Investigasi Ulang: Karena Kau Masih Muda

Investigasi Ulang: Karena Kau Masih Muda
Silih Berganti


__ADS_3

*Nada dering pesan.


Pesan dari Karina:


“Apakah itu benar, kau mengambil cuti untuk waktu yang lama? Mengapa sekarang? Aku tahu kau baru pulang dari dinas di luar negeri, tapi mengapa? Apakah ini karena hal itu? Aku ingin berbicara denganmu. Aku harap kau bisa menemuiku.”


Setelah membaca pesan itu, aku menaruh ponselku di saku celana dan menyandarkan tubuhku ke kursi panjang dan melihat langit yang sangat cerah.


Karina, aku tidak bisa menemuimu sekarang, asal kau tahu. Aku mengambil cuti memang karena hal itu. Aku tidak ingin kematian Jamila sia-sia, tanpa ada yang tahu mengapa dia melakukan itu. Jika bukan aku, lalu siapa lagi? Kau tahu apa, para petinggi di kepolisian sudah menutup kasus tersebut. Aku sangat muak mendengar itu. Jadi, inilah pilihan terbaikku untuk menyelidiki ulang kematian Jamila.


Setelah mengatakan itu di dalam benakku, aku mengambil ponselku dan membalas pesan itu, “Maaf, aku tidak bisa bertemu denganmu sekarang!”


Selang beberapa saat, nada dering pesan muncul di ponselku. Itu adalah pesan dari Karina. Dia membalas, “Kenapa? Kau di mana sekarang? Aku akan ke tempatmu sekarang. Kita bisa bicara jika kau membutuhkanku.”


Dia terlalu khawatir dengan kondisiku. Bahkan jika aku terus mengabaikannya, dia tetap akan seperti itu dan memandangku sebagai orang yang paling dibutuhkan olehnya. Tapi sekali lagi, untuk saat ini, aku harus melakukan ini sendiri. Aku tidak bisa melibatkannya. Pekerjaannya lebih berarti daripada diriku. Aku tidak bisa membebaninya untuk yang ke sekian kalinya. Aku tidak mau kariernya hancur karenaku. Aku sudah merasa aku adalah pria yang paling membebani hidupnya selama ini.


Aku memilih mengabaikan pesan darinya dan memperhatikan murid-murid yang berlalu-lalang ketika jam istirahat berlangsung.


Tidak terlalu jauh dari arah kananku, di sana terdapat lapangan yang dipakai untuk berolahraga. Itu adalah luar ruangan (outdoor). Di sana ada beberapa murid yang sedang asyik bermain sepak bola, dan juga ada dua pria dewasa yang memberikan instruksi kepada mereka. Mungkin dua pria itu adalah pelatih dari masing-masing kubu. Dan mungkin di sana sedang ada pertandingan persahabatan antara sekolah ini dengan sekolah yang lain.


Para penonton yang sebagian adalah gadis-gadis berteriak sangat histeris ketika seorang cowok berhasil mencetak gol. Mereka senang, itu adalah kegembiraan dari mereka, tapi aku merasa itu adalah kegembiraan ketika idolamu berhasil menunjukkan kehebatannya. Itu terasa seperti teriakan mereka untuk orang itu saja, padahal yang sedang bermain di sana bukan hanya dirinya.


Ketika aku perhatikan baik-baik wajah cowok itu, yang berhasil mendapatkan teriakan para gadis, aku mengenalnya. Dia adalah:


Nama: Kalvin Nelson;


Tinggi badan: 175,2 cm;


Kelas: 2-2;


Tanggal lahir: 11 Januari 1999;


Hobi: Sepak bola;


Kesukaan: Mendengar wanita berteriak, tiramisu, cokelat pemberian dari wanita, dan steak;

__ADS_1


Ketidaksukaan: Stroberi, basket, tim musuh yang tidak memiliki rasa hormat, dan makanan dan minuman yang sudah kadaluwarsa.


Cita-cita: Menjadi pemain sepak bola profesional dan bermain di Liga Inggris.


Ciri khas: Memiliki rambut cokelat yang tersisir rapi, wajah yang bagaikan seorang pangeran, disukai banyak gadis-gadis, memiliki kulit putih, suka membantu guru-guru dan murid-murid lain, dan berwibawa;


Catatan kriminal: Tidak ada;


Referensi: Kalvin Nelson pernah dituduh terlibat perkelahian di sebuah pub dan diduga menganiaya karyawan di sana. Tapi setelah penyelidikan selesai, dia dinyatakan tidak bersalah dan berhasil menuntut balik ke sang penuduh. Banyak yang berpihak kepadanya karena dia adalah cowok yang baik dan dikenal sangat ramah. Oleh karena itu, sangat mustahil bila dia terlibat hal-hal seperti itu.


Aku berhasil mendapatkan data dan tenangnya dari Anton. Dia sudah mencari tahu siapa saja yang akan menjadi teman sekelasku. Dia sangat ahli untuk mencari tahu sebelum bertindak. Dia seperti seorang manajer yang mengatur seorang aktris yang akan melakukan pekerjaannya. Jadi, aku sudah mendapatkan data-data beberapa murid yang berada di sekolah ini. Dia sangat membantuku sebagai teman dan sebagai pria yang lebih tua daripadaku.


“Kyaah... Kalvin, kau sangat hebat sekali.”


Suara teriakan mereka telah membuatku merasa sedikit bosan. Aku seperti berada di tengah-tengah konser pertunjukkan yang tidak sengaja aku datangi. Andai saja mereka tahu bahwa yang berada di tengah-tengah mereka sedang merasa tidak nyaman dan ingin pulang secepatnya, mereka pasti akan semakin berteriak kencang.


Aku berada di sini karena seseorang memanggilku. Aku diminta olehnya untuk ke sini dan menunggu kedatangannya. Dia mengatakan dia akan memesan makanan di kantin. Aku merasa aku sedang dikerjai olehnya, dan anehnya, aku menuruti semua perkataannya. Yah, mungkin karena aku adalah murid baru di sekolah ini. Hal yang sangat wajar jika aku dikerjai.


Sampai sejauh ini, aku masih bisa berpikir positif. Gadis yang menyuruhku untuk ke sini, untuk berbicara denganku, mungkin saja memang bertujuan seperti itu. Dia tidak bermaksud mengerjaiku. Aku pun tidak boleh berpikir buruk tentangnya. Lagi pula, aku belum mengenalnya dan begitu pula sebaliknya. Mungkin inilah yang disebut: perkenalan dengan cara berbicara.


Setelah menunggu selama 10 menit dan menghadapi situasi sulit di mana para gadis-gadis semakin berteriak histeris, dia akhirnya datang dengan membawa kantung plastik yang kemungkinan berisi makanannya.


Gadis yang memiliki wajah ceria dan rambut hitam pendek sebahu, kulit putih, kaki yang diselimuti stoking hitam, dan kedua mata yang indah itu duduk di sampingku.


‘”Iya, kau telah membuatku menunggu lama di sini.”


Dia terkejut mendengar jawaban dariku. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan matanya melotot ke arahku.


“Apakah itu benar?”


Dia mencoba bertanya untuk memastikannya, dan aku pun mengangguk.


“Aiishh...”


Dia terlihat kecewa dengan dirinya. Dia terlihat sedang berpikir sejenak dengan melihat ke arah bawah. Setelah itu, dia menatapku dan menunduk beberapa kali dan mengatakan, “Aku minta maaf! Maafkan aku! Aku seharusnya tidak ke toilet. Aku seharusnya langsung ke kantin dan ke sini. Maafkan aku!”

__ADS_1


Dia meminta maaf berulang kali, dan aku hanya bisa memperhatikannya.


Terdapat kantung plastik yang berisi makanannya. Di sana ada tiga roti dan terdapat dua minuman di sampingnya. Aku berpikir mungkin makanan dan minuman itu untukku. Sebagian darinya adalah untukku. Jadi, karena aku berpikir seperti itu, aku mengambil satu roti dan minuman kaleng yang berada di dekatnya.


“Terima kasih.”


Setidaknya saya berpikir dia sedang mentraktirku sekarang. Dia membelikan ini untukku dan melakukan ini karena aku adalah murid baru yang harus diperlakukan secara baik. Dan aku berpikir mungkin ini adalah perubahan sikap remaja-remaja, antara di zamanku sekolah dan yang sekarang. Mereka jauh lebih baik dan memperhatikan hal-hal baru ketimbang ketika di zamanku. Dengan kata lain, pemuda-pemudi zaman sekarang adalah yang terbaik daripada masa-masa sebelum mereka.


Aku berpikir seperti itu karena Karina yang berpikir seperti itu. Dia menceritakan bahwa dia pernah ditolong oleh seorang pemudi. Tapi ketika aku bertanya tentang identitas pemudi yang menolongnya, untuk berterima kasih kepadanya secara langsung, dia merahasiakannya dariku. Sejak saat itu, aku memiliki pikiran yang sama sepertinya, yang menganggap bahwa pemuda-pemudi zaman sekarang adalah orang-orang yang baik.


“...”


Dia menatapku dengan kebingungan. Dia melihatku yang sedang memakan rotinya. Dia sama sekali tidak memalingkan matanya dariku. Setelah beberapa saat, dia tersenyum dan berkata, “Sama-sama. Kau adalah murid baru, jadi roti dan minumannya untukmu. Hehehe.”


Sudah kuduga, pemikiran Karina tentang pemuda-pemudi zaman sekarang adalah benar.


Nama: Leny Hermawan;


Tinggi badan: 162,8 cm;


Kelas: 2-2;


Tanggal lahir: 23 September 1999;


Hobi: Renang;


Cita-cita: Menjadi wanita karier dan sukses.


Kesukaan: Makanan ringan, belajar, dan membahagiakan orang lain;


Ketidaksukaan: Makanan berat yang banyak kalori, katak, dan guru yang galak;


Ciri khas: Memiliki rambut hitam sebahu, wajah yang selalu ceria, suka menolong guru-guru, memiliki kulit putih, memiliki mata yang indah, dan bersahabat;


Catatan kriminal: Tidak ada;

__ADS_1


Referensi: Tidak ada;


Catatan: Berhati-hatilah dengannya.


__ADS_2