
Tenda sudah terpasang semua. Satu persatu Murid Ichigo menyimpan tasnya ke dalam tenda. Ada yang beristirahat karena lelah setelah mendaki dan memasang tenda, ada juga yang masih asyik photo-photo.
"Woy, semuanya. Ayo kita photo bersama!" Ajak Hito kepada semua teman-temannya.
"Ayo ayo!" Sahut Shinta.
"Haduh, capek gw. Segala photo-photo, kan bisa nanti lagi" Gumam Naufal.
"Fal, diajakin photo-photo. Ayo Fal ngumpul !" Ajak Bobby kepada Naufal.
"Iya duluan aja, ntar gw nyusul"
Semua photo bersama, kecuali Naufal.
"Si Naufal kemana? Gak ikut photo dia?"
"Tadi udah gw ajakin, bilangnya mau nyusul"
"Woy Naufal, cepetan sini Fal" Teriak Hito.
"Iya bentar" teriak Naufal.
"Tadi juga bilang ke gw begitu, ntar ntar, taunya gak nongol-nongol itu orang" Kata Bobby.
"Kina, photo di atas sana yuk!" Ajak Bobby kepada Sakina. "Kelakuan Lo Bob Bob" Ucap Hito.
*** Di atas Bukit
"Kin, ada yang mau gw omongin sama Lo. Mungkin ini terlalu terburu-buru, tapi sebelum keduluan cowok lain, gw ngomong duluan"
"Ngomong apaan? Kok gw jadi deg-degan haha"
"Gw serius Kin. Jujur, semenjak gw ketemu Lo, gw suka sama Lo. Klo boleh, gw pengen mengenal Lo lebih jauh, boleh ngga?"
"Maksudnya lebih jauh Bob?"
"Ya, misalnya jadi pacar Lo gitu"
"Ini ceritanya curhat atau apa nih? Gw jadi bingung juga jawabnya"
"Mmmm... Sebenernya gw malu sih ngomongnya haha. Yauda gw to the point aja ya, mmm Lo mau ngga jadi pacar gw?"
"Serius atau becanda nih?"
"Serius lah. Gimana?"
"Gatau ah"
"Kok gak tau sih? Gw kurang meyakinkan ya ngomongnya?"
"Bukan gw ya yang ngomong"
"Terus jadinya gimana dong? Mau ya? please!"
"Mau apa'an?"
"Ya yang tadi gw bilang"
"Gatau, gw udah lupa haha"
"Serius Kin. Lo mau ngga jadi pacar gw?"
"Mmm gimana ya... Gw juga gak bisa jawab sekarang"
"Kenapa? ada cowok lain di hati lo?"
"Ngga sih, cuma gw takut belum bisa serius aja, karena kan gw ke Kampung Bahasa, emang niatnya mau kursus bahasa, mau fokus itu dulu sih"
"Jadi gw ditolak nih?"
"Ya tapi gw juga butuh juga sih orang yang selalu ada buat gw biar gw gak kesepian"
"Terus jadinya gimana?"
"Yauda deh"
"Yauda apa Kin?"
"Ya itu..."
"Ya apa? Yauda iya atau ngga?"
"Iya..."
"Serius Lo terima gw?"
"Iya serius"
"Aarrghhh Akhirnya...gw diterima juga sama Sakina Al-Maheera. Thank you ya Kin. Mulai sekarang, panggil apa nih? Ayang Mbeb? Mama Papa? atau Papi Mami?"
"Hahaha lebay Lo. Ayang Mbeb aja. Tapi didepan temen-temen, panggil nama aja, kecuali di WA atau telpon"
__ADS_1
"Gitu? Kenapa memangnya?"
"Gw belum ingin mempublikasi hubungan kita aja. Biar aja suatu saat nanti, mereka tau sendiri soal hubungan kita"
"Oh gitu... mmmm yauda deh kalau itu mau Lo, eh Mbeb maksudnya haha. Belum terbiasa, maaf ya Mbeb haha... jadi canggung, nervous abis diterima hahaha"
"Hahaha... sama gw juga belum biasa"
"Yuk Mbeb, kita balik lagi ke tenda"
"Ok deh Ayang hahaha" Jawab Sakina.
*** Di depan Tenda
Naufal : "Habis ngapain Lo berdua diatas? Mesum Lo ya?"
Bobby : "Enak aja, sembarang Lo kalau ngomong. Gw cuma ngasih tau Kina kalau pemandangan di atas lebih Indah. Jadi, gw ajak dia biar dia liat sendiri"
Naufal : "Oohhh gituuuu"
Bobby : "Gw tonjok lu, Fal"
Naufal : "Kalau gak ada sesuatu, ya gak usah marah kali Bob. Lebay amat. Si amat aja gak lebay"
Mieta : "Siapa nih yang mau masak nasi?"
Nikko : "Lu aja Miet"
Mieta : "Gw belum pernah masak nasi di Gunung. Masak pake apa? Terus nyuci berasnya dimana? Pake air minum kan sayang. Pake air danau kan gak boleh masak pake air itu. Siapa tau ada yang jorok pipis disitu, iihh jijay.
Nikko : "si Mieta banyak alasan"
Mieta : "Gw serius. Terus gimana? Pake air di botol, gitu? Ntar persediaan buat minumnya berkurang"
Nikko : "Yauda deh sini gw yang masak"
Mieta : "Pake air bersih loh ya, jangan pake air kotor. Ntar sakit perut, bisa berabe urusannya"
Nikko : "Iya. Udah deh pokoknya tau-tau Mateng aja nasinya"
Mieta : "Wih, udah kayak sulap aja, tau-tau Mateng"
Hito : "Mau kemana tuh si Nikko. Wah, dia minta air ke pendaki yang lain, malu-maluin aja si Nikko"
Mieta : "Tadi sih pas mendaki, gw liat dia emang ngobrol lama sama orang itu. Mungkin mereka saling kenal atau temen kursusnya di tempat lain"
Giska : "Kin, anterin yuk"
Giska : "Gw tiba-tiba mules nih"
Sakina : "Makan juga belum, udah mau buang aja. Mau dikosongin dulu ya biar muat isi ulang hahaha"
Giska : "Jorok banget sih Kina!"
Sakina : "Lha, kok jorok. Ngga jorok, Itu Fakta"
Giska : "Ya emangnya gw tau kalau bakal datang mules"
Sakina : "Yauda deh ayo deh jangan banyak berkicau, ntar cepirit lagi hahaha. Eh tapi gw tunggu di bawah ya, gw gak mau naik.
Giska : "Burung kali ah berkicau. Siapa juga yang nyuruh Lo tunggu disamping gw lagi berak"
Sakina : "Hahaha Mau BAB aja sensi banget ni orang"
Giska : "Hayu buruan! udah di ujung nih"
10 menit kemudian...
Sakina : "Udah lega?"
Giska : "Iya Alhamdulillah. Jijik banget tau gak sih di atas, banyak taee"
Sakina : "Seriusan loh?"
Giska : "Iya, nggak banget deh. Harusnya toiletnya dibetulin kek ya"
Sakina : "Ya mungkin gak ada yang ngurusnya kali. Gw juga ogah kalau naik ke Gunung cuma mau check toilet doang, males banget"
Nasi dan mie yang dimasak sudah matang.
Mereka semua makan bersama seadanya.
"Yang jijik-an, kalau ngga makan, terus sakit, tanggung sendiri akibatnya. Jauh nih gunung ke bawahnya, tolong jangan ngerepotin kita-kita. Pilihannya mau makan atau mau sakit"
Pada akhirnya semua pun ikut makan tanpa terkecuali.
Setelah semua selesai makan, ada yang beristirahat, ada yang sholat Dzuhur.
"Gw mau sholat, tapi bingung wudhunya gimana"
"Alesan aja lho. Kan bisa tayamum, Bob"
__ADS_1
"Nah itu dia maksud gw Koh, gw udah lupa caranya tayamum gimana. Gw taunya cuma diusap-usap ke tangan"
"Diusap-usap, keluar deh Jinnya" Kata Nikko.
"Elu tuh Jin-nya"
"Eh, muka gw ganteng ya, gak cocok gw jadi begituan, gw cocoknya yang jadi Syahrul Gunawannya" Ucap Nikko.
"Terserah Lo deh Koh" Ucap Bobby yang sudah terbiasa dengan ucapannya Nikko.
Jam berputar begitu cepat. Setelah sholat isya, semua berkumpul di satu tenda yang besar.
"Setuju nggak temen-temen kalau malam ini kita main Truth and Dare?"
"Setuju-setuju"
"Ini yang nyaut cuma satu orang. Yang lainnya gak setuju atau gimana?"
Semua menjawab setuju, kecuali Sakina, Dia menjawab "Ngantuk".
"Yauda Lo tiduran aja Kin sambil dengerin kita main" Ucap Bobby kepada Sakina.
"Yauda kita mulai ya. Gw udah tulis Truth and Dare di kertas yang digulung ini, jadi kalian gak boleh nentuin sendiri mau Truth or Dare. Silahkan kalian ambil kertasnya, masing-masing orang ambil 1. Pegang dulu ya, jangan dibuka dulu. Kalau kalian mau tuker kertas kalian dengan temen yang lain, boleh-boleh aja. Kalian tunjuk 1 orang yang mau kalian tuker, tapi ga boleh ngasih tau isi masing-masing kertas yang kalian pegang. Ngerti nggak?"
"Gak ngerti"
"Coba ulangi"
"Misalnya kertas yang gw pegang adalah Truth. Gw gak mau nih. Terus gw mau tuker ke satu orang, tapi gw gak boleh nyebutin isi kertas yang gw pegang dan orang yang gw tunjuk juga gak boleh ngasih tau isi kertas dia apa. Jadi barter gitu. Penukaran cuma sekali ya. Udah pada ngerti kan?"
"Terus misalnya nih ya, dapatnya Truth, udah dituker ternyata Truth juga, jadi tetep aja harus Truth?"
"Iya tetep Truth dan gak boleh dituker lagi ke siapapun"
"Terus kalau Truth, kejujuran apa yang harus kita ungkapkan atau ada yang tentuin?"
"Bebas mau Truth apa aja. Gak perlu ditentuin, masing-masing orang kan punya Privacy juga"
"Ok deh. Ngerti-ngerti"
"Yauda, kita mulai ya. Gw yang pimpin ya dan yang berhak tunjuk cuma gw doang. Ok?
"Ok deh"
"Iya OK"
Saat datang gilirannya Sakina, Kina pun terkejut karena dia mendapatkan "Truth", lalu dia pun menunjuk Bobby untuk menukar kertasnya. Namun ternyata kertas yang Bobby pegang adalah Truth juga, jadi Sakina tetap harus berkata jujur.
Sakina berkata jujur bahwa sebenernya barusan dia habis kentut.
"Wah, untung aja gak bau. Kalau bau, bubar deh main game-nya"
Lalu, setelah Sakina, Hito pun akan menunjuk yang lainnya, Namun tiba-tiba...
Bobby : "Boleh nggak kalau sekarang giliran gw?"
Naufal : "Kayaknya ada sesuatu nih"
Bobby : "Gimana To, boleh gw duluan?"
Hito : "Mmm... Yauda deh, silahkan"
Bobby : "Sebenarnya..."
Bobby pun menatap Kina, Namun Kina memasang wajah tidak suka seolah tau apa yang akan Bobby utarakan.
"Gak apa-apa ya Kin ya, gw soalnya gak mau takut nanti ada yang deketin Lo"
Tanpa menunggu jawaban dari Kina, Bobby pun memberitahukan bahwa dia dan Sakina sudah jadian. Lalu tiba-tiba Hito seperti agak kesel mendengar hal itu.
"Sejak kapan Lo jadian sama Kina?"
"Sejak gw ajak Kina ke atas Bukit"
"Yang Lo berduaan itu?"
"Iya. Gw memberanikan diri mengutarakan isi hati gw ke dia dan nembak dia. Awalnya Kina juga ragu, tapi gw meyakinkan dia dan akhirnya dia mau terima gw"
"Mohon maaf nih sebelumnya, bukannya gw mau membuat suasana game ini jadi berantakan, kebetulan gw juga dapet Truth, jadi gw to the point aja. To be Honest, gw juga sebenernya suka sama Kina, cuma sekedar suka aja sih karena Kina orangnya cantik dan menarik, tapi karena dia udah jadi milik Lo, gw sih gak apa-apa. Tapi gw berharap masih bisa temenan sama Kina walaupun Kina udah jadi milik Lo" Curhat Hito blak-blakan.
"Ya kalau sekedar berteman biasa sih gak masalah, ya cuma Lo juga harus paham sekarang dia milik gw. Jangan sampai Lo bikin gw marah"
Ucap Bobby menegaskan ke Hito.
"Duh, kayaknya mulai memanas nih. Udah kita akhiri aja game ini. Udah gak seru kalau diterusin"
Ajak Nikko kepada temen-temennya.
"Iya, udahan aja lah, kita istirahat aja biar besok bisa bangun pagi-pagi, sholat subuh, sarapan terus kita turun Gunung" Kata Naufal ikut serta.
Pada akhirnya, semua masuk ke tenda masing-masing dan tidur. Semenjak Game itu berakhir, Hito dan Bobby tidak lagi satu tenda. Keesokan paginya, mereka semua sudah selesai packing dan mulai turun Gunung.
__ADS_1
Siang harinya, mereka sudah kembali ke Dormitory mereka masing-masing.