Investigasi Ulang: Karena Kau Masih Muda

Investigasi Ulang: Karena Kau Masih Muda
Kesetaraan


__ADS_3

Aku menemukan beberapa hal yang menarik bagiku di hari pertama di sekolah ini. Para murid di sekolah ini cenderung menutupi diri mereka. Ada yang menonjol karena bakat, ada yang tidak berguna karena tidak memiliki bakat, dan ada pula yang tidak memperlihatkan apa pun. Murid-murid yang menonjol selalu mendapatkan popularitas, dan murid-murid “normal” hanya bisa menerima takdir mereka sebagai pelajar.


Seperti pada sekolah umumnya, di sekolah ini juga memiliki ranking untuk menilai murid. Yang paling tinggi selalu diukur dari popularitas yang dimiliki, dan yang paling rendah selalu mendapatkan perlakukan yang kurang baik. Mereka, yang berada di bawah dari ranking atas, biasanya hanya menjadi sebagai murid normal saja. Hidup mereka hanya bergantung kepada hari ini saja, apakah mereka bisa bertahan atau tidak. Dan untuk mereka, yang mendapatkan popularitas karena berada di ranking atas, merasa aman setiap mereka melangkah. Mereka selalu mendapatkan perhatian dari murid-murid lain.


Aku tidak bisa kabur dari situasi seperti ini. Semua remaja memang seperti ini, memandang orang lain dari reputasi yang mereka miliki. Jika kau memiliki wajah buruk tapi kau memiliki suatu bakat yang hebat, kau tetap akan kalah. Jika kau memiliki wajah tampan tapi kau tidak memiliki bakat apa pun, kau tetap bisa menang untuk mendapatkan popularitas.


Dengan memiliki wajah ganteng ataupun cantik, kau bebas untuk melakukan apa pun. Itulah yang para muda-mudi pikirkan. Tentu, semua itu berada di saat masa SMP dan SMA.


Hari kedua di Akademi Tjee, pukul 12:26 pm.


“Hei ...”


Aku menghampiri seorang remaja yang sedang menyendiri, duduk di kursi panjang yang berada sekitar halaman sekolah. Dia sedang menikmati makanannya tapi dengan wajah yang sedih.


Aku duduk di sampingnya dan mulai memperhatikannya.


“Apakah kau ...”


Dia tiba-tiba berdiri dan pergi sebelum aku bisa bertanya kepadanya. Dia meninggalkanku dengan cepat setelah aku duduk di sampingnya. Aku pun bingung dengannya.


“Ada apa dengannya? Apakah ketiakku bau?”


Aku memastikan bahwa dia pergi bukan karenaku. Aku telah memeriksa apakah badanku memiliki bau yang kurang sedap, dan hasilnya adalah badanku tidak bau. Badan dan seragamku sangat wangi, memiliki harum pewangi pakaian.


Aku merelakan kepergiannya dan mulai membuka dan memainkan ponselku.


Nama: Jamal Pasaribu;


Tinggi badan: 170,1 cm;


Kelas: 2-2;


Tanggal lahir: 14 April 1999;


Hobi: Tidak ada;


Cita-cita: Tidak ada.


Kesukaan: Tidak ada;


Ketidaksukaan: Tidak ada;


Ciri khas: Memiliki rambut hitam yang sampai menutupi matanya, memiliki wajah yang terlihat murung, memilih menjauh daripada bergaul, memiliki kulit putih dengan sedikit bekas cacar air di beberapa kulitnya, mata selalu ditutupi oleh poninya, dan penyendiri;


Catatan kriminal: Pencobaan pembunuhan kepada ayahnya, tapi ayahnya memaafkannya dan dia tidak terbukti bersalah;


Referensi: Dia hampir membunuh ayahnya karena masalah keluarga. Dia memiliki dendam kepada ayahnya karena ayahnya sering keluar rumah karena pekerjaannya. Motif pencobaan pembunuh darinya adalah karena merasa iri dengan murid-murid lain yang mendapatkan perhatian dari orang tua mereka. Setelah berdamai dengan ayahnya, dia hidup seperti biasanya dan tinggal bersama ayahnya;


Catatan: Tidak diketahui bagaimana ayahnya bisa memilih untuk memaafkannya dan tetap tinggal bersamanya. Dugaan yang paling kuat adalah ayahnya tahu bahwa dialah yang bersalah karena tidak memperhatikan putranya. Tapi tetap saja, bahkan jika mereka sudah berdamai, ada kemungkinan pencobaan pembunuhan kedua yang bisa saja terjadi. Berhati-hatilah dan tetap waspada kepadanya.

__ADS_1


Jadi begitu. Jadi dia bernama Jamal Pasaribu. Tampaknya keluarganya sedang ada masalah. Mungkin dia menjauh karena lagi ingin sendiri. Dengan kata lain, aku datang di saat waktu yang tidak tepat.


Well, mungkin dia tahu tentang Jamila White. Jamila sangat senang bila menceramahi seseorang sepertinya.


Dugaan kuatku adalah dia kenal dengan Jamila. Aku sangat tahu orang sepertinya sangat disukai oleh Jamila. Jamila sangat menyukai menceramahi seseorang, dan orang itu adalah orang yang sangat pantas untuk mendapatkan ceramah dari Jamila. Aku yakin Jamila tahu bahwa orang itu sedang memiliki masalah dengan keluarganya. Dia pasti bertindak karena mengetahui itu dan mau berteman dengannya.


Itulah alasanku mendekatinya saat aku tahu dia memiliki reputasi yang buruk bahkan memiliki catatan kriminal.


***


Aku memilih masuk ke kelas saat aku tahu waktu untuk istirahat masih lama.


Tidak ada seorang pun di sana. Teman-teman kelasku masih berada di luar dengan aktivitas mereka; makan dan minum di kantin, berbincang bersama teman-teman mereka, menjalani aktivitas klub ...


Karena di kelas ini tidak ada siapa-siapa selain diriku, aku mendekati satu meja yang kosong, yang berada di tengah baris kedua di bagian kiri dari pintu masuk depan kelas ini.


Aku memperhatikan setiap sudut meja dan kursi tersebut. Aku berpendapat bahwa itu adalah yang dipakai Jamila sebagai tempat belajarnya. Setiap detail dari meja dan kursi ini terus aku perhatikan dengan baik agar tidak ada yang terlewat. Bahkan jika aku tidak memiliki perlengkapanku, aku masih bisa menyelidiki tentang ini.


Seperti kursi dan meja lainnya yang berada di kelas ini, itu juga terbuat dari bahan yang sama. Tapi yang membedakan meja ini dengan yang lain adalah ini memiliki sebuah bekas noda. Aku dapat mengetahui bahwa meja ini pernah dibersihkan menggunakan cologne untuk menghapus sesuatu yang bersifat permanen. Meja ini terlihat memiliki warna yang berbeda selain dari bekas noda tinta permanen. Warna meja ini berubah dikarenakan alkohol yang bercampur wewangian yang terkandung di dalam cologne. Kemungkinan yang menyebabkan itu terjadi adalah karena pulpen atau spidol, yang bersifat permanen yang pernah, dicoret di meja ini. Entah itu digunakan oleh Jamila yang hanya untuk kesenangannya saja atau ada orang lain yang mencoretnya di sana.


Umm ... apa yang terjadi pada meja ini? Apakah Jamila benar-benar ceroboh sehingga dia menjatuhkan tintanya, atau ada orang lain yang merusak meja ini?


Aku sangat yakin ini adalah meja milik Jamila. Ini adalah posisi di tengah barisan untuk murid perempuan, dan Jamila sangat menyukai berada di tengah-tengah barisan. Jadi, aku yakin Jamila pernah memakai kursi dan meja ini.


Berada di tengah-tengah orang, itu adalah yang akan menjadi pusat perhatian. Jamila sangat mencolok dan sangat menyukai dirinya menjadi pusat perhatian. Dia bisa melihat ke sisi kiri, kanan, depan, dan belakangnya jika berada di tengah-tengah mereka. Jadi, dia bisa tahu. Dia memiliki sikap seperti ayahnya, selalu baik kepada orang-orang dan selalu tersenyum di segala kondisi.


“Apa yang kau lakukan di sana?”


Ketika aku menoleh ke sumber suara itu, pintu belakang kelas ini, aku melihat seorang murid perempuan berjalan mendekatiku.


“Apa yang kau lakukan?” Dia bertanya lagi. “Untuk apa kau melihat meja Jamila?”


Dia adalah Chika, seorang gadis yang sangat populer di sekolah ini. Selain pintar dan pandai berkomunikasi, dia sangat mahir di segala bidang olahraga. Dia bahkan pernah menjuarai lomba renang, mendekorasi sebuah tempat menjadi yang paling bagus dan mendapatkan penghargaan berupa seni kecantikan, dan keahlian di bidang seni gambar.


Dia hampir mendekati sempurna untuk seorang gadis. Dia memiliki wajah yang cantik, tubuh dan tinggi badan yang ideal, rambut hitam lurus panjang sampai sepunggung, kulit yang terawat, pergelangan kaki yang indah, mata yang indah ... bahkan tangannya terlihat sangat menarik sehingga membuatmu ingin memegangnya. Hampir semua murid laki-laki menyukainya. Dia sangat menarik karena sangat elegan dan berwibawa bagaikan seorang tuan putri.


Meski begitu, aku tidak menyukainya. Aku benci dengannya karena dia memiliki sikap keingintahuaan. Aku sudah menetapkan sikapnya sejak dia menanyakan mengapa aku berada di sini dan melihat meja Jamila saat dia tahu bahwa aku adalah murid di kelas ini juga. Aku memiliki hak untuk melihat-lihat kelas ini, meja-meja dan kursi-kursi di kelas ini, dan beberapa perabotan lainnya. Jadi, dia tidak seharusnya menanyakan itu kepadaku.


“Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Mengapa kau berada di meja temanku?”


Lihatlah! Dia terlalu mencampuri urusanku. Aku bisa tahu bahwa dia memiliki sikap ikut campur masalah orang lain. Aku sangat membenci itu.


“...”


Aku diam dan memperhatikan wajahnya untuk beberapa saat. Lalu aku pergi melewatinya dan duduk di kursiku dan menatap ke luar jendela.


“HEI!”


Dia berteriak ke arahku. Aku dapat mendengarnya dan menduga dia sedang memasang wajah kesal—karena aku mengabaikannya.

__ADS_1


Aku terus mengabaikannya, melihat murid-murid dari luar jendela.


Mungkin karena kesal diabaikan olehku, dia akhirnya mendatangiku dan memukul mejaku. Itu mengejutkanku.


“Hei!”


Aku mau tak mau harus menoleh ke arahnya.


“Ada apa? Mengapa kau menggangguku? Untuk seorang gadis, kau seharusnya bergabung dengan teman-temanmu atau belajar.”


Setidaknya dia tidak boleh melewatkan masa mudanya. Aku memberikan sebuah saran yang baik sebagai seorang pria dewasa untuknya.


“Kau belum menjawab pertanyaanku!”


Aku dapat melihat dia menaiki bibirnya dan seperti ingin terus menanyakannya sampai pertanyaannya dijawab olehku.


“Apakah itu layak menjadi sebuah pertanyaan?” Aku bertanya balik.


“Hei!”


Dia tidak bisa menjawab dan hanya bisa berteriak saja.


Aku menyandarkan badanku ke kursi.


“Gadis kecil, kau harus ...”


“Gadis kecil ...?”


Dia tampak tersinggung dengan itu. Dia terlihat menarik napas dalam-dalam dan menghelanya, lalu mendorong rambutnya ke belakang dan kembali memukul mejaku.


“Kau tidak sopan sekali, ya! Kau tahu, kau ini adalah lelaki yang paling aku benci. Kau adalah murid baru di sini, tapi kau tidak sopan kepada teman kelasmu. Apa-apaan kau ini? Kau paling kau keren dengan memanggilku gadis kecil, huh?!”


“Untuk apa aku sopan kepada seorang gadis kecil yang menanyakan hakku?”


“Hakmu?”


Dia kebingungan dengan pernyataanku. Itulah mengapa dia pantas untuk dipanggil sebagai gadis kecil.


“Kau jangan sok dewasa! Umurmu dan umurku sama! Hakmu? Kau membicarakan hakmu? Di sekolah ini semua hak sama, jadi jangan sok membicarakan tentang hakmu.”


Mengapa dia semakin marah?


Aku menatapnya untuk cukup waktu yang lama. Lalu aku tersenyum kecil dan berdiri.


“Hakku tetaplah hakku. Kau tidak boleh mengubahnya dan menganggap semua orang memiliki hak yang sama. Kau harus belajar lagi! Aku heran kepada orang-orang yang menilaimu sebagai gadis pintar di sekolah ini. Apakah mereka menilaimu dari kecantikanmu saja, atau mereka menilaimu karena kamu adalah seorang gadis kecil?”


Setelah mengatakan itu, aku pergi meninggalkannya.


“Aiiiihhh ...”

__ADS_1


Sebelum aku menggeser pintu keluar, aku dapat mendengar suara meja yang dipukul. Suara itu terasa sangat keras sehingga bergemuruh di dalam kelas ini.


“Apa-apaan dengan cowok itu? Dia sangat belagu untuk seorang murid baru. Dia bahkan memanggilku seorang gadis kecil. Kau brengsek.”


__ADS_2