicantik
"Bu, mau tanya, kalau kereta tujuan Stasiun Barujaya jam berapa ya adanya?" Tanya Bapak Mieta ke Petugas Penjualan Tiket di Stasiun Kereta Cicantik untuk memastikan yang sudah dilihatnya di online itu benar adanya dan tidak ada perubahan jadwal.
"Adanya yang jam 2 sore Pak. Untuk berapa orang?"
"Untuk 2 orang, rencananya saya mau ke Barujaya hari Sabtu ini. Bisa sekalian beli untuk tiket pulang di hari Minggu?"
"Bisa Pak. Harganya Rp 300.000 per tiket."
"Mahal juga ya. Kalau hari Minggu, kereta dari stasiun Barujaya ke Cicantik jam berapa ya Bu?"
"Iya Pak, soalnya Bapak belinya kan mendekati hari H, kecuali Bapak melakukan pembelian tiket 1 bulan sebelum tanggal keberangkatan, biasanya bisa dapat harga yang lebih murah. Untuk kereta hari Minggu dari stasiun Barujaya ada yang jam 9 pagi dan jam 2 siang."
"Yasudah, saya beli tiket Cicantik ke Barujaya keberangkatan jam 2 siang untuk 2 orang. Kepulangan dari Barujaya ke Cicantik untuk 1 orang."
"Ok, saya ulangi ya Pak. 2 Tiket dari Stasiun Cicantik ke Barujaya keberangkatan jam 2 sore dan 1 tiket dari Barujaya ke Cicantik jam 9 pagi, Betul Pak?"
"Iya, betul Bu."
"Harga per 1 tiketnya Rp 300.000 dikali 3 jadi Rp 900.000."
Bapak Mieta mengeluarkan uang untuk pembayaran 2 Tiket Cicantik - Barujaya dan 1 Tiket Barujaya - Cicantik sebesar Rp 900.000.
"Nih pegang tiketnya punya teteh 1. Awas hilang. Simpen ditempat yang gampang dicari biar pas berangkat gak buang-buang waktu cari tiket"
"Ok, aku simpen di dompet aku" jawab Mieta.
Pada hari Jum'at, Mieta sedang bersantai di kamarnya, tiba-tiba handphone-nya berdering dan Mieta mengangkat telepon tersebut. Terdengar suara pria didalam telepon :
"Hallo Selamat Pagi Bu. Apa benar ini dengan Ibu Mieta?"
"Iya benar Pak. Maaf ini dengan Bapak siapa dan darimana?"
"Perkenalkan Bu, saya Riko dari Bank Jaya Bersatu. Ibu Mieta dinyatakan lulus test masuk ke Bank Jaya Bersatu, Oleh karena itu besok dijadwalkan untuk melakukan test MCU. Apakah besok Ibu bersedia meluangkan waktunya?"
"Gimana ya Pak. Saya kirain saya gak lulus test, jadi saya sudah beli tiket kereta ke Kampung Bahasa, Barujaya Jawa Timur, Pak."
"Kalau Sabtu tidak bisa, Ibu bisa MCU di hari Senin saja. Rencananya berapa lama ibu ke Kampung Bahasa?"
"Rencananya 3 bulan Pak. Saya mau kursus bahasa Inggris disana. Bagaimana ya Pak?"
"Saya kembalikan lagi ke Ibu, apakah Ibu mau melanjutkan atau tidak. Karena kalau terlalu lama sampai 3 bulan, kami juga tidak bisa menunggu"
"Begitu ya Pak. Yasudah, karena saya tidak bisa melakukan test MCU, jadi saya cancel saja Pak"
"Bener nih mau dicancel aja? Gak dipikirkan dlu Bu?"
__ADS_1
"Iya benar Pak, saya cancel saja soalnya saya sudah beli tiketnya untuk keberangkatan besok".
Mieta memikirkan uang yang sudah Bapaknya keluarkan sebesar Rp 900.000 untuk membeli tiket ke Kampung Bahasa dan Mieta juga memang ingin belajar bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya.
Kemudian Mieta memberitahukan Bapaknya kalau dia mendapatkan telepon dari Bank Jaya Bersatu untuk test MCU yang ditolaknya. Mieta pun memberitahukan alasan Mieta menolak untuk test MCU karena sayang Bapaknya sudah bayar tiket sebesar Rp 900.000 yang bagi Mieta itu adalah nominal yang cukup besar dan terlebih Mieta ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Namun Bapak Mieta ternyata marah besar terhadap anaknya yang mengambil keputusan tanpa mendiskusikan hal itu terlebih dahulu kepada Orangtuanya.
"Uang itu bisa dicari, tapi pekerjaan itu kan harus menunggu panggilan lagi. Sudah dapat panggilan malah kamu tolak! Lain kali jangan begitu lagi!"
"Iya Pak..." jawab Mieta dengan nada rendah.
Mieta merasa bersalah atas keputusannya yang dia ambil sendiri tanpa mendiskusikan hal itu terlebih dahulu kepada orangtuanya. Walaupun Bapak Mieta marah terhadap Mieta, keberangkatan ke Kampung Bahasa tetap dilakukan.
***Di stasiun Cicantik
"Bapak mau ke toilet dlu sebentar. Hati-hati barangnya takut ada copet". "Iya Pak" jawab Mieta
Mieta memotret keadaan stasiun dan upload photo di aplikasi WhatsApp-nya :
"Bismillah... Semoga selamat sampai tujuan, Aamiin Yaa Robbal'Aalamiin..."
Lalu teman Mieta (Azzam) membalas Status Mieta di WhatsApp : "Mau kemana Ta?"
"Mau tau aja atau mau tau bangget? hahaha"
"Hadeuuhhh... mau jalan-jalan ke Jakarta lagi ya Ta?"
"Ngga, lagi gak main dlu ke Jkt. Gw mau menuntut ilmu diluar Jawa Barat?"
"Hahaha kepo banget deh. Nanti juga tau"
"Yaahhh Mieta mah gitu. Yauda deh klo gak mau kasih tau, gak maksa. Apapun yg terbaik buat Lo Ta, gw selalu dukung lo"
"wkwkwk geli banget gw baca chat lo hahaha. ok deh, thank you ya".
Bapak Mieta sudah kembali dari Toilet.
"Pak, aku mau beli roti Manise"
"Yauda jangan lama2, sebentar lagi keretanya mau datang"
10 menit kemudian, kereta Mahabisa tujuan stasiun Barujaya telah datang. Mieta pun berlari menghampiri Bapaknya.
"Ini aku beli rotinya 2 Pak, 1 buat aku, 1 buat Bapak"
"Yasudah, hayu ke pintu kereta sebelah sana saja yang gak terlalu banyak orang"
"Alhamdulillah..." Mieta merasa lega karena sudah duduk di kereta. Lalu Mieta pun makan roti Manise yang sudah dia beli. "Ini Pak, Rotinya" Mieta memberikan 1 roti untuk Bapaknya.
Dua jam berlalu...
Mieta dan Bapaknya terlelap tidur di Kereta. Tak lama terdengar suara orang menangis dan membuat Mieta dan Bapaknya terbangun :
"Hiks hiks... Ayah... Sendal aku lepas disana"
__ADS_1
"Kok bisa lepas sendalnya?"
"Tadi aku buru-buru lari pas denger kereta mau berangkat, terus sendal aku lepas pas aku lari. Aku mau ambil tapi takut keretanya keburu jalan"
"Yauda sekarang keretanya udah jalan, Ayah gak bisa ambil sendalnya. Nanti Ayah beliin lagi klo udah nyampe stasiun Barujaya ya. Udah jangan nangis lagi, di kereta ngga boleh berisik".
Jam menunjukkan pukul 1:30 pagi. Kereta Mahabisa telah tiba di Stasiun Barujaya.
"Kita tunggu saja dlu di Lobby Stasiun sampai Subuh, Nanti kalau sudah pagian, kita baru cari transportasi untuk kesana".
Mieta yang masih mengantuk, ingin membasuh wajahnya agar tidak terlalu mengantuk.
"Pak, aku mau ke toilet dulu"
"Tasnya jangan dibawa, simpen saja disini" Perintah Bapaknya Mieta sambil menunjuk kursi sebelah kursi yang diduduki Bapaknya.
Waktu begitu cepat berputar, Mieta dan Bapaknya sudah melakukan sholat Subuh. Kemudian mereka mencari transportasi untuk ke Kampung Bahasa.
Sekitar 1 jam perjalanan, Akhirnya mereka tiba di Kampung Bahasa, namun kesulitan menemukan "Ichigo English Course". Lalu ada seorang Bapak menaiki Becak.
Bpk Mieta : "Pak, mau tanya kalau ke Tempat Kursus Bahasa Inggris Ichigo sebelah mana ya?"
Kang Becak :
"Mau ke Tempat Kursusnya atau ke Dormitory-nya Pak?"
Bpk Mieta : "Ke Dormitory-nya. Emang lokasinya beda?"
Kang Becak : "Beda Pak. Ayo saya antar kesana klo Bpk mau, lokasinya lumayan jauh klo jalan kaki dan bawa koper"
Bapak Mieta : "Berapa Pak ongkosnya kesana?"
Kang Becak : "10.000 aja Pak. Bapak & Mbaknya Penumpang pertama saya pagi ini"
Bapak Mieta : "Yasudah klo begitu"
Kang Becak : "Bapak sama Mbaknya naik duluan aja, Nanti kopernya saya bantu naikkan"
Beberapa menit berlalu, Kang becak menunjukkan arah menuju Ichigo English Course :
"Nah, disini nih Pak arah ke Ichigo. Lokasi tempat kursusnya belok kanan trus lurus kesana. Nanti di pinggir jalan ada bacaan Ichigo di sebelah kanan. Sekarang kita belok kiri ke Dormitory-nya".
"Saya dengar, warga disini juga udah bisa bahasa Inggris ya Pak" Kata Bapak Mieta. "Ah gak semua Pak. Saya juga bisa sedikit-sedikit saja Pak. Memang ada juga lembaga kursus yang memberikan kursus bahasa Inggris gratis untuk warga yang memang ada di sekitaran tempat kursus itu aja. Cuma kan orang juga punya kesibukan masing-masing, jadi bagi yang serius mau saja Pak. Kayak saya ini cuma tukang becak Pak, ya kalau gak narik becak, saya gak ada pemasukan".
Setelah berbelok-belok melewati gang, akhirnya sampailah Mieta dan Bapaknya didepan Ichigo Dormitory.
"Alhamdulillah sudah sampai Pak, Ini Dormitory-nya. Kalau tempat kursusnya yang tadi sudah saya unjukkan arahnya ya Pak, Mbak" Kata Kang Becak sambil menunjuk lokasi Ichigo Dormitory.
Kang becak bantu menurunkan koper dari becaknya dan Mieta pun membawa kopernya masuk ke Dormitory, sementara Bapak Mieta menunggu di teras depan Ichigo Dormitory. Ichigo Dormitory adalah sebuah rumah yang disewa Ichigo English Course untuk dijadikan sebagai Ichigo Dormitory. Setelah Mieta mengobrol dengan yang punya rumah, Mieta keluar dan menghampiri Bapaknya di teras depan rumah.
"Enakeun suasananya sejuk. Semoga teteh betah ya disini. Nanti kalau mau beli makan, tanya-tanya dulu ke orang ya. Kalau bisa jangan pergi sendiri kalau belum tau jalan" Nasehat Bapaknya Mieta kepada Mieta. Mieta hanya bisa menjawab "Iya Pak" dengan nada rendah karena Mieta sedih akan ditinggal sendirian di Kampung Bahasa.
Mata Mieta berkaca-kaca ketika Bapaknya bilang : "Yasudah, Bapak pulang sekarang ya. Bapak mau jalan kaki dulu sambil liat-liat lokasi, siapa tau ada tempat kursus yang lebih bagus. Nanti kalau ada apa-apa, telpon Bapak ya". Mieta pun hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Bapaknya pulang, Mieta menangis seorang diri.
__ADS_1