
Tujuh hari yang lalu, 21 Agustus 2016.
"Mengapa kasus ini tidak bisa dilanjutkan? Apakah kalian akan menutupnya begitu saja?" Aku bertanya di depan lima petinggi di kepolisian.
"Dengar, Raka! Aku mengerti kau peduli dengan klien-klienmu, bahkan tanpa kami suruh, kau tetap bekerja dengan bagus. Pekerjaanmu adalah mengayomi masyarakat dan mencari tahu si pelaku yang telah menganiaya si korban. Kau adalah polisi terbaik yang kami miliki di kota ini."
"Tapi-"
"Tapi kau tetaplah harus menerima kenyataan yang sudah terjadi."
Aku terkejut saat dia memotong ucapanku.
"Tim forensik dengan dibantu tim inafis telah menyelidiki tempat kejadian perkara. Hasil dari laporan mereka adalah menyatakan bahwa di sana, kediaman korban yang bernama Jamila Armstrong, tidak ada siapa pun selain dia saat itu, dan mereka tidak menemukan satu pun tanda-tanda yang membuat Jamila Armstrong meninggal karena dibunuh. Selain itu, beberapa detektif, yang telah mengabdi untuk negeri ini selama 40 tahun, telah melaksanakan tugas mereka dengan baik dan benar dan sesuai prosedur. Mereka tidak menemukan satu pun orang yang memasuki kediaman Jamila Armstrong. Mereka telah melihat kamera CCTV yang terpasang di sekitar rumah Jamila Armstrong dan jalanan yang berada di dalam dan di luar perumahan tersebut."
Mereka telah melakukan pekerjaan mereka dengan benar, aku tahu itu. Mereka tidak akan melakukan kesalahan dalam penyelidikan mereka. Mereka pasti telah memperhatikan setiap sudut tempat kejadian perkara dengan benar agar tidak ada yang tersisa. Tapi tetap saja, ini terasa aneh bagiku. Bagaimana bisa gadis yang bernama Jamila Armstrong, yang telah saya besarkan selama ini, meninggal karena bunuh diri akibat penyakit mental? Terlebih lagi, surat darinya itu ... itu terlihat seperti bukan dirinya. Dia seperti terpaksa harus menulisnya.
"Kami hanya menemukan tiga barang bukti saja di sana; surat yang dituliskan olehnya, pisau dapur yang dipakai untuk menusuk perutnya, dan sidik jarinya di seluruh rumahnya," Dia melanjutkan.
"Kau harus menyerah, Pak Raka," Seorang wanita berkata. "Lagi pula, ini juga bukan salahmu. Mengapa kau merasa bersalah atas kematiannya? Bukankah kau selalu menerima jika ada seseorang yang melakukan bunuh diri?"
Mana mungkin aku bisa menerima itu. Dia adalah keponakanku, putri abangku. Mana mungkin aku bisa menerima kematiannya di saat aku tahu dia tidak akan pernah melakukan hal sebodoh itu.
Aku tersenyum sinis dan menunduk kepalaku saat mengatakan itu di dalam benakku.
"Atau mungkin..."
Seorang pria, yang memiliki kepala botak, telah mendapatkan perhatian dari mereka. Mereka, termasuk aku, seketika melihatnya saat dia ingin berbicara.
"Kau memiliki sebuah hubungan dengannya?"
Mereka terdiam dan langsung mengarahkan pandangan mereka ke arahku. Pusat perhatian seakan telah berganti dengan cepat.
"Apakah kau memiliki sebuah hubungan dengannya?" Dia bertanya lagi, tampak ingin memastikannya.
__ADS_1
"Hahaha, itu tidak mungkin," Seorang pria berkata, memotong pertanyaan yang tertuju kepadaku. "Mereka berdua jelas-jelas memiliki nama yang berbeda. Mereka berdua tidak sedarah. Raka dibesarkan di panti asuhan, sedangkan gadis itu tinggal bersama pamannya setelah kematian ayahnya. Jadi, itu tidak mungkin."
Dia adalah Octo, salah satu dari lima petinggi di kepolisian di kota ini. Dia telah mengabdikan hidupnya hanya untuk membela yang benar. Bahkan jika penampilannya terlihat seperti seorang pria tua kutu buku, selalu membaca buku dan mempelajari sejarah, dia adalah sosok yang hebat dan memiliki pemikiran yang bagus.
"Tunggu sebentar, Pak Octo. Bagaimana jika dia adalah pacarnya?"
"Hahaha, apakah kau sedang bergurau, Nona Erina? Usia mereka terpaut jauh. Itu tidak mungkin."
"Oh, kau benar. Pak Raka tidak mungkin seorang paedofil, bukan? Maafkan atas pemikiran anehku ini, Pak Raka. Aku tidak bermaksud untuk menjatuhkanmu. Aku hanya memikirkan hal-hal yang mungkin bisa saja terjadi. Maafkan aku!"
Dia meminta maaf kepadaku atas apa yang dia katakan sebelumnya, aku adalah kekasihnya.
Dia adalah Nona Erina. Dia dua tahun lebih muda daripada aku, tapi karena berkat reputasi dari ayahnya dan kinerja kerjanya, dia berhasil mencapai titik tertinggi di kepolisian ini. Berkat koneksi yang dimiliki ayahnya, dia telah membuktikan bahwa seorang wanita muda bisa berada di sana. Meski begitu, aku sangat membencinya. Dia selalu membuat yang tidak mungkin terjadi menjadi mungkin bisa terjadi. Dia memiliki pemikiran yang jauh lebih tinggi, bahkan hampir mencapai titik di mana pemikiran logika manusia tidak bekerja, bahkan sudah seperti seorang anak kecil yang pandai berimajinasi liar.
"Bagaimana menurutmu, Pak Raka? Kau bukan seorang paedofil, 'kan?"
Seseorang memastikan itu lagi setelah Nona Erina meminta maaf kepadaku. Pria botak yang bernama Ibuki memastikan pertanyaan itu lagi. Aku pikir dia terlalu ambisius pada pertanyaan itu, aku adalah seorang paedofil.
"Sudahlah, hentikan itu! Kalian terlalu memusingkan hubungan dia dengan gadis itu. Lagi pula, kita bisa melihat nama keluarga yang mereka miliki berbeda. Umur mereka terpaut jauh. Jadi mana mungkin mereka memiliki sebuah hubungan."
"Kau benar, Pak Henry. Aku pikir dia tidak akan memiliki sebuah hubungan dengan gadis itu."
Yang berkata itu adalah Fadhly. Dia baru saja menjadi salah satu petinggi di kepolisian ini satu tahun yang lalu. Akan tetapi, dia telah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik sebagai seorang petinggi di kepolisian di kota ini. Koneksinya pada masyarakat, kepolisian, bahkan polisi militer telah membuatnya terkenal. Dengan kata lain, dia adalah satu-satunya petinggi di kepolisian di kota ini yang memiliki reputasi paling bagus, bahkan mampu mengalahkan reputasi yang dimiliki oleh Erina.
Aku memilih untuk diam, menunduk, dan beberapa kali memainkan jari-jariku. Aku seperti ini karena merasa terganggu dengan pertanyaan dan pendapat mereka.
Setelah beberapa menit, waktu seakan berhenti untuk beberapa detik. Pertanyaan yang mereka berikan itu seakan telah lenyap di dalam ruangan rapat ini. Mereka melupakan tujuan kedatanganku dan saling membereskan barang-barang bawaan mereka.
Octo berdiri dari kursinya. Suara kursinya sangat jelas terdengar di telingaku.
"Tunggu!"
Karena aku yakin mereka akan meninggalkan ruangan ini, menganggap pertemuan ini tidak berguna karena akan tetap memiliki hasil yang sama, aku berdiri dari kursiku dan menyuruh mereka berhenti di sana.
__ADS_1
"Ada apa, Pak Raka? Bukankah ini sudah selesai? Semuanya sudah jelas, bukan? Kami telah memberitahumu bahwa kematiannya dikarenakan dia bunuh diri," Octo berkata, menatap saya yang sedang ragu-ragu.
"Itu benar, Pak Raka. Kau tahu tentang penyakit mental, bukan? Itulah yang terjadi kepada gadis malang itu, sehingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri; menusukkan pisau dapur ke perutnya. Sangat disayangkan dia tidak mendapatkan perhatikan dari keluarga, teman-teman, dan kerabat-kerabatnya," Ibuki berkata, tampak seakan tahu kondisi yang dialami oleh Jamila.
"Apakah tidak ada cara lain untuk tetap melanjutkan kasus tersebut? Aku sangat bersedia jika ditugaskan dalam kasus itu. Aku sangat bersedia bila kalian-"
"Pak Raka ..."
Henry memotong ucapanku, membuatku terdiam dan menatapnya dengan lemas. Dia hampir saya memukul meja yang berada di depannya tapi memilih untuk hanya berdiri.
"Mengapa kau sangat peduli dengan gadis itu? Kau bukanlah keluarganya, kerbatnya, temannya, saudaranya ... Kau tidak memiliki hubungan dengannya, tapi kau malah ..."
Aku hanya bisa diam, mendengar dan menyaksikan dia marah.
T-Tapi ...
Setelah beberapa saat, mereka melewatiku dan aku hanya bisa menunduk dan membiarkan mereka keluar meninggalkan ruangan ini secara perlahan.
Apanya yang tidak memiliki hubungan dengannya? Dia adalah keponakanku yang aku besarkan dengan susah payah. Dia adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki di dunia ini. Jadi apanya yang tidak ada hubungan dengannya? Itu percuma, bukan? Jika aku memberitahu itu kepada kalian, kalian tidak akan mempercayainya dan menganggap aku hanya mengarang saja. Jadi, apa pun yang aku katakan, hasilnya pun tetap sama, kalian memilih untuk mengabaikannya.
Perbedaan dari mantan keluargaku dan keluargaku yang sekarang adalah nama keluarga yang kugunakan. Ayah tiriku memiliki nama Armstong, begitu pula dengan Yuda dan putrinya, sedangkan aku memakai nama White. Nama asli saya adalah Raka White, bukan Raka Armstrong. Dengan begitu, siapa pun yang mengetahuinya pun tetap akan menganggap itu berbeda. Jadi itu percuma jika saya memberitahu mereka bahwa Jamila adalah keponakanku.
***
Hari ini.
Seorang pria sedang bercermin, terus memandangi wajahnya yang terlihat sedih. Dia melihat rambut hitamnya yang berponi agak berantakan itu, karena dia baru bangun tidur, beberapa noda yang menempel di wajahnya, memperhatikan luka bakar yang berada di bagian kanan dahinya yang ditutupi oleh poninya, dan sedikit mengangkat bibirnya. Pria itu adalah aku, Raka White.
"Andai saja saat itu aku menerimanya. Andai saja aku tidak egois. Andai saja aku tidak membaca pesan itu. Andai saja aku tidak memikirkan ibu dan ayahku yang telah membuangku di panti asuhan. Andai saja ... Aku akan menggunakan nama keluarga itu. Aku bisa hidup sebagai Raka Armstrong, bukan sebagai Raka White."
Hanya ada penyesalan di dalam hatiku. Terasa hampa, hatiku terasa hampa atas kematian orang-orang penting di dalam hidupku.
Aku melirik ke bawah kananku. Di sana, di atas wastafel itu, aku melihat sebuah kotak obat yang telah terbuka.
__ADS_1
"Tidak ada pilihan lagi selain cara ini. Aku harus memanfaatkan ini agar aku bisa mengetahui mengapa keponakanku mengakhiri hidupnya."
Aku mengambil kotak obat ini dan memeriksanya. Lalu aku mengingat bagaimana orang itu memberikan ini kepadaku. Itu terjadi enam hari yang lalu, satu hari setelah pertemuan tidak berguna aku dengan mereka.