Investigasi Ulang: Karena Kau Masih Muda

Investigasi Ulang: Karena Kau Masih Muda
Prolog


__ADS_3

Empat bulan yang lalu, Mei, 2016.


"Tolong aku!" Suara terdengar di sepanjang rumah, tapi anehnya, tidak ada seorang pun yang menyadari suara itu. Tidak ada yang tahu siapa, kenapa, dan untuk apa suara itu bisa ada di dalam rumah itu.


Telah terjadi pembunuhan di dalam rumah korban. Itu adalah bunuh diri. Korban hanya menuliskan sebuah pesan sebelum akhirnya dia memutuskan untuk bunuh diri, menusuk pisau dapur ke bagian kanan perutnya. Pesan yang dituliskan darinya adalah:


"Aku menyesal. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf! Aku capai, aku terlalu capai! Aku tidak bisa hidup seperti ini. Aku egois, tapi aku akhirnya sadar, ternyata aku lebih egois daripada yang kupikirkan. Aku bahkan tidak memikirkan apa yang akan terjadi setelah seseorang menemukan ini. Aku hanya bisa pasrah, berharap agar aku dimaafkan untuk terakhir kalinya. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku! Maafkan aku! Terima kasih untuk segalanya, Paman. Tertulis: Jamila Armstrong."


Tidak ada satu pun yang tahu alasan mengapa dia mengakhiri hidupnya. Hanya sebuah tulisan yang dituliskan olehnya yang menjadi barang bukti bahwa dia telah memutuskan untuk melakukan itu. Tidak ada satu pun anggota keluarganya, tidak ada yang berada di sisinya, tidak ada yang membantunya, bahkan tidak ada yang menolongnya di saat dia melakukan aksi itu. Dia hanyalah seorang gadis yang kesepian, sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.


Kasus pun ditutup dengan dugaan: dia bunuh diri karena penyakit mental.


***


Hari ini, 26 Agustus.


"Ada apa, Raka? Mengapa kau masih mengecek berkas lama itu? Bukankah kasus itu sudah ditutup empat bulan yang lalu?" Seorang wanita berkata, mendekati kepalanya menuju saya, lalu menatap ke arah laptop.


"Aku hanya ingin melihat berkas lama saja."


"Begitukah?" Dia menjauh, menatap saya, dan menaruh kedua lengannya di antara dadanya. "Aku masih penasaran ..."


"Penasaran dengan apa?" Aku bertanya.


"Kau tahu, jika kau membaca pesan tersebut ..."


"Pesan apa?"


"Yah, pesan darinya."


Aku langsung mengecek pesan yang dimaksud. Aku mengeklik berkas yang berisi pesan itu, pesan yang ditulis darinya untuk seseorang.


"Sampai saat ini, orang yang disebutkan di dalam suratnya belum pernah menampakkan dirinya sekalipun."


"Yang kau maksud, pamannya?"


"Kau tahu apa, aku sangat mencurigai pamannya. Bagaimana tidak, kita sudah memberikan kabar bahwa keponakannya telah meninggal karena bunuh diri, tapi sampai saat ini, dia tidak kunjung datang. Dia bahkan tidak datang di saat pemakaman keponakannya berlangsung beberapa bulan yang lalu. Apakah dia benar-benar adalah pamannya? Atau ... dialah yang telah membunuhnya? Dia memalsukan surat itu seakan itu ditulis oleh keponakannya. Itu bisa saja terjadi, 'kan?"


"Kau benar, itu bisa saja terjadi. Tapi kasus ini sudah ditutup empat bulan yang lalu. Jadi ..." Saya berdiri dari kursiku. "Apa pun yang kau katakan saat ini, itu tidak akan mengubah apa pun."


Aku berjalan meninggalkannya di saat dia masih berpikir.


"Ah, kau benar. Lalu kau ingin pergi ke mana?"


"Aku ingin merokok. Lagi pula, hari ini aku bebas tugas. Tidak ada kasus yang perlu aku tangani untuk sekarang ini. Aku memiliki waktu yang banyak," Aku berkata tanpa menoleh ke arahnya.


"Jadi begitu. Kalau begitu ..." Dia berlari menghampiriku dengan sepatu hak tingginya. "Bagaimana kalau makan siang bersama?"


Aku berhenti setelah dia mengatakan itu di dekatku. Aku menoleh ke arahnya dan menyentil dahinya yang ditutupi oleh poninya.


"Lain kali saja, Karina." Aku pergi meninggalkannya yang sedang memegang dahinya.


"Kau mengatakan bahwa kau senggang, bukan? Mengapa kau menolak ajakanku?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan darinya, aku berhenti dan berbalik ke arahnya.


"Ah ... itu karena aku tidak mencintaimu."


Setelah mengatakan itu, aku benar-benar pergi meninggalkannya.


"Apa-apaan ini? Mengapa dia selalu berbohong dengan perasaannya itu? Aku sudah mengetahui itu sejak kita SMP, tapi kau malah ... Aku benar-benar tidak mengerti tentang pemikiranmu. Dasar pembohong!"


***


Liburan, mungkin itulah yang aku inginkan saat ini. Aku terlalu pusing untuk melakukan hal itu ataupun itu. Aku tidak bisa menahan penderitaan di kepala dan hati saya ini. Meski begitu, aku tetap berusaha untuk tersenyum di depan orang-orang dan terlihat baik-baik saja.


Aku pernah berbicara dengan abangku. Itu terjadi dua puluh tiga tahun yang lalu. Saat itu, kata-kata darinya memberikanku sebuah motivasi dan arah di mana aku harus melangkah.


"Kau ingin pergi ke mana? Apakah kau tidak akan bermain denganku?"


"Maaf Raka, mungkin lain kali saja. Aku harus bekerja sekarang."


"Tapi ..."


Dia tiba-tiba tersenyum saat aku tahu dia tidak bisa bermain denganku karena pekerjaannya.


"Tersenyumlah! Bahkan jika di depanmu ada seorang pecundang, kau tetap harus tersenyum. Jangan lupa untuk selalu tersenyum. Senyum itu gratis. Jangan pernah menyesal karena aku meninggalkanmu karena pekerjaanku. Besok ... kita akan bersenang-senang setelah hari ini berakhir." Dia menunduk di depanku dan menyodorkan jari kelingkingnya ke arah saya.


"Janji?" Aku menaruh jari kelingkingku ke jari kelingkingnya.


"Iya, aku janji. Tapi ingatlah satu hal, tersenyumlah bahkan di saat kau sedang menderita."


Aku tidak mengerti dengan apa yang dia maksud saat itu, "tetap tersenyum apa pun yang terjadi". Dia mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti oleh seorang anak kecil. Tapi saat itu, saat dia pergi bekerja dan aku mengikutinya, aku akhirnya mengerti dengan apa yang dia maksud.


"Apanya yang baik-baik saja? Cih ..."


Aku membakar rokok dan menatap ke luar dinding kaca ini. Para semut-semut (manusia) di sana terlihat sangat damai seakan tidak ada kejahatan di dunia ini. Ada yang sedang menelepon, ada yang menunggu bus di halte, ada murid-murid yang berjalan, ada budak kantor yang berlari karena telat, dan ada pula pantulan wajahku di dinding kaca ini.


"Kalau dipikir-pikir, apakah mereka tidak terlalu terburu-buru? Mereka lupa untuk tersenyum. Murid itu, pegawai itu, apakah mereka tidak tersenyum? Lalu untuk apa tersenyum saat kau tahu kau tidak bisa melakukan itu pada kondisi yang tidak tepat?"


Aku menatap diriku yang berada di pantulan dinding kaca ini dan mulai berpikir.


Mengapa dia bisa mengatakan itu kepadaku di saat kondisinya tidak baik-baik saja? Lihatlah mereka, tidak ada senyuman di bibir mereka. Kau tersenyum di saat kau sadar bahwa itu tidak perlu dilakukan. Adakalanya kau menangis. Adakalanya kau tertawa. Adakalanya kau berbicara. Adakalanya kau diam. Tidak selamanya tersenyum itu bagus. Lalu mengapa kau tetap tersenyum bahkan di saat kondisimu semakin menderita? Hey Yuda, bisakah kau menjelaskannya kepadaku? Mengapa kau meninggalkanku sebelum aku bisa menemukan alasanmu untuk tetap hidup dan merawatku? Mengapa kau meninggalkanku? Putrimu ... Aku tidak bisa menjadi sepertimu yang selalu bisa tersenyum di segala kondisi. Aku hanya ... aku hanya seorang pecundang yang bahkan telah membiarkan putrimu meninggal. Kenapa ... kenapa kau meninggalkanku? Mengapa kau harus meninggalkan dunia ini? Hei Yuda, beritahu aku!


Air mata keluar dari kedua mataku. Aku tidak bisa menahan nestapa yang aku alami karena mengingat tentangnya, yang selama ini ada untukku di setiap saatnya. Setiap kali dia tersenyum, setiap kali dia memberikan dukungan kepadaku, setiap kali dia menderita tapi disembunyikan olehnya melalui senyumannya, setiap kali kata-kata yang diberikan olehnya, aku ... aku bukan apa-apa. Aku hanya seorang pria yang hanya bisa membuat hidupnya menderita saja. Jika saja aku tidak lahir di dunia ini, jika saja orang tua kami tidak mengalami kecelakaan dan mengakibatkan mereka meninggal dunia, dia pasti sangat bahagia saat ini. Mungkin dia sudah menjadi pebasket profesional. Dia tidak akan mengubur cita-citanya. Dia akan menemukan wanita yang jauh lebih baik daripada wanita itu. Dan mungkin ... mungkin dia tidak akan menjalani hidup seperti ini. Dunianya, kebebasannya, sayapnya telah kurenggut. Dan bahkan nyawa putrinya juga telah kurenggut. Aku adalah seorang pria yang telah merebut kehidupan mereka. Aku adalah seorang pria yang tidak pantas untuk hidup di dunia ini. Aku adalah manusia yang paling hina untuknya dan putrinya di dunia ini.


***


Di sebuah rumah, pukul 10.


"Hah!? Apa katamu?"


Seorang pria yang terus duduk dan menatap monitornya tiba-tiba berteriak karena mendengar apa yang kubicarakan kepadanya. Dia menoleh ke arahku dan memasang wajah kaget dan berhenti di sana.


"Tunggu, tunggu, tunggu! Apakah kau sudah gila? Kau pasti sudah gila, Raka. Kau benar-benar gila! Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan itu. Kau tahu seberapa bahaya eksperimen itu, bukan? Tubuhmu akan hancur bila kau meminum itu."


Dia mengetahui sebuah eksperimen yang dilakukan oleh sebuah perusahaan/organisasi rahasia. Akulah yang memberitahukan itu kepadanya.

__ADS_1


"Kau seperti ini karena Jamila, bukan?" Dia bertanya lagi dan terus menatapku.


Aku merespons dengan mengangguk.


"Kau tidak boleh melakukan itu. Pokoknya, kau tidak boleh melakukan itu! Aku tidak ingin kehilangan seorang detektif hebat sepertimu. Aku tidak ingin kehilangan orang yang telah menyelamat nyawaku. Aku tidak ingin ..." Dia berbalik menuju layar monitornya. Lalu dia membungkuk untuk melihat kedua kakinya yang telah lumpuh itu.


"Kau tahu ..." Aku ragu-ragu untuk berbicara.


"Memangnya kau tidak memiliki cara lain untuk mengetahui apa yang terjadi kepada keponakanmu? Kau seorang detektif hebat, bukan? Mengapa kau tidak bisa menyelesaikan kasus itu? Mengapa para polisi tidak bisa melakukan masalah mudah seperti itu dan memilih untuk menutupnya seakan itu adalah kasus bunuh diri? Mengapa kau tidak mengatakan kepada mereka bahwa Jamila tidak akan melakukan itu? Apa yang para polisi lakukan? Apa yang mereka pikirkan? Dan ... apa yang sebenarnya terjadi? Jamila ... dia adalah gadis yang baik, bukan? Tapi kenapa kalian dengan mudahnya membiarkan kematiannya dan menganggap dia bunuh diri karena penyakit mental?"


"A-Aku ... aku juga tidak mengerti. Sejujurnya, aku ingin bertindak dan mengambil alih kasus itu, tapi para petinggi menyuruhku untuk diam. Aku telah berusaha untuk tetap sabar dan menunggu hasil dari penyelidikan mereka. Tapi pada akhirnya, mereka memutuskan untuk menyimpulkan bahwa itu adalah kasus bunuh diri, dan kasus pun ditutup oleh mereka."


"Apakah kau pernah mencoba ..."


"Aku sudah mencoba berbagai macam cara agar kasus itu tetap dilanjutkan. Aku menawarkan diriku untuk menanganinya. Tapi mereka tidak mengizinkanku untuk melakukannya. Aku kecewa dengan diriku dan mereka karena tidak bisa menyelidiki itu. Aku sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang. Aku bukan detektif hebat seperti yang kau katakan. Aku hanya budak mereka saja. Aku tidak bisa bergerak bila mereka tidak mengizinkanku bergerak."


Segala hal sudah kucoba agar aku bisa menyelidiki kasus itu, tapi pada akhirnya, apa yang aku lakukan telah dibatasi oleh mereka. Aku disuruh untuk tidak menangani itu dengan alasan dikarenakan kasus tersebut cuman sebatas kasus bunuh diri saja, yang sering dilakukan oleh remaja-remaja.


"Raka ..." Dia menghampiriku dengan menggerakkan kursi rodanya dan melihatku menangis.


"Aku ... aku sudah tidak bisa melakukan apa pun lagi, kau tahu itu, Anton. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk mereka. Aku tidak punya pilihan lain. Yuda ... Jamila... itu hanya untuk mereka."


"Tapi itu ..."


"Aku tahu itu bahaya, tapi apa boleh buat. Nyawaku tidak berarti dibandingkan kehidupan mereka yang telah kurenggut selama ini."


"Tapi bagaimana jika ternyata Jamila memang bunuh diri?"


Aku kaget saat dia mengatakan itu. Dia mengatakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi kpeada Jamila.


Setelah beberapa detik terkejut, aku menoleh ke arahnya.


"Aku yakin dia tidak akan melakukan itu. Dia adalah Jamila yang telah aku besarkan. Dia tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu. Dia seperti ayahnya, selalu tersenyum. Ini kesalahanku karena aku terlalu egois dan hanya memikirkan pekerjaanku, sehingga dia tidak mendapatkan perhatian dariku. Aku terlalu egois dan pergi ke luar negeri hanya untuk pekerjaanku. Aku sama sekali tidak memperhatikannya ... Aku benar-benar bodoh. Gara-garaku, dia berakhir seperti ini. Bukankah itu sama saja seperti aku yang membunuhnya?"


"Tidak, itu bukan kesalahanmu ataupun kebodohanmu. Kau telah membesarkannya setelah kematian ayahnya. Kau adalah paman terbaik di dunia ini yang dimilikinya. Yuda pasti bangga memiliki adik sepertimu, Raka. Percayalah, kau telah melakukan tugasmu dengan baik sebagai paman dan ayah tirinya."


Setelah dia mengatakan itu, menghiburku, dia memutar kursi rodanya dan berjalan ke arah meja kerjanya. Tapi sebelum itu, dia tampak ragu-ragu untuk berpaling dari saya menuju meja kerjanya.


"Baiklah, aku akan membantumu."


"Sungguh?"


Itu kabar yang aku tunggu darinya. Aku sangat senang mendengarnya.


"Aku hanya perlu memalsukan identitasmu saja, bukan?"


"Iya, hanya itu. Itu saja."


"Baiklah, itu masalah mudah untukku."


"Terima kasih, Anton. Aku akan mengambil cuti di kantorku."


Aku memutuskan untuk pergi setelah berterima kasih kepadanya atas apa yang dia lakukan, menolongku.

__ADS_1


"Raka ... aku harap kau baik-baik saja setelah ini. Kau tidak boleh mati karena pil bahaya itu. Aku percaya kau bisa menemukan apa yang terjadi kepada Jamila, untuk apa dia bunuh diri, mengapa dia bunuh diri ... Aku percaya kepadamu seperti aku percaya kepada Yuda. Kau adalah adik temanku sekaligus satu-satunya temanku. Tolong selamatkan Jamila, ungkap kematiannya, dan buat dia tenang di alam sana. Aku percaya kepadamu, Raka."


__ADS_2