It'S Okay To Be Ugly

It'S Okay To Be Ugly
CHAPTER 4


__ADS_3

🍁


CHAPTER 4


Aku datang pagi sekali karena ada Jadwal Piket kelas, Aku berangkat bersama Ibuku yang Mengantarku dengan Motor. Beberapa Perban masih setia menempel di lutut dan lenganku. Plester yang mengganjal di pinggang akibat ikat pinggang ayah tertutupi oleh rok sekolah. juga plester yang menempel di jidatku Masih bisa di tutupi dengan Pony rambut.


sfx : Ceklek!! (bunyi pintu kelas terbuka)


Jadwal Piket hari ini sebenarnya ada 5 orang yaitu Aku, Gevan, Ralyn, Angga, dan Febita. aku tidak tau kenapa aku bisa satu jadwal dengan mereka padahal Aku ingin sekali menghindari mereka yang suka menggangguku. Aku hanya bisa pasrah pada floatingan piket kelas yang sudah dibuat licik oleh anak anak kelas.


kenapa hanya aku yang datang pagi dan membersihkan kelas ini sendirian? kemana gevan,ralyn,purnama dan juga angga?Jawabannya Mereka Sengaja datang siang agar aku sendiri yang mengerjakan piket. dan kalau aku ikutan datang siang seperti mereka lalu kondisi kelas belum dibersihkan, mereka ber empat akan mengkambinghitamkanku lalu membuatku jadi sasaran kesalahan mereka. karena aku ingin main aman jadi terpaksalah aku harus mengerjakan piket kelas ini sendirian.


Cepat-cepat ku bersihkan kelas sebelum yang lain datang. setelah kelas sudah selesai kubersihkan aku pun pergi ke toilet sebentar untuk cuci tangan.


"hari ini jam pelajaran pertama itu Olah raga, duh! baju olahragaku masih di tas! mumpung lagi di toilet, harusnya tadi aku bawa sekalian ganti disini. dasar pikun! ck! dahlah terpaksa balik lagi ke kelas dan ambil bajunya dulu!. " kataku bergumam sendiri.


Setelah selesai dari Toilet, Aku pun berjalan kembali ke kelas untuk mengambil seragam olahragaku. Namun, Saat aku sampai di kelas. Lantai yang masih lembab karena habis ku pel tadi jadi Kotor kembali akibat Cap kaki sepatu anak anak di kelas yang baru datang, Mereka tidak melepas sepatu saat masuk kelas.


"bodo lah, bukan Cuman gue yang piket hari ini" kataku dalam hati Dan langsung masuk ke kelas Untuk mengambil Seragam olahraga ku, Tapi belum sempat Aku membuka Tas ku. Pak Nando guru olahraga ku datang dan Marah karena kondisi lantai kelas sangat kotor.


"Astagfirullah, siapa yang Piket hari ini?!" bentak Pak Nando.


Kami yang piket hari ini pun bergegas keluar menghampiri pak nando termasuk aku,


"Sabit belum piket Pak" kata Febita spontan Menuduhku padahal Kenyataannya dia sendiri tidak piket tadi pagi.


"Heh! jangan asal ngomong! Pak, Saya malah datang paling pagi dan ngebersihin kelas ini sendirian pak!" Kataku membela diri.


"yang lain?! kalian nggak ada yang piket selain sabit huh?" tanya pak nando kepada febita,gevan,angga dan ralyn.


"Pak, Saya tadi telat Ban Motor ayah saya pecah jadi gak ikut piket" kata ralyn melontarkan alasannya.


"aku piket kok pak!" kata angga


"iya pak kami ber empat piket kecuali sabit!" kata gevan menyalahkanku


"iya bener nih pak sabit nggak piket tadi" tambah febita


"apa maksud kalian heh! jangan asal nuduh!" bantahku.


"sudah! sudah! Bapak nggak peduli siapa yang piket dan siapa yang tidak piket! pokoknya Kalo saya balik lagi kesini! nih lantai sudah harus bersih!... bapak mau keruang guru sebentar." Perintah Pak Nando dan ia pun berjalan pergi.


"Bacot banget sih babu! Dari tadi lu melawan banget ya! sok sok an mau bagusin diri sendiri depan guru, nih pel!" Kata Gevan Memerintahku dan melempar gagang pel ke hadapanku. untungnya gagang pel itu cepat ku tangkap.


"Brengsek!" umpatku.


"Heh!! Kok lu dan mulai berani ya cepel! gua agak tersinggung loh, lu ngomong sok iye depan pak nando tadi! dasar cewek tompel!" kali ini febita mendorong jidatku dengan jari telunjuknya.


"Mana jari lu tadi" kataku dingin kepada febita.


"apa maksud lu?" tanya febita


"jari lu"


"hah?"


"jari lu yang dah kurang ajar ke gua!" teriakku geram.


"oh? hahaha! maksudnya ini!" ejek febita dan mengacungkan jari tengahnya ke depan wajahku. "nih! ini jari gua! mau apa lu!" sambungnya bangga dan sedikit meninggikan suara.


"hahahah Fu*k!!!" ejeknya sekali lagi dan disusul tawa murid murid lain yang sedang menonton. Aku tidak tahan dengan ejekan mereka. jadi kubalas febita dengan memelintir jari tengah yang sedang di acungkannya ke depan wajahku hingga berbunyi.


sfx : Kretekk! (Suara pelintiran tulang Jari)


"Awww!!!!!!! sakit bangsat!!!!" teriak febita kesakitan sambil menarik jari tengahnya kembali dari genggamanku dan semua murid-murid pun tercengang melihat aksiku tadi.


"ini peringatan buat lu dan kalian semua yang ganggu gua! Jangan macem-macem ke gua lagi!" kataku sambil menunjuk febita lalu murid murid lain.

__ADS_1


"sekarang kalian minggir gua mau ngepel! syuh! syuh!" lanjutku sambil mengibaskan alat pel dan mengusir mereka.


Kulihat wajah Takut Gevan,Ralyn,Febita dan anak anak lain setelah melihatku tadi. tapi kurasa ini tidak akan menghentikan perbuatan mereka, karena kedepannya mereka masih bakal membuliku lagi. Akhirnya Pak nando pun kembali dari Ruang Guru dan melihat hanya aku yang membersihkan lantai kelas sendirian.


"lah.. kok cuman sabit? yang piket lainnya kenapa nggak bantuin?" tanya pak nando.


Gevan,Ralyn,Febita juga Angga hanya diam saja. begitu juga murid murid lain.


"nggak papa kok pak, sabit sendirian. bentar lagi juga selesai pak" kataku.


"yasudah makasih ya sabit. Buat kalian yang Tadi gak piket selain Sabita Bapak kasih Nilai C di pelajaran hari ini!" Ucap Pak Nando dan Membuat mereka tertegun akan keputusan tersebut. "Bapak tunggu di lapangan, kalian semua cepat ganti seragam!" perintah pak nando dan pergi.


"huft! untung dah selesai gua nge pel. gua buang dulu air pel annya setelah itu baru ganti seragam" gumamku.


Aku pun membawa ember pel an ke tempat wudhu dan membersihkannya. Semua Murid-murid yang lain pun bergegas ke toilet untuk mengganti seragam. Namun, Gevan, Febita, Ralyn, Angga dan Purnama yang masih ada di dalam kelas pun. tampaknya merencanakan sesuatu untuk balas dendam kepadaku.


"Ck! Sialan! padahal hari ini ambil nilai Lompat indah dan gua dah pd banget bakal nilai paling tinggi! gara gara Sabit belum juga ambil nilai dah dapet C aja!" Tukas Ralyn kesal.


"iya. harus dikasih pelajaran tuh anak" Sahut Angga.


"mana sok sok an lagi cari muka depan pak nando" tambah Febita.


"gimana kalo kita kerjain lagi dia?" ajak gevan. dan yang lain pun menjawab serempak dengan anggukan. "boleh tuh, tapi gimana?" tanya Febita.


"Pur, Lu bawa seragam olahraga nggak?" tanya gevan.


"nggak. rencananya gua mau bolos aja dan nongkrong ke kantin" jawab Purnama.


"Nah! Pur. gimana kalo lu ambil seragam sabit. biar dia nanti nggak pakek seragam pas pelajaran olahraga dan kena hukum pak nando, gimana?" kata gevan memberi ide.


"hmm.. padahal gua males bgt. gua mau bolos euy.." kata purnama.


"ayolah pur.. bantuin kita kali ini" kata ralyn memohon.


"hmm.. yaudah deh!" putus purnama.


"oke. lu ambil baju dia dan kita ganti seragam olahraga sekarang terus langsung ke lapangan." perintah gevan dan purnama pun membuka tas ku lalu mengambil seragam olahragaku. "sudah nih" kata purnama.


Setelah Aku membuang Air pel an dan menaruh kembali Alat Pel ke tempatnya. Aku pun Masuk ke kelas dan hendak mengganti seragam olahragaku, Namun saat Aku membuka Tasku.


"Hah!? Seragam gue kemana?" tanyaku dan mengobrak-abrik isi tasku Namun tak ada di dalam tasku. "duh... gimana nih, Aku inget banget tadi pagi masukin ke dalem tas. nggak mungkin kan aku salah inget!" gumamku bingung.


"Duh! gimana ya!mana dah mau mulai lagi jam pelajarannya!" Aku benar benar bingung dan masih sibuk mencari. tapi tak kutemukan dimana seragamku. Alhasil dengan pasrah Aku ikut pelajaran olahraga tanpa berganti seragam, Aku pun ikut baris ke dalam rombongan.


Kemudian Pak Nando datang dan membawa Seorang Siswa laki laki. Sepertinya dia Murid baru, Kulihat Visual Wajahnya tidak seperti orang Indo tapi Lebih ke orang luar. dengan tubuh tinggi mungkin sekitar 1.85 cm? Rambutnya Hitam lurus, bentuk wajahnya kecil tapi terlihat tegas, pori-porinya pun tak terlihat saking mulusnya,kulitnya putih, alisnya tebal, hidungnya mancung, bibirnya tipis, Tatapan Mata elang yang memikat dengan bola mata berwarna biru gelap.


"wah! ini mah defisini ciptaan yang sempurna!" kagumku dalam hati dan menatap lekat anak itu dari atas ke bawah.


"Baik Anak-anak, Sekarang bapak akan perkenalkan Teman Kelas Baru Kalian dia Baru Pindah Kemarin. Oke silahkan kamu perkenalkan Namamu Nak" Kata Pak Nando dan Membiarkan Anak Laki laki itu bicara.


"Hello Teman-teman, Assalamualaikum Perkenalkan Nama Saya Theo Zayden Alvaro Panggil Theo aja aku pindahan dari New Zealand. " Jelasnya. dan semua murid memperhatikan theo.


"Mau nanya dong! kok kamu lancar banget bahasa indo nya sih.." tanya Ralyn.


"Kebetulan Ibuku Asli Sunda dan Ayahku asli Selandia Baru. jadi Aku dah paham bahasa indo dari ibuku. " Jawab Theo


"Sudah gue tebak blasteran" pikirku dalam Hati.


"Eh mau nanya juga dong! udah punya pacar belom?" tanya febita dengan nada menggoda. dan murid murid pun Menyorakinya.


"iss febita kecentilan nih"


"iya nih.. huuuu!!!"


"apaansih nggak kok!" bantah febita


"Cocokkan Sama Ralyn" Kata Siswi lain sambil menyenggol bahunya ke bahu Ralyn.

__ADS_1


"Ekhem! .." balas Ralyn sok cantik.


"Eh Lyn, jangan sok iye deh lu" bales Febita.


"Siapa juga yang --- " belum sempat ralyn menyambungkan kalimatnya. Pak Nando pun menghentikan Pertengkaran mulut diantara mereka berdua.


"Sudah-sudah! tanya yang penting-penting aja!" kata Pak Nando.


"Mulai Hari ini Theo akan jadi Teman Kelas kalian. Theo selamat bergabung di Kelas yang Baru" ucap Selamat dari Pak Nando. "Sekarang kamu boleh gabung ke barisan"


Theo pun berjalan menuju barisan, tapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh febita ke sampingnya.


"Theo! baris sini aja samping Aku! lu minggir sana lyn" febita pun mendorong ralyn yang berada di sampingnya.


"aww! jangan dorong gitu!" jerit ralyn. "lu aja sono yang minggir" balas Ralyn dan kali ini ia Mendorong balik Febita. dan terjadilah dorong mendorong diantara mereka berdua,. Pak Nando pun geleng geleng kepala melihat tingkah Febita dan Ralyn yang memperebutkan Theo.


Aku pun mengalihkan pandanganku ke arah theo untuk melihat ekspresi wajahnya, karena mungkin saja dia akan merasa risih atas sambutan yang tidak mengenakan untuknya di hari pertama pindah sekolah. Namun, saat Aku melihat theo.


"Uhuukkkk!! Uhukk!!" Aku tersedak. karena tiba-tiba Mata kami saling bertemu. Cukup lama kami bertatap mata ditengah keributan, tersadar dan Merasa Salah Tingkah kuputuskan untuk Melihat lagi ke arah Febita dan Ralyn yang masih saling menjambak.


"Sudah!! Bapak bilang Berhenti!" Suara Pak Nando Meninggi dan Menghentikan Perkelahian itu. Akhirnya Mereka Semua kembali tertib walau Tatakan Rambut Ralyn dan Febita sangat Berantakan.


"Theo silahkan ikut baris" lanjut pak nando. dan Theo pun masuk kembali ke barisan, tapi dia malah berjalan ke arahku lalu baris dibelakangku. yang membuat ralyn dan febita menatap tajam ke arahku. Aku merasa sangat pendek, tubuhnya yang tinggi tegap sedang berdiri dibelakangku. hembusan nafasnya pun sedikit terasa di pucuk kepalaku.


"Baiklah kita mulai pelajarannya" ujar pak nando. "tapi-!! Eh Sabit Seragam Olahraga mu mana?" Akhirnya Pak Nando pun sadar karena aku tidak pakai seragam dan berbeda dari yang lain.


"oh!Anu Pak.. tadi Sabit sudah Taruh di Tas dan Seragamnya..keknya sabit kelupaan bawa pak.. maaf pak.." kataku.


"yasudah kalo gitu sabit--" belum sempat Pak Nando menyelesaikan kalimatnya.


"Pak!!" teriakku memotong pak nando yang lagi bicara. "Itu!! Itu seragam saya pak" Cepat cepat Aku menghampiri Purnama dan Menarik bajunya.


"eh! apasih lu! lepasin. ini seragam gua" bela purnama sambil menepis tanganku.


"mana ada! ini punya sabit bang. ayo ngaku! abang ngambil dari tas sabit kan. ini punya sabit! ada huruf S nya nih!!!" bantahku sambil menunjukkan tulisan spidol S di bagian kerah kiri baju.


"sembarangan! nggak kok pak. ini memang seragam saya!" bela purnama masih tetap kekeh dengan kebohongannya.


"Pak! keknya sabit sembarangan nuduh aja pak karena dah ketauan nggak bawa seragam. kemarin kemarin pur juga nggak pernah nggak bawa seragam. selalu bawa terus. bener nggak man teman?" Gevan menyela perdebatan antara aku dan purnama. dan malah ikuf campur membela purnama.


"Iyaaaa" teman temanku menjawab Serempak.


"Sudah-sudah Bapak Pusing dengan Kalian Hari Ini!! Sabit sudah kesepakatan kita saat awal masuk bahwa yang tidak Mengenakan Seragam dikenakan Hukuman" jelas Pak Nando. "Tapii pak.." keluhku.


"Hukumanmu Cuci Piring di Ruang Guru aja, Karena pegawainya datang terlambat sekarang" perintah Pak Nando. "Baiklah.." kataku murung dan Berdiri tegak sambil berjalan meninggalkan Lapangan.


"Eh Theo Mau kemana?" Tanya Pak Nando bingung Melihat Theo yang berjalan Menyusulku sedangkan Aku tidak Menyadarinya.


"Bapak bilang yang Gak Pakek Seragam disuruh Cuci piring" kata Theo. "Ya khusus buat kamu murid baru gak papa lah" balas Pak Nando.


"Gak bisa gitu pak, bukan Alasan kalau saya murid baru diperlakukan lebih spesial. Kan saya sekarang Resmi di kelas ini" jelas Theo.


"sudah biar Sabit saja kamu silahkan bergabung Sama Temen temen yang lain" Pak Nando mencoba menjelaskan Ke Theo.


"Bapak Seharusnya jadi guru adil, Kesepakatan ya Kesepakatan" Cetus Theo dan langsung pergi Meninggalkan Lapangan. Pak Nando hanya Terdiam dan Memikirkan Kata-kata Theo barusan Namun Urat-urat Lehernya mengencang Antara Geram dan Kesal.


"Wah Theo boleh juga yak.." Siswi-siswi berbisik


"Pak Nando jadi Diam seribu bahasa nih" yang lain menambahkan.


"udah Ganteng, Keren lagi"


"Ssttt sudah diem!" Seru lainnya.


"Oke Kita Mulai Dengan Pemanasan" Pak Nando kembali normal dan melanjutkan Pelajaran. Sedangkan Aku yang berjalan masuk Ke Ruang Guru tidak Menyadari Theo menyusul di belakang.


...

__ADS_1


🍁


NEXT >>


__ADS_2