Investigasi Ulang: Karena Kau Masih Muda

Investigasi Ulang: Karena Kau Masih Muda
Deal (2)


__ADS_3

Enam hari yang lalu, 22 Agustus 2016.


Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan untuk keponakanku? Apakah aku harus diam? Apakah aku harus bertindak? Tapi dari mana aku mulai? Mereka tidak mengizinkanku untuk menyelidiki kasus itu dan menganggap itu adalah kasus bunuh diri yang dilakukan oleh gadis remaja saja. Mereka menutup kasus itu dengan dugaan dia mengalami penyakit mental. Apa yang bisa aku lakukan? Apa yang mesti aku lakukan untuk keponakanku yang telah aku besarkan dengan usahaku sendiri?


Begitu banyak yang kupikirkan sehingga aku menjadi berantakan dan hampir frustrasi untuk menjalani hidup ini.


Hidup ini singkat tapi kehidupanku dipenuhi hal-hal buruk. Hal-hal buruk terus saja mendatangiku. Aku seakan tidak diizinkan untuk bahagia.


Aku membakar sebatang rokok, lalu menatap lurus ke Akademi Tjee yang masih tutup.


SMA itu akan dibuka setelah libur musim panas berakhir, semester 2 dimulai. Aku berdiri di sini hanya sekedar untuk menatap ke sekolah itu saja dan mengingat apa yang pernah aku lakukan untuk Jamila.


Itu adalah tempat Jamila bersekolah. Aku, dengan uang yang kumiliki, memilih sekolah tersebut atas keinginan Jamila yang ingin mendapatkan karier bagus, mendapatkan kuliah bagus, dan cita-citanya bisa terwujud. Tapi aku tidak menyangkal akan berakhir seperti ini. Cita-citanya itu, yang ingin menjadi seorang dokter bedah, tidak akan pernah terwujud. Dia sudah tiada, meninggal karena bunuh diri di rumah yang disewanya.


Aku sudah memberikannya yang terbaik, yang bisa kuberikan untuknya, tapi dunia ini memilih jalan yang berbeda. Aku pikir dengan menyekolahnya di sana dia akan bahagia dan cita-citanya bisa terwujud, tapi dia malah menderita dan mendapatkan penyakit mental di dalam dirinya. Dia telah membuat nestapa yang selama ini telah kubuang kembali muncul. Nestapa atas kematian ayahnya kini kembali atas kematiannya. Bukankah itu buruk? Dia dan ayahnya sangat buruk. Mereka meninggalkanku.


Aku telah melepaskannya sejak dia bisa hidup mandiri. Jika aku terlalu peduli dengannya, dia akan berakhir dengan kesengsaraan atas kekangan dariku. Aku tidak mau menjadi pria yang sangat peduli sehingga aku memeluk kucingku sampai mati. Tapi pada akhirnya, karena sikap kepedulian saya yang setengah-setengah, saya kehilangannya dan tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi. Akibat dari itu, aku kini sendirian. Aku kesepian. Tidak ada satu pun anggota keluarga di dalam hidupku.


"Apakah menyenangkan melihat sekolah yang masih tutup?"


Aku mendengar sebuah suara, suara dari kejauhan.


Aku menoleh ke sumber suara itu dan melihat seorang pria berpakaian kantor sedang berjalan menujuku.


Karena aku yakin dia tidak sedang berbicara denganku, aku berbalik dan berjalan menjauhinya.


"Ya ampun, aku diabaikan olehnya."


Aku bisa mendengarnya, jadi aku menganggap ucapannya itu untukku. Meski begitu, aku tetap berjalan dan meninggalkannya.


***


Pukul 15.05, di sebuah pub.


"Hei, hei, Pak Raka. Kau sudah menghabiskan empat botol hari ini, padahal ini masih siang. Apakah kau baik-baik saja?" Seorang bartender berkata, menatap wajahku yang lesu ini.


"Mengapa kau mempermasalahkan itu? Atau kau mempermasalahkan kehadiranku di sini?"


"Tidak, bukan itu. Kau tahu ini jam berapa, bukan? Matahari bahkan belum tenggelam, tapi kau sudah ... Apakah kau baik-baik saja? Kau tidak biasanya seperti ini. Ini seperti bukan dirimu."


Aku mengabaikannya. Dia sedang membersihkan gelas-gelas kaca dan berdiri di depan saya. Kami terhalang oleh meja panjang ini. Lalu aku kembali menegak minumanku di saat dia masih terus bertanya tentang kondisiku.


"Apa sedang terjadi masalah pada misimu? Aku tidak menyangka ini, seorang detektif hebat sepertimu tidak bisa membereskan misimu dan berakhir seperti ini."


"Apanya yang hebat?" Aku merespons dengan tersenyum sinis dan menatap gelas kecil kaca yang sedang kupegang.


"Bukankah kau selalu bisa menyelesaikan misimu dengan baik? Kau bahkan mampu menangkap seorang bandar narkoba yang sangat susah ditangkap. Ada apa denganmu, kau seharusnya tidak seperti ini. Ini masih pukul 3 sore, tapi kau sudah memulainya ..."


"Tidak boleh?"


"Bukan itu yang aku maksud."


"Kalau begitu, ini boleh, 'kan?"


Aku melihat ke arahnya, menatap wajahnya yang ragu-ragu untuk merespons perkataanku. Mungkin karena tidak mau mengusikku lebih jauh lagi, dia memilih untuk tetap melanjutkan membersihkan gelas-gelasnya.


"The Winston Cocktail, please. Oh, aku yang akan membayar untuk orang ini, yang berada di sampingku."


Suara seorang pria terdengar di sampingku. Ketika aku menoleh, di sana sudah ada seorang pria yang memakai jas kantor. Dia adalah seorang pria yang memiliki rambut pirang kecokelatan dan terlihat rapi.


"Kau ingin membayar minumanku?" Aku bertanya, lalu mengingat apa yang barusan dia pesan. "Oh ... Yah, kau bahkan sanggup untuk memesan minuman itu."


Si bartender segera pergi, membuatkan pesanan pria itu.


"Terima kasih."


Setidaknya aku berterima kasih kepadanya atas traktirannya. Dia yang telah memutuskan untuk mentraktirku, jadi aku harus berterima kasih kepadanya.


*Suara benda bergeser!


Sesuatu telah bergeser dari tempatnya menuju ke tempatku. Dia telah menggeser sebuah kartu, yang kemungkinan adalah kartu namanya.


Aku menoleh ke arahnya meskipun aku belum sempat untuk melihat kartu namanya.


"Apa ini?"

__ADS_1


"Anda perlu melihatnya."


Dia menyuruhku, jadi aku melihat kartu namanya.


Andre Siregar, usia 28 tahun, bekerja dibidang; sales dan praktisi, perusahaan dirahasiakan, hobi; sering berbuat onar kepada anak-anak remaja, dan nomor teleponnya ...


Setelah melihat kartu namanya, aku menoleh ke arahnya.


"Anda sudah melihatnya?" Dia bertanya.


"Apa maksudnya ini? Mengapa kau memberikan ini kepadaku?"


"Yah, itu adalah kartu namaku."


"Aku tahu itu, tapi apa yang kau maksud? Mengapa kau menunjukkan ini kepadaku?"


"Dengarkan. Um, aku ingin membantu Anda."


"Membantuku? Apakah aku adalah orang yang tepat untuk kau bantu?"


Dia tersenyum, sedikit tertawa tapi tanpa menoleh ke arahku.


"Mengapa kau tertawa? Apakah itu lucu?"


"Maaf, Pak."


Semakin aku menatap wajahnya, aku menyadari ada yang aneh pada dirinya. Aku seperti tidak asing dengan wajahnya, seperti baru saja bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu.


Aku mengingat itu, Aku mengingatnya. Dia adalah yang waktu itu.


"Kau yang waktu itu, bukan?"


"Akhirnya Anda mengingatku. Akulah yang ingin berbicara kepadamu di depan sekolah itu, Akademi Tjee."


Dia adalah orang yang ingin mendatangiku saat aku berada di sekolah yang sedang tutup itu.


"Apakah kau mengikutiku sampai di sini?" Aku bertanya.


"Aku tidak sengaja bertemu dengan Anda di sini."


"Jangan berbohong!"


Dia mengakuinya, dia memang mengikutiku.


"Aku akan melaporkan ke polisi atas tindakanmu ini."


"Bukankah Anda seorang polisi?"


"...Oh..." Aku agak mabuk sehingga membuatku lupa bahwa aku adalah seorang polisi. "Aku akan menangkapmu atas tindakanmu ini, menguntitku."


"Aku tidak bisa membantu Anda jika Anda menangkapku, Pak."


"Sungguh? Kau ingin membantuku? Untuk apa?"


Sebelum dia merespons pertanyaanku, aku mengingat bahwa dia mengetahuiku. Dia tahu bahwa saya adalah seorang polisi. Karena itulah aku tidak membiarkannya merespons pertanyaanku.


"Kau mengetahui aku adalah seorang polisi? Bagaimana?"


"Bukankah Anda sangat terkenal di kepolisian di kota ini? Atas apa yang Anda berikan di kepolisian, reputasi Anda menjadi sangat bagus. Karena itulah aku bisa kenal dengan Anda."


"Begitukah?"


"Ngomong-ngomong, bagaimana?"


"Apanya?"


"Apakah Anda ingin menerima jasaku?"


"Jasamu?"


Dia mengalihkan pembicaraan, kembali ke topik pembicaraan awal yang dia utarakan.


"Kau adalah orang asing bagi saya, tapi kau ingin membantuku? Bagaimana bisa? Apa yang ingin kau bantu untuk saya? Dirimu? Aku tidak memerlukan dirimu."


"Tentu saja aku bisa membantu diri Anda."

__ADS_1


"Membantu diriku?" Aku tersenyum saat mendengar itu.


"Yah, diri Anda ... diri Anda yang kesepian atas kematian keponakan Anda."


Aku sangat terkejut dan terdiam saat dia membahas dan mengetahui itu. Aku terdiam selama hampir 30 detik.


Setelah menenangkan diriku, aku menoleh ke arahnya.


"Apa yang kau maksud? Mengapa kau bisa mengetahui tentangku?"


"Aku mengetahui segalanya. Aku mengetahui segala tentangmu, Pak. Anda adalah seorang yatim piatu yang dibuang oleh orang tua Anda di panti asuhan saat Anda lahir. Saat usia Anda 6 tahun, Anda diadopsi oleh keluarga Armstrong. Tapi Anda memiliki nasib yang malang. Satu tahun setelah Anda diadopsi, ayah dan ibu tiri Anda mengalami kecelakaan sehingga mengakibatkan mereka meninggal dunia."


"..." Aku hanya bisa diam saat dia mengetahui tentang masa laluku.


"Saudara tirimu, Yuda Armstrong, harus bekerja keras untuk kehidupannya dan kehidupan Anda. Aku tidak menyangka dia akan melakukan itu demi untuk Anda, Pak White. Dia hanya saudara tiri Anda, bukan? Dia sama sekali tidak ada niatan untuk membuang Anda. Dia memilih untuk membesarkan Anda dan terus bekerja keras agar Anda tetap bisa sekolah, cita-cita Anda menjadi seorang polisi bisa terwujud. Dia bahkan tidak peduli dengan pacarnya yang sedang mengandung putrinya demi menjaga Anda. Anda telah merampas kebebasan dan kehidupannya, Pak Raka White. Meski begitu, anehnya, dia tetap bahagia. Entah bagaimana dia bisa bahagia karena memiliki Anda di sisinya."


Aku sangat emosi karena dia menceritakan tentang itu. Aku ingin marah karena dia mengetahui itu, tapi apa yang bisa aku lakukan jika aku marah kepadanya? Aku akan memperburuk diriku saja. Jadi, aku memilih untuk diam dan menatapnya dengan tajam.


"Kau ... Bagaimana kau bisa mengetahui tentang itu?" Aku bertanya.


"Bukankah 'kan sudah kubilang, aku mengetahui segala tentang Anda. Semua yang Anda lakukan selama, aku mengetahuinya."


"Apa yang kau mau dariku?" Aku akhirnya menanyakan ini.


"Aku hanya ingin mengajak Anda bekerja sama saja. Aku ingin membuat kesepakatan dengan Anda."


"Kesepakatan?"


"Itu sangat mudah, dan ini sangat menguntungkan untuk Anda."


"Apa itu?"


"Kau ingin mengetahui penyebab kematian keponakan Anda, bukan?"


Dia bahkan mengetahui tentang itu. Apakah dia benar-benar seorang penguntit?


Dia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Itu adalah sebuah kotak yang memiliki bentuk kecil yang terbuat dari besi. Lalu dia memberikan itu kepadaku.


"Apa ini?"


"Biru untuk kembali, merah untuk kembali juga. Tapi yang biru akan membuat tubuhmu kembali muda, sedangkan yang merah untuk membuatmu kembali ke dirimu yang sekarang. Apakah Anda mengerti?"


Aku berpikir dan mencari tahu apa yang dia maksud. Aku sangat berusaha memahami ucapannya, yang menurutku adalah sebuah teka-teki. Tapi pada akhirnya, aku tidak bisa mengerti.


"Aku tidak mengerti."


"Bukalah! Lihat apa yang berada di dalam sana!"


Aku membuka kotak kecil ini dan melihat ada dua pil di sana; satu berwarna biru dan satu berwarna merah.


"Anda tidak bisa menyelidiki kasus kematian Jamila karena kasusnya telah ditutup, bukan? Aku memiliki sebuah saran dan memiliki sesuatu tentang kematian keponakan Anda. Bagaimana jika kau menyelidiki kasus itu tanpa ada seorang pun mengetahui sosok Anda?"


"Bagaimana bisa seseorang tidak mengetahui sosokku? Kau yang mengatakan aku sangat populer di kepolisian, bukan?"


"Tujuh belas tahun ... Anda akan kembali menjadi diri Anda saat berusia 17 tahun. Tubuh Anda akan terlihat seperti berusia 17 tahun. Dengan begitu, tidak akan ada satu pun orang yang mengenali Anda. Ini kesempatan yang bagus, bukan? Anda bisa menyelidiki kasus kematian Jamila tanpa ada seorang pun yang tahu. Dengan begitu, kau akan menemukan jawaban atas kematian keponakanmu. Itu bagus, bukan? Kesepakatan yang bagus, bukan? Aku telah menolong Anda. Selain itu, aku memberikan ini karena ada yang perlu Anda selidiki tentang sekolah itu. Aku ingin Anda masuk ke sana sebagai seorang pelajar, bukan sebagai seorang detektif."


Aku berpikir untuk beberapa saat, meragukan ucapannya.


Sejujurnya, aku tidak mengerti apa yang dia maksud. Itu sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku kembali seperti saat aku berusia 17 tahun? Bagaimana itu bisa terjadi? Tapi pada akhirnya, aku hanya menatap kedua pil itu saja.


***


Hari ini, di kamar mandi.


Anton mengatakan bahwa ini sangat berbahaya untuk tubuhku. Dia mengetahui bahwa pria itu, Andre Siregar, hanya menjadikanku sebagai kelinci pencobaannya saja. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada pilihan untukku. Aku tidak ingin mati karena tidak bisa menemukan penyebab kematian Jamila. Aku lebih memilih mati karenanya daripada tidak bisa berbuat apa-apa. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali.


Aku menatap pil yang berwarna biru yang berada di tangan kananku ini.


Surat ini ... Ini adalah surat dari orang itu, Andre Siregar. Ini adalah surat yang harus aku tanda tangani jika aku memilih untuk meminum pil ini. Di sana sudah ada stempelku, jadi aku telah menyetujui kesepakatan dengannya.


Fiuh ...


Aku menarik napas dalam-dalam, menghela napas secara perlahan-lahan agar tidak ragu dalam pilihan yang telah aku pilih. Ketika aku sudah tenang dan penuh keyakinan, aku langsung menelan pil biru.


Raka White, usia 28 tahun, seorang detektif, telah setuju untuk mengikuti eksperimen kembali remaja dan menjadi kelinci percobaan untuk perusahaan tersebut.

__ADS_1


Setelah aku menelan pil biru dan itu masuk ke dalam perutku, aku goyah dan kestabilan tubuhku tidak bisa kukendalikan. Aku pingsan di kamar mandi karena tidak mampu bertahan.


Jamila ... Jamila ... Paman di sini, jangan menangis ... Tenang saja, paman akan selalu berada di sisimu. Jamila ... Jamila ... paman tidak akan pernah meninggalkanmu. Bertahanlah, paman akan ke sana. Jangan pergi, paman mohon! Jangan tinggalkan pamanmu ini. Jamila ...


__ADS_2