Investigasi Ulang: Karena Kau Masih Muda

Investigasi Ulang: Karena Kau Masih Muda
Dylan Evans


__ADS_3

"Apa? Kenapa? Apakah ini nyata? Apakah aku ...?"


Aku terkejut dan langsung bercermin setelah terbangun dari tidur. Ketika aku melihat wajahku di cermin ini, aku merasakan ada yang aneh pada diriku. Wajahku ... wajahku telah kembali muda seperti saat aku berusia 17 tahun. Bukan hanya itu saja, tubuhku pun juga telah berubah.


*Suara tamparan.


Aku menampar pipiku untuk memastikan bahwa ini bukanlah mimpi. Tapi itu terasa sakit dan pipi kananku memerah. Jadi, aku berpendapat bahwa ini bukanlah mimpi.


"Sungguh? Aku ... aku kembali muda?"


Satu hal yang pasti, perkataan pria itu adalah benar. Dia telah membuktikan bahwa pil yang diberikan olehnya kepadaku telah benar-benar bekerja. Aku menjadi kembali muda. Aku telah membuktikannya sebagai kelinci pencobaannya. Aku kembali, kembali muda. Hanya saja, aku sedikit lapar saat ini.


Aku keluar dari kamar mandi, berjalan mendekati dapur, membuka kulkas, melihat apa yang berada di sana, mengambil makanan siap saji yang bisa dipanaskan di oven, mengatur mesin oven lalu menaruh itu di sana, membuatkan kopi dengan air panas yang akan dipanaskan, dan berhenti ketika melihat jam dinding yang berada di ruang tamu.


"Apakah Anton sudah mengurusi itu semua? Aku harap dia bisa melakukannya tanpa ada satu pun masalah."


Sebentar lagi akan memasuki bulan September, dan tanggal 1 September adalah hari di mana sekolah-sekolah dibuka setelah liburan musim panas berakhir. Aku memiliki sebuah rencana yang telah kubicarakan dengan Anton kemarin. Jika aku tidak bisa menyelidiki kematian keponakanku dari luar, aku harus menyelidikinya dari dalam. Itu seperti air yang mengalir di dalam sebuah selang. Selama aku terus melihat selang dari luar, aku tidak akan bisa melihat air yang berada di dalam selang. Selama ujung selang belum bisa aku temukan, air yang aku nanti-nantikan tidak akan pernah aku dapatkan. Memang ada berbagai macam cara agar aku bisa melihat air yang mengalir di dalam selang, tapi aku tetap memilih cara tersebut. Aku memilih untuk menjadi air, berbaur dengan yang lainnya, supaya aku bisa mendapatkan ujung dari selang itu. Dengan begitu, aku bisa keluar dan menemukan kebebasan di sana.


Berbaur adalah salah satu cara untukku menemukan penyebab kematian Jamila. Banyak pilihan untukku agar aku bisa berbaur dengan mereka—menjadi seorang guru, menjadi seorang satpam, menjadi seorang penjaga gedung—tapi aku lebih memilih untuk menjadi seperti ini. Ini karena kebetulan; kebetulan pria itu datang dan memberikanku kesempatan untuk menjadi muda lagi. Juga, dia tahu apa yang tidak aku tahu. Dia tahu tentang sekolah itu, Akademi Tjee. Ini semua hanya kebetulan yang terjadi menimpaku. Yah, ini hanya sebuah kebetulan saja.


Setelah berhasil menghangatkan sarapanku dan membuat kopi, aku pergi ke meja makan. Aku memakan sarapanku dan mengingat betapa indahnya kenangan bersama Jamila di meja makan ini.


Aku mengingat momen saat bersamanya. Saat itu, dia berusia 8 tahun.


"Paman ... " Jamila memanggilku, mengangkat sedikit sendoknya lalu menyodorkannya ke arahku.


"Apa?"


"Aku sangat penasaran dengan alasanmu membiarkanku memanggilmu paman. Banyak teman-temanku menganggap kau adalah ayahku. Mereka selalu iri kepadaku karena aku memiliki pria yang tampan sepertimu, Paman."


"Bukankah itu yang kau inginkan? Aku tidak bisa menjadi seperti ayahmu. Aku bukan ayahmu. Aku adalah pamanmu. Aku tidak bisa menggantikan peran ayahmu di kehidupanmu. Kau memiliki darah dan gennya. Jadi, tetaplah anggap aku sebagai pamanmu, bukan ayahmu. Kau harus mengabaikan teman-temanmu yang membicarakan tentangmu dan tentangku. Mereka iri, hanya itu saja. Itu pasti akan menghilang seiring mereka tumbuh menjadi dewasa. Mereka akan sadar bahwa mereka lebih beruntung daripada kamu."


"Kau seperti biasanya, Paman. Kau selalu bisa menjadi paman yang selalu aku butuhkan. Aku sangat beruntung bisa memiliki paman sepertimu. Bahkan jika aku tidak memiliki orang tua, aku tetap menjadi orang yang paling beruntung karena memilikimu yang selalu ada di sisiku."


Aku masih ingat saat dia mengatakan itu. Dia hampir saja menangis. Dia mengatakan bahwa dia adalah orang yang beruntung, tapi di dalam hatinya, dia sangat merindukan sosok ayahnya dan menginginkan kehadiran kedua orang tuanya di sisinya. Kerinduan tentang ayahnya selalu ada di dalam hatinya saat dia melihat anak-anak lain memiliki orang tua.


Setelah membereskan sarapanku dan mengingat momen itu, aku mencuci piring dan kembali ke meja makan untuk merokok sejenak.


"Ngomong-ngomong, apakah tubuhku baik-baik saja jika aku merokok? Apakah ini benar-benar tubuhku saat aku 17 tahun? Apakah itu akan baik-baik saja?"


Pada akhirnya, aku tetap merokok dan tidak mempermasalahkan tubuhku yang merokok.


***


31 Agustus 2016.


"Bagaimana?"


"Wuuah, kau membuatku terkejut. Apakah kau benar-benar Raka White? Kau terlihat sangat muda."


Temanku, Anton, terkejut saat aku datang mengunjungi rumahnya. Dia terkejut percis di depan pintu masuk rumahnya. Wajahnya terlihat seperti ingin melompat dari kursi rodanya saat melihatku.


"Tapi apakah kau baik-baik saja? Kau tidak kena penyakit, 'kan? Apakah kau benar-benar baik-baik saja?"

__ADS_1


Dia bertanya karena cemas dengan kondisiku. Dia dan aku belum mengetahui apakah pil itu memiliki efek samping atau tidak, tapi dari rumor yang beredar—yang dia cari dengan menggunakan keterampilannya; meretas perusahaan tersebut—dia menganggap pil itu memiliki efek samping yang berbahaya, yang bisa membahayakan nyawaku.


"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas! Tenang saja! Jadi bagaimana? Kau sudah menyelesaikannya, bukan? Besok hari Senin, sekolah itu akan dibuka, aku harus cepat," Aku berkata.


"Masuklah!"


Dia menyuruhku untuk masuk ke rumahnya, dan aku pun menurutinya.


Kami berjalan menuju ke kamarnya untuk mengambil seragam sekolah itu, dan kemudian pergi ke basemennya untuk menyusun rencananya.


Dia sangat sibuk dengan komputernya ketika kami baru saja tiba di basemennya, jadi aku memutuskan untuk menunggu sembari mencoba memakai seragam sekolah ini.


Aku melihat cermin yang terletak tidak jauh dari saya. Setelah sampai di sana, aku bercermin dan melihat diriku yang sudah memakai seragam sekolah ini.


"Aku seperti seorang anak SMA saja."


Seragam sekolah ini terdiri dari kemeja putih yang diselimuti blazer hitam, celana panjang abu-abu, dasi merah yang dipadu warna hitam, dan logo Akademi Tjee yang berada di dada kanan blazer.


"Kau sangat beruntung bisa menjadi remaja lagi. Apakah kau akan menggoda gadis-gadis SMA di sana?"


Dia berbalik ke arahku setelah mengatakan itu.


"Tentu tidak. Aku tetap pada tujuanku, mencari kebenaran. Tujuanku hanya untuk Jamila."


"Begitu, ya. Kau sangat peduli dengannya."


Dia menghampiriku dengan kursi rodanya. Setelah sampai di belakangku, dia menepuk punggungku beberapa kali.


"Besok aku akan menemanimu sebagai ayahmu. Mulai sekarang, anggaplah aku sebagai ayahmu, Dylan," Dia berkata.


"Tentu saja. Kau tidak akan dicurigai jika memiliki ayah sepertiku, bukan?" Dia sedikit tersenyum, tampak seperti menyembunyikan sesuatu.


"Tunggu, tunggu, tunggu! Lalu Dylan ... Siapa itu Dylan?"


"Itu adalah kau. Kau yang telah menyuruhku untuk membuatmu tidak diketahui orang-orang, bukan? Mengapa kau terkejut seperti ini? Namamu sekarang adalah Dylan Evans. Kau harus mengingatnya supaya kau tidak ketahuan. Penyamarmu akan berakhir jika kau ketahuan, Dylan."


"Tunggu! Itu berarti ..."


"Yah, kau memiliki nama sepertiku. Kau memiliki nama keluargaku, Evans."


"Bukankah kau belum menikah? Bukankah kau memilih untuk menjadi lanjang? Bagaimana mengatasinya? Bagaimana jika ada orang yang mengenalimu?"


"Itu mudah. Aku bisa berpura-pura telah memiliki seorang istri dari luar negeri. Dia telah meninggalkanku dan putranya."


"Aku adalah anak yang dibuang oleh ibunya sendiri, dan kau adalah yang telah merawatku selama ini?"


"Iya, seperti itu. Kau sangat pintar sekali, mengerti apa yang aku katakan. Kau sangat beruntung memiliki ayah sepertiku, yang sudah mau merawatmu. Aku bisa saja membuangmu, tapi aku memilih untuk merawatku dan membesarkanmu dengan kondisiku yang seperti ini. Aku sangat baik, bukan?"


"... Ahh ..." Aku menghela napasku cukup panjang dan menepuk dahiku, serta melihat ke arahnya beberapa kali.


Aku mencoba untuk memahami situasi ini.


"Aiisshh ... Kau adalah ayahku? Aku tidak bisa mempercayainya,"

__ADS_1


Dia tersenyum saat aku tanpa sengaja mengatakan itu.


"Itu keren, bukan?"


***


Senin, 1 September 2016, di ruang guru Akademi Tjee.


"Ah, aku adalah Anton Evans, dan ini adalah putraku."


Anton menyenggol bahuku.


"Oh ... Aku Raka-"


Dia menyenggolku lagi untuk yang kedua kalinya.


"Dia adalah Dylan Evans, satu-satunya anakku yang aku miliki. Aku telah merawatnya sejak dia masih bayi."


Setelah Anton mengatakan itu, wanita itu menatapnya. Tatapan darinya mengarah ke Anton. Dia telah menatap Anton selama kurang dari 5 detik. Lalu dia menyenderkan dagunya di tangannya yang ditaruh di atas meja.


"Begitukah? Itu pasti sangat berat untuk Anda, Pak Anton. Anda telah merawat putra Anda seorang diri dengan kondisi Anda yang seperti ini. Aku turut prihatin karena Anda ditinggalkan oleh istri Anda. Anda adalah pria sejati."


Aku dapat melihat ekspresi sedih yang ditunjukkan oleh wanita itu. Dia memasang wajah sedih karena melihat kondisi Anton.


Wanita itu adalah seorang guru. Dia memiliki rambut cokelat bergelombang panjang. Wajahnya cukup cantik untuk seorang guru. Dia memakai kacamata untuk menutup matanya yang indah itu. Kulitnya dirawat dan bersih, terlihat memiliki tekstur lembut dan halus.


Kami berada di ruangan ini karena Anton ingin mendaftarkanku di Akademi Tjee.


"Ngomong-ngomong..." Dia tiba-tiba mengubah wajahnya menjadi serius dengan cepat dan menyenderkan tubuhnya ke kursi. "Mengapa Anda baru menyekolahkan putra Anda sekarang? Apakah Anda tidak kasihan kepada putra Anda selama ini?"


"Ah ... Aku sudah menyuruhnya untuk sekolah, tapi dia memilih untuk bersekolah di rumah saja. Aku memasukkannya ke dalam home school karena pilihannya yang ingin belajar di rumah. Dia pasti tidak ingin meninggalkanku karena melihat kondisiku yang seperti ini. Dia adalah anak yang baik, tahu kondisi yang dialami oleh ayahnya."


"Oh, putra Anda sangat mulia sekali. Dia sangat peduli dengan kondisi ayahnya. Itu hebat, putra Anda sangat berbakti kepada Anda. Aku sangat jarang menemukan remaja seperti itu di zaman sekarang ini."


Wanita itu sangat prihatin dengan kondisi Anton yang harus berjalan menggunakan kursi roda, tapi Anton terus berbohong dan memanfaatkan kondisinya. Ini adalah sandiwara darinya, yang memanfaatkan kondisinya untuk membuat wanita itu prihatin kepadanya sehingga dia mengizinkanku untuk bersekolah di tempat ini.


"Aku sangat menyukai itu. Kau boleh bersekolah di sini, Dylan Evans. Kau adalah contoh yang baik untuk para remaja zaman sekarang."


"Apakah kehadiranku di sini hanya sebagai contoh untuk mereka saja?" Aku bertanya.


"Tidak, sebenarnya ..."


Anton kembali menyenggolku lagi dengan sikutnya saat wanita itu ingin mengatakan sesuatu.


"Terima kasih, Bu Layla."


"Sama-sama, Pak Anton."


Wanita yang bernama Layla itu berdiri dan mengajak Anton bersalaman. Mereka berdua bersalaman, dan aku hanya bisa diam dan memperhatikan mereka saja.


"Mulai sekarang, aku akan menjaga putra Anda di sekolah ini. Serahkan kepadaku! Aku akan mendidiknya sebagaimana mendidik murid-muridku yang lain."


Dia memasang wajah bangga. Wajahnya seakan menunjukkan dia bisa diandalkan di sekolah ini.

__ADS_1


Sementara itu, Anton melirik ke arahku dengan memasang senyuman sinis. Dia terlihat seperti mengatakan, "Kau akan kutitipkan kepadanya. Jaga sikapmu agar namaku tetap baik. Jika kau melakukan sesuatu yang buruk, jangan anggap aku sebagai ayahmu lagi!"


Dengan begitu, aku telah resmi menjadi murid di Akademi Tjee.


__ADS_2