Investigasi Ulang: Karena Kau Masih Muda

Investigasi Ulang: Karena Kau Masih Muda
Dylan Evans (2)


__ADS_3

"Hari ini ..."


"Iya, Bu Layla? Ada apa dengan hari ini?"


Para murid bertanya kepada guru yang bernama Layla yang sudah berdiri di depan mereka. Mereka bingung mengapa Bu Layla menghentikan ucapannya tapi malah menangis.


"Hari ini ..."


Di antara tiga puluh tujuh murid, ada satu murid yang berdiri setelah memukul meja. Mungkin dia kesal dengan perilaku Layla.


"Cepatlah katakan yang ingin Anda katakan! Anda adalah seorang guru, tapi Anda membuatku muak. Anda terlalu bertele-telah dan sangat lambat untuk berbicara! Anda membuang waktu belajarku!"


Itu adalah perkataan yang sangat kasar darinya. Murid laki-laki itu telah mengatakan sesuatu yang buruk kepada gurunya. Dia sangat marah atas apa yang gurunya lakukan.


"Jaga ucapanmu, Sakuya! Kau tidak boleh menjelek-jelekkan gurumu, kau tahu."


Seorang siswi, yang memiliki rambut hitam sampai penunggunya dan membiarkan dahinya terlihat, tiba-tiba berdiri dan memarahi Sakuya yang sedang memarahi kepada Layla. Dia membela Layla mungkin karena Layla adalah wali kelas mereka.


"Hah?" Sakuya terlihat seperti tidak menyangka bahwa akan ada seseorang yang membela Layla. Dia beberapa kali menggelengkan kepalanya dan melihat ke arah siswi itu. "Apakah kau sudah gila, Chika? Apakah kau tidak ingat insiden lima bulan yang lalu? Dia telah meninggalkan kita. Dia meninggalkan kita dan menganggap kita sangat membutuhkan dirinya. Dia bahkan membiarkan posisinya diisi oleh Pak Fadh. Dia telah menyebabkanku dihukum atas apa yang dia lakukan. Karena dialah-"


"Diam! Itu salahmu. Kaulah yang menyebabkan dirimu dihukum oleh Pak Fadh. Kau tidak boleh menyalahkannya hanya karena posisinya digantikan oleh Pak Fadh."


Siswi yang bernama Chika itu terus membela Layla. Tentu, murid yang bernama Sakuya, yang memiliki rambut hitam berantakan, memiliki wajah ganteng, dan memiliki tinggi dan tubuh yang ideal, tidak menerima pembelaan darinya. Bahkan jika Chika memiliki wajah yang sangat cantik, rambut dan mata yang indah, dan terlihat paling menonjol di kelas dan sekolah, Sakuya tetap tidak menerima pembelaannya. Sebagaimana yang sering remaja lakukan, dia hanya mau memenangkan pendapatnya sendiri.


Suasana di dalam terlihat sangat kacau. Aku hanya bisa melihat mereka dari balik jendela ini. Bu Layla tampak hanya bisa meneteskan dan mengusap air matanya saja. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah liburan musim panas, tapi berakhir menjadi seperti ini. Entah apa yang terjadi dengan mereka, suasana seperti ini tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh membiarkan mereka berdebat saat guru mereka sedang bersedih.


Aku memutuskan untuk masuk, menggeser pintu secara perlahan.


"Kau tidak boleh ..."


Suasana tiba-tiba menjadi hening saat aku masuk. Meski begitu, aku tetap berjalan mendekati Layla dan beberapa kali melirik mereka.


Tiba di depan mereka dan di samping Layla, aku melihat mereka satu per satu. Terdapat tiga puluh tujuh murid di kelas ini, kelas 2-2, dan Bu Layla sebagai wali kelas mereka. Ada dua murid yang sedang berdiri dan saling menatap ke arahku. Mereka berdua adalah yang bertengkar sebelumnya, berteriak-teriak sampai suara mereka terdengar di lorong. Dan di sana, meja yang berada di tengah-tengah dari sisi kiri mereka; arahku masuk, terlihat sengaja dibiarkan kosong. Juga, ada meja kosong lainnya yang berada di barisan keempat di sisi kananku dan baris kesatu sisi kiriku. Terdapat tiga meja yang kosong di kelas ini. Aku menduga salah satu meja itu memang dibiarkan kosong atau memang dahulu ada yang mengisinya. Apa yang aku duga adalah salah satu meja itu dimiliki oleh Jamila yang pernah ditempatinya. Aku menduga Jamila pernah duduk di salah satu kursi tersebut. Aku telah mendapatkan informasi bahwa Jamila berada di kelas ini.


Aku melirik Bu Layla yang sudah tidak menangis lagi karena suasana kembali tenang.


Apa-apaan ini? Apakah dia adalah wanita dewasa yang cengeng? Kau tidak boleh seperti itu. Kau adalah seorang guru. Kau harus bisa menjadi contoh yang baik untuk murid-muridmu. Kesedihanmu sama saja seperti kau membiarkan murid-muridmu untuk ikut bersedih juga. Kau akan diremehkan oleh mereka bila kau seperti itu. Hapus kesedihanmu, ganti dengan senyuman untuk mereka. Mereka pasti akan mengertimu.


Aku mengatakan itu di dalam benakku, melirik ke arah Bu Layla dari bahu kananku, dan berdiri tegak menghadap ke arah mereka.


"Hari ini ... Dia adalah teman baru kalian. Dia adalah murid baru di kelas ini." Layla menyuruhku untuk sedikit lebih maju sebelum akhirnya dia menyuruhku memperkenalkan diri. "Silakan perkenalkan dirimu!"


Aku berjalan satu langkah ke depan, berdiri dengan penuh keyakinan bahwa aku telah siap untuk ini, dan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya.


Ketika aku sudah yakin untuk memperkenalkan diriku kepada mereka, mereka berdua, murid-murid yang berteriak dan bertengkar itu, kembali duduk dan terlihat tenang.


"Aku-"


*Suara telepon berdering dengan volume tinggi.


Ponsel pintarku berdering. Ada seseorang yang meneleponku di saat situasi ini. Ini menyebalkan.

__ADS_1


"Oh, maaf ..."


Aku buru-buru untuk mengambil ponsel pintarku dan melihatnya.


Saat aku berhasil memegang ponsel pintarku, aku kesal mengetahui siapa yang meneleponku. Anton, dialah yang meneleponku di saat situasi seperti ini. Dia telah menggagalkanku untuk memperkenalkan diri. Dia mempermalukanku di depan tiga puluh murid dan seorang guru.


"Aku ingin ke toilet. Permisi."


Aku bergegas dengan terburu-buru agar bisa keluar dari kelas ini. Ini semua karena Anton.


Setelah berhasil keluar, aku menjawab panggilan telepon darinya dan berjalan menuju ke toilet.


"Hah!? Ada apa? Mengapa kau meneleponku? Bukankah kau baru saja bertemu denganku?" Aku tiba di toilet dan sedang melihat pantulanku di cermin.


"Itulah sebabnya aku meneleponmu."


"Apa yang kau maksud?"


"Aku ingin memberitahukan sesuatu kepadamu. Ini sangat penting."


"Apa itu?"


"Aku baru saja tiba di halte dan sedang menunggu bus sekarang ini."


"Hah? Jangan bilang kau meneleponku karena ingin memberitahukan itu?"


"Yeah, itu benar. Kau tahu seberapa susahnya berjalan menggunakan kursi roda, bukan? Aku yakin kau sangat mencemaskanku. Jadi, aku mohon jangan mencemaskanku! Aku baik-baik saja! Tenang saja! Kau tetap harus sekolah dengan benar."


Aku sangat terkejut mendengar alasannya meneleponku. Dia meneleponku hanya untuk menyampaikan itu saja? Itu gila. Dia gila.


"Aku tidak ingin putraku menderita karena mencemaskanku. Aku tidak ingin sekolahmu terganggu karena keadaanku."


Bukankah dia sedang menganggukku saat ini?


"Kau bukan ayahku!"


Aku mengakhiri panggilan telepon dan menatap datar ke arah pantulan diriku di cermin.


"Dia sangat mengganggu jika pemikiran fantasinya muncul. Dia bahkan menganggap dirinya adalah benar-benar ayahku."


Aku berbalik. Aku ingin kembali ke kelas untuk memperkenalkan diriku kepada mereka. Tapi saat aku ingin kembali, tiba-tiba suara ketukan muncul, yang terdengar cukup keras, di bilik toilet ujung. Aku berjalan ke sana karena penasaran dengan suara itu.


"Apakah ada orang di luar? Bisakah kau membukakan pintu ini untukku?"


Itu adalah suara laki-laki.


Aku membuka pintu di mana suara itu datang, lalu aku melihat seorang laki-laki yang memakai seragam sama sepertiku.


Wajahnya terlihat murung, bahkan poni rambutnya menutupi seluruh dahinya; hampir menutupi matanya. Dia melihatku dan tampak ragu-ragu dari raut wajahnya.


"T-Terima kasih."

__ADS_1


Dia berjalan melewatiku dan pergi begitu saja setelah berterima kasih.


"Apa-apaan dengannya? Dia terkunci di dalam toilet? Itu membingungkan."


Karena merasa tidak ada yang perlu aku lakukan di toilet ini, aku kembali ke kelas untuk memperkenalkan diriku.


Aku kembali dan menyadari sesuatu di dalam kelas ini. Salah satu meja yang kosong telah ditempati. Murid yang terkunci di toilet itu adalah yang mengisinya. Dia duduk di kursi barisan satu dari sisi kiriku; dekat pintu masuk depan kelas ini.


"Ah..."


Aku melihat ke arahnya untuk beberapa saat sembari memiringkan kepalaku. Dia terlihat baik-baik saja di sana. Tapi entah mengapa dia murung dan selalu menundukkan kepalanya. Dia bahkan tidak melihat ke arahku.


"Aku Ra ... Dylan Evans. Salam kenal, semuanya." Aku memperkenalkan diriku di depan mereka.


Aku hampir menyebutkan nama asliku. Aku harus menjaga mulutku agar identitasku tidak ketahuan.


"Jadi, Dylan, silakan duduk di kursi Anda! Itu adalah kursi Anda mulai dari sekarang! Pelajaran akan segera dimulai!"


Layla menunjuk ke arah meja barisan keempat dari empat barisan meja di kelas ini. Itu adalah meja nomor 3 yang berada di samping jendela.


Aku tidak bergerak tapi memperhatikan arah yang ditunjukkan olehnya.


"Dylan, silakan duduk di kursi Anda."


Layla menyuruh untuk yang kedua kalinya, tapi aku tidak menggerakkan kakiku.


"Dylan? Apakah kau baik-baik saja?"


Aku tidak memperhatikan dia sedang menyuruhku. Tapi saat aku ingin bahwa namaku adalah Dylan Evans, aku berjalan dan mengangguk ke arahnya.


"Oh ... Itu aku ... Dylan. Hahaha ..."


Murid-murid melihatku saat aku berjalan menuju mejaku. Murid-murid, terutama gadis-gadis, terlihat menanti-nanti untuk berkenalan denganku. Aku bisa melihat raut wajah mereka yang tampak senang dengan kehadiranku di kelas ini. Aku seperti seorang idol sekarang, yang siap untuk memberikan tanda tangan sebelum panitia menyuruh.


"Chika, bukankah dia sangat ganteng? Dia seperti tipe idamanku."


"Kau menyukai laki-laki yang menggunakan nada dering pada ponselnya?"


Mendengar perkataan itu, aku menoleh ke arah gadis itu dengan cepat.


Memangnya kenapa jika aku menggunakan nada dering, huh? Kau tahu, jika kau hanya mengaktifkan mode getar di ponselmu, kau tidak akan bisa tahu apakah ada yang mengirim pesan atau meneleponmu. Kau hanya bisa terus menatap ponselmu saja, menunggu pesan atau telepon masuk. Itu karena ponselmu dalam mode getar. Oleh karena itu, nyalakanlah nada dering agar kau tahu bahwa ada yang menghubungimu!


"Hei lihatlah, Chika! Dia melihatmu."


Mereka berdua, gadis-gadis remaja yang berada di meja barisan kedua, saling membicarakanku. Gadis yang bernama Chika dan mungkin adalah temannya telah membicarakanku di depanku. Mereka berdua seakan tidak mempermasalahkan jika membicarakanku di depanku.


Saat itu terjadi, mataku dan mata Chika saling bertemu dan saling menatap untuk beberapa saat. Aku menatapnya karena ingin memperingatinya tentang kegunaan nada dering pada ponsel, dan mungkin dia menatapku karena aku sedang menatapnya.


Kau tidak boleh meremehkan orang-orang yang menggunakan nada dering.


"Ada apa dengannya? Mengapa dia menatapku seperti itu?" Chika kebingungan dengan alasanku menatapnya. Dia terlihat bergumam tapi dengan gestur mulut yang dapat aku baca.

__ADS_1


__ADS_2