Investigasi Ulang: Karena Kau Masih Muda

Investigasi Ulang: Karena Kau Masih Muda
Teman-teman Kelasnya


__ADS_3

Semalam, di bawah jembatan dekat sungai Merah, pukul 8:00 pm.


“Ayo! Let’s go! Hajar! Pukul!”


Para penonton bersorak saat dua siswa saling pertarung di tengah-tengah mereka. Sementara itu, para petaruh cemas dengan taruhan yang mereka pilih. Mereka memilih di antara dua siswa itu. Para panitia, yang mengadakan acara tersebut, sibuk untuk merekam siaran langsung dari kamera ponsel pintar mereka. Mereka saling tertawa dan memegang ponsel pintar mereka, serta seperti tidak merasa bersalah karena telah melibatkan kedua siswa itu.


Semua orang yang berada di bawah jembatan dekat sungai Merah memiliki seragam yang sama, tapi kebanyakan dari mereka adalah murid-murid dari Akademi Tjee. Beberapa SMA lainnya juga terlibat dalam acara tersebut, dan beberapa dari mereka menjadi panitianya.


Dua murid yang dipertaruhkan untuk acara kali ini adalah berasal dari Akademi Tjee dan SMA Dolwech. Kedua sekolah tersebut adalah yang paling bergengsi daripada sekolah-sekolah lainnya di kota Gofur ini, jadi itu mengundang murid-murid dari sekolah lain untuk menonton mereka. Terlebih lagi, acara ini disiarkan langsung dengan taruhan yang besar, 500rb atau sebanding dengan 34 US Dolar.


Mereka menonton dan bertaruh untuk hiburan mereka. Karena itulah mereka datang ke acara ini.


“Ayolah, si pecundang! Pukul! Terjang! Jangan mau kalah olehnya!”


Seorang murid dari Akademi Tjee, yang juga sebagai panitia acara tersebut, memiliki muka sangar dan sebuah tato besar di punggungnya, terus bersorak untuk mendukung siswa dari sekolahnya. Dia ikut memasang taruhan untuk siswa itu, dan dia juga adalah yang memaksa siswa itu untuk bertarung di sana. Dia adalah Kevin Hidayat, seorang remaja nakal yang sering menyusahkan masyarakat dan guru-guru.


Dia sangat ditakuti karena memiliki reputasi yang buruk, sering mengganggu orang-orang, sering mengancam akan membunuh jika ada seseorang yang melaporkannya, berbuat onar, suka berkelahi dan tawuran, dan hidup sebagai apa yang dia inginkan saja. Moto hidupnya adalah, asalkan keinginannya tercapai, dia akan sangat senang. Dia adalah nilai yang paling buruk untuk seorang remaja dan murid. Meski begitu, sampai saat ini, bahkan jika dia memiliki reputasi yang buruk, para polisi tidak berani untuk mengganggunya ataupun menangkapnya. Para polisi menilai dia sudah seperti kriminal kecil yang bersembunyi di balik bayangan: sulit untuk ditangkap tanpa ada barang-barang bukti. Selain itu, dia di bawah umur.


Selang beberapa saat ketika pertarungan dimulai, Kevin mengatakan bahwa siswa yang dibawa olehnya adalah seorang pecundang yang terbaik. Jadi, siswa-siswa dari sekolah lain mempercayainya dan memasang taruhan untuk si pecundang. Dia bagaikan yang menghasut mereka untuk menaruh taruhan mereka kepada si pecundang. Tentu, itu ada sebuah keuntungan untuknya. Dia akan mendapatkan bonus dari duit-duit yang mereka pertaruhkan jika si pecundang menang, serta uang bonus dari hasil mengikutsertakan si pecundang ke acara tersebut. Dengan begitu, dia mendapatkan kemenangannya sendiri, uang yang banyak.


BAM!


Tapi dia tidak tahu tentang siapa lawan dari si pecundang yang dibawanya. Lawan dari si pecundang adalah siswa yang diikutsertakan oleh si penindas dari SMA Dolwech. Ketika si pecundang mendapatkan pukulan dari siswa itu, dia hampir menggigit bibirnya.


Si pecundang terjatuh setelah terkena pukulan keras di wajahnya. Para penonton seakan telah tahu siapa yang akan memenangkan pertarungan. Mereka, yang bertaruh untuk si pecundang, terkejut saat mengetahui bahwa si pecundang tidak memiliki kesempatan untuk menang. Beberapa dari mereka hampir melirik ke arah Kevin dan ingin menyalahkannya atas semua ini. Sedangkan para petaruh yang memilih siswa itu pun senang. Mereka bahagia seakan menemukan uang yang mereka inginkan di depan mereka. Mereka akan segera memungutnya sebentar lagi.


Ini adalah penentuan apakah si pecundang yang diikutsertakan oleh Kevin akan kalah atau tidak. Pada momen ini, mata mereka tertuju kepada kedua orang yang berada di tengah-tengah mereka. Mereka ingin tahu akhir dari pertarung tersebut. Mereka ingin uang mereka. Mereka ingin harapan mustahil mereka tiba-tiba datang menghampiri mereka. Mereka ingin semua ini segera usai.


Siswa itu berdiri di atas si pecundang setelah dia mengetahui lawannya tidak mampu berdiri. Dia memukul pukulannya ke arah wajah si pecundang beberapa kali sampai benar-benar memastikan pertarungannya telah selesai dan dimenangkan olehnya.

__ADS_1


Selang beberapa saat sebelum sang wasit memutuskan dia pemenangnya, Kevin dengan cepat bergegas melewati beberapa penonton dengan terburu-buru.


“Kau brengsek...”


Kevin mendorong siswa itu dan kemudian mengangkat kerah seragam si pecundang. Dia mendorong si pecundang sampai ke dinding jembatan lalu memukul si pecundang beberapa kali.


“Kau telah mempermalukanku, Jamal! Kau lihat seberapa banyak orang yang menontonmu dan bertaruh untukmu? Apakah kau bisa melihat mereka, huh? Kau puas dengan kalah darinya begitu saja? Kau telah mengecewakanku, kau pecundang. Aku bisa membunuhmu kapanmu yang aku mau. Aku telah memberikanmu kesempatan untuk hidup, tapi kau malah merusaknya.”


Dia mengancam si pecundang yang memiliki nama Jamal itu dengan sebuah pisau lipat yang dikeluarkan dari saku celananya. Dia menancapkan ujung bilah pisau itu ke leher Jamal dengan tatapan matanya yang semakin diselimuti amarah.


“M-Maaf...”


Bahkan jika Jamal meminta maaf saat mulutnya tidak bisa berbicara, Kevin tidak berhenti. Dia terus mengancamnya dengan dorongannya yang semakin kuat dan dengan ujung bilah pisau itu yang semakin menembus kulit Jamal.


“Maaf? Kau, yang sebagai si pecundang, meminta maaf kepadaku? Apakah kau berpikir aku akan memaafkanmu? Kau tahu apa yang membuatku seperti ini? Kau tahu seberapa banyak orang-orang yang kecewa karenamu? Kau tahu uang yang mereka habiskan hanya untuk pecundang sepertimu? Apakah kau mampu menggantinya?”


“M-Maaf...”


Namun pada akhirnya, mereka hanya bisa menonton. Beberapa dari mereka memilih aman, kabur dari tempat acara tersebut, seperti tidak ingin terlibat dalam situasi ini.


Jamal berada di ujung kehidupannya. Kevin sudah sangat marah dan bisa saja membunuhnya. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Ini seperti mereka tidak mau terlibat dan menjadi sasaran berikutnya Kevin. Mereka hanya bisa menunggu sampai kemarahan Kevin reda atau menyaksikan pembunuhan yang dilakukan oleh Kevin.


Waktu terus berjalan, dan bilah pisau yang ditancapkan di leher Jamal semakin dalam. Kedua mata Kevin terus menatap Jamal yang sudah tidak berdaya. Hanya menunggu waktu saja sampai bilah pisau itu menusuk ke bagian dalam dari leher Jamal.


*Suara sirene polisi.


Tapi untungnya, di sana ada polisi yang datang. Tidak, itu bukan polisi, melainkan suara yang berasal dari ponsel pintar seseorang yang berada di atas jembatan. Meski begitu, karena itu muncul di waktu yang tepat, Kevin dan yang lainnya panik dan berlarian untuk pergi dari tempat itu.


Sebelum Kevin pergi, dia telah berhasil mengancam dan mengintimidasi Jamal agar Jamal selalu waspada.

__ADS_1


“Kau selamat kali ini. Aku akan membunuhmu jika kau mempermalukanku lagi. Tunggulah aku di sekolah nanti, akan kuberi peringatan untukmu! Ayahmu, saudari kecilmu, nenekmu, aku mengetahui mereka. Aku akan melukai mereka jika kau tidak menurutiku dan mempermalukanku lagi! Ingatlah itu, Jamal Pasaribu!”


Seorang gadis langsung bergegas ke bawah setelah tahu mereka telah pergi. Dia segera menanyakan kondisi Jamal yang terlihat tidak baik-baik saja.


“Apa kau baik-baik saja? Aku kebetulan lewat jalan ini setelah pulang dari tempat lesku. Aku melihatmu...”


Dia sangat mencemaskan kondisi Jamal yang penuh luka lebam di wajahnya. Akan tetapi, Jamal menolak bantuannya.


“Aku baik-baik saja. Ini bukan urusanmu. Kau jangan ikut campur!”


Setelah menilai wajah gadis itu, Jamal berdiri dan meninggalkannya.


Si gadis tidak ingin Jamal pergi begitu saja, jadi dia memutuskan untuk memanggil Jamal.


“Tunggu! Aku memang tidak bisa membantumu untuk mengatasi ini, tapi aku...”


“Tapi apa? Kau bahkan tidak bisa menolong temanmu. Jadi, jangan berusaha untuk ikut campur ke dalam masalahku! Pergilah dan jangan pernah terlibat ke dalam masalah ini! Aku peringatkanmu jika kau ikut terlibat. Kehidupanmu bisa saja berubah, Chika Miedeman. Mungkin kau bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang karena kau memiliki segalanya, tapi jika kau terlibat ikut campur dalam masalahku, semua kehidupanmu yang kau raih akan berakhir—dan pada akhirnya, kau tidak akan pernah bisa kembali. Jadi, aku peringatkan untuk tidak ikut campur!”


Setelah mengatakan itu, Jamal pergi meninggalkan gadis yang bernama Chika Miedeman itu.


Chika hanya bisa membiarkan Jamal pergi tanpa bisa menghentikannya. Bibirnya terlihat ragu-ragu untuk menghentikan Jamal untuk yang kedua kalinya. Kedua kakinya ragu-ragu untuk mengejarnya. Pikirannya kosong karena dipenuhi keraguannya. Dia hanya bisa membiarkan Jamal pergi.


***


Hari ini, di ruang kelas 2-2, sebelum waktu belajar dimulai.


Seorang siswa datang dengan wajah babak belur di wajahnya. Dia berjalan mendekati bangkunya dengan membungkuk dan tidak mau melihat ke arah mana pun. Dia seperti baru saja kehilangan semangat dalam hidupnya. Dan aku, yang hanya bisa melihatnya berjalan ke bangkunya saja, terus melihatnya dan bertanya-tanya apa yang terjadi kepadanya.


Aku segera membuka ponsel pintarku untuk mengecek data-data siswa kelas ini. Aku mengecek biodata Jamal yang telah diringkas oleh temanku, Anton. Dan setelah itu, aku mencoba untuk mendekatinya, bahkan saat jam istirahat. Akan tetapi, dia memilih untuk menjauhiku saat dia tahu aku adalah murid baru di sekolah ini. Pendekatanku kepadanya gagal. Dia menolak kehadiranku.

__ADS_1


Ini menarik perhatianku. Aku ingin mengetahui lebih lanjut tentang teman-teman kelas Jamila. Mungkin ada sesuatu yang berhubungan dengan keponakanku jika aku memulai dari mendekati mereka.


Jamal Pasaribu... Apakah kau adalah orang yang buruk, atau kau hanya orang yang bernasib sial saja? Mari kita cari tahu.


__ADS_2