It'S Okay To Be Ugly

It'S Okay To Be Ugly
CHAPTER 3


__ADS_3

🍁


CHAPTER 3


Aku pun berjalan menghampiri ayah,


"Iya ada apa yah?" tanyaku pura-pura tidak tau, padahal ayah pasti mau bahas laporan dari purnama soal hukumanku disekolah


"Sabit, Abang kamu bilang kamu di hukum tadi di kelas?" tanya ayah dengan dingin.


"udah kuduga bakal bahas ini.. Purnama bangsat!" umpatku dalam hati.


"Jawab!" bentak ayah.


"I-Iya ayah, Soalnya buku sabit diumpeti temen-temen" jelasku.


"halah! jangan banyak alasan!" teriak ayah dan langsung menamparku.


sfx: Plak!


"Argh!" pekikku dalam hati. tapi aku hanya bisa diam dan memegangi pipiku yang merah bekas tamparan. sebenarnya aku malas menjelaskan panjang lebar pada ayah karena percuma Aku membela diri, walau Aku benar akan tetap salah dimatanya. Dia tidak akan mau mendengar alasan apapun dariku.


"Gadis sialan! Kamu mau Malu-maluin keluarga kita HAH?!!" teriak ayah.


Aku tidak bisa menjawab apa pun karena Gemetar,


"Kamu ini kenapa sih mas, Sabita di hukum di depan kelas karena bukunya diambil temen-temennya dan Abangnya ini malah diem aja" Ibu Memukul Purnama.


"duh. Sakit buk" Kata purnama.


"Aku gak peduli sini Kamu Anak sialan!" Ayah langsung Mengeluarkan ikat pinggang dan langsung ia tebas berkali-kali ke tubuhku sehingga memar.


Sfx : Ctak! Ctak! Ctak!


kulihat wajah Purnama tersenyum licik ke arahku.


"Mas! berhenti!! Sabit! sini nak!"


Ibu yang tidak tega melihatku diperlakukan seperti itu pun langsung mendorong ayahku menjauh dan menarikku ke belakang tubuhnya.


"heh! Dasar Anak dan Istri yang Nggak tau di sopan santun! Pergi kalian dari Rumah ini!" bentak ayahku.


"Ya! Laki laki biadab! siapa juga yang mau tinggal disini! Mulai detik ini! aku bukan istrimu lagi dan Aku minta Cerai!" teriak ibuku dan langsung menarikku masuk ke kamar lalu kami mengemasi barang-barang kami.


"Sudah nak bereskan barang-barangmu sekarang kita pergi ke Rumah Nenek" dengan cepat ibu mengemasi barang-barangku.

__ADS_1


"jangan pergi buk..." rengek purnama


"jangan panggil aku ibuk! aku bukan ibumu" bentak ibuku dan mendorong purnama.


"Hooo! Sini Anak sial! gara gara kamu ibu mu jadi ikut banyak tingkah!!!"


sfx : Gubrak! Prang!


kali ini ayah mendorongku ke arah guci sehingga guci tersebut pecah dan pecahannya mengenai jidatku, aku hanya bisa menangis dan tersungkur di lantai. Ibu yang tak terima aku di dorong seperti itu pun Melempar semua pecahan Guci itu ke arah ayahku,


"agrh!!!" teriak ayahku karena lemparan guci tersebut mengenai kelopak matanya.


"Aku tau mas, kamu gak terima kecacatan anak kita. Tapi kamu harus tau dan liat beberapa Penghargaan yang dia dapat dengan prestasinya" Ibu menunjuk sebuah lemari yang berisi Piala yang ku dapat. "sedangkan anak kamu yang satu ini yang selalu kamu bela belain terus" ibu menunjuk Purnama.


"dia gak bisa apa-apa! bahkan melindungi adeknya pun gak bisa!!" sambung ibu ku.


""Sudahlah nak, ayo kita pergi dari Rumah ini" Ibu dan Aku langsung pergi meninggalkan rumah kami.


"Awas! Kalau kalian berdua pulang! dasar wanita ******!" teriak ayahku sambil mengacung-acungkan kepalan tangannya ke atas.


"laki laki brengsek!" umpat ibuku kesal.


Ini kali pertama Aku dan Ibuku pergi Meninggalkan Rumah, Mungkin juga ini puncak kekesalan ibuku terhadap ayahku. karena Bisnis ayah yang selalu mengalami pasang surut, ekonomi keluarga kami pun akhir-akhir ini tidak stabil. Ayah juga tidak jelas menjalankan bisnis apa,ia sering pulang larut malam. malah terkadang Pulang keesokan paginya bahkan juga tidak pulang sama sekali, Ibu baru mengetahui kalau ayah suka jalan dengan perempuan lain dan terkadang pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, Mungkin ibuku juga sudah tidak tahan dengan perbuatan ayah selama ini terhadapnya.


🍁


Tugas yang sedang kukerjakan ini adalah Tugas Matematika, Aku sangat menyukai Matematika karena Bagiku Matematika ibarat Suatu Teka-teki yang harus di pecahkan.


"Aku dah gak tahan lagi buk dengan perlakuan mas angga! Aku bakal ngurusin gugatan ceraiku besok" tangis ibuku dan nenek berusaha menyabarkannya.


"Kalau kamu memang sudah nggak bisa nahan lagi, apapun yang menurutmu keputusan itu baik. ibu bakal dukung nak" kata nenek.


"iya.. Aku bakal bawa sabit aja, biarin si purnama ama ayahnya"


"ngomong-ngomong sabit sudah makan belum?"


"belum buk, Anakku itu baru aja pulang sekolah tadi. langsung dipukuli mas angga dan nggak sempat makan lagi" jelas ibuku.


"owalah.. yaudah yuk kita masak makan malam dulu.." ajak nenek kepada ibu.


lalu ibu pun mengusap air matanya dan mengikuti nenek menuju dapur


Beberapa Menit Kemudian


"Sabita, ayo.. kita makan dulu nak.." seru ibuku.

__ADS_1


"Iya Bu, " Aku pun bergegas turun dari lantai 2 menuju ke bawah. Kemudian Aku langsung duduk di kursi meja makan, sambil ibu menuangkan Nasi ke piringku.


"Sini Nyai (Nenek) liat Lebammu" Ujar Nenekku membolak balikkan tangan, Kaki, Wajah, dan Pinggangku yang terkena Tebasan Ikat pinggang Ayahku. belum lagi Lutut dan Pipiku yang habis terkena hukuman di Sekolah tadi.


"Sakit pasti ya.. sebentar, nenek ambil kotak obat dulu" ucap nenek lalu berjalan menuju sebuah lemari sarinah dan mengambil kotak p3k.


"Udah biasa itu Nyai, ya gak Dek. Ini Anak Hobinya Babak belur mulu.. " Sahut Ibu yang masih Menyaring Mi Instan.


"Sabit baik baik aja kok buk.." kataku menenangkan ibu dan ibu pun tersenyum kepadaku.


setelah mengambil kotak p3k nenek pun berjalan kembali ke arahku. "sini nenek obati dulu.." kata nenek kemudian langsung Mengoleskan krim salep dan betadine pada lukaku lalu ia perban untuk menutupi lukanya.


"wow! cakitt!" keluhku


"heleh.. gini aja nggak sakit atuh.. nah, sudah selesai, Simsalabim!!! besok pasti sembuh hehehe!" Hibur nenek kepadaku sambil mengayun-ayunkan jarinya dan menyentuh luka lukaku.


Nenekku ini orangnya penyayang sama seperti ibu, tak heran jika Aku dan purnama sedang main ke tempat nenek. nenek pasti akan memperlakukan Aku dan purnama seperti anak kecil walaupun umur kami sekarang sudah dewasa.


"Ya sudah sini kita makan dulu" ajak ibuku.


Setelah mengobati lukaku kami bertiga pun Menyantap Makan Malam bersama.


Di Malam yang tidak berisik dengan Suasana sejuk yang bisa membuat jiwamu Tenang berada disini. Rumah nenek sangat nyaman, Pantas saja nenek betah tinggal disini dan juga suasana tenang dan damai seperti ini sangat cocok untuk Seseorang yang hendak menghabiskan Waktu di Usia Senjanya.


"Alhamdulilah.." ucap nenek


"Alhamdulilah.." susul ku dan ibu.


"Dah mau hampir jam 10 malem nih, waktunya kita tidur.. sabit besok masuk sekolah kan?" tanya nenek.


"iya nek.." jawabku. "Nah kalau gitu Sekarang tidur dulu ya.."kata nenek. "oke nek.." ucapku semangat. "Selamat tidur semua..." lanjutku.


"Selamat tidur juga sabit.." balas nenek.


"selamat tidur sayang.." balas ibu juga. "Bu, ayo aku antar ke kamar, mau aku pijetin kan?" sambung ibu berbicara pada nenek. dan dibalas anggukan oleh nenek. "iya..ayo..ayo.."


Aku pun kembali naik ke lantai 2 yang merupakan basecamp khusus yang spesial nyaman untukku. setiap menginap di rumah nenek, Aku dan Purnama selalu rebutan untuk tidur disini. Bagaimana tidak, suasana di atas sangat sejuk dan nyaman. Kamar yang luas dan Punya kamar mandi sendiri, serta loteng yang luas yang sangat cocok jika mau melihat bintang di malam hari.


"Hoamm...ngantuk.." ujarku. dan langsung mematikan lampu tidur.


"Terimakasih untuk hari ini.. Aku bahagia dan Aku bersyukur.. kuharap esok hari adalah hari yang lebih indah.. Aamiin.."


...


🍁

__ADS_1


NEXT>>


__ADS_2