
Gery, pria yang duduk di dalam ruangan kerja mewah di sebuah gedung pencakar langit Hartoeni Group itu adalah seorang anak dari penjual bakso, dan seorang ibu rumah tangga yang mengurus 4 orang anak.
"Bapak ?
Gery menatap ke depan pintu ruang kerja nya.
Pak Harto, biasa orang memanggilnya, Penjual bakso, yg berawal dari mendorong gerobaknya, menyusuri jalanan kampung tempat dimana Gery dibesarkan.
Memang, sebelum Gery, anak sulungnya membelikan sebidang tanah dan membangun ruko dan lahan parkir yang luas tempatnya berdagang, Pak Harto hanyalah tukang bakso keliling , yang penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari dan menyekolahkan anaknya.
Berkeliling, di sebuah kampung Kota XX , dimana kota ini sangat lekat dengan sebutan kota pelajar.
Pergi sebelum terik matahari mulai menampakkan panasnya, dan pulang setelah bulan memasang dimana seharusnya dia berada. Pak Harto sangat bersyukur akan hari ini, dagangannya habis. karena kebetulan tadi lewat di depan kerumunan reuni SMA.
-------
Pak Harto duduk di sofa panjang, diruangan kantor sangat luas ini, sepertinya Gery pun bisa menaruh apa saja di dalam kantornya.
"Ibu sakit" . Ucap Pak Harto sambil mengerutkan dahi.
Tampak raut wajah yg cukup melambangkan kekhawatiran dari Pak Harto.
Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Gery, yang ada hanya mimik wajah yang tampak sangat gusar.
__ADS_1
Maklum saja, Bu Eni (Ibu dari Gery) adalah wanita yang sangat dekat dengan Gery.
Ibu, begitu biasa Gery memanggilnya, Ibu rumah tangga yang sangat perkasa dan penuh pengorbanan untuk merawat ke empat anaknya.
Maklum saja, Bu Eni paling tahu, gimana keadaan ke empat anaknya ketika berada di rumah. Sedangkan Pak Harto sibuk dengan gerobaknya menjajakkan bakso nya ke setiap rumah atau orang yg beliau lewati.
Siapa yang menjaga Ibu dirumah pak ?
Santi dan Sinta yang menjaga Ibu nak. Ucap Pak Harto sambil meraih lengan kiri Gery, agar lekas duduk di sampingnya.
Santi dan Sinta adalah si bungsu adik kembar Gery. Memang jarak umur dengannya memang terpaut cukup jauh, saat Gery menamatkan Sekolahnya di SMP Negeri di dekat rumah Bapak dan Ibunya lah si bungsu itu terlahir ke dunia.
Sambil mengambil handphone dari sakunya, Gery menanyakan perihal Ibunya kembali kepada Pak Harto.
"Sudah 3 hari yang lalu. Ucap Pak Harto Pelan
"Sudah dibawa berobat ?
"Bapak sudah memaksa Ibu untuk segera berobat, tapi Ibu tetap tidak mau.
Gery semakin gusar, dan mengerti kenapa Bapak sampai mau menempuh sekitar 3 jam perjalanan untuk menghampirinya ke tempatnya bekerja.
Gery mengetikkan sebuah pesan ke handphonenya.
__ADS_1
Andi, cepat keruanganku, ada Bapak disini mengabarkan Ibu sedang sakit.
Andi, adik laki-laki Gery, yang umurnya tidak terpaut cukup jauh dengan Gery. Dulu ketika Gery Baru belajar untuk berjalan mengitari rumah sempitnya, Andi lahir di sebuah rumah sakit yang membuat nyawa Ibu nya hampir tak tertolong, karena cukup sulit melahirkan Andi.
Tok tok tok...
Andi membuka pintu bersamaan dengan sekertaris Gery yang bernama Ryan.
Tampaknya Ryan cukup khawatir dengan Andi, ketika bertemu di lorong kantor dan menabrak badannya yang cukup kekar, seakan terjadi hal yang mengkhawatirkan.
Gimana keadaan Ibu Pak ? ucap ryan sambil menghampiri dan mencium tangan kanan dari Bapaknya
Sambil mengelus punggung Ryan dan menatap Gery
"Pulanglah nak. Ucap Pak Harto dengan menahan air mata yang rasanya sangat sulit untuk di bendung lagi.
Seakan tahu maksud dari Gery, Ryan menelfon Lusi untuk segera mengumpulkan Kepala Staff kantor agar segera ke ruang Meeting Kantor.
"Akan saya urus semuanya Tuan. sambil menundukkan kepala kepada Gery.
"Terima kasih yan.
Dengan cepat kemudian Ryan memerintahkan Pak Dar untuk menyiapkan kendaraan untuk membawa Tuan Gery beserta Bapak dan Andi ke kediaman Ibunya.
__ADS_1
Bersambung...